
"Mas! Apa aku tidak salah dengar?" Dari kerumunan itu seseorang bersuara yang mana memancing kerabat dan sodara yang lain berbisik. Apalagi mereka baru sadar kalau si wanita berpenampilan sederhana itu tengah hamil. sontak mereka menatap Gavin yang masih diam di kursi rodanya. Sedangkan Nyonya Tari masih nampak tenang seolah menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.
Tuan Paris yang juga ada di sana bersama keluarga termasuk kedua orang tuanya hanya diam! karena sebelum hari itu datang Nyonya Tari sudah memberi aba-aba kepada semua orang yang tinggal dengannya untuk tidak ikut campur.
Kakek Damar dan Nenek Dayanti menatap Adel sendu ingin menyapa atau sekedar mengatakan kalau 'Dia adalah Nona muda di rumah besar ini 'Tapi keadaan meminta mereka untuk diam.
Sadarlah Gavin dan katakan dia istrimu!
Batin Nenek Dayanti yang saat itu berdiri pergi di ikuti Kakek Damar. Tidak sanggup menyaksikan kemalangan sang nona muda.
"Siapa wanita itu, Tari?" Tanya kerabat keluarga Abrisam yang ada didekat mereka. "Dia memanggil Gavin dengan sebutan Mas!" sambung yang lain.
"Mah, Dia siapa?" Sekarang Gavin yang bertanya. Sambil melirik sang ibu sesaat.
Deg...deg...deg...
Adel menutup mulut mendengar itu. "Mas.." Tubuhnya oleng seketika. kakinya bergetar hebat seakan tidak mampu berpijak. hingga Adel dapat menguasi diri dan kembali berdiri tegak dengan penuh perjuangan.
Nyonya Tari menyungsingkan senyuman jahat menatap Adel yang mana nampak pucat dan terguncang.
Seharusnya kamu lihat dimana posisimu.
"Dia!" mata Nyonya Tari menyoroti Adel seolah menghina. "Dia, yang sudah menyelamatkan kamu sayang." katanya sambil membungkuk untuk mendekati Gavin.
Para kerabat dan sodara kaya itu mengangguk setelah mendengar siapa Adel.
Suasana kembali tenang dan mereka sibuk dengan urusan masing-masing mengabaikan Adel yang masih berdiri seperti patung menatap Gavin yang juga menatapnya datar.
Apa maksudnya ini? aku tidak mengerti!
Batin Adel bertanya mencari jawaban yang pas. Dirinya sibuk sendiri sampai ia sadar Gavin dan Nyonya Tari sudah ada dihadapan.
Tanpa diduga Gavin mengulurkan tangan kearah Adel. "Aku tidak tau siapa dirimu tapi aku berterima kasih karenamu aku bisa selamat.!"
Mulut Adel rapat dan tubuhnya benar-benar kaku. Mata berair itu menatap tangan Gavin yang mengayun di udara dengan deraian air mata tapi buru-buru Adel mengusapnya.
"Tangan anakku akan pegal kalau kamu masih diam!" Ucap Nyonya Tari menyadarkan Adel.
Dengan perasaan berat Adel menerima tangan hangat Gavin.
Gavin tersenyum. "Aku sebelumnya tidak pernah berterima kasih kepada orang. Tapi untuk ini aku membuat pengecualian!" Kata Gavin sambil melepaskan jabatangan singkat itu.
Adel mengangguk dan menunduk. otaknya seolah mati dan lidahnya benar-benar kelu.
Mas, ada apa dengamu? kenapa kamu tidak mengingat siapa aku.
__ADS_1
"Kami permisi. Silakan nikmati pestanya." Gavin pamit kepada Adel. Dan Nyonya Tari tersenyum senang sambil mendorong kursi roda. Meninggalkan Adel yang masih mematung disana.
Lihatlah siapa dirimu di rumah kami! seharusnya ini sudah cukup menyadarkan wanita tidak tau seperti dirimu.
Batin Nyonya Tari.
Adel mundur perlahan berbalik setelahnya dan berlari keluar rumah utama mengabaikan rasa sakit di perut.
"Hiks...hiks...hiks...Mas kamu tega..hiks...hiks...kamu benar-benar tega."
Bi Muji yang kebetulan masih berdiri di ambang pintu berlari melihat Adel datang dalam keadaan menangis.
"Non, Kenapa menangis?" Bi Muji bertanya di saat Adel melewati dirinya masuk kedalam rumah.
"Non." Bi Muji mengejar lalu Adel ambruk di lantai dengan tangisan menyakitkan.
"Hiks....hiks....kamu tega...Kamu tega..."
Bi Muji mendekap tubuh Adel dan bertanya.
"Kenapa Non? Kenapa Non menangis?"
"Kamu tega Mas...hiks...hiks.."
"Dia tidak ingat siapa saya Bi...Mas Gavin tega hiks...hiks..." Seru Adel.
"Apa!" Jelas Bi Muji terkejut mendengar kalimat itu.
.
.
Gavin termenung seorang diri dengan menatap langit yang mulai gelap. Memilih pergi ke kamar untuk beristirahat mengabaikan kerumunan di lantai bawah yang sebenarnya pesta untuk dirinya.
Otaknya terbagi! memikirkan siapa wanita hamil yang tadi menyapanya dengan sebutan Mas Gavin. padahal dirinya merasa tidak pernah melihat wanita hamil itu? bahkan ketika Nathan mengatakan. kata isteri pada waktu dirinya sadar. Sang ibu membantah dan ketiganya malah tertawa dengan alasan kalau Kakak laki-lakinya tengah bergurau.
"Apa mungkin dia orang yang aku kenal? Dokter Bagas mengatakan kalau ingatanku hilang dalam masa dua tahun terakhir!" Gavin bergumam berusaha mencari siapa wanita hamil itu tapi sekuat dirinya mengingat otaknya mendadak sakit.
"Ahh..." Gavin mengerang karena nyeri semakin terasa. Yang mana Gavin memilih berbaring di ranjang.
20 menit Gavin menutup mata dan berdiam didalam kamar..
Tok..tok...tok..
Ketukan dipintu kamar terdengar beberapa kali. Gavin mulai terganggu dan matanya terbuka lebar melirik si pintu yang masih di ketuk.
__ADS_1
Gavin mendesah lalu ia berjalan membuka pintu.
Ceklek...
"Hai Gavin!" Sapa wanita cantik yang tengah berdiri disana dengan senyum cantiknya.
Alih-alih terkejut Gavin malah tersenyum sambil mendekap tubuh wanita itu erat. Sontak wanita itu terperanjat dan membulatkan kedua mata ketika tubuhnya ada dalam dekapan Gavin.
"Kenapa lama sekali?" Kata Gavin. "Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi aku benar-benar merindukanmu Maya!"
Maya adalah wanita cantik yang dulu pernah berpacaran dengan Gavin 5tahun yang lalu. Tapi Maya lebih memilih karir dari pada menikah dengan Gavin. dirinya menolak lamaran Gavin lima tahun silam dengan alasan yang nyata. Karir cemerlang sebagai model dan bintang iklan membuatnya menyerah dan mengorbankan cinta tulus si pria tampan itu.
Belakangan dirinya di hubungi Nyonya Tari. Wanita tua itu mengatakan kalau Gavin kecelakaan dan sebagian ingatannya menghilang. Beralasan kalau Gavin membutuhkan orang di masa lalu untuk menyadarkan ingatan Gavin. yang sebenarnya Gavin harus dekat dengan Adel istrinya sendiri. Disini Maya tidak tau kalau Gavin sudah menikah dan ada Adel di rumah belakang yang Nyonya Tari katakan di Cafe tempo hari adalah.
"Maya. Tante mohon temui Gavin dan lihatlah keadaanya sekarang." Ucapnya sambil memegang tangan Maya erat.
"Tante, saya rasa Gavin tidak akan mau melihat wajah saya lagi?" Kata Maya dengan wajah sendu jika mengingat dulu Gavin mengatakan.
Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi Maya pergi dan kejar mimpimu yang tidak berguna itu.
Maya mendesah karena kalimat-kalimat itu seolah menjadi kutukan. dirinya tidak bisa melupakan Gavin yang mana adalah cinta pertamanya.
"Kata siapa?" Ucap Nyonya Tari. "Gavin masih memikirkan kamu, sayang." sambungnya.
Kening Maya mengkerut. "Benarkah itu?"
.
.
"Jangan pergi lagi, Maya. Jangan pergi lagi." Rengek Gavin yang mana masih mendekap tubuh Maya.
Maya tersenyum dan mengangguk. "Aku akan tetap disini menemanimu."
"Terimakasih." Dan Gavin mengecup bibir Maya lembut hingga otaknya mengingat wajah yang nampak samar seperti dalam air.
Ada apa denganku?
Batin Gavin bertanya disaat Maya mengecup balik bibirnya.
.
.
Besok lanjut lagi...Terimakasih yang masih meluangkan waktu membaca cerita ini. buat yang like terimakasih banyak2 😘...
__ADS_1