BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Malam Penuh Kejutan


__ADS_3

Gavin tak hetinya terawa bahagia didalam kamarnya setelah mendengar kalau kedua orang tua beserta anggota keluarga yang lain akan pergi ke singapura menyusul Angel.


Nyonya Tari berpesan banyak kepada Pak Atmo. sedangkan Gavin hanya diam mendengarkan tanpa memberi ekapresi pagi tadi, ia berusaha acuh dan tidak perduli tapi sumpah demi apapun hatinya amat bahagia.


"Lihat saja, kamu akan menjadi Nyonya Abrisam mulai hari ini." Ucap Gavin semangat sambil memakai stelan jas kerjanya, lalu ia keluar kamar untuk menemui semua keluarga yang sudah ramai di lantas dasar, mengingat mereka harus segera berangkat ke bandara.


Tap..tap...tap...


Mata semua keluarga melirik Gavin yang tengah berjalan menuruni tangga tak terkecuali Nyonya Tari. wanita paruh baya itu tersenyum melihat betapa tampannya sang putra bungsu. memutar cepat rekaman masa kecil Gavin ketika ia dulu merengek meminta di gendong, tapi sekarang pria kecil itu sudah berubah menjadi pangeran tampan.


"Putraku." Gumamnya.


Tuan Paris melirik sang istri sambil mengangguk. "Dia sudah besar, bukan.?"


Nyonya Tari mengangguk memberkan begitu pun anggota keluarga yang lain. melupakan kalau si bungsu sudah memilik seorang istri yang tidak mereka akui.


"Kalian sudah bersiap rupanya?" Ucap Gavin santai, berusaha menahan rasa bahagia yang seakan menguasa dirinya.


Tenang Gavin bersikap normal.


Gavin memberi pelukan untuk semua keluarga termasuk Kakek Damar dan Nenek Dayanti. menghujani ciuman kepada satu keponakannya yang amat menggemaskan.


"Pergunakan waktu sebaik mungkin, Gavin." Bisik Kakek Damar. lalu ia mengajak cicitnya pergi menyusul Mega yang tengah keluar rumah bersama Nenek Dayanti.


Gavin memberi respon dengan tepukan di punggung sang Kakek tercinta yang sudah mau memberinya dukungan. berkat bantuan pasangan lansia itu hubungannya dengan sang istri berangsung membaik.


Setelah berpelukan dan memberi pesan untuk mengurus perusahan. tak ketinggalkan menjauhi si wanita di rumah belakang yang mana artinya, tidak mendekat atau memberi perhatian. Tuan Paris dan anggota keluarga Abrisam masuk kedalam mobil untuk pergi ke Bandara.


Gavin melambaikan tangan. tersenyum hambar seperti bisa agar keluarga tidak ada yang curiga.


Mobil mewah dengan logo Jaguar itu mulai meninggalkan rumah. perlahan menjauhi si bungsu yang masih berdiri gagah di teras berteman wajah datar seperti biasa.


Diam-diam Nyonya Tari menatap Gavin dari dalam mobil. "Mama, Khawatir Gavin akan mendekati wanita itu."


Tuan Paris menepuk tangan sang istri yang ada di atas pahanya. "Jangan di pikirkan. Gavin tidak akan mengecewakan kita Mah, Lagi pula CCTv mengawasi dia. jadi Mama jangan khwatir."


Kepala Nyonya Tari mengangguk pelan. "Semoga saja."


.


.


Setelah di rasa gerbang di tutup kembali. Gavin bergegas berlari masuk kedalam rumah menuju area dapur jalan tercepat ke rumah sang istri.


"Adel, tidak akan ada yang bisa mengganggu kita." Ucap Gavin penuh semangat berlari membawa senyuman bahagia.


Bi Muji yang kebetulan ada di dapur tersentak melihat Gavin yang siap keluar pintu belakang.


"Astaga, Den." Keluh Bi Muji sambil memegang dadanya.


Gavin acuh dan kembali berlari.


Bi Muji dan pelayan yang lain saling tatap berteman senyuman melihat bagaimana sikap si tuan muda.


"Ayo kita bekerja kembali." Ajak Bi Muji kepada rekan-rekannya.


.


.


Adel nempak terkejut ketika pintu rumahnya di ketuk. ia bergegas keluar dari area dapur setelah selesai mencuci piring.


"Sebentar." Kakinya berjalan cepat menuju pintu lalu membukanya.


Ceklek...


Senyuman manis dari sang suami yang pertama di lihatnya. tapi bukannya membalas Adel malah mengerutkan kening dengan kain lap yang masih ia genggam.


"Kenapa terkejut?" Tanya Gavin di ambang pintu.


Adel mengangguk bingung. kenapa sang suami bisa datang ke rumahnya dengan membawa wajah tenang? padahal ini waktu yang amat berbahaya.


Gavin tau itu. ia buru-buru menarik tangan Adel yang sedikit basah lalu memeluknya tanpa alasan.


Deg...deg... Jantung Adel berirma cepat terpaku ketika kehangatan tubuh beraroma parfum mahal itu menyapanya.


"Apa kamu tidak takut?" Tanyanya tanpa menolak pelukan Gavin, kehangatannya membuat Adel nyaman.


Gavin menjawab lain. "Malam ini kamu tidak akan tidur di tempat ini !"

__ADS_1


"Maksudnya?" Adel bertanya sambil melepaskan pelukan Gavin. menatap manik sang suami mencari apa ada kebohongan disana.


"Kamu tidak bergurau?" Tanya Adel lagi. pasalnya Gavin masih enggan menjawab.


Kepala Gavin menggeleng cepat. lalu menarik tangan Adel, merangkulnya berjalan bersama kearah pintu dapur rumah utama.


Sontak Adel terkejut. ia berhenti berjalan dan menatap Gavin lagi dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Jangan mempermainkan aku." Ujarnya.


"Tidak, aku tidak mempermainkan kamu. ini benar adanya, malam ini kamu akan tidur bersamaku di kamarku."


Kembali Adel merasakan jantungnya berdetak cepat. memacu aliran darah yang menjalari sekujur tubuhnya.


Apa yang dia katakan? Apa ini benar adanya?


Batinnya bergulat hebat. disaat itu Gavin menuntun Adel untuk masuk kedalam rumah tanpa dirinya sadari.


.


.


Jamuan lezat dengan berbagai rupa tersaji di atas meja makan yang nampak istimewa. para pelayan bergegas menata alat makan dan sisa masakan yang baru saja di olah Koki Kakek Hendri.


Noah dan Kasih nampak serasi dengan busana terbaik mereka pun Kakek Hendri. sedangkan Anandita masih bersiap di kamar, gadis cantik itu memutuskan untuk kembali naik ke lantai atas dengan alasan ingin memperbaiki riasan.


Dan saat ini ketignya tengah berkumpul di ruang tengah. mengobrol sejenak sambil menunggu keluarga Lee datang yang katanya sebentar lagi tiba.


Kakek Hendri menarik napas panjang. matanya melirik Kasih yang tengah berbicara dengan Noah lalu melirik tangga.


"Noah."


Kasih dan Noah menatap Kakek Hendri bersamaan.


"Iya, Kek?" Noah menjawab.


Ragu-ragu Kakek Hendri membuka mulutnya.


"Apa ini benar, Noah?"


Kasih mengkerutkan kening begitu juga Noah.


Naoh menarik napas lalu memberi jawaban. "Kek, kenapa Kakek terlihat ragu?"


"Iya, Kek ada apa? kenapa Kakek-


Kasih berhenti bertanya. ketika langkah kaki seseorang terdengar menuruni tangga.


"Lupakan itu." Kata Noah ketika Anandita turun bersama Ayres si bayi tampan yang sekarang semakin aktif.


Kakek Hendri otomatis mengangguk dan melebarkan senyuman ketika Anandita dan Ayres datang.


"Sini sama, Mama." Kasih menerima sang buah hati setelah Anandita memberikannya.


"Ya ampun, kamu semakin berat saja." Keluh Anandita sambil menghujani Ayres dengan ciuman.


Ayres tertawa geli yang mana membuat ketiganya tertawa melupakan obrolan tadi. akan tetapi diam-diam Kasih berpikir tentang ucapan Kakek Hendri.


Ada apa ini? Kenapa mereka seperti menyembunyikan sesuatu?


Batin Kasih bertanya-tanya sambil melirik Noah yang terus menggoda Ayres.


Anandita duduk disebelah Kakek Hendri setelah puas menggoda Ayres. senyuman manis terus terukir diwajahnya membayangkan Teo datang dan melamarnya.


Astaga kenapa aku jadi grogi begini? dua bulan tidak bertemu rasanya aku akan pingsan! apalagi melihat wajah tampanmu Kak.


Kakek Hendri melirik Anandita yang tengah tersenyum, lalu dua bola mata berbalut kacamata itu menatap Noah tapi Noah malah memalingkan wajah.


Sampai akhirnya suara pelayan dari arah pintu utama mengejutkan mereka.


"Tuan, Tamunya sudah datang." Kata si pelayan sopan.


"Ajak mereka masuk." Titah Kakek Hendri sambil menarik napas...


Anandita merasa tak menentu. tubuhnya tiba-tiba saja lemas tak berdaya, udara seakan berubah panas. keringat dingin datang menyapa, yang mana ia menarik tisu di atas meja mengusap-usap area wajah sambil bersuara.


"Aku harus tenang...Aku harus tenang."


Mendengar itu Kakek Hendri memejamkan mata.

__ADS_1


Maafkan Kakek Dita, dia bukan Teo! dia bukan Teo! Dia Lee.


Di tengah kegundahan itu. Kakek Hendri, Noah dan Kasih berdiri setelah pelayan datang bersama tiga para tamu yang sedari tadi di nanti. terdiri dari dua pria dan satu wanita. sedangkan Anandita masih sibuk mengatur napas dan menenangkan diri.


"Selamat datang." Kakek Hendri menyambut tamu istimewa itu di susul Noah dan Kasih.


Mereka berjabat tangan dan Lee tersenyum malu ketika melihat Anandita yang masih belum berbalik.


Dia cantik, amat cantik.


Lee memuji penampilan Anandita tanpa mengedipkan mata yang mana sang ibu menegurnya.


" Lee, jangan menatapnya seperti itu, tidak sopan."


Semua tertawa termasuk Lee. akan tetapi Anandita mematung kaku, detak jantungnya semakin mencekiknya. senyuman manis itu menghilang lenyap, lalu Anandita beranjak bangun membalikan tubuh dan menatap satu sosok pria asing yang tengah tersenyum kearahnya, dan itu bukanlah Teo!


Benaknya bertanya. Siapa mereka? Dan siapa Pria ini? Siapa namanya Lee? Siapa itu Lee?


Lee mengulurkan tangan ke arah Anandita.


"Perkanalkan Namaku Lee Je-Hoon, Panggil Lee saja"


Senyuman bak Bisa ular itu seharusnya mampu menyentak hati Anandita. menerima uluran tangan si pemilik visual yang mampu mengalahkan ketampanan Teo, tapi si gadis hanya diam tanpa bisa bergerak.


Noah tersenyum canggung melihat diamnya sang adik. " Dita."


Anandita tersadar. lalu ia menjadi salah tingkah, terpaksa tangannya terangkat menerima tangan Lee yang terasa dingin karena gugup.


"Mungkin, Nak Dita masih malu." Seru ibu Lee.


Wanita itu melanjutkan. "Kesini sayang." Tangannya melambai meminta Anandita mendekat.


Anandita menatap Noah.


Naoh mengangguk. terpaksa Anandita menghampiri ibu Lee.


Menyalami kedua orang tua Lee dengan perasaan kalut. ia berusaha menahan air asin yang tidak bisa lagi di bendung, jelas Anandita merasa di tipu kecewa teramat dalam kepada Noah dan Kakek Hendri. juga kepada Kasih sang Kakak ipar.


Anandita mendapatkan pelukan hangat dari ibu Lee. terus wanita paruh baya itu bersuara. "Saya senang karena Lee mendapatkan pendamping seperti Nak Dita."


Jedar.....Hujan lebat, angin kencang sampai menimbulkan peting beliung, petir datang bak sengatan listrik yang menerjang tubuh Anandita.


Bukan ini yang dirinya inginkan, bukan? dimana Teo pria yang seharusnya datang dan melamarnya. kenapa harus Lee?


.


.


Mobil Teo baru saja masuk kepekarangan rumah Kakek Hendri. bukan hal yang sulit untuknya masuk dan melewati para penjaga.


Setelahnya Teo keluar dari dalam mobil menatap rumah besar yang masih nampak sama itu kosong. merenung tentang langkah yang harus di ambil.


Pelayan yang berada di luar tepatnya di dekat mobil Teo bersuara.


"Tuan, tamunya sudah datang." Kata si pelayan.


Teo melirik kilat si pelayan. "Sejak kapan?" Tanyanya lemas.


"Sekitar 10menit yang lalu, Tuan."


Teo diam sejenak. lalu ia mengangguk kemudian tubuhnya kembali masuk kedalam mobil yang mana membuat si pelayan kebingungan.


Di dalam Mobil Teo mengesah panjang dan berusaha tenang. Di titik ini haruskah dirinya menghidupkan mesin mobil lalu pulang dan kembali menjadi Teo yang kesepian? merelakan Anandita menjadi milik orang lain seperti dirinya dulu merelakan Adel?


"Arrghhh...kenapa...Tuhan kenapa?" Teo berteriak kesetanan.


Si pelayan terkejut mendengar suara Teo. ia mundur perlahan dan memilih berjaga di dekat mobil keluarga Lee saja.


Setelah di rasa tenang Teo menghidupkan mesin mobil siap menginjak pedal Gas. akan tetapi adegan ciuman di kantor itu kembali datang, termenung Teo di buatnya. menatap kosong rumah Kakek Hendir dengan wajah menyedihkan, beberapa detik kemudian tiba-tiba kepalanya menggeleng yakin.


"Tidak!! kali ini aku tidak bisa diam saja." Katanya, lalu Teo mematikan mesin mobil membuka pintu mobil kemudian keluar berlari cepat kedalam rumah Kakek Hendri.


Teo bukan hanya berlari, dirinya juga meneriakan sesuatu. Dita, Aku datang Dita!!"


Yang mana, kedua belah keluarga terkejut mendengar suara itu tak terkecuali Anandita.


"Kakak Teo." Seketika senyuman manis itu datang menghiasi wajah murung Anandita. teramat senang melihat Teo datang berlari bak pangeran berkuda.


Sedangkan yang lain menatap bingung terlebih Kasih.

__ADS_1


"Kakak!"


__ADS_2