BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Tugas Mustahil Tapi Berhasil


__ADS_3

Mendengar permintaan konyol itu Dokter Bagas kembali menggelengkan kepala secepat kilat.


Melihat itu Nyonya Tari mengampiri si dokter. "Kenapa anda menolak? Bukankah Dia sudah menyetujuinnya!" Tangan berhias emas itu menunjuk Adel yang tengah berdiri tanpa perlindungan Bi Muji.


"Tidak Nyonya. Saya tidak bisa melakukan itu terlalu beresiko. Dia tengah hamil dan itu akan membahayakan kandungannya." Sekali lagi Dokter Bagas memberi penolakan.


"Saya tidak perduli!" Lantang Nyonya Tari bersuara. "Saya tidak perduli! Karena Dia, nyawa Gavin dalam bahaya. hiks...hiks..."


Tuan Paris menghampiri sang istri yang kembali lemah.. "Mah, tenangkan dirimu."


Adel menunduk menatap perutnya sambil mengusapnya sekali. "Demi papamu."


Adel menarik napas dan berjalan menghampiri dokter Bagas.


Bismilah Ya Allah, atas izin darimu lindungi anak kami.


"Dokter! saya rela menanggung semuanya. Demi suami saya." Ucap Adel menyakinkan Dokter Bagas.


"Tidak. Saya tetap menolak itu."


Adel menggenggam tangan Dokter Bagas sambil menangis sejadi-jadinya. "Saya mohon dokter mengertilah. Ini demi nyawanya."


Dokter Bagas tertegun melihat tangis tulus Adel sedikit menggoyahkan keyakinannya. Tapi perut buncit Adel berhasil menyadarkan kesadaran Dokter Bagas. Terbukti kepala itu kembali menggeleng.


"Tidak. Saya tidak akan melakukan itu. Ini bukan salah dirimu, kerusakan Ginjal akibat perbuatan Gavin sendiri."


Mendengar itu Nathan menghampiri Dokter Bagas dan mencengkram baju kebesarannya. Tubuh tingginya sedikit membentur pintu ruang oprasi. Nathan menatap sang dokter penuh amarah.


"Sudah cukup berdebatnya! sekarang lakukan tugas Anda. Selamatkan adikku dan turuti keinginannya." Nathan bersuara pelan tapi sekaan menghantam wajah Dokter Bagas.


Dokter Bagas mendesah pelan berusaha melonggarkan cengkaram kuat Nathan.


"Itu beresiko besar." Ucap Dokter Bagas mengingatkan. "Saya tidak bisa melakukan itu."


Nathan menggelengkan kepala ketika melihat pendirian si dokter yang tidak lain adalah dokter keluarganya sendiri. Begitu kokoh dan sulit di runtuhkan. Memang benar itu terlalu beresiko tapi apapun itu akan ia lakukan untuk keselamatan adik bungsunya. Nathan semakin memperkuat cengkraman itu yang sebenarnya mempu membuat Dokter Bagas sulit bernapas. Sedangkan Aji tidak ikut andil ia hanya menyaksikan dari jauh tepatnya di dekat Nenek dan Kakak Damar.


"Anda ingin membunuh adikku begitu?" Seru Nathan Tegas. "Lakukan tugas anda Dokter, resiko itu biar keluarga kami yang menanggungnya. Lagi pula istrinya sudah setuju! Jangan sampai Anda membuang waktu."

__ADS_1


Dokter Bagas mengalihkan pandangan kearah Adel yang menangis sambil menatapnya.


Apa yang harus aku lakukan! Aku tidak ingin melakukan itu tapi Gavin?


"Dokter!" Nathan menyadarkan Dokter Bagas meminta jawaban sambil terus menguatkan cengkraman.


"Saya mohon, Dokter." Adel kembali bersuara pelan pasalnya suara tangis lebih mendominasi.


Semua menatap Dokter Bagas yang masih diam seperti patung. hanya otaknya yang berpetualangan tanpa arah.


.


.


Ini terdengar gila dan tidak manusiawi! bagaimana bisa seorang ibu hamil melakukan oprasi pengangkatan ginjal! ini tidak benar, tapi Adel tidak bisa mundur atau mengulur waktu Gavin tengah berjuang didalam ruang oprasi menunggu takdir yang sekarang ada di tangannya Tuhan seakan diam memperhatian. Tidak ada yang ingin menolong ibu hamil itu semua setuju dengan keputusan gila itu. Sebenarnya siapa yang berani menentang tidak ada yang berani, bukan?


Dokter Bagas dan satu rekannya melakukan pemeriksaan kepada Adel. Dengan di bantu beberapa perawat. Bisa dibilang kalau apa yang saat ini mereka lakukan melanggar hukum tapi semua sudah setuju pun si pendonor yang tengah berbaring setelah melakukan USG untuk melihat kondisi tubuhnya. Semua sehat tekanan darah, hasil USG dan pemeriksaan SC scan pun semua baik.


Diam-diam Dokter Bagas berdoa didalam hatinya meminta agar kondisi Adel buruk untuk mencegah Oprasi. Tapi sepertinya Tuhan ingin si ibu hamil itu merasakan dinginnya ruang oprasi.


Pukul 6 petang pas Azan Magrib berkumandang Adel masuk ruang oprasi dengan wajah pucat. Secepat itu? Ya, secepat itu karena tidak ada waktu lagi.


Selama pemeriksaan berlanjut Adel tak henti mengelus perutnya sesekali bersholawat sambil meminta maaf karena sudah mengambil keputusan yang mungkin belum pernah di lakukan.


Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, Mas.


Setelah selesai mengecak semua kondisi tubuh Adel, Dokter Bagas mengatakan dan meminta Adel untuk kembali memikirkan semua akibat dan resiko setelah atau ketika melakukan oprasi sebelum semua terlambat.


Tapi Adel tetap pada pendiriannya ia mengatakan.


"Karena saya Mas Gavin seperti itu. Biarkan saya melakukan ini setidaknya dia bisa hidup."


Dokter Bagas menyerah dan mereka mulai melakukan pembiusan memastikan Adel tertidur untuk beberapa saat.


Adel perlahan-lahan mulai menutup mata hingga ia tertidur dan mungkin dirinya akan terbangun lalu menerima kenyataan hidup dengan satu ginjal.


Dengan hati-hati pisau bedah menyayat permukaan kulit Adel.

__ADS_1


"Hati-hati." Kata Dokter Bagas kepada rekan kerjanya.


Rekannya itu tidak merespon saking ia berkonsentrasi. Semua orang yang ada di ruang oprasi ketakutan karena yang tengah mereka bedah adalah ibu hamil. Memikirkan itu mereka merenung dan terus berusaha melakukan tugas amat menantang dan mungkin tidak pernah mereka lakukan.


Sedangkan di luar semua keluarga menunggu dengan sunyi bergantian menatap pintu yang masih tertutup.


Nenek Dayanti yang ada di dekat Tuan Paris berbisik yang sebenarnya masih dapat didengar semua orang.


"Paris, alangkah baiknya kalau orang tua Adel di beri tau"


"Tidak Mah! Paris tidak akan melakukan itu." tolaknya pelan. Tidak ada tenaga pun semua keluarga. mereka hanya menganggap dingin perkataan Nenek Dayanti.


Tangan Kakek Damar mengelus tangan keriput sang istri memintanya untuk tidak berbicara lagi dan Nenek Dayanti mengagguk paham.


Semua menunggu dan terus menunggu sampai waktu menunjukan pukul 8 malam. barulah suster keluar alih-alih dokter Bagas.


Semua berdiri dan mengerumuni Si suster.


"Bagaimana Suster?" Tanya Nyonya Tari dan Tuan Paris tidak sabaran.


Suster mengangguk pelan. "Semua berkat bantuan Tuhan. oprasi Nyonya Adel berjalan baik." Kata si Suster antusias merasa senang karena oprasi itu berhasil. Yang dari awal seakan diberi kemudahan padahal si pasien tangah berbadan dua.


Alih-alih mengucapkan syukur Nyonya Tari malah melayangkan pertanyaan yang cukup menyentak batin si Suster.


"Saya tidak menanyakan wanita itu! Yang saya tanyakan bagimana dengan ginjalnya?"


.


.


Waktu berjalan amat sangat cepat Adel dengan kondisi tubuh lemahnya berbaring di ruang oprasi yang memang satu tempat dengan sang suami. Tirai hijau menjadi pemisah diantara mereka.


Setelah melakukan Tranpusi Ginjal yang berhasil itu Dokter mulai menangani Gavin kembali melakukan tugas dengan baik.


Ingin rasanya mereka bersorak karena berhasil melakukan tugas mustahil itu tapi tidak! Mereka tidak kuasa melakukannya. Apalagi Dokter Bagas sedari tadi ia hanya diam dan menatap Gavin penuh kebencian. Ingin rasanya melenyapkan nyawa si pria tampan, tapi keadaan membuatnya patuh dan menurut! ketika ancaman dari segala arah mengarah padanya. Hanya karena satu nyawa, sekali lagi hanya karena satu nyawa mereka menyelam kedalam pekatnya dosa dan kejamnya dunia.


Orang berduit dan berkuasa memang seperti itu bukan? apalagi bagi keluarga Abrisam yang terkenal dengan kekejamnya. Adel hanya barang yang tidak berguna dimata mereka sama sekali tidak berguna. Bahkan ketika ia sudah melakukan keputusan besar itupun tidak ada yang perduli.

__ADS_1


Si ibu hamil itu sendirian di ruang perawatan tanpa ada yang menemani. Tidak ada Bi Muji sejauh mata memandang karena sedari tadi ia dan kedua pengawal diminta kembali kemansion menunggu untuk di adili. sementara semua keluarga memilih menunggu Gavin yang sekarang di pindahkan kedalam ruang ICU karena masih harus mendapatkan penanganan lebih intensif.


Sekarang semua sudah baik-baik saja. Dan malam itu juga Tuan Paris meminta para pengawal dan polisi mengusut kecelakaan yang menimpa Gavin yang sebenarnya itu permintaan sang istri.


__ADS_2