BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Keberanian


__ADS_3

Malam datang. Maya baru saja meninggalkan kediaman Tuan Paris setelah makan malam bersama keluarga besar Abrisam. Mereka tau siapa itu Maya. Anak dari pengusaha yang cukup terkenal di kota Jakarta. Amat sangat cocok untuk menantu Keluarga Abrisam. Semua keluarga mendukung Maya menjadi istri Gavin. tapi tidak bagi Nenek Danyanti dan Kakek Damar.


Kedua lansia itu diam-diam menghubingi Adel setelah pesta usai. Dikamar posisi keduanya saat ini. menunggu Adel mengangkat telepon penting itu.


Bisa saja Kakek Damar menghubingi Adel sejak dulu tapi baru sekarang ada waktu. pengawasan yang lagi-lagi menjadi penghalang.


Kebetulan Adel baru selesai shalat Isa. calon ibu itu melipat alat shalat dengan wajah bengkak akibat menangis terlalu lama meratapi hidupnya yang kacau dan tak terarah.


Di atas sejadah Adel melamun dengan perasaan kalut. Mengusap perut buncitnya yang sekarang sudah menginjak 5 bulan. Sampai pipinya kembali basah.


Sambil terisak Adel bersuara. "Kenapa jadi begini? Kenapa dia tidak mengingat siap aku."


🎵🎵🎵


Adel menoleh kearah suara yang bersumber dari ponselnya. menatapnya sesaat dan memutuskan meraih si hp dengan masih menangis.


"Hallo."


.


.


"Adelia. Ini Nenek Dayanti. Nenek Gavin."


Adel mematung merasa bingung mendengar suara dan siapa yang menghubunginya.


"I-iya Nek," Jawab Adel gugup.


"Apa kamu baik-baik saja, sayang?"


Adel menelan ludah kasar mendengar kalimat sayang dari Nenek dayanti.


Apa aku tidak salah dengar? Batin Adel bertanya.


"Nak. tolong maafkan kedua mertuamu. dan kamu harus tau kalau Gavin mengalami hilang ingatan ringan! Gavin tidak bisa mengingat kejadian dalam dua tahun terakhir, jadi tadi ketika melihatmu dia sama sekali tidak ingat." Jelas Nenek dayanti. sedangkan Kakak Damar mendengarkan.


Jadi Mas Gavin-

__ADS_1


"Kamu masih disana. Sayang?"


Adel mengangguk cepat yang sebenarnya tidak dapat dilihat Nenek Dayanti dan Kakek Damar. "Ya. Nek."


"Dengar sayang. Ini memang terdengar sulit. Tapi Nenek dan Kakek akan berusaha agar Gavin mengingat siapa kamu!"


Adel menangis disana. memaksanya untuk menerima kabar buruk itu! masalah seakan tidak ingin pergi dalam hidupnya. Dan sekarang dirinya harus kembali bersabar.


Mas Gavin aku merasa sulit untuk bisa menjangkau dirimu. haruskah aku menyerah dan meninggalkanmu?


.


.


Pukul 9 malam keluarga berkumpul di ruang tv tanpa ada Tuan Paris disana. Pria paruh baya itu memilih beristirahat setelah seharian berkutat dengan banyaknya kerjaan dan tamu undangan.


Nyonya Tari mengajak kedua cucunya bermain seolah tak ada habisnya. Tenaga sang Nyonya Nampak luar biasa saja. Yang mana membuat Anggel menegur sang ibu.


"Mama. Terlihat bahagia?" Tanya Enggel melirik sang suami yang juga meliriknya.


Nyonya Tari melirik keempat anaknya dan juga kedua mertuanya yang hanya memasang wajah datar.


"Mama bahagia melihat Gavin sudah kembali bersama kita, dan hari ini Maya juga datang."


Semua mengangguk setuju.


"Apa yang Mama rencanakan?" Tanya Mega.


"Mama akan menikahkan Gavin dengan Maya dalam waktu dekat!"


Sontak semua terkejut dibuatnya apalagi Kakek Damar dan Nenek Dayanti.


"Kamu bicara Apa, Tari?" Seru Kakek Damar.


Wajah Nyonya Tari berubah masam mendengar pertanyaan sang ayah mertua.


"Tari akan menikahkan Gavin dengan Maya! Apa papa kurang mendengar itu?" jawabnya tegas.

__ADS_1


"Tapi-


"Sudahlah mah. Jangan ikut campur." Kata Nyonya Tari meminta sang ibu mertua untuk diam.


Sedangakan Nathan dan yang lain hanya diam menyaksikan.


"Jangan membuat Gavin terbangun!" Mata Nyonya Tari melirik lantai atas dimana kamar Gavin berada.


Semua diam dan ruangan itu terasa canggung.


"Tunggu....jangan masuk!" Dari arah lain suara keributan terdengar.


Semua keluarga menoleh kesumber suara. Dimana para pelayan tengah mencegah Adel yang siap masuk keruang keluarga bersama Bi Muji.


Melihat itu. Nyonya Tari tersenyum aneh.


"Berani juga dia!" Gumam Nyonya Tari.


"Biarkan dia masuk!" Titah Nyonya Tari.


Para pelayan mengangguk patuh dan membiarkan Adel berjalan menghampiri semua keluarga bersama Bi Muji.


Melihat itu semua terkejut dan saling tatap. Sedangkan Nenek Dayanti dan Kakek Damar tersenyum.


Bagus Nak, katakan kalau kamu berhak atas Gavin. minta hakmu di rumah ini.


Batin Nenek Dayanti. seketika mengingat pesannya tadi malam yang mana meminta Adel untuk berjuang dan menemui Gavin.


Adel berhenti di mana Nyonya Tari duduk sedangkan Bi Muji hanya mampu mendunduk karena takut.


"Apa kamu sudah gila?" Kata Nyonya Tari kepada Adel tanpa melihat wajah sang menantu.


Adel menghela napas sambil menggelengkan kepala. "Tidak..Saya tidak gila. saya datang untuk mengatakan kalau saya menyerah dan akan meninggalkan rumah ini!"


Nyonya Tari menyeringai disaat semua keluarga membutakan mata mereka.


"Tidak cukup hanya meninggalkan rumah ini! Kamu juga harus meninggalkan Gavin untuk selamanya."

__ADS_1


__ADS_2