BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Panggilan Baru


__ADS_3

Tangan Teo bergetar hebat. wajahnya membeku! kedua matanya berkedip cepat menatap lekat Ponsel yang masih ia genggam erat seolah tidak kuasa mengontrol otot-otok yang seakan merebut kendalinya, di sana ia melihat sebuah pesan dari seseorang yang dirinya kenal.


Pesan itu berbunyi.


Tuan Teo, saya ingin memberitahukan kalau Tuan Gavin dan Nona Adel baru selesai melangsungkan acara pernikahan di Kota Bekasi.


Potongan pesan itulah yang membuat Teo diam dan bertingkah layaknya orang bodoh. kembali hatinya merasakan hancur yang teramat dalam.


Ponsel itu ia jatuhkan. matanya terpejam merasakan jenuh mengabaikan berkas-berkas yang berserakan diatas meja kerjanya, Teo benar-benar dalam keadaan kalut. ternyata Sang sahabat melangsungkan pernikahan tanpa memberi tahu dirinya dan juga Noah.


Teo berdecak kesal. tangannya tiba-tiba mengepal merasakan marah sikap Gavin tidak bisa dimaafkan. "Apa dia tidak waras atau dia ingin aku baik-baik saja? Oh astaga Gavin, aku semakin membencimu! " Celotehan penuh amarah itu terlontar begitu saja. akan tetapi, wajahnya berubah sendu?


Adel, semoga kamu bahagia. Do'a Teo di dalam hati. pikirannya melayang membayangkan bagaiman keadaan wanita cantik itu. apakah dirinya akan baik-baik saja? entahlah, tapi tidak baik bukan terus memikirkan istri orang lain Sekarang Adel bukan lagi wanita yang pantas dirinya cintai.


Intinya Teo tengah meratapi nasib cintanya yang tragis. mungkin saja tuhan ingin memberikan jodoh yang terbaik dan itu bukan Adel, lantas siapa?


Ruangan bergaya Modern Klasik yang menjadi tempat Teo menuangkan Imajinasinya sebagai Arsitek seketika berubah kelabu. suara langkah kaki dan riuhnya para Karyawan yang terdengar dibalik pintu kacanya bak angin lalu.


Akhir-akhir ini Pria dengan Gelar Master di bidang Arsitek itu lebih banyak terdiam tanpa ingin melakukan tugasnya yang semakin menumpuk. otaknya tidak bisa berkonsentrasi untuk berkerja. Bayang-bayang wajah Adel terus berputar dan Sekarang, dirinya harus menerima kenyataan kalau sang sahabat dan sang Pujaan hati sudah Sah menyandang predikat sebagai suami istri. Dunia seakan runtuh itu yang Teo rasakan.


Selang beberapa menit pintu kaca itu diketuk.


Tok...tok...tok....


Teo belum sadar. dirinya masih asik bersandar malas sambil memejamkan kedua matanya, mengabaikan seseorang yang masih setia mengetuk pintu kerjanya.


Merasa bising Teo membuka sebelah matanya dan kepalanya sedikit ia angkat. wajah murungnya berubah menampakan kebingungan. "Dita? "


Ternyata yang berdiri di ambang pintu kerjanya adalah Anandita! ada apa gerangan dirinya datang? bisa dibilang ini adalah kunjungan pertamanya ke kantor Teo.


"Masuklah." Pinta Teo santai sambil mengangkat tangan meminta Anandita untuk masuk.


Melihat respon Teo membuat Anandita melebarkan senyuman manisnya. tanpa membuang waktu tangannya bergegas membuka pintu dan berjalan anggun sambil menenteng sebuah paper bag berwarna coklat.


"Maaf ya. kalau Dita ganggu?" Ucapnya tidak enak.


Teo menggelengkan kepala. dirinya memasang wajah manis yang jelas itu adalah Ekspresi keterpaksaan. "Ada apa Adikku sayang? tumben."


Anandita tersenyum hambar mendengar ucapan Teo. ingin rasanya ia berteriak memprotes ucapan itu! memberitahu kalau dirinya bukan lagi Anandita yang dulu, sekarang sudah berbeda. Anandita yang lucu menggemaskan kini berganti dengan Anandita yang cantik dan modis, apa Teo tidak melihat itu? tapi, Anandita berusaha menahan semuanya. yang harus dirinya lakukan saat ini adalah berjalan dan tersenyum manis menghampiri Teo yang masih duduk di atas kursi kerajaannya.


"Nih Kak, Dita bawain makan siang buat Kakak. " Katanya canggung. jujur saja dirinya tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini. tapi kalau harus mengikuti kata hati semua tidak akan berjalan lancar.


Teo menatap Paper bag yang ada diatas meja kerjanya bingung. "Ada apa Dita? tidak-


"Kakak, memang salah ya kalau Dita datang Dan membawakan makan siang buat, Kakak?"

__ADS_1


Anandita merajuk yang mana membuat Teo tersenyum. sedikit melupakan kegundahan di hatinya.


Teo menggelengkan kepalanya cepat lalu ia beranjak bangun dan menarik tangan Anandita. ia genggam untuk berjalan kearah Sofa sambil menenteng Paper bag.


Jelas perlakuan sederhana itu disalah artikan Anandita. wajahnya berubah merah menahan kebahagiaan yang sudah membuncah.


"Baiklah, sekarang suapi kakak tampan mu ini." Teo membuka lebar mulutnya antusias.


Anandita mengangguk girang. kemudian dengan terampil tangannya membuka Paper bag yang berisi makanan rumahan yang sudah dirinya buat bersama Kasih, mengingat Dapur adalah tempat asing baginya jadi Kasih harus ikut berperan.


Ibu satu anak itu sempat bertanya kenapa sang Adik ipar memintanya mengajarkan membuat makanan rumahan? jawaban Anandita. 'Sekarang Dita harus belajar memasak biar nanti menjadi Istri yang baik'


Mengingat hal itu membuat wajah cantiknya memerah yang mana menarik perhatian Teo.


"Ada apa Dita? apa kamu sedang jatuh cinta?" Ucapnya antusias, tangannya menarik hidup Anandita gemas.


Anandita menatap Teo lekat mencurahkan rasa yang tidak bisa di mengerti Teo. "Ya, Dita sedang jatuh cinta." Sahutnya mantap.


Teo tercengang mendengar jawaban Anandita, sambil mengunyah makan siangan ya kepala Teo mengangguk-angguk seperti meledek, terlihat dari Ekspresi wajahnya.


"Katakan? siapa pria beruntung itu?"


Dia adalah Kakak.


.


.


Didalam benak pasutri itu bertengger pertanyaan. apakah sikap manis kedua Besan mereka itu benar-benar tulus atau hanya sandiwara? entahlah, tapi tidak baik berpikir Negatif tentang sikap seseorang apalagi ini Besan mereka.


Setelah selesai menyantap makan siang kini akhrinya perpisahan pun tiba.


Adel memeluk satu persatu kedua orang tuanya penuh rasa haru. air mata tak bisa lagi di bendung, sedangkan keluarga Tuan Paris menunggu didalam mobil termasuk Gavin.


"Sayang, jaga dirimu ingatlah Kami." Ucap Bu Puji. "Jangan tinggalkan Solat." Tambahnya sambil memeberikan Paper bag berukuran sedang.


Adel menundukan kepalanya menatap lekat isi Paper bag. "Mah."


Bu Puji mengangguk cepat di ikuti Pak Alam yang ada di antara keduanya.


"Mukena dan Al-Quran." Ucapnya singkat.


Adel mengangguk sambil terisak. kemudian ketiganya berpelukan sebelum Adel benar-benar pergi mengukti keluarga barunya.


Lambaian tangan memandakan kalau Adel benar-benar pergi. dirinya menatap dari dalam mobil sambil terisak melihat kedua orangtuanya yang tengah menangis di teras Gedung itu.

__ADS_1


"Jaga mereka Ya Alloh." gumamnya lirih.


Adel berjanji tidak akan membuat kalian kecewa. Maafkan Adel Mah, Pah.


Sepanjang perjalanan Adel masih terisak disaat suasana di dalam mobil dalam keadaan hening. baik kedua mertua dan sang suami tidak ada yang memberinya ketenangan, semuanya seakan acuh dan tidak perduli! di sinilah Adel merasa hidup sendiri.


Sesekali matanya melirik kesamping dimana sang suami duduk. lalu kembali matanya melirik kedepan dimana kedua mertuanya duduk.


Rasa-rasanya seperti berada di dalam satu mobil dengan orang mati!


"Adel?"


Adel tersentak ketika sang ibu Mertua menyebut Namanya.


"I-iya, Mah." Sahutnya gugup.


Sebelum memberi jawaban. Nyonya Tari menoleh ke belakang. "Jangan panggil saya Mama? panggil saya Nyonya."


wajah Adel nampak kebingungan kalimat 'Nyonya' apa maksudnya. "Nyonya?" Adel mengulang kalimat itu.


Nyonya Tari mengangguk. "Benar, panggil saya Nyonya."


Tanpa sadar Adel menyentuh tangan Gavin! sontak Gavin menatap Adel datar. dirinya bahkan tidak bersuara ketika ibunya meminta kepada sang istri untuk memangil dengan sebutan itu.


"Mas, apa maksdnya?" Tanya Adel dengan wajah bingung.


Satu kalimat yang di ucapkan Gavin. "Menurutlah."


.


.


Asalamuaalaikum...


Mudah-mudahan kita selalu diberi ke sehatan. Amin.


Oh ya semunya, aku ingin memberi tahukan kalau Cerita yang berjudul BIARKAN KAMI BAHAGIA...Hiatus dulu. dan akan di lanjutkan setelah Bulan Ramahdan selesai! kok gitu? alasannya, karena cerita di dalamnya tidak bagus di baca ketika kita berpuasa. jadi mohon pengertianya...ingat ya di lanjut sesudah puasa.


Dan sebagai gantinya, aku akan membuat satu Judul yang Romatis dan Komedi. ga ada mewek-mewek atau Adegan 21+ ya kan kita lagi puasa...Up perdana Sahur besok...


Baiklah semuanya...selamat puasa ya bagi kita yang menjalankan. semoga pusa kita tahun ini selalu di beri kelancaran Rezki, di mudahkan segala urusan. dan hati kita selalu dalam keadaan tenang. semoga Alloh mendengar Do'a Kita...Amin..


INI DIA JUDUL NOVEL SEPESIAL UNTUK MENEMANI SAHURMU DI BULAN RAMADHAN.


__ADS_1


__ADS_2