
Jalanan siang itu mulai ramai. mobil hitam yang di tunggangi Gavin ikut serta meramaikan jalanan ibu kota.
Gavin membawa mobilnya cukup pelan menatap sekitar berusaha hati-hati agar bisa selamat sampai tujuan.
Tujuannya adalah Supermarket. Gavin keluar setelah memarkirkan mobil. berjalan masuk kedalamnya dengan wajah datar, Biarpun dirinya tuan muda tapi untuk urusan pribadi Gavin tak pernah ingin di temani. Adakalanya kita ingin sendiri untuk menjadi lebih mandiri. Gavin selalu mengatakan hal itu.
Pegawai seperti biasa membungkuk ketika Gavin masuk. perlakuan yang biasa bukan?
Gavin menatap si pegawai pria yang tengah tersenyum sopan kepadanya.
Gavin berkata. "Aku ingin buah Lengkeng."
Pegawai itu mengangguk patuh. "Mari Tuan, ikuti saya."
Gavin mengikuti si pegawai ke sisi lain Supermarket. tempat dimana bermacam buah dan sayuran segar berada. menuju box kuning berisi tumpukan lengkeng.
Gavin tersenyum senang melihat tumpukan buah Lengkeng di hadapanya. "Apakah ini manis?" Tanya Gavin tanpa melepas pandangan.
"Manis Tuan, anda boleh mencobanya." Jawab si pegawai sambil mengambil beberapa butir Lengkeng. perlakuan yang tidak biasa mengingat siapa itu Gavin Abrisam.
Tangan Gavin mengibas cepat menolak buah yang ada di tangan Si pegawai.
"Aku ingin membeli buah ini untuk istriku." Ucapnya yang mana disambut baik si pegawai.
Lengkeng sudah dia dapatkan. membeli sebanyak 5kg untuk diberikan kepada sang istri. Gavin keluar dari supermarket dengan membawa kardus kecil berisi pesanan Adel. kemudian masuk kedalam mobil lalu pergi meninggalkan Supermarket, Dan lagi-lagi Gavin tak sadar kalau dirinya tengah di ikuti.
.
.
Adel menunggu Gavin pulang didalam kamar. setelah membersihkan tubuh dan berganti baju dengan dres lainnya.
Di atas sofa yang menghadap kebalkon Adel duduk menatap langit yang masih berhias awan terang. kedua sudut bibir itu tertarik lebar seolah mengagumi keindahan langit.
"Cantik sekali." Kata itu terlontar merdu seakan mewakili perasaannya saat itu. Adel bersandar manja memejamkan mata untuk sesaat sambil mengelus perut buncitnya nyaman. Sedikit melantunkan sholawat diselingi obrolan dengan si calon buah hati.
"Esok, kita tidak akan ada di tempat ini lagi!"
Adel bergumam tanpa melepaskan senyuman menyedihkan itu. Sampai ia terlelap mengikuti rasa lelah yang semakin menjadi. Pergulatan itu membuat tenaganya terkuras habis. akan tetapi bibirnya bergerak menyuarakan kalimat. "Aku cinta kamu!"
__ADS_1
.
.
Di sisi lain. rombongan Tuan Paris bersiap menuju Bandara untuk kembali ke Indonesia.
Sebenarnya mereka pulang besok pagi. Akan tetapi Nyonya Tari sudah membuat keputusan.
"Kita pulang sekarang.!" Suara cukup nyaring itu terdengar jelas.
Angel, Mega dan suami mereka menoleh kearah pintu kamar yang baru saja dibuka dan menampakan sosok manusia dengan wajah tegasnya.
Tak bisa membantah. Anggel di ikuti yang lain mengangguk patuh. Mereka bersiap-siap mengemasi barang masing-masing tak terkecuali Kakek Damar dan Nenek Dayanti.
Pasangan lansia itu ketakutan ketika sang Menantu meminta pulang yang mana Adel pasti masih berada dirumah utama. Dan sangat sulit menghubungi Gavin apalagi mereka terus mendapatkan perhatian ekstra dari Nyonya Tari. Tidak ada celah untuk memberi tahu Gavin sekarang berdoa adalah jalan yang mesti di tempuh.
Ya Tuhan, jangan biarkan mereka menyakiti istri cucuku
Doa Kakek Damar dan Nenek Dayanti sampai mereka tiba di bandara pukul 12 siang waktu setempat.
.
.
Gavin mendengus kesal. Beberapa kali menarik napas jengah. Level kesabarannya tengah di uji yang mana Klakson terdengar di barengi pekikan suara. "Cepatlah jalan! Istriku sedang menungguku sekarang."
Gavin memaki keadaan. Melampiaskan kemarahan yang tidak berarti. untuk menghilangkan jenuh Gavin menghidupkan ponselnya mencari kontak sang istri.
Adeliaku. Nama itu nampak jelas dengan Emotikon love. Gavin samar tersenyum lalu menghubungi nomor tersebut.
.
.
Dret....dret....dret...
Adel terbangun ketika ponsel yang ada di atas meja dekat tubuhnya bergetar. Meraih si ponsel menatap samar siapa yang sudah mengganggu tidurnya...
"Mas Gavin.!" Katanya sambil menggeser ikon hijau.
__ADS_1
"Iya, Mas." Serunya dengan suara sedikit sumbang.
"Lagi tidur.?" Tanya Gavin tidak enak..
"Tadi Iya, Sekarang aku udah bangun."
Gavin tertawa pelan di sana. "Maaf."
Kepala Adel menggeleng. "Tidak apa-apa. Masih dimana, Mas?"
"Masih dijalan, macet soalnya." Gavin berbicara manis padahal ia tengah menahan marah.
"Hati-hati, Mas."
"iya, ini juga udah mulai jalan lagi kok."
Mobil kembali berjalan dan pasangan suami istri itu masih mengobrol. Itu adalah permintaan Gavin dengan alasan ingin di temani.
Gavin tertawa ketika Adel terus merengek membayangkan rasa manis si buah Lengkeng. yang mana ia menambah laju si mobil ingin segera sampai rumah.
"Tunggu ya.." Kata Gavin.
"Hati-hati Mas, jangan ngebut. ngeri." Pinta Adel khwatir. apalagi terdengar suara mesin mobil yang semakin menggila.
Gavin bukannya menurut. ia malah menginjak pedal Gas lagi sambil tertawa untuk menggoda Adel yang terus memintanya tidak menambah laju si mobil.
Ketika itu terjadi mobil yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja menghantam mobil milik Gavin. yang mana terdengar suara Gavin memekik takut.
"Aaaaaaaa...!!!." Di susul suara benturan cukup menyentak jiwa..
.
.
Adel berdiri tegak mematung di tempatnya. membiarkan jantungnya berdetak hebat. "Mas Gavin..Mas..."
"Mas, Mas Gavin...Mas...kamu jangan main-main mas...Mas Gavin." Nihil Tak ada jawaban.
Adel panik dibuatnya apalagi Gavin tak kunjung bersuara. hanya terdengar bunyi Klakson yang mana Adel berlari keluar kamar menuruni tangga tanpa memikirkan si buah hati berteman isak tangis ketakutan.
__ADS_1
"Bibi...Pak Atmo....Tolong...."