
Adel tak hentinya berzikir disaat malam semakin larut, pukul 2 dini hari dirinya selesai mengadu kepada sang pencipta hingga pagi datang matanya tak kunjung tertutup. Sedangkan Bi Muji yang ada di luar kamar tepatnya ruang tv sudah kembli berktifitas. Sekarang dirinya lebih pokus mengurus Adel alih-alih rumah utama. Lagipula para pelayan dan penjaga yang baru sudah datang. Jadi Bi Muji merasa asing dengan hal itu.
Sarapan selesai di hidangkan. Adel dan Bi Muji sarapan bersama bak ibu dan anak hanya ada sedikit batas diantara mereka. Adel enggan bercerita banyak hal termasuk operasi pengangkatan Ginjal yang dirinya lakukan.
"Bi?" Adel menoleh kearah Bi Muji yang tengah membawa obat dengan segelas air.. Keduanya sudah selesai sarapan.
"Ya, Non." Bi Muji meletakan Gelas dan menyerahkan tiga butir obat.. "Apa masih sakit perutnya Non?" Tanya Bi Muji. Dirinya merasa khawatir ketika pertama kali datang kerumah sakit mendapati sang nona muda terbaring di ranjang perawatan. Yang pada saat itu Adel memberi alasan dirinya pingsan karena terkejut atas kecelakaan Gavin.
"Mungkin sekarang mas gavin sudah pergi ya Bi!" Katanya sedih tanpa ingin menatap obat ditangannya.
"Berdoa saja. Mudah-mudahan Den Gavin cepat sadar Non. Dengan begitu ada yang melindungi Non di rumah ini." kata Bi Muji menguatkan.
Adel menjadi semakin sedih terbukti dirinya menangis jika mengingat Gavin yang satu minggu lebih ini tidak terlihat.
Bi Muji duduk disamping Adel lalu memeluknya layaknya seorang ibu yang memberi kekuatan kepada putrinya sendiri.
"Saya merindukan Mas Gavin, Bi...hiks...hiks..."
"Bibi tau, Non..."
.
.
Adel salah! Gavin masih di indonesia karena memang tidak ada alasan baginya pergi meninggalkan tanah air. Gavin sudah sadar walupun ada ke anehan yang dibawa Gavin dari tidur panjangnya.
Kenyataan buruk yang harus di terima Adel kalau sang suami tidak mengingat siapa dirinya.
Ini bukan hal aneh. di dunia medis hilangnya sebagian ingatan sudah hal yang lumrah apalagi bagi si penderita yang baru saja melakukan operasi di kepala dengan berbagai sebab. Salah satunya karena benturan yang cukup keras membuatnya kehilangan sebagian ingatan. Dan sekarang menimpa Gavin.
Malam hari ketika gejala itu terlihat Gavin kembali menerima pemeriksaan darurat.
Dokter Bagas mengatakan. "Ini hilang ingatan ringan!" Jelas Dokter Bagas setelah memeriksa Gavin dengan melakukan pengecekan di otak menggunakan alat canggih yang dimiliki rumah sakit Elit itu.
"Hilang ingatan ringan?" Ketiganya mengulang kalimat Dokter Bagas.
Dokter Bagas mengangguk pelan.
"Gavin tidak bisa mengingat kejadian dua tahun yang lalu! otaknya hanya merangkum kejadian sebelum dua tahun itu." penjelasan Dokter Bagas sama sekali tidak bisa di mengerti keempatnya.
Gavin terpaku menatap Dokter Bagas pun kedua orang tua dan Kakak laki-lakinya.
Nathan bersuara. "Apa maksdu dari ucapan Anda?"
"Begini Tuan. Kejadian yang terjadi selama dua tahun ini Gavin tidak bisa mengingat itu semua."
"Jadi, dia tidak ingat orang-orang yang di temuinya dalam dua tahun terakhir?" Nyonya Tari mengajukan pertanyaan sambil mengelus kepala Gavin.
"Bisa dikatakan seperti itu. Nyonya."
__ADS_1
Ketiganya saling tatap.
"Kalian jangan khwatir ini tidak akan lama, kemungkinan sembuh dengan cepat kalau kalian mengingatkan Gavin tentang mereka yang di temuinya baru-baru ini." kata Dokter Bagas. ingin memperjelas potongan kata tentang kondisi Gavin yang hanya diam tanpa bersuara.
"Kak, apa aku sudah menikah?" spontan Gavin bertanya tanpa melepas pandangan kearah Nathan.
Semua menatap Gavin tak terkecuali Nathan yang pada saat itu langsung melirik sang ibu.
.
.
Tiga hari berlalu.
Gavin sudah di perbolehkan pulang mengingat kondisi tubuhnya mulai membaik. Hanya saja ingatan Gavin masih belum kembali.
Nyonya Tari seperti biasa selalu mendampingi sang putra bungsu bersama pengawal barunya, hal itu yang membuat rencana Aji kakak ipar Gavin gagal total. Harus kembali merancang strategis yang baru dan lebih matang.
Noah dan Teo sudah menjenguk Gavin bersama keluarga mereka. Dan keduanya juga sudah mendengar kabar hilangnya sebagian ingatan Gavin. bahkan ketika melihat Kasih dan Putra mereka Gavin bertanya banyak hal dan tidak percaya kalau Noah sudah menikah!
Tanpa diketahui semua keluarga kalau Gavin merasa prustasi dengan kondisi dirinya, tapi Gavin berusaha tenang apalagi mendengar penjelasan Dokter Bagas kalau ini tidak akan lama.
.
.
Penjaga berlari membuka pintu mobil yang mana turunlah Gavin dengan bantuan kursi roda. Bukan apa-apa atau berlebihan tapi karena kondisinya belum stabil benar.
Gavin menyungsingkan senyum rasa bahagia ketika melihat rumah kedua orang tuanya. Apalagi para kerabat dan sodara menyambut kedatanganya. Hanya saja Noah dan Teo absen datang karena mereka ada pertemuan keluarga untuk membahas sesuatu yang masih menjadi misteri.
"Selamat datang, Gavin." Kakek Damar menyambut sang cucu.
"Terimakasih, Kek." jawab Gavin sambil memeluk tubuh renta Kakek Damar. Bergantian dengan Nenek Dayanti dan yang lain.
.
.
Kabar pulangnya Gavin sampai ketelinga Adel yang saat itu hanya bisa merasakan bahagia seorang diri di rumah belakang. wajahnya yang murung kini nampak lain. Adel benar-benar bahagia.
"Non Adel terlihat sangat bahagia?" Goda Bi Muji yang saat itu datang dari dapur. mereka baru selesai makan siang bersama.
Adel menoleh sambil tersenyum malu.
"Sekarang. Non, tidak akan kesepian lagi." Kata Bi Muji.
Kepala Adel menggeleng lalu mengelus tangan Bi Muji. " Selama ini pun saya tidak sendirian Ada Allah dan Bibi."
Bi Muji mengangguk membenarkan. sampai keduanya duduk bersama sambil menikmati acara tv. Tak lama suara ketukan pintu terdengar.
__ADS_1
Tok..tok...tok...
Keduanya terkejut apalagi Adel wajahnya mematung.
"Itu pasti Den Gavin." pikir Bi Muji lalu ia berdiri.
"Bibi buka ya, Non?"
Adel mengangguk. sedangkan dirinya merapihkan pakaian dan rambut lurusnya.
"Alhamdulilah Mas. Adel mau minta maaf."
Bi Muji membuka pintu.
Ceklek...
"Nyonya besar meminta Wanita itu datang kerumah utama!" Kata si pelayan wanita seumuran dengannya.
Wanita siapa yang kamu maksud? dia Nona muda di rumah besar itu.
Ingin rasanya Bi Muji mengatakan itu tapi dirinya hanya bisa mengumpat didalam hati. Sambil melirik ke belakang dimana Adel datang dengan senyuman manis.
"Bi." Adel mendekat dan menatap si pelayan baru.
Dimana Mas Gavin? Batin Adel bertanya.
Si pelayan baru menatap Adel datar. " Nyonya besar meminta anda untuk datang kerumah utama." kalimatnya di ulang.
"Tapi saya dilarang masuk kerumah utama." Kata Adel. mengingat perkataan Nyonya Tari yang sampai saat ini masih terngiang di otaknya.
"Mari ikut saya." Si pelayan bak robot saja tidak mendengarkan perkataan Adel.
"Saya rasa Nyonya memang meminta Non untuk masuk. ikut saja Non mungkin Tuan Gavin yang meminta." bisik Bi Muji.
Adel tersenyum dan dengan polos berjalan dibelakang si pelayan meninggalkan Bi Muji di ambang pintu.
Adel berjalan pelan membawa perasaan campur aduk. takut, gelisah. gugup dan senang bersatu membuat tubuhnya lemas.
Mas, apakah kamu mau memaafkan aku?
Adel membatin sampai ia masuk kedalam rumah.
"Silakan masuk dan temui Nyonya besar." Tangan si pelayan menunjuk kerumunan orang yang ada di ruang tengah mansion.
Disana ada banyak orang, tapi yang menjadi perhatian Adel adalah sosok pria tampan dengan wajah sedikit pucat yang ada di kursi roda. didampingi ibu mertuanya.
"Mas, apakah aku benar-benar mencintaimu!" Adel bergumam sambil berjalan tanpa sadar. Seolah kehadiran Gavin bak magnet saja.
"Mas Gavin...Mas.." Adel memanggil Gavin dengan suara lembutnya yang mana membuat semua orang menoleh termasuk Gavin. Sedangkan Nyonya Tari menyungsingkan seringai kepuasan.
__ADS_1