
1 jam yang lalu.
Bi Muji mendengar suara dari dalam kamar sang nona muda. dirinya tanpa ragu membuka pintu yang memang tidak di kunci.
"Non." Bi Muji masuk dan duduk dimana Adel terisak di atas sajadah.
Adel menangis sambil menggelengkan kepala. "Saya tidak sanggup Bi..saya benar-benar tidak sanggup menghadapi ini.."
"Bibi tau, Non..Tapi bibi mohon bersabarlah."
Kepala Adel kembali menggeleng. "Saya capek Bi...Sekarang saya harus menerima kenyataan kalau Mas Gavin tidak ingat siapa saya."
Bi Muji terdiam tidak lagi bisa menenangkan Adel yang masih menangis.
"Setidaknya tunggu sampai Den Gavin-
"Tidak Bi! Saya sudah lelah bahkan didalam rumah ini saya seperti manusia hina. Mereka...hiks...hiks...Mereka bahkan tidak pernah menganggap saya ada! Jadi...Jadi untuk apa saya masih bertahan!"
.
.
Bi Muji menunduk jika mengingat kata-kata itu. Berusaha menyakinkan Adel untuk tidak menyerah tapi apa daya dirinya tidak bisa memaksa kehendak dari Nona mudanya itu.
Kenapa jadi begini ya tuhan..Kenapa engkau seakan senang membuat rumah tangga mereka berantakan. Setidaknya berikan sedikit kebahagiaan untuk Non Adel dan juga bayi yang di kandungnya.
Batin Bi Muji yang saat itu setia disisi Adel.
Adel sendiri mematung mendengar kata menyakitkan dari sang ibu mertuanya. Seolah tidak ada rasa belas kasihan darinya. Bahkan perut buncitnya tidak membuat Nyonya Tari tersadar bahwa itu adalah cucunya sendiri.
Mas, jika dengan ini kamu dan aku bahagia. Aku rela! Setidaknya aku bisa mendengar kamu baik-baik saja.
"Sekali saja! Sekali saja biarkan saya menemui Mas Gavin. Setelah itu-
"Setelah itu apa?" Sambung Nyonya Tari. Berdiri berjajar dengar Adel.
Keduanya saling tatap untuk sejenak.
"Saya akan pergi dari hidup Mas Gavin selamanya!" seru Adel tegas.
Nyonya Tari mengangguk pelan setelahnya kembali duduk dengan wajah datar.
"Pernikahan tidak untuk di permainkan Adelia!" Seru Kakek Damar yang mana membuat Nyonya Tari dan Keempat anaknya menoleh pun dengan Adel.
"Pa-
"Tidak Tari. Kali ini Papa harus ikut campur!" Tangkas Kakek Damar.
__ADS_1
Adel menitikan air mata ketika Kakek Damar seolah mendukungnya.
Rupanya masih ada yang mengharapkan aku di rumah ini. Tapi apa ini cukup?
"Tidak Kek. Saya sudah siap meninggalkan Mas Gavin. Mungkin ini keputusan yang terbaik walupun dalam agama saya ini di haramkan" Adel menunduk untuk menatap perutnya sambil mengusapnya sesekali.
Dengarlah ini, Kamu akan tetap bahagia walupun hanya di besarkan oleh ku.
Perdebatan antara Nyonya Tari dan Kakek Damar berlangsung sengit dan berakhir dengan keputusan awal Adel untuk pergi meninggalkan Gavin, yang saat ini terlelap dikamar tanpa mengetahui kegaduhan dilantai bawah.
Seperti yang dikatakan Adel, dirinya akan pergi dengan syarat menemui Gavin untuk yang terakhir.
Disinilah Adel berada. Tepatnya di lantai dua kamar Gavin tujuannya. berdiri dengan tubuh lemas. menatap nanar pintu bercat hitam itu berusaha menahan tangis yang siap datang.
"Kuat...aku harus kuat! mungkin kamu bisa bahagia dengan gadis itu!" ucap Adel lirih.
'Gavin akan saya nikahkan dengan wanita pilihan kami. Namanya Maya wanita yang pantas untuk Gavin! Ketahuilah mereka pernah bersama. tapi kabar buruk putusnya mereka sekarang berbuah manis. Maya sudah kembali dan Gavin masih mencintai Maya.
"Hiks....hiks....Ya Allah," Adel akhirnya menangis di ambang pintu yang masih tertutup. kata-Kata tentang siapa itu Maya membuatnya ambruk dan tak berdaya. Terlalu sakit untuk tinggal lebih lama di lingkungan sang suami. Yang pada akhirnya Adel mengurungkan niat menemui Gavin. Adel berdiri penuh kekuatan dan merogok kantong dasternya. sepucuk kertas ia selipkan di sela-sela bawah pintu kamar Gavin sambil bergumam. "Maaf. Adel tidak kuat jika harus melihat wajahmu Mas!"
Setelahnya Adel berjalan pergi menjauhi kamar tanpa ingin menoleh kebelakang. Itu tidak baik bukan? Adel terus berjalan menuruni tangga berharap Gavin datang dan mencegah langkahnya. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Adel harus bisa menerima kenyataan kalau saat ini Gavin bukan lagi Gavin yang dulu.
Ya Allah. Jangan hukum aku atas keputusan ini. Aku sudah lelah dan tidak sanggup lagi. Biarlah anakku hidup denganku tanpa adanya mas Gavin.
Nyonya Tari yang sekarang didampingi Tuan Paris menatap Adel ketus pun keempat anak mereka. Sedangkan Kakek Damar dan Nenek Dayanti menghilang entah kemana. yang pasti perginya pasangan lansia itu perintah dan ancaman Nyonya Tari.
"Bagaimana? apa Gavin mengingat dirimu?" Goda Nyonya Tari.
Adel tersenyum samar lalu kembali berdiri di samping kedua mertuanya.
"Saya pamit! Saya akan mengajukan surat cerai setelah anak ini lahir. Saya akan memberikan nomor telepon saya. Dan setelah 4 bulan anda bisa menghubungi saya. mohon untuk anda mengingat hari itu tiba." Kata Adel. Setelahnya berlalu pergi dari rumah utama menuju rumah belakang yang mana sudah ada Bi Muji di sana.
Nyonya Tari tertawa karena senang di ikuti Tuan Paris dan keempat anak mereka. Merasa berhasil mengusir hama tanpa kekerasan atau tindakan keji. Yang sebenarnya bersumber dari Menantu kebanggaan merek Aji. pria tampan suami Anggel yang juga ada di sana menyaksikan drama menyedihkan itu.
Aji bergumam dalam hati.
Bukan hanya tubuh Gavin saja yang terluka. Sekarang atau pun nanti Gavin akan sadar kalau istrinya pergi. dengan begitu dia akan tersiksa dan gila...Aji-aji pintar juga dirimu.
"Berikan dia uang. Pastikan dia tidak kembali ke kehidupan Gavin dan keluarga ini." Titah Tuan Paris kepada salah satu pelayan.
Pelayan itu mengangguk dan undur diri untuk menjalankan tugas, setelah menerima selembar Cek dengan nominal di dalamnya.
"Dengar, jangan sampai Gavin tau tentang ini. Jangan katakan kalau dia pernah menikah dengan wanita miskin itu. bersikap normal." Kata Nyonya Tari.
Nathan bersuara. "Bagaimana kalau hilang ingatan Gavin kembali pulih?"
Semua terdiam sambil menatap Nyonya Tari.
__ADS_1
Alih-alih khawatir ibu tiga anak itu tersenyum. "Sebelum itu terjadi. Mama akan menikahkan Gavin dengan maya."
.
.
Adel dengan tegar mengemasi baju-bajunya mengabaikan Bi Muji yang terus saja membujuknya untuk tinggal.
"Tidak Bi! Saya tidak bisa, Saya lelah. Mungkin memang benar! kalau Mas Gavin bukan jodoh saya."
"Non. bibi mohon-
"Bibi jangan khawatir. Saya akan baik-baik saja." Kata Adel mencegah Bi Muji kembali membual.
Bi Muji menarik napas dan merenung sejenak.
"Non, mau pergi kemana?"
Pertanyaan Bi Muji membuat Adel berhenti memasukan baju dan terdiam.
Aku lupa? Setelah keluar dari sini. Aku harus kemana? Kalau aku kembali ke rumah mereka apa mereka mau menerimaku lagi?
Adel membatin memikirkan kedua orangtuanya dan ia menggeleng.
Tidak...itu bukan keputusan yang baik. Mereka bisa mengusirku dan tetangga akan memaki mereka...Tidak Adel..
"Non?" Bi Muji mengusap pundak Adel yang mana Adel menoleh.
"Non. Mau pergi ke mana setelah-
"Saya tidak tau Bi. Yang pasti saya ingin keluar dari rumah ini dulu."
"Haruskah Bibi pergi juga-
"Jangan Bi, jangan lakukan itu." Kata Adel merasa bersalah ketika Bi Muji mengatakan itu.
Bi Muji tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Tidak Non. Bibi akan keluar dari rumah ini. Lagi pula disini Bibi sudah merasa tidak nyaman. kalau bukan karena Non Adel, Bibi pasti di usir seperti yang lain."
Adel terdiam.
"Apa Bibi yakin?"
"Bibi Yakin. Bagaimana kalau Non ikut Bibi Ke Surabaya. Tempat kelahiran Bibi."
Surabaya. haruskah aku pergi ke kota itu? Kota dimana kamu membuat aku seperti ini.
.
__ADS_1
.