BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Seonggok Rindu Yang Tidak Berarti


__ADS_3

Mentari pagi datang menyapa membawa sang surya menghangatkan seisi dunia yang di selimuti dinginnya embun.


Adel melakukan rutinitas paginya. membersihkan setiap sudut rumah menikmati kesehariannya tanpa bantuan para pelayan yang juga sibuk di rumah utama.


Satu minggu kini sudah di lewati dengan penuh perjuangan. tiga minggu sudah Adel tinggal di lingkungan suaminya yang sampai saat ini belum kembali untuk melihat keadaanya. terakhir melihat Gavin ketika dirinya datang di malam itu dan sampai saat ini Gavin tak kunjung kembali.


Begitupun dengan pelayan yang di janjikan sang ibu mertua sampai tiga minggu lamanya orang itu tak kunjung datang. entahlah, Adel mulai melupakan itu dirinya sudah nyaman dengan hidupnya saat ini. menikmati kesendirian tanpa di temani siapapun.


Jujur, Adel tidak terlalu perduli. dirinya merasa senang karena bisa hidup tenang. bukan hanya Gavin yang tidak lagi datang melihat dirinya, anggota keluarga penghuni rumah utama tidak ada yang datang atau sekedar memberi hinaan. dirinya benar-benar di lupakan.


Walupun demikian sang ibu mertua tak pernah melupakan untuk mengirimkan pasokan makanan berupa sayuran dan berbagai jenis produk siap saji. Adel sendiri merasa bingung harus senang atau sebaliknya, Nyonya Besar itu dengan sadar memerintah pelayan untuk mengantarkan makanan setiap minggunya. mau di makan atau tidak kardus berisi bahan pokok itu selalu ada di depan pintu.


Adel awalnya menolak dan merasa enggan memakannya. tapi bagaimana dengan di janin yang butuh asupan nutrisi, selain Susu dirinya tetap harus makan untuk memperkuat diri menghadapai hari yang penuh kehampaan.


Setelah selesai membersihkan dapur. Adel memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh berbaring di atas kasur yang langsung menghadap ketaman belakang rumah utama. baru saja tubuhnya mendarat Adel mendengar suara gelak tawa Nyonya Tari dan kedua wanita muda, Angel dan Mega. disusul suara tuan Paris dan kedua laki-laki Aji dan Nathan, di dekat mereka ada dua orang anak keduanya laki-laki. hanya Kakek Damar dan Nenek Dayanti yang tidak terlihat, Adel diam-diam memperhatikan gerak-gerik mereka yang tengah berkumpul di sana menikmati udara pagi kota Jakarta.


Kalau ditanya apakah Adel merasa sedih melihat kehangatan keluarga itu? jawabannya iya, dirinya bukan ingin berada disana tapi kehangatan dan tawa mereka mengingatkan kepada kedua orang yang amat dicinta.


"Mah, Pah, Adel rindu." Ucap Adel pelan sambil menutup mata mencoba menghalau buliran bening yang siap keluar. bayangan wajah kedua orangtuanya terus menemani tawa dari keduanya membuat Ade tersiksa.


Sudah tiga minggu Adel tidak bisa mendengar suara dari kedua orangtuanya atau mengetahui kabar mereka. Bu Puji dan suaminya seolah menghilang Adel berusaha mengirimkan pesan setiap harinya tapi tak pernah dibalas, entahlah mungkin pasangan suami istri itu ingin melupakan dirinya.


Apakah seperti ini rasanya dibuang? Adel membatin meratapi nasib hidupnya seraya menatap keluar jendela.


Setiap minggu datang Tuan Paris selalu meminta kepada semua anak dan menantu berkumpul meluangkan waktu bersama mengajak kedua cucu tampan mereka. Adel bahkan belum pernah melihat kedua keponakan sang suami dari jarak dekat! hanya dari balik jendela dirinya bisa melihat kedua pewaris Global jaya itu. hanya saja di tengah kehangatan keluarga itu tidak ada sosok sang suami, Adel mengingat betul setiap ada acara kumpul wajib itu Gavin tak pernah terlihat, kemana gerangan pria tampan itu? Tanpa sadar, Adel memikirkan si pria walupun dirinya terus mencoba mengubur prasaan itu.


Suara tawa mereka membuat Adel menyadari kalau kehadirannya tidak pernah di inginkan atau lebih tepatnya tidak pernah ada, mereka semua hidup seperti biasa melupakan Adelia seorang diri.


Adel menarik napas dalam memainkan jari tangan menunggu hari kembali gelap. berharap dirinya bisa kembali bertemu sang surya. setap hari Adel mengharapkan hal itu berkutat dengan kejamnya waktu.


Di saat inilah Adel memproduksi air mata meluncur bebas keatas permukaan kulit pucatnya. bukan hanya rasa lelah, tapi kesendiran yang seolah menceki membuat Adel sulit untuk tegar. mencoba menguatkan diri tinggal seorang diri di tengah gelak tawa keluarga sang suami semakin membuatnya lemah. bukan dirinya ingin di akui tapi kenapa mereka begitu tega.


"Hiks...hiks...ini sudah tiga minggu hiks....hiks...aku sendiran disini....."


.


.


Gavin membuka mata menyesuaikan dengan sinar matahari yang diam-diam menyelinap lewat celah jendela. tubuh kekar itu menggeliat mendobrak selimut lembut yang menutupi tubuhnya.


Wajah yang sekarang di kelilingi bulu halus itu nampak kaku dan menyedihkan. bayang-bayang sang istri yang tidak jauh darinya terus berputar, penolakan tempo hari membuat Gavin mundur tidak ingin mencoba kembali memperbaiki keadaan atau sekedar memerintah Bi Muji melihat sang istri, masalahnya penjagaan semakin di perketat yang mana membuat si pelayan enggan menerima pekerjaan gelap itu. terlalu berbahaya banyak mata di sekitar mereka.


Lamanya Gavin merenung. tanpa bersuara ia bangun berjalan gontai kedalam kamar mandi. 30menit pintu itu terbuka, Gavin keluar dari sana kembali berjalan kearah lemari. kaos putih dan celana jeas pendek menjadi pilihannya. ia memakainya seketika menyemprotkan parfum kesekeliling, lalu keluar setelah menyisir rambut sedikit gondrong itu.


Tujuan utama Gavin adalah tangga dirinya turun menyeret tubuhnya untuk mengisi perut yang terasa lapar.


Sudah tiga minggu Gavin tinggal di rumah Tuan Paris sang ayah. selama itu juga dirinya berusaha untuk acuh tidak ingin memikirkan Adel, makan atau tidaknya Gavin tidak ingin tau! karena perdulinya dia kepada si istri tetaplah hal yang salah, Gavin memutuskan untuk menyibukan diri menjalankan perusahannya atau lebih tepatnya jangkar dari bisnis Global Jaya.


Ini sudah tiga minggu apakah kamu masih marah padaku?


Batinya meracau menerka-nerka apakah Adel sudah memaafkan dirinya dalam waktu tiga minggu ini? Gavin menghela napas putus asa.


"Itu tidak mungkin." Ucapnya seolah tau hal itu mustahil terjadi.


Gavin mempercepat langkahnya. di lantai bawah tidak ada anggota keluarga sejauh mata memandang, di ruang makan kakinya berhenti lalu si pelayan yang memang sudah siap siaga bergegas menggeser kursi.


"Silakan Tuan."


Gavin duduk setelahnya. "Aku ingin makan roti pakai-


.


.


Adel bergegas bangun mendudukkan tubuhnya seketika. tiba-tiba bibirnya mengecap seolah menahan sesuatu?


"Makan roti pakai selai jeruk terdengar enak?"


.


.


Si pelayan menatap Gavin bingung.


Kenapa tiba-tiba tuan Gavin ingin sarapan roti dengan selai jeruk? tidak biasanya?


Heran hati si pelayan sembari memandangi si bungsu tanpa bergerak. yang mana membuat Gavin melirik si pelayan.


"Apa kau ingin diam selamanya seperti itu? atau mengambil sarapanku?" Kata Gavin pelan tapi penuh penekanan.


Si pelayan kelabakan. ia bergegas mengangguk lalu pergi kedapur sambil bergumam. " Kenapa sekarang minta roti selai jeruk? bukannya Tuan Gavin membenci itu."


Tak lama si Pelayan datang membawa toples berisi selai jeruk pesanan Gavin. ia bergegas mengambil roti lalu mengolesnya dengan selai berasa asam manis itu. "Silakan tuan."


Gavin melahap dua tumpukan roti itu memakannya tanpa jeda. si pelayan menatap Gavin dengan kening mengkerut.


Mungkin tuan Gavin Ngidam? mungkin.


.


.


Adel berjalan kearah dapur. lalu membuka lemari es mencari roti yang ia masukan kedalamnya, terdengar Aneh tapi Adel suka dengan roti beruhu dingin.


"Tidak ada selai jeruk." Bibir mungil itu terus mengecap nikmat membayangkan rasa selai jeruk yang seolah sudah menggelayut di ujung bibinya.


Adel menyerah. didalam kulkas tidak ada selai lengket itu, ia menutup lemari es dengan menenteng satu buah roti berjalan keluar dapur dengan wajah murung.


"Selai jeruk." Ucapnya lirih sambil memandangi si roti.


.


.


Gavin meneguk air putih setelah selesai memakan enam tumpukan roti berisi selai jeruk. ia beranjak berdiri berniat pergi tapi kedatangan Nenek Dayanti membuat Gavin diam seketika.


"Nek," Gavin menyapa si Nenek dengan wajah datar.


Nenek Dayanti mengangguk lalu menarik Gavin untuk menjauh dari tatapan si pelayan. keduanya berjalan kearah ruang keluarga yang nampak sepi.


"Ada apa, Nek?" Tanya Gavin sembari tertawa. melihat sikap si Nenek membuat Gavin terhibur. "Nenek ingin mau kucing-kucingan?" Kata Gavin lagi.

__ADS_1


Langkah si Nenek terhenti. menghempaskan tangan Gavin cukup cepat lalu tangan keriput itu memukul pundak bidang si cucu.


"Dasar cucu tidak berguna?" katanya marah.


Gavin mengusap pundaknya yang tidak terasa sakit itu untuk menggoda Nenek Dayanti.


"Auu...Sakit Nek." Rengek Gavin.


Nenek Dayanti menggelengkan kepala melihat tingkah Gavin. kemudian Nenek Dayanti memperhatikan sekitar sebelum kembali bersuara. Aman tidak ada anggota keluarga.


"Gavin, ini sudah tiga minggu istrimu tinggal di rumah belakang. itu artinya kandungan istrimu sudah menginjak usia satu bulan."


Ucapan Nenek Dayanti membuat Gavin mematung. ia ingat betul waktu itu dokter mengatakan kandungan Adel baru menginjak usia 2 minggu.


Tanpa berbicara Gavin berbegas berlari meninggalkan Nenek Dayanti tanpa memikirkan mata para pelayan yang diam-diam menatap Nenek Dayanti.


Mata Nenek Dayanti memberi sorotan tajam seolah meminta mereka untuk diam. para pelayan mengangguk pelan lalu kembali berkerja.


Nenek Dayanti memasang senyuman melihat Gavin yang tengah berlari. " Maafkan Nenek dan Kakekmu Gavin, kami hanya bisa membantu dengan cara seperti ini."


Kakak Damar berdiri berhadapan dengan dua sosok pria berseragam hitam. di belakang tubuh mereka terdapat sebuah layar cukup besar menampilkan setiap sudut rumah.


Mata berhias kacamata itu menatap layar. yang mana menyoroti rumah tinggal Adel istri cucu tampannya, Kakek Damar lalu bergantian menatap kedua pria itu yang sudah di pastikan penjaga CCTv.


"Maafkan Kami Tuan, Kami-


"Diam kalian." Mata itu menatap tajam keduanya mengirimkan signal peringatan.


"Bagaimana kalau aku tambah uang ini." Tangan Kakek Damar menjatuhkan selembar cek keatas tumpukan uang yang dirinya bawa.


Berkumpulnya anggota keluarga di taman dijadikan kesempatan Kakek Damar untuk mendatangi penjaga CCTv. setelah ia berhasil mengumpulkan uang bernilai besar untuk membutakan mata para penjaga, agar Gavin bisa lekuasa menyelinap kerumah belakang.


Mata kedua penjaga bergantian menatap si tumpukan uang dan lembaran cek itu. untuk sesaat tergiur dengan tumpukannya dan kilauannya.


"Cepatlah aku tidak ada waktu." Ucap Kakek Damar.


Kedua penjaga itu saling tatap lalu mereka berbalik mendekati layar CCTv.


"Kami menerima tawaran ini Tuan."


"Itu ide yang bagus." Sahut Kakek Damar, bibir itu tersenyum puas.


Semoga belum terlambat.


.


.


"Mah"


Nyonya Tari yang tengah tertawa bersama Angel dan Mega melirik kearah suara.


"Ya, Nathan."


"Ini sudah tiga minggu. Nathan perhatian Gavin bersikap acuh kepada Adelia." Kata Nathan sambil menatap semua anggota keluarga.


Angel menyungsingkan tawa. " Bukannya itu bagus. Gavin tidak pantas untuk wanita itu." Mata tajam itu melirik kearah rumah Adel sinis. walupun Adel tidak pernah terlihat tapi tetap saja bayang-bayang Adel terus menghantui anggota keluarga termasuk dirinya.


Aku akan mencari cara agar kamu pergi dari rumah kami. apapun akan aku lakukan, lihat saja nanti.


Nyonya Tari mengela napas dalam. kembali menyeruput teh kesukaannya tanpa ingin menjawab pertanyaan Nathan.


Sekarang tuan Paris yang giliran menatap Nyonya Tari.


"Mah,"


"Ada apa, Pah." Sahut Nyonya Tari kesal. sang suami pasti ingin melemparkan pertanyaan yang hampir sama dengan Nathan. dan itu tebakan yang benar.


"Mana Pelayan yang Mama janjikan untuk menemai dia? sampai saat ini Kepala pelayan tidak memberi tahu Papa adanya orang baru."


Nyonya Tari menatap Angel, pun sebaliknya.


"Angel bilang tidak perlu." Seru Nyonya Tari seolah mengingkari janjinya.


Angel ikut bersuara. "Pah. itu tidak perlu, nanti dia besar kepala. dia bisa menjaga dirinya sendiri."


Mega melanjutkan. "Angel benar Pah. dia bisa menjaga dirinya sendiri, nanti yang ada dia keenakan dan betah lagi tinggal bersama kita."


Nyonya Tari tersenyum kearah Mega begitu juga dengan Angel. ketiganya kembali melanjutkan obrolan yang lebih penting.


Tuan Paris mengangguk kemudian seolah ucapan kedua wanita muda itu ada benarnya. Nathan dan Aji memilih tidak ingin melanjutkan obrolan mengenai Adel, akhirnya mereka kembali membahas berbagai persoalan tentang perusahaan dan lain sebagianya.


"Oh iya, Gavin, Nenek dan Kakek kemana?" Aji bersuara ketika sadar kalau orang yang di maksud tidak terlihat.


" Kami disini." Teriak Kakek Damar.


.


.


Gavin mengatur napas setelah berlari kesetanan menerobos pintu dapur yang mana ada pelayan disana. beruntung Kakek Damar dan Nenek Dayanti membungkam mata dan bibir mereka.


Di ambang pintu rumah Adel. Gavin berdiri dengan wajah bingung! dirinya tidak tahu apakah calon ibu itu mau membukakan pintu untuknya?


"Aku sudah disini." Ucapnya lalu Gavin mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban Gavin menyentuh pegangan pintu ia membukanya. "Adel, Adel ini aku."


Gavin melangkah amat sangat hati-hati takut kedatangannya mengagetkan si pemilik. dapur, kamar semua Gavin periksa tapi tidak ada sosok yang di carinya.


"Kemana dia?" Gavin berbicara sendiri sembari keluar rumah menatap sekitar. sampai ia melihat Bi Muji yang kebetulan keluar dari kamarnya.


Gavin mengendap-ngendap menghampiri Bi Muji.


"Bi." tergur Gavin dengan suara cukup pelan.


Bi Muji menoleh. "Loh.. Den Gavin."


Bi Muji menghampri Gavin cepat takut teman-temannya melihat si tuan muda datang ke area belakang. padahal para pelayan di sana tidak akan ada yang berani buka suara, Kakek Damar Sudah membereskan itu.


"Den, mau ke rumah Non Adel?" Tanya Bi Muji.

__ADS_1


"Orangnya ga ada, Bi."


"Memang ga ada Den. tadi Non Adel keluar sambil bawa roti." Kata Bi Muji dengan wajah sendu.


Gavin mengerutkan kening. "Kemana dia, Bi?"


"Tadi-


15 menit yang lalu.


Adel keluar rumah berjalan mendatangi kamar milik Bi Muji. karena hanya Bi Muji yang bisa dirinya datangi pelayan yang lain Adel mana mau wajah mereka sudah membuat nyali Adel menciut.


Tok...tok....tok.


Tidak membutuhkan waktu lama pintu kamar terbuka. "Non Adel."


Adel tersenyum melihat keterkejutan Bi Muji. "Bi, saya boleh minta tolong?" Ucapnya malu.


Bi Muji mengangguk. "Katakan Non, Bibi pasti Bantu."


"Bi, boleh saya meminjam uang Bibi."


Sontak Bi Muji memasang wajah sedih apalagi melihat wajah pucat itu.


"Boleh Non, berapa katakan saja, tapi kalau bibi boleh tau uang buat apa?" Tanya Bi Muji.


Sebelum menjawab Adel tersenyum malu. "Saya ingin sekali makan selai jeruk, Bi"


.


.


Gavin mempercepat larinya setelah selesai mendengar penuturan Bi Muji..


'Saya sudah katakan kepada Non Adel untuk diam dirumah biar saya yang ambil kedalam. tetap Non Adel menolak Den, katanya takut ketahuan Nyonya Tari. jadi Bibi ga bisa nahan Non Adel keluar.'


"Hanya karena selai Jeruk kamu sampai keluar rumah, bagaimana kalau kamu kelelahan." Gumam Gavin sambil berlari kearah gerbang.


Para penjaga berdiri ketika Gavin datang.


"Tuan."


Sambil terengah Gavin bersuara. "Apa istriku keluar?"


Kedua penjaga itu mengangguk membenarkan.


"Kalian tidak berguna kenapa kalian membiarkan dia melewati gerbang! How Stupid."


.


.


Adel berjalan pelan keluar gerbang berteman satu buah roti yang dibawanya tanpa sadar. para penjaga tidak ada yang melarang si Nona muda keluar, pasalnya baik Tuan paris atau Tuan Gavin tidak mengatakan apa-apa. ditambah Tuan Paris membebaskan Adel keluar tanpa pengawalan seperti Angel dan Mega jadi para penjaga tidak bisa melarang atau bertanya.


Udara pagi di pemukiman elit itu terasa sejuk. Adel menarik udara segar mencoba menenangkan jiwa tanpa ingin mengingat hidupnya saat ini.


Jarak 10meter dari gerbang rumah mewah Tuan Paris. Adel berhenti berjalan ketika satu buah Mobil datang. Adel menatap si Mobil lekat seolah tidak asing dengannya.


Tanpa di duga mobil itu berhenti yang mana membuat Adel diam mematung.


Sebelum turun. si pengendara mematikan mesin mobil lalu ia membuka pintu dan keluar membawa wajah tampan yang selama ini menghiasi kesendiriannya...


Deg....deg...


"Teo."


Adel mundur beberapa langkah meremas si roti. detak jantung seolah berhenti apalagi melihat wajah itu.


Teo laki-laki tampan yang sudah lama tidak di lihatnya tengah berdiri di depannya membawa wajah dengan garis menyedihkan. terlihat kacau dan tak berdaya selaras dirinya.


Adel mendadak bisu tidak bisa bersuara hanya buliran bening yang melucur bebas.


"Adel." Teo bersuara menyebutkan namanya dengan nada suara lirih. pertemuan tidak disangka itu sedikit mengobati kekosongan yang tiga minggu ini mereka rasakan.


Ya allah, aku tidak bisa berbohong kalau aku sangat merindukannya. maafkan aku ya allah.


"Se-sedang apa kamu disini?" Tanya Adel sembari memalingkan wajah berusaha menghapus air mata. ia tidak ingin Teo menangap basah dirinya yang menangis karena rasa rindu, walupun Teo sudah melihat buliran bening itu.


"Aku ingin menemui Gavin, ada urusan penting yang harus di selesaikan." Jawab Teo tenang walupun jantungnya tidak bisa di kontrol.


Adel aku senang kamu baik-baik saja.


"Kamu sedang apa sendiran disini?"


Teo melemparkan pertanyaan sambil berjalan menghampiri Adel. tapi tanpa diduga Adel malah melangah mundur.


"Aku sedang berjalan santai. maaf aku harus pergi." Adel berbalik dan berlari.


Teo tidak diam saja dirinya berlari kencang mengejar dan tanpa di duga. Teo menarik tangan dingin itu. Adel terkejut dibuatnya.


"Teo lepaskan." Pintanya seraya benghempaskan tangan kekar itu.


Teo semakin mempererat genggaman itu seolah enggan melepaskan. rasa rindu sudah menggelapkan hati Teo.


"Katakan, apakah kamu tidak merindukanku Adel? selama ini aku berusaha melupakanmu. tapi aku tidak bisa-


"Aku mohon lepaskan, aku mohon."


"Tidak, sebelum kamu menjawab-


"Teo Tantala, lepaskan istriku!!"


Suara bariton itu membuat Teo dan Adel menoleh seketika.


"Gavin.." Adel menyuarakan nama sang suami dengan wajah ketakutan. apalagi tatapan itu membuat bulu kuduknya berdiri.


Sedangkan Teo malah memasang wajah datar tanpa ingin melepas tangan Adel.


Di waktu bersamaan. Mobil hitam lainnya datang, si pengendara buru-buru keluar membawa wajah bingung..


"Ternyata benar dugaanku. kalau Kamu kesini, Kak."

__ADS_1


Kamu mengatakan padaku kalau kamu bisa melupakan dia tapi nyatanya, Dita tau kakak Teo bohong, Dita tau itu.


__ADS_2