BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Siapa Yang Mengisi Hati Ini?


__ADS_3

Waktu memang bisa merubah segalanya. seperti kehidupan sepasang suami istri yang saat ini tengah menikmati indahnya kebersamaan tanpa di ketahui semua anggota keluarga.


Rumah utama dan rumah mungkil itu seperti dua sisi yang berbeda.


Ketika laporan rutin tentang keadaan rumah harus di berikan kepada sang pemilik kekuasaan. Gavin dengan begitu mudahnya dapat menjumpai sang istri di rumah belakang, mata para pelayan dan canggihnya CCtv tidak bisa berkutik ketika lembaran rupih menutup mata mereka. hebat bukan? itulah kenapa kita harus bekerja kerasa dan lebih pintar untuk mengelaubi mereka yang jauh lebih pintar dari kita, Gagasan penting itu sudah menjadi pegangan Gavin yang ingin menjadi suami siaga untuk istri dan anaknya.


Setelah Dokter mengatakan si janin berjenis kelamin perempuan. hubungan Gavin dan Adel semakin membaik alih-alih memburuk! walupun itu sebatas prediksi awal. Adel tentu bertanya banyak hal semua pertanyaan di layangkan dan Gavin dengan percaya diri menjawabnya, tidak ada keraguan walupun Adel masih menatap dirinya dingin. Tapi Gavin selalu percaya dan yakin hati sang istri akan luluh, itu benar adanya.


Hanya saja Gavin harus berusaha lebih, ketika alasan dirinya dulu menggauli sang istri menjadi harga mati untuk bisa masuk kedasar cinta Adelia dengan mengatakan kalau itu sudah menjadi takdir.


.


.


Pagi itu suasana berjalan seperti biasa. rumah utama yang di kelilingi pilar-pilar besar nampak sibuk. para pelayan berlalu-lalang dan bebenah tanpa henti, terdengar membosankan tapi memang itu sudah menjadi tugas mereka.


Bukan hanya Para pelayan yang sibuk bekerja Adel pun demikian. dirinya bertugas seorang diri membereskan semua area rumah kecilnya, tapi kali ini tidak ada kesedihan yang selalu nampak menghiasi wajahnya. sekarang yang terlihat wajah ceria dengan senyuman seindah sinar mentari.


Adel duduk di ruangan tengah mengistirahatkan tubuh yang terasa kaku. sesekali mengusap lembut perutnya yang mulai menonjol menembus kaos longgarnya, senyuman kembali terlihat membayangkan si janin yang tengah bersembunyi di dalam rahimnya menerka-nerka akan seperti apa wajahnya nanti.


"Sehat-sehat sayang." Katanya lembut. sedikit bersolawat untuk memperkenalkan siapa tuhannya, Adel melanjutkan. "Katanya bagus untuk perkembangan otakmu."


Membaca Sholawat untuk janin adalah hal yang sangat di anjurkan bagi mereka yang beragama Islam, kami selalu menyuarakan lantunan indah itu semasa mengandung. Adel melakukannya walupun dirinya harus belajar terlebih dahulu.


Merasa cukup karena napasnya tersengkal berat. Adel diam seketika menyeruput teh hangat sambil menatap kosong jendela yang masih tertutup sehelai gordeng putih, ia menggela napas pelan bergumam tentang satu hal.


"Tiga bulan sudah aku tinggal di tempat ini." Kembal Adel menghela napas panjang. dan kali ini otaknya kedatangan seorang tamu pria dengan wajah tampan membawa senyuman manis. Adel ikut tersenyum seolah mereka terhubung satu sama lain.


"Kamu mengganggu saja." Katanya dengan wajah memarah seolah malu tanpa sebab.


Dua bulan. dalam kurun waktu singkat itu Gavin dapat menerobos benteng kokoh Adelia yang terbentang luas mengalahkan keyakinan sang istri akan kemarahan yang tiada berujung. Gavin berusaha memperbaiki keadaan dengan penuh perjuangan, bagaimana tidak demikian. dirinya harus membagi waktu antara istri dan keluarganya yang sama sekali tidak menaruh curiga. Para manusia yang haus akan kekuasaan dan sanjungan itu sibuk sendiri melupakan istri si bungsu. hanya Kakek damar dan nenek dayanti yang sudah mulai sadar kalau Adel adalah anggota keluarga Abrisam.


Butuh waktu untuk mewujudakan itu.


Pagi dan sore Gavin habiskan waktu untuk bekerja tanpa memutus kontak dengan istrinya. menanyakan banyak hal memberi perhatian ekstra dengan meminta bantuan Bi Muji si pelayan, dan ketika malam hari datang tepatnya pukul 12 dini hari Gavin mengendap-ngendap seperti maling melenggang bebas tanpa takut sama sekali.


Kini Setiap malam Gavin menikmati tidur teramat lelap bersama sang istri di atas ranjang mungil itu. tubuh Adel bak guling hidup yang tidak bisa diganti. seperti dugaan awal Adel menolak kehadiran Gavin, tapi lambat laun dirinya malah merindukan si suami yang tampan itu. sekarang kamar yang dulu terasa sunyi kini berubah seratus delapan puluh derajat. tawa dan keindahan berumah tangga nampak nyata tergambar.


Terbilang cepat, tapi ini benar-benar terjadi. Adel membuka hatinya mulai mengisi relung jiwanya dengan nama Gavin mengubur si pria tampan lainnya.


Tok...tok....


Adel berjalan cepat membuka pintu.


Di depannya terdapat sebuah kotak kardus dengan ukuran yang sama. Adel mengambilnya tanpa bertanya lagi, membawanya masuk dan meletakannya di atas meja yang ada di ruang tengah.

__ADS_1


Membukanya perlahan lalu senyuman manis tiba-tiba terlukis indah. ada sebuah surat di dalamnya.


Adel membacanya yang berbunyi.


Aku sudah menukarnya, aku harap kamu suka ini makanan kesukaanku. kalau kamu mau malam ini tolong masakkan untukku, aku akan datang seperti biasa.


Adel menjadi salah tingkah. pipinya memarah jelas, bergantian menatap berbagai belanjaan di dalam kotak kardus dan selembar surat dari Gavin yang saat ini sibuk dengan pekerjaannya.


"Memasak untuknya, tapi masak apa?"


.


.


Teo bersandar malas di kursi kerbesarannya. wajahnya terlihat tidak bertenaga entah apa yang tengah dirinya pikirkan, sampai-sampai ia tidak mendengar suara seseorang yang sudah berdiri di depannya.


Orang itu mengendus kesal ketika Teo tak kunjung tersadar. yang mana ia berinisiatif membuat rencana.


Mengetuk meja dengan keras adalah pilihan yang tepat...


Brakk....Brak.....


Teo tersentak. mengusap dadanya cepat menatap si pembuat onar yang tengah tertawa puas.


"Apa kau sudah gila." Gusar Teo bersuara.


"Ini masih pagi, tidak baik melamun." Katanya melanjutkan.


Teo berjalan pelan. lalu duduk di dekat orang itu menatap wajahnya yang masih saja sama. bulu halus dan garis usia seolah tidak mampu menutupi ketampanannya.


Merasa di perhatikan orang itu bersuara. "Ada apa dengan wajahku?"


Teo menggeleng pelan. "Tidak ada, hanya saja kau terlihat agak tua."


"Aku terlihat tua tidak menjadi masalah karena aku sudah menikah." Katanya semangat, ia melanjutkan. "Lihat dirimu?"


Teo bersandar malas menutup mata rapat enggan mendengarkan celotehan pria beranak satu itu.


Noah, iya, pria tampan itu Noah. ia berhenti membual ketika Teo si Kakak iparnya nampak menyedihkan.


"Ada apa Teo? apa kamu masih memikirkan Adel.?" Tanya Noah tidak enak dirinya tau kalau Adel masih menghiasi hatinya. tepukan di pundak sang kakak ipar ia lakukan untuk memberi kekuatan.


Teo menggeleng pelan, batinnya bergumam.


Aku memang memikirkannya setiap hari aku memikirkan dirinya. tapi entahlah wajah adikmu membuat aku seperti orang gila.

__ADS_1


Ketika Noah melayangkan pertanyaan itu. entah kenapa Teo merasa senang, karena sepertinya Anandita tidak menceritakan tentang kejadian pada waktu itu, dimana sebuah pengakuan mengejutkan terbongkar dan jangan lupa adegan pemanisnya.


Sebuah ciuman tanpa dasar terus menghantui kesehariannya. setiap kali matanya terpejam Teo seolah menikmati dan ingin kembali merasakan manisnya bibir si gadis yang saat ini entah seperti apa kabarnya.


Teo tidak lagi datang kerumah Kakek Hendri atau sekedar melihat keponakan tampannya. dengan alasan pekerjaan Teo sibuk sendiri dan itu sudah berlangsung dua bulan lamanya.


Kita mungkin tahu kenapa Teo enggan berkunjung ke sana. tapi lain dengan Noah. seperti sekarang ini, dirinya rela datang ke kantor Teo untuk melihat keadaan si Kakak ipar.


"Menikahlah cepat." Kata Naoh dengan wajah serius.


Teo menyeringai. "Kamu pikir menikah itu gampang."


Bahu Naoh terangkat seolah mengiyakan kalau pernikahan itu tidaklah mudah.


"Lupakan itu, aku tidak ingin melihat wajah menyedihkan mu." Naoh mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Aku ingin meminta pendapatmu."


Sambil menutup mata Teo menjawab. "Apa lagi? aku tidak berselera untuk membantu masalah rumah tanggamu."


Naoh mengendus kesal. "Apa? aku dan Kasih baik-baik saja, buka matamu dan coba lihat ini."


Noah mengarahkan Ponselnya kearah wajah Teo. lalu mata menyedihkan itu terbuka.


"Dia siapa?" Tanya Teo dengan masih menatap layar ponsel Noah. di mana ada satu buah poto disana.



"Bagaimana menurutmu?"


"Bagaimana apanya?" Teo balik bertanya.


"Apa kamu setuju kalau dia aku jodohkan dengan Anandita?"


Noah menatap lekat wajah datar Teo. mengabaikan keterkejutan sang Kakak ipar.


Aku melakukan ini agar adikku bisa bersama pria yang baik. bukan berarti kamu tidak baik Teo, hanya saja aku tau siapa kamu.


Teo mendandak salah tingkah ketika Noah mengatakan siapa poto pria yang masih dirinya tatap. seharusnya kepala dengan rambut sedikit berantakan itu mengangguk setuju tapi entah kenapa sulit bergerak.


Teo menjawab gagap. "A-aku tidak tau."


Kenapa dengan diriku ini, kenapa aku merasa tidak senang!


.


.

__ADS_1


Besok di usahakan up cepat


__ADS_2