
Dalam waktu yang bersamaan semua orang panik mendengar kabar kecelakaan Gavin tapi Teo dan Noah sama sekali belum tau kabar buruk itu. Kedua pria itu sibuk dengan urusan mereka terlebih Teo, dirinya masih merasakan kebimbangan ketika mengatakan kalau Anandita ada didalam hatinya.
Kejadian malam itu membuat semua orang bingung. Pengakuan Teo tentang rasa cintanya kepada Adik dari Noah yang tidak lain Adik iparnya sendiri berhasil membuat suasana terasa lain. Terlebih didepan keluarga Lee yang saat itu hanya bisa diam menyaksikan.
Anandita senang bukan kepalang mengabaikan semua perkataan sang Kakak. Cintanya benar-benar bersambut. Sedikit trik tarnyata mampu membuat Teo takluk bahkan dirinya lupa ada Lee yang tersakiti.
Noah murka di buatnya. Meminta Teo untuk memberi penjelasan tapi tetap saja Teo pada pendiriannya yakni, Mencintai Anandita.
'Aku merasa kalau rasa cintamu kepada adikku hanya prasaan yang tidak berarti, sama sekali tidak berarti. Ingat Teo, kamu hanya sedang merasakan rasa sakit dan terluka dengan pernikahan Adel. Jangan jadikan adikku hanya pelampiasan kekecewaanmu Teo, pikirkan itu baik-baik.'
Teo memejamkan kedua mata manakala kalimat itu kembali datang. Seolah mengingatkan apakah perkataan Noah di malam itu benar adanya! kalau rasa cinta ini hanya perasaan tidak berarti.
Di atas kasur Teo berbaring dengan keadaan tubuh menyedihkan pakaian yang semalam masih menjadi temannya.
Teo menarik napas dalam. Sekali lagi memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama sampai ia terlelap dan melupakan kisah cinta yang seakan rumit itu mengabaikan suara telepon yang terus bergetar.
.
.
Adel berdiri di ambang pintu ruang oprasi yang masih tertutup. Sedangkan Bi Muji dan kedua pengawal berdiri jauh darinya. Keempatnya menunggu dengan rasa takut. Apalagi Pak Atmo memberi kabar kalau Tuan besar dan keluarga sudah kembali ke jakarta dan tengah meluncur ke rumah sakit. Sedangkan Adel sama sekali tidak tau. Bi Muji dilarang memberi tahu.
Selamatkan Mas Gavin Ya Allah. Jangan biarkan dia terus merasakan sakit biar aku saja yang merasakan itu.
Adel berdoa di dalam hati dan terus menangis di sana.
Sedangkan di dalam ruang oprasi Dokter Bagas dan kedua rekannya sibuk menyelamatkan nyawa Gavin.
Bagian belakang kepala dan perut Gavin di bedah untuk memperbaiki organ yang rusak dan saat itu terjadi. Dokter Bagas menarik napas melihat ada yang salah.
"Dokter!" Suster yang tengah memegang selang menegur ketiga dokter itu.
Ketiga Dokter saling tatap.
"Saya tau." Dokter Bagas mengangguk paham dan meminta suster membuka sarung tangan karet dengan sedikit darah itu. Setelahnya berjalan keluar untuk memberi tahu keadaan Gavin.
Ceklek...
Pintu bertuliskan ruang oprasi itu terbuka. Sontak Adel yang mana berdiri di sana terperanjat.
"Dokter, bagaimana dengan suami saya?" Tanya Adel gugup sambil menyeka pipinya yang basah.
Dokter Bagas mengerutkan kening mendengar perkataan wanita muda di depannya. Dan Dokter tampan itu baru sadar kalau perut si wanita membuncit.
Apa aku tidak salah dengar! Jadi Gavin sudah menikah tapi kapan? Aku bahkan tidak tau itu.
__ADS_1
Dokter Bagas bertanya dalam hati dan terdiam beberapa saat. Ia merenung sejenak.
Tapi kepala kokoh itu menggeleng cepat.
Ada yang lebih penting dari pada itu.
Adel yang di temani Bi Muji menunggu Dokter Bagas bersuara. "Dokter?" Panggil Adel lagi pasalnya si dokter hanya diam.
Dokter Bagas tersadar dan mengangguk cepat.
"Begini, Bagian kepala dan organ dalam ada yang rusak. Kerasnya hantaman membuat tubuh Gavin tidak stabil. untuk bagian kepala kami bisa mengatasi itu, tapi untuk-
Dokter Bagas berhenti memberi Adel penjelasan ketika pekikan dari arah lain menggema.
"Mana Gavin!"
Adel dan dokter Bagas menoleh pun Bi Muji dan kedua pengawal.
Nyonya Tari berlari di susul Tuan Paris. Sedangkan yang lain masih ada di belakang untuk membantu Kakek Damar dan Nenek Dayanti.
Adel mematung di sana melihat bagaimana kedua mertuanya datang bak angin topan. Berhasil membuang ketegaran dan kewarasannya.
Bi Muji yang ada di sana seketika merangkul tubuh kaku itu mencoba menjadi pelindung. Karena ia tau siapa itu Nyonya Tari.
"Dasar wanita kurang ajar. Kamu sudah membuat anakku terluka. Huh... sini kamu!"
Tangan itu berusaha meraih Adel yang ada dalam dekapan Bi Muji dan dokter Bagas.
"Nyonya, saya mohon tenangkan diri anda." Pinta dokter Bagas.
"Minggir, Dokter." Kembali Nyonya Tari memekikan suara lantang ingin meraih tubuh Adel.
Tuan Paris mencoba menjadi penengah dan meraih tubuh sang istri.
Gaduh. Itu yang terjadi di depan pintu ruang Oprasi.
"Maafkan saya..Hiks...hiks..tolong maafkan saya."
"Diam kamu. Saya tidak akan memberimu ampun." Tegas Nyonya Tari sambil menahan tangis.
"Mah, sudah cukup Mah." Nathan datang dan mencoba menarik sang ibu yang mana bak harimau saja. Begitu beringas dan penuh tenaga.
Dari kejauhan Nenek Dayanti dan Kakek Damar hanya bisa melihat dengan wajah sendu. Melihat kekacauan didepan mata mereka. Mega dan Anggel ikut andil disana berusaha untuk memberi Adel pelajaran.
Sampai Suara Nathan menggema.
__ADS_1
"Berhenti! Ada yang lebih penting dari ini, Mah." Kata Nathan. "Gavin Mah...ingat Gavin." lanjutnya.
Semua terdiam seketika yang terdengar hanya suara tangisan Adel yang masih ada didalam dekapan Bi Muji.
Nyonya Tari tersadar dan menatap Dokter Bagas. "Katakan Dokter! Bagaimana keadaan Gavin?"
Dokter Bagas menarik napas dan nampak berkeringat hebat.
"Gavin ada di dalam." Matanya menatap pintu ruang oprasi dan semua mengikuti tatapan itu.
"Satu dari Ginjal Gavin rusak. Itu akibat dari seringnya mengkonsumi alkohol dan rokok. karena itulah Ginjal Gavin rusak di tambah hebatnya benturan." Jelas Dokter Bagas.
Semua mematung dan terdiam.
"Ya Allah." lirih Adel tak kuasa mendengar penjelasan mengerikan itu.
Dengan mata sembab Nyonya Tari bersuara. "Apa maksudnya?"
"Dia harus mendapatkan Ginjal baru. Kita harus mendapatkan orang yang mau mendonorkan Ginjal untuk Gavin, hanya dengan itu Gavin akan selamat." Dokter Bagas selesai menjelaskan kondisi Gavin dan kembali menarik napas.
Nyonya Tari menutup mulutnya dan menjatuhkam tubuh. Beruntung Tuan Paris dan Nathan ada di sana menyabut tubuh lemas sang Nyonya.
"Gavin..hiks...gavin...." Seru sang Nyonya.
Tuan Paris menatap Nathan pun sebaliknya merasa bingung harus mengatakan apa. Penjelasan Dokter Bagas membuat suasana menjadi semakin mencekam.
"Harus segera, Dok?" Tanya Nathan lemas.
Kepala Dokter Bagas mengangguk berat.
"Dari mana kita mendapatkan orang yang mau mendonorkan Ginjal untuk Gavin dalam waktu cepat ?" Seru Anggel yang ada di sana.
"Saya...saya bersedia mendonorkan Ginjal untuk Mas Gavin!"
Semua menatap asal suara lembut itu dan berhenti dimana Adel berada.
Nyonya Tari mengangguk cepat. "Iya, itu benar! kamu harus mendonorkan Ginjalmu untuk menyelamatkan anakku.."
Dokter Bagas menggelengkan kepala. "Tidak Nyonya, Dia sedang hamil." Tolaknya.
"Saya tidak perduli dengan itu, Gavin harus selamat." Nyonya Tari bangkit dan mendekati Adel.
"Lakukan itu. Dan selamatkan anakku." Pintanya tanpa ada prasaan kasian.
Adel mengangguk cepat dan menatap Dokter Bagas. "Lakukan, Dokter."
__ADS_1