
Kediaman Tuan Paris pagi itu nampak menegangkan! semua pelayan dan para penjaga berbaris rapih dengan kepala menunduk tak kuasa menatap dua pria yang tengah duduk didepan mereka.
Nathan menatap semua pekerja dengan tatapan datar, sedangkan Tuan Paris masih meluapkan semua kekecewaannya karena semua pelayan dengan sengaja membiarkan Adel masuk dan tinggal bersama Gavin.
Pak Atmo yang ada di garis paling depan menjadi sasaran utama si tuan besar pasalnya ia adalah kepala pelayan di mansion megah itu.
Seperti yang di katakan Tuan Paris. Kalau dirinya akan mengumpulkan semua orang yang terlibat dan tutup mulut atas tinggalnya sang menantu di rumah utama, dan juga ingin mengadili mereka semua.
Di lantai bawah hanya ada Tuan Paris dan Nathan. Sedangkan Nyonya Tari berada dirumah sakit. Mega, Anggel dan Aji memilih kembali kerumah mereka pun Nenek Dayanti dan Kakak Damar. Keduanya dilarang turun dan ikut campur.
Adel sendiri sudah sadar dan istirahat guna memulihkan tubuh tanpa ada yang menemani. Hanya suster yang siap siaga disana. Sedangkan Gavin masih ada di ruang ICU. Pasalnya calon ayah itu masih belum sadar! Dokter Bagas mengatakan hebatnya benturan dan bekas oprasi membuatnya lambat untuk bangun bisa dikatakan Gavin Koma!
Dan untuk sekarang mari kita liat kejadian di Rumah utama.
Tap..tap..tap..
Langkah kaki dari arah samping terdengar membuat Tuan Paris dan Nathan menoleh.
"Apa itu?" Tanya Tuan Paris sambil beranjak berdiri. Melangkah menghampiri salah satu anak buahnya.
Si pria bertubuh tegap itu menyerahkan satu buah kardus kecil. "Kardus ini ada didalam mobil Tuan Gavin, Tuan Besar."
"Buka!" Titah Tuan Paris tegas.
Pria itu mengangguk cepat dan membuka si kardus.
Nathan merasa penasaran lalu menghampiri sang ayah di ikuti tatapan para pekerja yang masih berdiri bak patung.
Diam-diam Bi Muji yang ada di barisan kedua menutup mata merasa takut apalagi dirinya tau apa isi kardus kecil itu.
Non Adel, Bibi takut. Non.
Kardus di buka, memperlihatkan palstik tranparan yang mana nampak jelas barang di dalamnya.
Nathan melirik sang ayah dan kembali mundur tanpa mengatakan apa-apa. Sedangkan Tuan Paris masih diam di tempat. Hingga akhirnya kaki sang tuan besar menendang kardus berisi butiran buah lengkeng sampai melayang dan menjatuhkan semua buah dengan rasa manis itu hingga berserakan mengotori lantai.
"Atmo!" Panggil Tuan Paris dengan nada suara amat sangat nyaring.
Pak Atmo bergegas melangkah dan berdiri di belakang tubuh Tuan Paris.
"Saya, Tuan."
"Sudah berapa tahun kau bekerja di rumah ini?"
"13 tahun, Tuan." Jawab Pak Atmo mantap.
Tubuh Tuan Paris berbalik dan menatap dingin kepala pelayan itu.
"Lantas. Kenapa benda itu ada didalam mobil Gavin!" Tanyanya lagi guna mengingatkan Pak Atmo kalau semua keluarga Abrisam tak ada yang menyukai buah berkulit kuning itu.
Pak Atmo diam sejenak.
"Jawab!" pinta Tuan Paris.
__ADS_1
Pak Atmo pasrah dan bersuara. "Tuan Gavin ingin membelikan buah itu untuk Non Adel, Tuan besar."
Nathan mendesah disana tanpa bisa berkata. Yang terlihat hanya gelengan kepala dan mata lelahnya.
Tuan Paris menarik napas dan mendesah lalu ia berkata. "Kalian semua, termasuk dirimu!" Tangannya menunjuk Pak Atmo. "Saya pecat!"
Para pelayan dan penjaga terdiam pun Pak Atmo. Mereka pasrah dari semalam dan sudah menduga akan kabar buruk itu.
"Bi Muji, kemari!" Pinta Nathan menyela kemarahan sang ayah.
Bi Muji mengangguk dan menghadap dengan tubuh bergetar.
"Saya, Tuan."
"Saya ingin bibi pergi ke rumah sakit sekarang! Nyonya meminta Bibi untuk menemani Adel." Seru Nathan yang mana membuat Bi Muji bingung.
Nathan melihat itu. Lalu ia kembali bersuara. "Bibi tidak akan kami pecat, karena Bibi harus mengurus Adel itu pun permintaan-
"Nyonya. Tuan?" Bi Muji melanjutkan.
Nathan mengangguk pelan. "Jadi cepatlah bersiap."
.
.
Ruangan tak terlalu mewah itu terlihat sunyi dan menyedihkan. Yang terdengar hanya suara alat makan. benar saja, Adel baru saja menyelesaikan sarapan dengan di bantu suster.
"Iya, Nyonya." Jawab si Suster yang tengah merapihkan nampan.
"Bagaimana kondisi suami saya?" Tanya Adel dengan ragu.
Ingin rasanya melihat kondisi Gavin yang masih tak sadarkan diri. Tapi karena keadan membuat Adel hanya mampu bertanya kepada Suster. Rupanya rasa takut mengalahkan keinginan itu.
Adel dan Gavin berada di ruangan yang berbeda. Jika Gavin ada di lantai paling atas rumah sakit maka Adel berada di bawahnya. Ada perasaan rindu ingin melihat wajah tampan itu tapi sekarang seakan sulit dan mustahil.
Si Suster menjawab. "Suami Nyonya baik-baik saja, hanya saja Tuan Gavin masih belum sadar tapi kondisi tubuhnya baik Nyonya. Anda tidak usah khwatir." jawab si Suster.
Adel mengangguk pelan berusaha menahan tangis yang sedari tadi ia tahan.
Suster melirik Adel dan duduk sebentar. Mengusap tangan Adel untuk memberi kekuatan.
"Anda luar biasa Nyonya saya salut. Dalam kondisi hamil anda merelakan organ tubuh anda demi orang lain. Maksud saya suami anda." Ucap Si suster dengan wajah sendu. Apalagi otaknya mengingat perkataan Nyonya Tari tentang ketidak perduliannya atas semua pengorbanan Adel.
Adel hanya mampu memberi senyuman hambar.
Suster bangkit lalu bersiap keluar membawa nampan berisi sisa makanan Adel.
"Saya permisi Nyonya. beristirahatlah, sebentar lagi Dokter Bagas akan memeriksa anda."
Adel mengangguk pelan. "Terimakasih, Suser."
Dalam kesendirian Adel menatap langit-langit ruang inap. Mengingat bagaimana Gavin yang mungkin masih menutup mata. Rasa penyesalan kembali datang dan itu membuat matanya berkaca-kaca hingga meloloskan air mata.
__ADS_1
Hingga suara isakan tangis terdengar. "Maafkan Aku mas gavin. hiks...hiks...cepatlah sadar dan li-
Brak...
Adel tersentak ketika pintu ruangannya di buka dengan sangat kasar.
"Kau terkejut?" Kata orang itu meremehkan. Lalu kakinya berjalan menghampiri Adel yang masih terpaku di atas ranjang perawatan.
Kursi kecil ia geser dan duduk setelahnya, menghadap Adel yang masih menatapnya takut.
Melihat wajah pucat Adel membuat orang itu menyungsingkan tawa menyedihkan.
"Aku kesini bukan untuk melihat keadaanmu atau berterimakasih karena sudah mau memberikan ginjalmu untuk anakku Gavin, tapi aku datang untuk mengatakan sesuatu yang harus kamu dengar." jelasnya.
Adel menyeka air matanya dan mengangguk patuh.
"Sebelum anda mengatakan itu. Izinkan saya meminta maaf karena sudah membuat Mas Gavin menderita." Adel kembali menangis jika mengingat keadaan sang suami yang memang karena dirinya.
Orang yang di Maksud adalah Nyonya Tari. Dirinya diam mendengarkan dengan wajah ketus dan mata berkaca-kaca. Tapi bukan karena iba mendapati menantunya mau berkorban memberikan separuh tubuhnya. Nyonya Tari marah melihat Adel dan keadaan putra bungsunya.
Beberapa menit yang lalu ia duduk di ruang ICU menatap Gavin yang masih Koma. Tiba-tiba pengawal yang ada di luar masuk dan memberikan ponselnya.
Tuan Paris menelepon dan mengatakan Gavin kecelakaan karena Adel. Buah lengkeng adalah kunci dari segalanya.
"Saya tau apa yang ingin kamu katakan! penyesalanmu membuat saya semakin membencimu. Sebenarnya saya tidak ingin melihat wajahmu lagi! adanya dirimu di lingkungan kami membuat keluargaku hancur! tidakkah kamu merasakan itu?" Katanya berapi-api.
Adel mengangguk cepat dengan linangan air mata. "Maafkan saya...hiks...hiks...Maafkan saya."
"Karenamu Gavin Koma!" Katanya dengan suara bergetar yang mana membuat Adel semakin terpukul.
Ternyata Nyonya Tari sama sekali tidak perduli dengan keadaan sang menantu dan calon cucunya yang hampir mati karena sudah melakukan oprasi. Matanya sedikit pun tidak menampakan hal itu, yang Adel lihat adalah amarah dan kehancuran hati disana.
Nyonya Tari mengusap pipinya lalu ia kembali menatap Adel dengan tatapan penuh amarah.
"Dengar ini baik-baik, kamu bukan lagi istri Gavin putra ku. kamu hanya orang lain bagi kami." Lalu ia bangkit dan bersiap keluar, tapi kaki itu berhenti tanpa membalikan tubuh.
Adel masih menangis mendengar kalimat itu.
"Sampai kapan pun kami tidak akan pernah menganggap kamu dan bayimu ada. Dan satu lagi, rahasiakan semua ini dari gavin." Setelahnya Nyonya Tari benar-benar keluar meninggalkan Adel seorang diri.
"Hiks..hiks...hiks...Ya Allah...hiks...hiks...kuatkan aku Ya Allah."
Kenapa semua ini terjadi. Ya Allah, kenapa semua ini terjadi padaku.
.
.
Satu minggu berlalu dan Gavin masih belum terbangun dari komanya. Sedangkan Adel sudah kembali ke rumah belakang memulai hari-harinya dengan menahan rasa sakit yang kadang datang. Luka akibat oprasi masih belum sepenuhnya membaik, membutuhkan waktu dan kesabaran seperti dirinya yang masih harus bersabar menunggu datangnya kebahagiaan.
Adel harus menelan kepahitan kalau dirinya dilarang menemui Gavin yang masih ada di rumah sakit.
"Cepat sadar mas. Adel rindu." Lirihnya. Lalu Adel meneguk air setelah meminum obat yang sekarang harus ia konsumsi setiap hari.
__ADS_1