BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Tak Terbendung


__ADS_3

Ketika Gavin tengah dalam masa frustasi yang membuat dirinya depresi. Adel sendiri sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.


Perutnya semakin membulat. tubuh kecil Adel nampak berisi dan semakin mempesona. Wajahnya selalu disinari senyuman alih-alih kesedihan dan air mata


4 bulan yang Adel butuhkan untuk dapat melupakan penderitaan dari keluarga Gavin. dan sekarang dirinya lebih fokus menata diri. Walupun sesekali masa lalu seakan enggan pergi dari bayang-bayang kehidupan.


Kepergian Adel dari rumah belakang sudah di ketahui semua orang. Yang paling terpukul Adalah Gavin. Kasih juga merasakan hal yang sama merasa kebingungan sekaligus khawatir mendapati sang sahabat pergi entah kemana.


Noah yang notabennya merasa kasian dan perduli meminta para pengawalnya untuk mencari keberadaan Adel pun dengan Teo.


Teo sendiri merasa bimbang ketika mendengar kabar buruk itu. Tapi melihat ketulusan Anandita membuatnya luluh. Berusaha melupakan Adel wanita yang selalu menghiasi hatinya. Tapi biarpun begitu Teo ikut membantu mencari Adel dan juga tidak bisa menyalahkan Gavin yang mana tengah depresi karena keadaannya saat ini.


Kalau di tanya Apakah Teo masih menyimpan perasaan cinta kepada Adel? Kalian bisa menebaknya sendiri.


Tapi nihil! jerih payah para pengawal dan mata-mata yang mereka kirim tidak membuahkan hasil. Adel masih belum ditemukan. Bahkan surat kabar dan selebaran yang mereka muat tak ada satupun yang berhasil.


Hilangnya Adel bak di telan bumi tidak ada tanda-tanda dari calon ibu itu. Berbeda kasus dengan Kasih dulu.


Tapi Kasih merasakan hal yang cukup mengganjal ketika dirinya datang berkunjung ke kediaman orang tua Adel.


Bu Puji beserta sang suami nampak tenang dan tidak mengguratkan wajah panik atau takut. Kedua pasangan suami isteri itu terlihat baik-baik saja seolah tidak ada hal yang harus di khawatirkan. Malah Bu Puji meminta Kasih tidak lagi datang atau sekedar menanyakan keberadaan Adel.


"Biarkan Adel pergi dari hidup kalian untuk beberapa waktu atau selamanya!" kata Bu Puji yang mana membuat Adel tersentak.


"Tapi Tante-


Tangan Bu Puji terangkat meminta Kasih untuk diam. Wanita paruh baya itu melirik Kasih dengan mata sendunya.


"Kalau kamu tanya apa Tante tau dimana Adel berada saat ini. Maka jawaban Tante Iya! Tante tau dimana Adel." Jelas Bu Puji.


Kasih termenung dan menggenggam tangan Bu Puji. Keduanya tengah berada di teras rumah orang tua Adel. Kasih Menatap ibu Adel dengan mata memohon.


"Beri tahu Kasih Tante! Mas Gavin depresi berat karena ingatnya hilang dan Adel yang pergi entah kemana! Hanya tante yang bisa mem-


"Tante tidak akan pernah memberi tau dimana Adel." Sergah Bu Puji.


"Sudah cukup mereka menyiksa anak tante! Tante rasa keputusan Adel pergi adalah keputusan yang terbaik." lanjut Bu Puji dengan deraian ari mata.


Batinnya terkoyak dan tersayat parah ketika Bi Muji memberi tahu keberadaan Adel dan sikap kedua mertuanya. Bi Muji mengatakan Adel ada di Surabaya tinggal bersamanya. Meminta ibu Adel untuk tidak panik atau khawatir. Karena Adel baik-baik saja pun dengan calon bayinya.


Sekarang Bu Puji merasa lebih tenang karena dapat mendengar suara sang putri yang dulu dirinya pandang hina. Ingin memeluk dan memberi kekuatan kepadanya. Tapi melihat keadaan membuat Bu Puji pasrah. Kesehariannya di penuhi bayang-bayang orang suruhan Noah yang seakan mengintainya.


Mengingat itu Bu Puji beranjak dari duduknya sambil bersuara.


Sontak Kasih terkejut dan ikut bangun. "Tante."

__ADS_1


"Jangan kembali lagi kalau kedatang mu hanya ingin tau dimana Adel. Sampai kapanpun Tante akan tutup mulut." Setelahnya Bu Puji masuk tapi langkahnya terhenti.


"Tidakkah Tante berpikir, kalau apa yang saat ini Tante lakukan benar?" Kata Kasih.


Bu Puji menutup mata.


Kasih berjalan perlahan. "Sudah 4 bulan Tante? Mungkin dalam hitungan hari Adel akan melahirkan! Apa Tante melupakan itu?"


Bu Puji terisak di sana.


Kasih terus bejalan menghampiri Bu Puji mengusap pelan pundak bergetar itu dan Bu Puji berbalik terkulai dalam pelukan Kasih.


"Hiks...hiks...Tante sangat merindukan Adel Kasih..Tante ibunya. Dia sudah sangat menderita di dalam keluarga itu! Tante mohon jangan paksa Tante untuk mengatakan di mana Adel. walupun tante ingin." Terang Bu Puji dengan penuh perjuangan.


Kasih terisak dan keduanya menangis.


Adel kenapa kamu begitu sulit untuk di temukan! Ya Tuhan beri kami jalan.


Doa batin Kasih dengan rasa putus asa. dirinya sekarang seorang ibu yang juga mengerti bagaimana ketika si buah hati di sakiti atau tersakiti.. Rasanya tidak menyenangkan dan membuat hati bergejolak murka.


Tapi di sisi lain ada orang yang lebih terluka karena penyesalan dan hilangnya kesadaran.


.


.


Nyonya Tari menangis panik menyaksikan bagaimana para penjaga berjuang membuka pintu Gavin yang di kunci dari dalam. Gavin menjadi hilang kendali pikirannya tak terarah. Kamar mewah itu bak kapal pecah saja.


Para pelayan terlalu lelah untuk membersihkan kamar si tuan muda yang mana setiap detik kembali berantakan.


Brak...pintu berhasil di buka.


Para penjaga bergegas masuk bersama Tuan Paris dan Nyonya Tari. Nathan ikut masuk pun dengan Aji. Sisanya menunggu dari luar kamar.


"Gavin sayang...ini Mama.." Nyonya Tari berniat memeluk Gavin tapi Gavin menolak..


"Pergi..Pergi kalian semua pergi." Pinta Gavin dengan suara memekik tajam.


Nathan tak kuasa menahan tangis melihat adik bungsunya bertingkah seperti orang gila.


"Gavin. sadar, Gavin." Teriak Nathan.


"Pergi..kalian semua pergi." Kata Gavin lagi. Matanya melotot tajam dengan memeluk bingkai.


Tuan Paris menatap sang putra bungsu sendu tak kuasa melihat putra bungsunya dalam keadaan memprihatinkan. tubuh yang dulu kekar dan luar biasa kini berganti dengan tubuh kurus dan wajah pucat.

__ADS_1


Dalam kurun waktu 4 bulan keadaan Gavin semakin menurun. Kewarasannya mulai menghilang Depresi karena semua hal.


Nyonya Tari menangis kencang melihat Gavin yang jauh berbeda. Pandangan matanya kosong dengan amukan yang nyata.


Para pengawal kewalahan memegangi Gavin. Sontak Aji bersuara.


"Ini hanya usul saja! Lebih baik Gavin di bawa ke rumah sakit jiwa?"


Sontak semua menatap Aji. Sedangkan Gavin masih saja mengamuk.


"Tidak...hiks....hiks...Gavin tidak gila...Hiks..hiks. Mama tidak setuju. Biarkan Gavin di sini bersama kita." Nyonya Tari menolak ide Aji.


"Papa juga tidak setuju dengan ide itu."


"Nathan juga tidak setuju dengan itu." Suara Nathan membuat Aji terdiam lalu Aji mengangguk pasrah.


Sial. Lihat saja aku akan pastikan Gavin pergi dari rumah ini. Dengan begitu akan lebih mudah untukku membuat Papa dan Nathan mau membagi saham itu.


Keputusan yang akhirnya di ambil Gavin tetap didalam kamar dengan resiko yang lebih besar.


Rapat...


Keluarga berkumpul di ruang tengah. Berteman suara isak tangis Nyonya Tari dan Nenek Dayanti.


Mereka semua diam tidak ada yang bersuara. seolah hanyut dalam suara tangis merintih dari keduanya. Tapi dalam agenda rapat itu tidak ada pembahasan tentang rencana pernikahan Gavin dengan Maya. semua hancur lebur.


Dalam tangisnya Nyonya Tari mengingat perkataan Maya beberapa bulan yang lalu.


'Tante. Maya tidak marah atau kecewa ketika tau Gavin sudah menikah. Seharusnya Maya malu karena sudah memanfaatkan keadaan Gavin saat ini. Karena kalau Gavin sadar dia tidak akan mau menemui Maya. Maya sudah salah dan meninggalkan Gavin. Jadi tante Biarkan Gavin bahagia dengan isterinya. Maya Yakin isteri Gavin pasti wanita yang baik dan tulus."


Tangis Nyonya Tari semakin terdengar kencang yang mana membuat Tuan Paris memeluk tubuh bergetar itu.


"Sudah Ma. Sudah,"


"Hiks...hiks...hiks...Ini semua karena Mama!" Cicit Nyonya Tari.


Kakek Damar bersuara. "Lihat sekarang apa yang sudah kita lakukan! Gavin menjadi seperti ini karena keegoisan kalian berdua!" Mata tajam Kakek Damar menyoroti anak dan menantunya.


Kakek Damar melanjutkan. "Setidaknya kalau Adel ada di sini bersama Gavin. Kondisi Gavin tidak akan separah ini. Kalian terima akibat dan perbuatan Kalian! Cari Adel dan minta dia untuk kembali.!"


Semua saling tatap sedangkan Nyonya Tari semakin meraung.


"Mama menyesal...hiks...hiks...Mama menyesal."


.

__ADS_1


.


Suasana tenteram nampak terasa didalam kediaman Bi Muji.


__ADS_2