
Gavin menatap sang Ayah tidak percaya, pria yang selalu ia banggakan kini dengan sengaja sudah memberinya luka. tapi itu tidak masalah, sebab kemarahan itu ulah dirinya.
Tangan bergetar Gavin mengusap pipinya yang masih terasa panas. lalu perlahan kakinya mundur beberapa langkah berniat pergi! tapi Kakaknya bergegas menghadang dan mendorong Gavin ketempatnya berdiri. "Jangan pergi, jelaskan semuanya." seru Sang Kakak setengah berbisik.
Gavin kembali berdiri ditempatnya membawa wajah kaku.
Sedangkan keluarga yang lain hanya bisa melihat tanpa ingin mererai. memang dalam keluraga Abrisam semua serba salah dan penuh rintangan, gerak-gerik semua anggota keluarga tidak pernah luput dari pengawasan. itulah yang membuat Gavin jengah dan memutuskan untuk tinggal seorang diri walupan masih dalam pengawasan sang Ayah.
Kedua Kakak Gavin pun demikian, Tuan Paris memerintahkan kedua anaknya untuk tinggal didekatnya tempatnya disamping rumah besar itu terdapat rumah lainnya, hanya terhalang tembok saja selebihnya semua dalam pengawasan.
"Katakan sekali lagi?" Suara Tuan Paris terdengar berat. mungkin dirinya menahan amarah yang sudah meluap. kabar yang dibawa Gavin merubah suasana hatinya dipikirnya, Gavin siap menikah dengan putri dari kalangan orang berduit. tapi ternyata malah orang Kere. "katakan, Gavin?"
Nyonya Tari beranjak bangun dan menghampiri Gavin. sambil mengelus pundak lelah itu Nyonya Tari menatap suaminya seolah meminta untuk tenang dan jangan bertindak lebih jauh lagi, tamparan yang diberikan kepada Gavin sudah lebih dari cukup.
"Pah, Biarkan Gavin menceritakan semuanya. mungkin ini hanya salah paham saja? benarkan Gavin?" Kepala berambut di sanggul itu mendangah melihat wajah datar Gavin.
Gavin menurunkan tangannya yang tadi mengusap pipinya. lalu ia menatap balik sang Mama. "Tidak Mah! ini tidak ada kesalahan pahaman, semua yang Gavin katakan benar adanya." Paparnya pasrah.
Wajah Nyonya Tari seketika berubah muram. bola matanya berkeliaran tak terarah sampai akhirnya keluarlah buliran bening. "Astaga, Gavin. apa yang sudah kamu lakukan?" Tubuh Nyonya Tari oleng.
Melihat hal itu Anak dan menantu bergegas menangkap tubuh lemas Nyonya Tari dan mendudukan tubuhnya di atas Sofa.
Gavin seolah acuh begitupun dengan Tuan Paris. Bapak dan Anak itu masih berdiri kokoh seakan enggan pergi walaupan yang lainnya sibuk untuk menenangkan Nyonya Tari yang masih menangis.
"Gavin Abrisam, kamu mungkin sudah tau kalau Papa sangat menjunjung tinggi martabat dan harga diri keluarga ini. tapi lihat sekarang? kamu dengan bangga sudah menghancurkan semuanya." Tuan Paris berapi-api. tatapan tajamnya seolah mengutuk Gavin yang selalu dirinya banggakan. tapi sekarang semua itu seakan tidak berarti.
Gavin menggela napas panjang dan menatap lekat sang Ayah. "Selama ini, Gavin tidak pernah meminta apapun kepada Papa. tidak pernah! Sekarang Gavin hanya minta tolong restui Gavin untuk menikahinya." Ucapnya seolah memohon. bisa saja Gavin menikahi Adel hari itu juga, tapi dirinya bukan orang tidak tahu adab dalam hidup. restu kedua orang tua sangatlah penting walupun dirinya tahu seperti apa keluarganya.
Tuan Paris masih enggan memberi jawaban ia hanya diam sambil menatap Gavin murka.
Kemudian. dari arah kerumunan yang tengah sibuk menenangkan Nyonya Tari, sosok bertongkat menghampiri Bapak dan Anak itu untuk memberi jalan keluar?
"Paris, Daddy tau apa yang kamu rasakan! Dan Daddy juga tau kamu sangat membenci ini, tapi kalau Gavin tidak menikahinya. Bisa-bisa keluraganya menyebar luaskan masalah ini! kalau Daddy boleh usul biarkan saja Gavin dan gadis itu menikah, dengan begitu nama baik keluarga ini tetap terjaga bukan begitu, Gavin?" Sang Kakek melirik Gavin berteman senyuman hangat.
Gavin membalas senyum Kakeknya dengan anggukan pasrah. ucapan Pria tua itu bak angin segar yang datang ditengah gersangnya Oasis. menyejukan dan menenangkan, seolah dunia ikut merasakan kebahagiannya.
Sejenak Tuan Paris diam wajahnya nampak merenung. hanya kepalanya saja yang bergerak keatas dan kebawah.
__ADS_1
Gavin menunggu dengan sabar Kira-kira apa sang Ayah akan setuju dengan saran yang di berikan Kakeknya?
Tak lama Tuan Paris menepuk pundak Gavin sampai bibirnya terbuka. "Baiklah, Papa akan memberi restu tapi dengan satu Syarat?"
.
.
Teo berjalan gontai masuk kedalam Rumah Kakek Hendri. tubuhnya seakan mati dan tatapan matanya kosong seperti orang bodoh yang tidak mempunyai tujuan untuk hidup, bayang-bayang wajah cantik Adel terus berputar dan itu membuatnya marah. sepanjang jalan matanya terus terpejam berusaha membuang bayangan sang dara yang akan menjadi istri dari sahabatnya, sakit memang. tapi sekuat apapun dirinya berusaha tetap saja itu tidak berarti.
Ucapakan Gavin tadi sudah membuka pikirannya. untuk menikahi adel bukanlah jalan keluar. bagaimana bisa dirinya bertanggung jawab ketika sang ayah si bayi masih hidup dan itu adalah Gavin.
Kisah cinta kita cukup sampai disini. Adelia, aku relakan kamu hidup dengannya tapi ingat satu hal, ketika dia membuatmu menagis aku akan mengambilmu dan tidak akan melepaskan mu, itu janjiku. Tuhan, Engkau adalah saksinya. Tiba-tiba Saja Teo membuat Sumpah tanpa berpikir dengan benar. memang dirinya menerima kenyataan pahit itu tapi lain dengan janjinya.
Noah yang tengah menuruni tangga menatap kedatangan Teo yang mana menampakan kemalangan. kening Noah mengkerut melihat wajah sang Kakak Ipar? tanpa membuang waktu ia berjalan cepat berniat menghampirinya. akan tetapi langkah lebar Noah terhenti ketika kejadian tadi mengetuk otaknya.
"Tidak-tidak, aku harus berusah melupakan itu." Gumam Noah sambil mengangguk-anggukan kepala untuk menyakinkan diri kalau ucapan Anandita tidak sungguh-sungguh.
"Teo?" Tergur Noah.
Teo tersadar dari lamunannya dan menyungsing senyuman hambar. "Aku lelah." Ucapnya lemas terlihat dari wajahnya.
Teo ambruk dan mengela napas panjang seraya mengusap wajahnya kasar.
Noah menatap Teo intens. wajah Kakak iparnya nampak kusut seperti ada masalah yang sangat besar? sebenarnya, Naoh ingin menanyakan banyak hal tapi melihat wajah lelah itu membuatnya bungkam.
"Sepi sekali?" Seru Teo lirih. matanya masih terpejam.
Naoh menatap sekitar ruang utama dan memang benar rumah besar itu nampak sepi tidak seperti tadi. hampir di setiap sudut dipenuhi tamu, tapi sekarang hanya ada pelayan yang sibuk bebenah walupuan malam semakin larut.
"Semua sudah tidur." Sahut Noah yang juga ikut bersandar dan memejamkan kedua matanya merasakan lelah yang seakan menggerogoti tenaganya. sebanarnya dikamar Kasih masih terjaga. Baby Ayres baru saja bangun mungkin sekarang tengah bermain seperti biasa, ingin rasanya Naoh memberi tahu Kasih kalau Teo sudah pulang. tapi dirinya tidak melakukan itu wajah lelah Teo membuatnya tidak tega, padahal sang istri ingin bertanya kabar Adel yang tadi pingsan.
Mengingat itu membuat Noah membuka mata dan menoleh kearah Teo berada. "Teo, bagaimana Adel? apa dia baik-baik Saja?"
Teo mengangguk sebagai jawaban.
Naoh menangguk lega. sesaat mereka diam sampai Naoh menepuk paha Teo dan beranjak bangun. "Tidurlah dan jangan menghawatirkan dirinya, Aku akan tidur." Setelah itu kaki Naoh melangkah.
__ADS_1
"Dia Hamil!"
Radius tiga langkah kaki Noah berhenti. seketika tubuhnya berbalik membawa wajah bingung. "Siapa yang kamu Maksud?"
Bukannya menjawab. Teo malah menatap Sang adik ipar sendu, seandainya ia perempuan mungkin dirinya akan berlari dan memeluk Noah sebagai sandaran. tapi dirinya laki-laki itu akan terdengar aneh bukan?
Tatapan sendu itu membuat Noah mematung mulutnya terkuci rapat. walupun Teo tidak mengatakan siapa orangnya tapi dirinya sudah tahu! seketika otaknya mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu tepatnya dikota Surabaya.
"Adel?" Seru Noah pelan.
"Gavin akan menikahnya!" Katanya penuh rasa sakit. tak terasa matanya mulai berkaca-kaca.
.
.
Disisi lain Adel masih meringsek diatas sofa seorang diri. sedangkan kedua orang tuanya berdiam didalam kamar. setelah kepergian Gavin Bu Puji dan suaminya meninggalkan Adel tanpa ingin memeluk atau sekedar memberi ketenangan, rasa kecewa benar-benar merubah keduanya.
Hunian yang selalu penuh tawa kini seketika berubah. kesunyian, kehampaan, kekosongan, dan kemalangan itulah yang terasa. para tetangga yang datang silih berganti untuk berbelanja kembali dengan tangan kosong. pasalnya si pemilik tengah dalam keadaan tidak baik. lampu yang menerangi rumah sederhana itu juga seakan ikut merasakan kesedihan si pemilik rumah.
Adel menatap kosong jendela yang ditutup gordeng berwarna hijau muda bermotif bunga. air mata sedari tadi terus menyapanya apalagi pengakuan Gavin yang sudah merubah segalanya, ingin rasanya ia mengutuk perbuatan bejat itu tapi apa itu penting! semua sudah terjadi dan sekarang dirinya harus menerima semua kenyataan pahit itu.
Perlahan kepala dengan rambut kusut itu menunduk. lalu tangannya ia angkat dan mendarat diatas perutnya yang masih rata. tangan itu tidak bergerak ia hanya meletakannya tanpa bisa mengusapnya entahlah, rasa-rasanya semua ini hanya mimpi.
"Adelia, bagiamana sekarang hiks...hiks... Haruskah aku-
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. lebih baik sekarang kamu kemasi barang-barang mu dan pergi dari, ini aku lebih baik tidak mempunyai seorang anak! sekarang mungkin orang belum mencaci dan tidak mengetahuinya, tapi nanti setelah mereka melihat perutmu apa kamu mau aku dan istriku menanggung semuanya? Adelia, kami sangat menyanyaimu dan berusaha menjadi orang tua yang baik tapi apa yang kamu berikan kepada kami huh... ayah dari anak itu berbeda denganmu! kamu dengar? kalian berbeda walupun dia mempunyai segalanya dan bisa membuatmu bahagia. tapi bagaimana dengan Tuhanmu? bagiamana Adelia! katakan padaku, katakan?" Sang Ayah datang mencurahkan amarah yang sedari tadi menghiasi relung jiwanya.
Bu Puji yang ada di belakang tubuh suaminya hanya bisa menangis dan menangis. bibirnya tidak bisa berkata apa-apa selain menangis, dalam benaknya ia bertanya kepada sang pemilik kehidupan. kenapa cobaan sebesar ini bisa menimpa keluarga kecilnya, padahal selama ini dirinya tidak pernah menyakiti orang lain atau memberi arahan yang salah kepada putrinya. tapi sekarang dirinya seakan di hianati! sakit benar-benar sakit.
Adel hanya bisa mematung mendengar lontaran kalimat yang amat sangat menyakitkan itu. sekarang dirinya seperti orang asing, di usir dari rumah dan di benci kedua orang tua yang selalu ia banggakan. kini sudah tidak terlihat.
"Maafkan Adel Pah, Mah Maaf." Ucapnya sambil terisak.
.
.
__ADS_1
Info: Besok hari pernikahan Adel dan Gavin di sini aku tidak akan menjabarkan secara mendetail tentang pernikahan mereka karena ada satu lain hal, pernikahan beda agama itu sudah bukan rahasia lagi ya guys.. jadi jangan heran dan disini aku juga akan tetap membuat si karakter mempertahankan masing-masing keyakinan mereka tanpa ada yang saling mengalah dalam hal yang di maksud..dan lagi biarkan aku menuangkan cerita ini sesuai imajinasiku tanpa ada yang berubah merubahnya terkadang komen kalian yang ingin begini dan begitu membuat aku bingung yang mana imajinasi terganggu jadi