
Masih di tempat yang sama Adel berdiri kokoh menatap mobil yang baru saja keluar dari gerbang besar itu. kakinya sedikit menendang angin dengan mata mengarah kedepan. ada perasaan takut dan gelisah ketika mobil itu semakin mendekat seolah memburu jiwanya, bagaimana tidak. kini dirinya harus menerima kenyataan ketika kesempatan kedua di layangkan, berusaha menjadi wanita pemaaf mulai menerima takdir yang diberikan sang pencipta.
Tidak rugi bukan? toh bayi yang di kandungnya butuh seorang ayah.
Decitan suara rem mobil menyadarkan lamunannya. Adel berkedip cepat manakala Gavin keluar dari dalam mobil membawa senyuman tulus.
"Ayo kita pergi." Gavin mulai menarik tangan Adel menuntunnya masuk kedalam mobil.
Adel terkejut dibuatnya apalagi sentuhan yang diberikan Gavin membuat tubuhnya seperti di aliri listrik.
"Pergi kemana?" Adel bertanya gugup.
Gavin menjawab disaat tangannya sibuk memasang sabuk pengan agar tubuh sedikit kurus itu aman. "Membeli selai seruk, setelah itu kita ke Dokter."
Adel mengerutkan kening, Seolah tahu. Gavin kembali bersuara menatap manik sang istri.
"Ini sudah satu bulan lebih, bayinya harus di periksa." Tangan kekar itu mengelus perut rata Adel tanpa permisi, mengirimkan perasaan campur aduk.
Saya papamu. dua kata tanpa sadar itu Gavin ucapkan lewat batinnya.
Jelas Adel tidak terima alhasil tangannya menyingkirkan tangan Gavin cepat. "Jangan coba-coba." katanya dengan Ekspresi wajah dingin.
Gavin mengangguk pelan. "Maaf, Aku tidak bermaksud"
Adel memalingkan wajah sampai Gavin masuk kedalam mobil.
Gavin mulai menjalankan mobil. sesekali menatap Adel yang duduk di sampingnya dengan kepala menatap luar jendela.
Terasa sunyi dan agak canggung. jelas ini adalah pertama kalinya mereka pergi berdua setelah sah menjadi suami istri. sebenarnya Gavin ingin bertanya banyak hal tapi sepertinya itu bukan ide yang bagus, apa lagi melihat situasi dan kondisi Gavin hanya bisa menghela napas panjang.
Pelan-pelan saja Gavin. nanti dia juga akan luluh.
Adel sendiri memilih bungkam tidak ingin bertanya tentang apapun, karena hati kecilnya masih tidak menerima Gavin.
Tapi- Aku tidak ingin menjadi wanita egois, demi anakku, ini demi dia.
.
.
Anandita menarik tubuhnya lemas. mengistirahatkan kedua kaki yang terasa pegal karena harus berjinjit untuk meraih bibir Teo yang terasa hangat dan memabukan. sedikit menarik napas sambil menatap si pria yang dulu dirinya anggap sebagai Kakaknya itu.
Sedangkan Teo masih mematung disana. merenung dengan kejadian yang baru saja terjadi, tak bisa berbicara seolah ia tidak punya bibir atau pita suara. terkejut sangat dia di buatnya ketika si gadis kecil yang dulu selalu ia anggap sebagai adiknya menggantikan Luna atau yang kita kenal Kasih itu, kini dengan sadar sudah membuatnya kehilangan akal.
Teo menarik napas berusaha mengontrol tajamnya dentuman jantung yang seakan ingin meledak. ini terdengar gila! hanya itu yang ada didalam benak Teo ketika Anandita mencium bibirnya.
"Kak," Anandita bersuara pelan memecah kesunyian dan rasa canggung.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Teo dengan tatapan kosong.
"Tatap Dita!" Katanya.
Teo menatap lekat manik sang dara mencari apa ada yang aneh! kecuali bibir ranum yang masih basah akibat benturan penuh kenikmatan, sontak Teo menggelengkan kepala amat cepat lalu berbalik melangkah kemudian.
Apa yang baru saja terjadi?
Batin Teo bertanya mengabaikan Anandita yang terus memanggil namanya, sampai Teo terpaku diam merasakan tubuh bagian belakangnya menjadi hangat.
Teo menunduk kemudian menatap jari lentik yang melingkar kuat di atas perutnya.
"Dita berhenti-
"Tidak. Dita tidak akan melepaskan Kakak, sebelum Kakak mendengarkan Dita." Ucapnya tegas dibalik tubuh Teo.
__ADS_1
"Dita lepaskan." pinta Teo sambil berusaha melepaskan lingkaran jemari sang dara.
Kepala Anandita kembali menggeleng dengan suara lembut yang terdengar meruntuhkan kewarasan Teo.
"Aku mencintaimu, Teo."
Jedar....seperti itulah gambaran wajah Teo. tersentak jelas manakal kalimat norak itu menggudara, tubuhnya mematung cepat seakan tersambar petir. bagaimana bisa gadis kecil yang dulu dirinya ajak bermain di taman kini mengatakan kata yang terdengar aneh! bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Dari dulu Kak, dari dulu aku memendam perasaan ini. Dita berusaha melawan tapi Dita tidak bisa." Anandita melanjutkan. "Sekali saja, sekali saja Kakak lihat Dita sebagai wanita, bukan gadis kecil yang dulu Kakak ajak bermain...sekali saja."
Kata-kata penuh ketulusan sekaligus keputus asaan masuk begitu saja melewati gendang telinga Teo yang masih mematung kaku.
Memandangmu sebagai seorang wanita! memendam perasaan sedari dulu.
Teo malah bergulat dengan hati dan otaknya. mengabaikan Anandita yang terus berbicara riang menceritakan bagaimana indahnya merindu ketika harus jauh dan tenggelam dengan perasaan.
"Apa tidak ada ruang untuk Dita di-
"Tidak ada." Sahut Teo cepat seolah tau kemana arah pembicaraan Anandita.
Anandita menggulum bibirnya yang bergetar hebat ketika kata itu terlontar. meleburkan secercah harapan yang menembus angkasa berganti dengan rasa kecewa dan terluka, terbukti Anandita menarik kembali kedua tangannya yang tadi betah melingkar di tubuh kekar Teo.
Sambil terisak Anandita bersuara. "Tidak apa-apa, sekarang Dita bisa hidup tanpa bayang-bayangmu Kak." Lalu Anandita berbalik membawa perasaan terluka. penolakan itu sudah dirinya prediksi dan akan berusaha menerima tapi tetap saja terasa sakit.
Mungkin kembali ke Prancis adalah keputusan yang benar
Teo berbalik pelan ketika suara pintu kamar berwarna pink itu terdengar. ia menatapnya lekat dengan bibir rapat hanya batinnya yang mampu berbicara.
Kenapa harus kamu yang mengatakan itu? kenapa bukan Adel yang mengatakannya, sampai kapanpun. kamu adalah Adikku, aku tidak bisa melihat dirimu sebagai wanita tidak bisa, maafkan aku.
Teo melenggang pergi meninggalkan rumah Kakek Hendri tanpa berbalik. melupakan Anandita yang tengah menangis pedih seorang diri.
Hanya tuhan yang tau akan seperti apa hidupku kedepannya.
Terucap batin Anandita Dan Teo di saat mereka merasakan kejamnya cinta.
.
.
Gavin sengaja memilih membeli keinginan Adel di minimarket tersebut. sekalian untuk memeriksa kandungan si calon buah hati mereka.
Adel dengan malu-malu membeli selai jeruk dan makanan lainnya setelah Gavin mengatakan.
"Beli saja apa yang kamu mau, mumpung kita bisa keluar."
Mungkin Adel kalap dan melupakan rasa marahnya kepada sang suami. dirinya hampir membeli semua produk makanan yang mana membuat Gavin menggelengkan kepala
"Sudah." Ucap Adel setelah meletakan satu buah es kirim kiloan, ada perasaan senang ketika matanya menatap troli.
Gavin mengangguk cepat lalu mendorong troli yang hampir penuh itu ke Kasir yang sudah menunggu.
Setelah membayar dan memasukan kantong kresek berisi makanan tak terhingga itu kedalam bagasi. Gavin mulai meninggalkan Minimarket untuk membawa sang istri kerumah sakit yang ada di sebrang letaknya.
Ada perasaan gelisah ketika Mobil berhenti di parkiran bangunan berlantai empat itu. Adel khususnya, dirinya seolah trauma ketika janin yang ada di dalam rahimnya terkuak. tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin dan jantung berdetak hebat.
Sedangkan Gavin berusaha tenang. dirinya keluar Mobil dan bergegas menghampiri Adel menuntunnya keluar pula.
Adel melirik Gavin yang tengah berdiri di sampingnya bingung, sontak Gavin menatap balik.
"Ada apa?" Tanya Gavin..
Adel memalingkan pandangan. "Apa tidak akan ada yang mengenalimu?"
__ADS_1
Gavin menatap sekitar. dimana bayang orang asing yang berlalu-lalang. " Mungkin sebagian dari mereka mengenaliku."
Adel menjawab gagap. " Pa-pakai penutup wajah atau topi."
Kening Gavin mengkerut. "Kenapa harus-
" Pokonya pakai saja." katanya cepat.
Gavin mengangguk patuh. lalu ia kembali kedalam mobil untuk mengambil masker dan topi yang memang sudah ada di sana.
Keduanya lalu berjalan setelah Gavin menutup sebagian wajahnya pun dengan Adel. Gavin memasangkan masker diwajah Adel agar terhindar dari peyakit menular yang ada di sana alih-alih diketahui halayak ramai.
Ruang dokter Kandungan adalah tujuan keduanya. mereka masuk setelah mendaftar. pintu dengan tulisan Dokter yang bertugas pada hari itu tertera jelas.
Gavin masuk terlebih dahulu di susul Adel yang ditemani satu orang suster.
Ini kan hari minggu? memanganya Dokter praktek?
Pertanyaan itu tiba-tiba saja datang. Adel merasa bingung ketika melihat seorang dokter wanita seumuran dengan suaminya duduk tenang tersenyum ramah kepadanya. entahlah apa kehadiran si dokter ada campur tangan Gavin?
"Silakan duduk, Nyonya." Pinta si Dokter ramah.
Adel duduk dengan malu-malu sedangkan Gavin acuh dan diam saja.
Dokter dan Adel berbincang seputar kehamilan tanpa melibatkan Gavin, dan tatapan Dokter membuat Adel kembali kebingungan tapi enggan untuk bertanya.
"Mari Nyonya kita lihat kondisi si janin."
Adel mengangguk patuh.
Dokter mulai melakukan tugasnya memeriksa detak jantung si janin terlebih dahulu.
"Detak jantungnya bagus sekali." Kata si dokter semangat.
Di balik masker Adel tersenyum lega begitu juga dengan Gavin.
"Semua dalam kondisi baik." Kata Dokter lagi sambil menatap Adel.
"Alhamdulilah." ucap Adel pelan.
Gavin bersuara. "Katakan, apa jenis kelaminnya?"
Adel menatap Gavin cepat. tapi Gavin seolah tidak perduli, sedangkan Dokter sibuk sendiri berusaha mencari apa yang di inginkan Gavin.
Kemudian...
"Emmm....saya belum yakin, tapi sepertinya jenis kelaminnya perempuan!"
Gavin dan Adel diam mematung, mendengar bahwa si janin yang masih berusia satu bulan lebih itu perempuan. raut wajah keduanya menampakan ekspresi datar yang mana membuat Dokter bersuara.
"Ini masih prediksi awal, tidak usah khwatir. di usia 4bulan nanti akan lebih jelas mendeteksi jenis kelaminnya, jadi kalian jangan takut terutama kamu Gavin." Si Dokter melirik Gavin dan dirinya melanjutkan. "Aku akan merahasiankan ini, kamu tenang saja.."
Adel bergantian menatap kedua orang yang tengah berdiri di dekatnya itu bingung.
Mereka saling kenal?
Gavin mengangguk pelan. menghela napas panjang lalu menarik tangan Adel lembut.
"Apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian walupun aku harus menukarnya dengan nyawaku."
Deg...deg...jantung Adel berdetak kencang mendengar susunan kalimat itu.
.
__ADS_1
.
Sebentar lagi masuk konflik ya guys...nantikan...