BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Mari Kita Berpisah!


__ADS_3

Gavin terus mencium kening dan puncak kepala Adel penuh cinta. Mencurahkan rasa rindu yang selama ini dibendungnya. Mengabaikan kedua mertua dan Bi Muji yang senantiasa berdiri mengelilingi dirinya dan Adel.


sedangkan Adel, ia hanya diam dan membiarkan Gavin memeluk dan menghujaninya dengan kecupan rasa rindu. Jujur, dirinya merasakan kebahagian yang tiada bandingannya ketika Gavin datang dan memeluknya. Seolah dunia menyaksikan bahwa hatinya dalam keadaan tenang dan damai, kedatangan Gavin bagaikan mimpi di siang bolong yang dipenuhi dengan awan hitam, tidak percaya dan tidak mungkin terjadi. Tapi saat ini, tubuh lemahnya dalam pelukan sang suami yang 4 bulan terakhir dirinya nantikan penuh ke putus asaan.


Pak Alam, Bu Puji dan Bi Muji saling tatap sambil tersenyum dalam diam menyaksikan apa yang tengah berlangsung. Tapi setelahnya ketiganya menampakan wajah murung dan bingung.


Adel yang merasakan dadanya sesak dengan perlahan menyingkirkan tubuh Gavin yang sedari tadi memeluknya erat.


"Mas, Ada mama, Papa dan Bi Muji." Adel menatap ketiganya tidak enak.


Gavin menggaruk kepalanya malu. Setelahnya menyalami kedua orang tua Adel.


"Pa, Ma."


Lalu Gavin mendekati Bi Muji sang mantan Pelayan. Gavin menjulurkan tangan ke arah Bi Muji yang mana hanya di sambut dengan tatapan kosong dari si mantan Pelayan.


"Den Gavin," Serunya bingung.


Gavin menarik tangan Bi Muji dan mengayunnya beberapa kali.


"Terimakasih, Bi."


Bi Muji hanya mampu mengangguk pelan sambil tersenyum bahagia. Melihat Gavin yang di kenalnya beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan Gavin yang waktu itu di temui setelah insiden yang merenggut kebahagiaan pasangan suami istri itu.


Den Gavin sudah sadar rupanya. Den Teo pasti yang mengatakan keberadaan Non Adel di sini.


Batin Bi Muji.


Bu Puji dan Pak Alam diam-diam melirik Adel yang masih nampak tidak percaya. Wajah pucatnya tidak dapat berbohong.


"Mama, Papa apa kabar?" Tanya Gavin. Yang mana di jawab singkat dari kedua mertuanya.


"Kami baik."


Gavin mengangguk sambil menggandeng Adel yang masih diam membisu.


Melihat ke canggung dari kedua anaknya membuat Pak Alam bersuara.


"Kalian mengobrol saja. Kami tinggal dulu."


Gavin mengangguk lagi, sedang Adel menarik tangan sang ibu yang siap pergi.


"Ma, tolong jaga Gina, sebentar saja."


Mendengar Nama Gina membuat Gavin bersuara.


"Dimana putri Kita sayang? Aku ingin melihatnya." Ucap Gavin semangat sambil mencari keberadaan putrinya dengan kedua bola mata yang sibuk menyusuri area rumah Bi Muji.


Bu Puji balik menatap Adel pun Pak Alam. Tatapan ke duanya menyiratkan pertanyaan.


Apakah kamu akan membiarkan Suamimu melihat Gina.


Adel seolah mengerti. Kepalanya mengangguk pelan sambil tersenyum datar.


"Gina ada di kamar." Ucapnya pelan.


"Benarkah? Antar aku melihat Gina, Sayang."


Gavin menarik Adel ke arah pintu kamar yang di buka. Adel mengangguk mengiyakan dan keduanya masuk kedalam kamar.


Sedangkan Pak Alam dan istrinya saling berbisik di dekat Bi Muji.


"Kenapa Gavin datang sekarang? Apa Teo yang sudah-


"Ya Pak, saya yakin Den Teo pasti mengatakan keberadaan Non Adel di sini." Sela Bi Muji.


Pak Alam dan Bu Puji mengangguk yakin, karena Teo sedari kemarin tak kunjung menampakan batang hidungnya. Kecurigaan ketiganya semakin jelas ketika tadi Adel memberi jawaban yang tidak gamlang tentang Teo.


Dalam keheningan ketiganya melirik kamar Adel yang kini tertutup.

__ADS_1


"Jangan ganggu mereka, biarkan mereka berbicara." Kata Bu Puji dengan pelan.


"Bagaimana, kalau Non Adel kekeh ingin bercerai?"


Pak Alam dan Bu Puji melirik Bi Muji sendu.


"Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi!" Ucap Pak Alam lirih sambil beranjak pergi di susul kedua wanita yang juga berwajah pucat.


Di kamar, Gavin diam tidak bergerak di samping ranjang kecil yang di tiduri Gina.


Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat sang putri yang masih terlelap.


"Dia, dia putriku?" Tanya Gavin sambil mengangkat kepala kearah Adel yang ada di ambang pintu dengan tangis senyap nya.


Adel mengangguk pelan.


Senyum Gavin merekah bersama tangisan. Tidak menyangka melihat keturunannya sudah lahir ke dunia.


"Aku ingin menggendongnya." Pinta Gavin.


Adel mengangguk lagi sambil berjalan menghampiri sang suami.


Gavin menggeser tubuhnya. Membiarkan Adel membungkuk untuk mengangkat Gina.


Gina sudah berada didalam dekapan Adel.


Adel berbalik menghadap Gavin yang ada di samping.


"Rentangkan tanganmu Mas,"


Titah itu membuat Gavin segera merentangkan kedua tangan. "Seperti ini?" Tanya Gavin dengan wajah gugup.


Adel mengangguk kembali. Setelahnya memberikan Gina kepada tangan Gavin secara perlahan.


"Hati-hati sayang," ucap Gavin yang mana Gina sudah dalam dekapan.


Gina di pandangnya takjub. Wajah mungil sang putri di telusuri detai. Menelaah semua anggota tubuh dan wajah sang buah hati dengan buliran air mata.


"Dia putriku," Kalimat yang mampu membuat Adel dan Gavin menangis bersama sambil menatap Gina.


"Kamu, kamu tidak di sampingku ketika aku melahirkan Gina, hiks...hiks..Kamu jahat. Hiks...hiks...Kamu membiarkan aku berjuang sendiri." Keluh Adel dengan tangis yang tidak dapat di bendung.


Kemarahan dan kekesalan selama ini Adel keluarkan penuh emosi membuat Gavin semakin menangis.


"Maaf, Maaf." Satu kalimat itu yang mampu Gavin ucapan. Seolah tidak sanggup untuk menatap wajah Adel.


Adel menangis dengan masih membombardir Gavin. Mencaci memaki dan mengutarakan kemarahan yang selama ini di tahannya.


Sedangkan Gavin terus mengatakan kata "Maaf" Sambil menangis pilu.


Ruangan sedang itu di penuhi tangisan dari keduanya. Dan anehnya Gina tidak terganggu. Tangis dari kedua orangtuanya bak nyanyian merdu saja. Terbukti, Gina masih terlelap dan nyaman dalam dekapan sang Papa yang selama ini mungkin di rindukannya.


Gavin yang masih di liputi rasa bersalah mulai berani mengangkat kepala. Melirik Adel dengan mata sembabnya sambil menjulurkan tangan.


"Kemari-lah, aku ingin memelukmu." Pinta Gavin harap.


Adel jelas menggelengkan kepala. "Tidak mau."


Gavin tidak menyerah, dirinya melangkah mendekati sang istri menariknya ke dalam dekapan.


"Maafkan aku Adel," Seru Gavin penuh sesal. Sesekali mencium puncak kepala Adel yang masih menangis.


Pada Akhirnya Adel menerima semua sentuhan lembut Gavin yang di benci sekaligus di rindukannya. Batinnya jelas porak poranda dan rencana yang di susun se demikian rupa kini menggantung tak berarti.


Setelah drama yang memudarkan mata itu berakhir. Gavin kembali menidurkan Gina. Ia beralih kepada sang pemilik ke bahagia yang masih menangis di ranjang.


Adel kembali membiarkan Gavin merangkulnya dan menghujaninya dengan kecupan romantis dan penuh cinta.


"Apa kamu tidak lelah, huh? Terus menangis?" Tangan Gavin mengelus pipi Adel yang dingin dan basah.

__ADS_1


Tapi Adel menepis tangan Gavin cepat.


"Kamu jahat," Kalimat yang sama di dengar Gavin.


Tapi Gavin mulai tenang dan menerima. Ia kembali mengusap air mata itu. Yang mana penolakan yang kemudian di dapatkan.


"Kenapa kamu datang Mas,?" Tanya Adel sesegukan.


Gavin menjawab cepat. "Karena aku ingin menjemput istri dan putri kita."


"Tidak, aku tidak mau. Untuk apa kamu menjemput aku dan Gina di saat kamu akan menikah dengan, Maya!" Ucap Adel dengan tangis yang semakin kencang. Merasakan sakit di ulu hati ketika mengatakan itu.


Penolakan itu membuat Gavin menyingsingkan senyuman kecut.


Gavin merubah posisi duduknya. Ia meninggalkan ranjang dan berdiri di depan Adel. perlahan-lahan kakinya ia tekuk untuk menopang berat tubuhnya.


Posisi yang sama ketika seseorang ingin melamar sang pujaan hati.


Gavin menarik tangan Adel yang mana Adel ingin menariknya tapi Gavin lebih kuat.


"Jangan melawan."


Adel pun terdiam. Dan membiarkan Gavin menggenggam tangannya.


Sebelum bersuara, Gavin menatap nanar wajah sembab Adel dengan senyuman.


"Aku dan Maya tidak akan menikah, Apa yang kamu dengar dari Mama itu tidak benar."


Adel masih terisak dan diam.


"Maya datang di saat aku tidak mengingat siapa kamu. -


Dan Gavin menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Adel yang memang sudah di dengarnya. walaupun tidak semua.


Gavin melanjutkan. "Aku depresi karena kamu pergi kala itu. Aku hampir kehilangan akal ketika aku tidak bisa mengingat kamu, tapi Kakek dan Nenek meminta aku untuk tenang walaupun itu sulit Adel, empat bulan aku tidak ingin siapapun, orang yang aku temui selama dua tahun terakhir dan itu termasuk kamu." Gavin diam sejenak untuk menarik napas yang terasa berat.


"Kemarin malam. Teo mengatakan kalau dia tau dimana kamu, aku langsung datang menemuinya. Di sana kami berkelahi dan setelah itu, aku tidak ingat lagi. Aku terbangun di rumah sakit. Dan di sinilah aku sekarang."


Gavin menatap Adel Intens.


Adel sendiri mulai berhenti menangis. Ia menatap balik sang suami yang nampak menyedihkan. Tatapannya menyiratkan penyesalan yang mendalam.


Tak ada kata dari keduanya. Mereka hanya diam membiarkan mata yang berbicara.


Gavin mengangguk sambil mengangkat tangan Adel. Mengecupnya sambil bertanya.


"Mau, 'kan maafin aku? Dan memulai lagi dari awal? Aku berjanji ini yang terakhir kalinya aku menyakitimu dan membiarkan kamu pergi. Beri aku kesempatan! Biarkan aku menemani kamu membesarkan Gina."


Adel terdiam kikuk, mulutnya seakan tidak dapat terbuka. Melihat wajah memohon Gavin membuatnya luluh.


Tapi Tidak,


"Apa kamu yakin ingin menemani aku membesarkan Gina dengan kita yang berbeda?"


Gavin mendadak lemas, ia dengan pelan melepaskan tangan Adel yang tadi di genggamannya erat.


"Apa maksudnya?" Tanya Gavin. Yang sebenarnya sudah di tebaknya. Kemana arah pembicaraan yang di maksud Adel.


Adel menarik napas sebelum akhirnya kata itu terlontar cepat.


"Mari kita berpisah saja?"


"Apa? Berpisah?" Gavin mengulang dengan wajah memerah.


"Bercerai maksud mu?" Tanya Gavin sambil menunduk.


Adel mengangguk. "Aku rasa, itu jalan-


"Diam! Jangan lagi kamu lanjutkan!" Teriak Gavin sampai-sampai Gina menangis.

__ADS_1


__ADS_2