
Assalammualaikum. dengan bahagia saya datang lagi dan siap menyelesaikan cerita mereka. kalau kalian lupa Boleh banget baca dari eps yang terakhir yang saya up.
Selamat membaca...
adel seketika keluar dari dalam kamar bergegas menuruni tangga melupakan perut besarnya sambil berteriak.
"Bibi. Pak Atmo!"
Dari segala arah semua pelayan berhamburan mendapati Adel tengah terisak dengan keadaan tubuh bergetar.
Bi Muji mendekat lalu memeluk tubuh Adel. "Ada apa Non?" tanya bi Muji panik.
Dengan takut Adel menjawab. "Mas Gavin. Dia...dia.."
.
.
Mobil yang di kendarai Gavin menabrak pembatas jalan yang mana ada pohon besar di sana. Terdampar hebat sampai-sampai mobil itu hancur di bagian depan dan mengeluarkan asap yang entah datangnya dari mana.
Gavin terkulai tak berdaya di sana berusaha meraih ponsel yang jatuh tepat di kaki yang seakan mati rasa. disaat itu kesadarannya mulai menghilang "Adel...Adel."
Kata terakhir yang keluar lemas sampai Gavin menutup mata.
Ya Tuhan, jangan biarkan aku tertidur.
Semua orang termasuk Scurity menghampiri mobil dan bergegas mengeluarkan Gavin yang sudah tak sadarkan diri.
"Tuan Gavin!" Wajah pria berseragam itu menjadi pucat manakala Gavin yang ternyata adalah si pemilik mobil itu.
Ia bergegas meminta temannya menghubungi kediaman keluarga Abrisam sedangkan dirinya membantu membawa Gavin kedalam mobil. Beruntung di sana ada orang yang mau mengantar Gavin ke rumah sakit.
.
.
Adel sendiri terus menangis tanpa bisa berbuat apa-apa ia masih menunggu kabar dari Pak Atmo yang entah ada dimana. Dalam pelukan Bi Muji Adel menangis membayangkan keadaan sang suami yang tidak tau seperti apa nasibnya.
Sampai Pak Atmo datang dengan berlari menghampiri Adel. Sontak Adel dan Bi Muji terkejut.
__ADS_1
"Pak, bagaimana?" Tanya Bi Muji.
"Tuan Gavin kecelakaan, Non!"
Tangis itu semakin menjadi yang mana tubuhnya ambruk mendarat di atas sofa.
"Ini semua karena saya..Mas Gavin kecelakaan karena saya." Katanya dengan tangis meraung-raung.
Bi Muji menarik Adel dan memeluknya sambil berkata. "Jangan katakan itu Non. ini sudah menjadi takdir Tuhan."
Semua pelayan terdiam dan pelan-pelan menenangkan Adel. Sedangkan Pak Atmo pergi untuk menyiapkan Mobil.
Dengan masih berurai air mata Adel pergi ke rumah sakit bersama Bi Muji dan beberapa pengawal. Pak Atmo sendiri memilih diam di rumah untuk mengabarkan keluarga Tuan Paris yang memang sudah ada di dalam pesawat. Alhasil kabar itu tak pernah sampai menunggu beberapa saat sampai pesawat yang membawa rombongan keluarga kaya itu kembali ke Indonesia.
.
.
Ruangan dengan cat putih yang di kelilingi berbagai alat medis menjadi tempat Gavin sekarang. Ia terbaring di sana dengan keadaan tubuh penuh luka. Hebatnya benturan membuat tubuh kekar itu berlumuran darah. Bagian kepala dan perut menjadi pusatnya.
Suster dengan cekatan memberi pertolongan. Membersihkan luka dan menjahit bagian tubuh Gavin yang terluka parah. Gavin mengeluarkan banyak darah untung saja stok darah di rumah sakit itu cukup untuk mengganti darah Gavin yang hilang.
"Dok, ini Tuan Gavin!" Seru Suster ketika Dokter tampan itu baru menutup pintu.
Wajah berbalut masker itu sontak terkejut dan bergegas mendekati si korban.
"Astaga apa yang terjadi dengannya?" Serunya penuh tanya.
Dia adalah Dokter keluarga Abrisam Namanya Bagas. cukup dekat dengan beberapa anggota keluarga Abrisam tak terkecuali Gavin dan menantu keluarga itu. Siapa lagi kalau bukan Aji.
Setelah selesai memberi pertolongan dan mengecek keadaan Gavin. Dokter Bagas meminta para suster membawa Gavin kedalam ruangan lain sedangkan dirinya pergi untuk menghubungi seseorang.
Dengan panik Dokter Bagas menatap ponselnya dan sesekali mendesah berat sampai ia sibuk dengan benda canggih itu.
.
.
Di sisi lain mobil yang membawa Adel sudah sampai di rumah sakit. Adel masuk kedalamnya bersama Bi Muji dan berjalan kembali setelah menanyakan keberadaan Gavin.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Non" Pinta Bi Muji seolah mengingatkan Adel kalau dirinya tengah hamil.
Bukannya menjawab, Adel malah mempercepat langkah kakinya. Terlalu takut membayangkan keadaan sang suami yang kata si penjaga ada di ruang operasi.
Ya Allah, lindungi suamiku..
.
.
Pukul 15:06 wib Pesawat yang membawa keluarga Abrisam mendarat baik di landasan. Dengan di bantu Mega, Nyonya Tari bergegas keluar pesawat di ikuti yang lain. Jangan tanya bagaimana raut wajahnya. Wanita tua itu nampak dingin dan arogan batinnya ia ingin segera sampai di rumah dan memberi pelajaran kepada menantu barunya itu tapi lain dengan keadaan yang ada. Beberapa kendala seolah menjadi penghalang dan itu membuatnya muak.
Nathan dan Aji mengekor dari belakang bersama putra mereka yang masih aktif berjalan sambil berbicara tentang bisnis alih-alih memikirkan nasib istri dari Gavin Adik mereka. Sampai suara ponsel milik Aji yang ia genggam bergetar.
"Bagas!" Katanya bingung yang mana membuat Nathan ikut menatap ponsel milik Aji.
Keduanya berhenti berjalan dan Aji membuka pesan dari Dokter Bagas.
Pesan itu berbunyi.
Aji, segera beritahu keluargamu dan katakan Gavin ada di rumah sakit dia kecelakaan. segeralah datang. Aku tidak akan menunggu untuk tidak melakukan operasi.
Mata lelah Nathan membulat sempurna. Ia lalu berteriak. "Gavin kecelakaan.!"
Sontak semua orang yang ada di sekeliling mereka menoleh bingung tak terkecuali anggota keluarga. Nyonya Tari yang paling terkejut.
"Apa! apa kamu bilang?" Tanya Nyonya Tari sambil menatap Nathan kosong.
Nathan berlari dan memeluk sang ibu. "Gavin. Dia kecelakaan."
Semua menutup mulut karena panik dan terkejut sedangkan Aji masih diam di tempatnya.
Akhirnya datang juga. semoga saja anak itu mati.
.
.
Kalau suka dan penasaran aku up lagi..
__ADS_1