BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Tunggu Aku Gadisku


__ADS_3

Waktu berjalan amat sangat cepat yang mana membuat Adel dan Gavin semakin dekat. Rumah besar itu menjadi saksi kebersamaan keduanya. lima hari sudah keluarga Tuan Paris berada di Singapura. dan lima hari pula Adel tinggal bersama Gavin di rumah besar itu. menghabiskan waktu berdua seolah tidak ingin melewatkan sedetikpun kemesraan yang semakin menggila.


Gavin selalu berusaha membahagiakan istri dan sang buah hati. memenuhi kebutuhan ngidamnya Adel. sehari sang istri mengidam seharinya tidak. begitulah ngidamnya Adel tidak menentu, memang aneh tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak bisa memaksa sang istri untuk mengatakan apa yang dirinya inginkan, karena setiap di tanya pasti kepalanya menggeleng Gavin menyerah dan tidak ingin memaksa...


Seperti kemarin pagi Adel merengek meminta Bakso tangkar dengan isian sosis gulung ! Gavin terpaku mendengarnya. alhasil ia menunda Meeteng dan memilih sibuk di dapur bersama koki. Setelahnya memberikan kepada si tuan putri yang mana tengah bersantai di ruang tv.


Gavin mengatakan. "Jangan takut selama aku pergi bekerja. tetaplah di rumah lupakan sejenak rumah belakang dan bersantai saja, jangan hiraukan mata kamera mereka tidak akan menyakitimu, percaya padaku."


Adel menurut dan mulai membiasakan diri menjadi Nona muda walupun rasa takut masih terasa. bersama Gavin Adel bisa bersantai dan menikmati kemewahan di rumah sang mertua. disana pula Adel menghabiskan Bakso dengan isian Sosis gulung sampai habis tak tersisa.


Mungkin kebahagian Gavin dan Adel tidak dirasakan Teo dan Anandita.


Seperti yang kita tahu. ketika Keluarga Lee datang Teo memberi pengakuan kalau dirinya mencintai Anandita kepada Noah dan Kasih. Noah mungkin sudah mengetahui hal itu tapi Kasih.


Ibu satu anak itu menolak tegas dengan alasan yang membuat Teo merenung.


'Bagimana bisa Kakak mencintai Anandita! dia bahkan sudah seperti adimu sendiri, ini salah Kak, ini tidak seharusnya terjadi. Kalaupun kalian bersama itu salah...ingat kak, suamiku adalah Adik iparmu, dan Anadita juga adik iparku. kalau kalian menikah apa yang akan terjadi.'


Kasih menggelengkan kepala ketika ia mendengar Teo mengatakan hal yang menurutnya amat gila, tidak ada lagi perdebatan semua selesai. Kasih sudah terlanjur kecewa dan pergi keluar meninggalkan Noah dan Teo.


Sedangkan Teo masih diam ditempatnya. menunduk lesu mendengar sang adik berbicara. Noah sendiri mulai melepaskan cengkaraman di kemeja sang Kakak ipar lalu ikut keluar meninggalkan Teo di dalam kamar.


Sampai akhirnya Teo merenung seorang diri. dan membersihkan diri memakai baju Noah yang sudah di siapkan pelayan...


Apakah aku egois? apa aku sudah tidak waras! yang dikatakan Luna tidak salah, mungkin rasa cintaku ini hanya perasaan sesaat...ya Tuhan, aku tidak tau.


Teo bergulat hebat seorang diri didepan cermin menatap pantulan wajah murungnya. berusaha untuk tidak memikirkan Anandita yang sekarang tengah menunggunya bersama Lee. pada akhinya Teo keluar kamar dan bergabung tanpa ingin memperlihatkan kebimbangan atas kejadian yang sebenarnya.


Dan sudah lima hari lamanya Teo masih memikirkan Anandita yang sebentar lagi akan di lamar Lee.


.


.


Mari kita tinggalkan Teo dengan kisah cintanya yang rumit itu.


Gavin seperti biasa membuka mata. bangun setelahnya berjalan kedalam kamar mandi dan sibuk seorang diri tanpa bantuan sang istri. tapi pagi ini lain, Adel tidak meninggalkan kamarnya untuk kembali ke rumah belakang dirinya berada di dapur bersama Bi Muji tengah menyiapkan sarapan.


Sarapan ditata di atas meja makan. Adel sibuk seperti biasa. tinggal lima hari di rumah besar itu membuatnya mulai nyaman, Bi Muji kembali kedapur sedangkan Adel menunggu Gavin turun.


Lamanya menanti sang suami tak kunjung datang, Adel kebingungan menatap jam pukul 07:45 tapi wujud Gavin masih tak terlihat. yang mana Adel menaiki tangga membawa wajah khwatir.


Pintu dibuka Adel menatap satu sosok pria yang masih berdiri di dekat cermin tersenyum menatapnya.


"Kenapa belum keluar?" Tanya Adel. langkah kaki mendekati Gavin.


Gavin tersenyum senang. "Aku tidak bisa memasang dasi hari ini." jelas itu adalah sebuah kebohongan.


Adel tertawa lembut lalu berdiri mensejajarkan tubuh pendeknya dengan Gavin. Tanpa bersuara tangan sedikit basah itu meraih leher sang suami yang mana berhias dasi berwarna hitam.


Dasi yang dirinya pilihkan.


Adel mulai memasangkan Dasi. Gavin menatap lekat keseluruhan wajah Adel lalu berhenti dimana bibirnya berada.


Adel terlalu pokus dan Gavin menyerang bibir mungil itu. Cup...


"Mas." Adel menatap Gavin tanpa ekspresi sambil menggelengkan kepala tanda peringatan. lalu kembali pokus mengikat Dasi.


Gavin tertawa gilang merasa senang karena sudah berhasil menggoda Adel.


"Sudah." Adel merapihkan Dasi Gavin lalu tersenyum. "Sekarang sarapan, Nanti kamu terlambat. Semua sudah aku buatkan." lanjutnya.


Gavin mengangguk cepat. Adel berjalan terlebih dahulu tapi suara Gavin terdengar jelas.


"Besok mereka akan pulang."


Kalimat itu terlontar jelas. Adel mendesah pelan. Tubuhnya berbalik dengan senyuman manis. kembali melangkah menghampiri Gavin.


"Tidak apa-apa, lima hari bersamamu sudah lebih dari cukup." Katanya berusaha kuat. Lalu kembali berjalan ingin keluar kamar.


Gavin mengejar dan memeluk Adel dari belakang sedikit mengecup puncak kepalanya. "Mari habiskan hari ini berdua saja." Bisik Gavin..


Adel kembali tersenyum hambar membiarkan Gavin mengecup dan memeluk tubuhnya. jujur Ada perasaan tenang ketika Gavin menyetuhnya seolah sang buah hati merasakan hal itu. Apalagi tangan kekarnya mengusap lembut perut buncitnya.


Singkat cerita mereka sarapan seperti biasa. kemudian Adel mengantarkan Gavin kedepan teras seperti bisa, melakoni tugas suami istri.


"Makan siang aku akan pulang. Tunggu aku." Teriak Gavin dari dalam mobil yang siap melaju.


Adel mengangguk cepat melambaikan tangan tanda berpisah untuk sementara. "Hati-hati." Adel bersuara lembut sambil terus melambaikan tangan sampai Mobil hitam itu menghilang dipelupuk mata.


Adel menurunkan tangannya. lalu berbalik dan berjalan masuk.


Entah karena sedang terburu-buru atau tidak memperhatikan sekitar. Adel tidak menyadari ada sebuah Camera canggih yang sengaja memotret dirinya.

__ADS_1


Si pembawa Camera itu menyungsingkan senyuman jahat sebelum ia pergi tanpa jejak.


.


.


Telepon dari nomor Misterius terpatri di depan layar ponsel milik seseorang.


Orang itu mengangkatnya segera sambil mengunci pintu kamar mandi.


"Katakan! "Pintanya tanpa basa-basi.


Orang itu bersuara. " Den Gavin membawa wanita itu kerumah utama, Tuan."


Orang itu menyeringai. "Itu berita bagus." Ia sedikit mundur menjauhi pintu kamar mandi takut ada yang mendengar.


Ia kembali bersuara atau tepatnya memberi perintah. "Aku ingin kau membuat mereka mati. lakukan dengan sangat halus, mengerti?"


"Mengerti, Tuan,"


"Kerja Bagus."


Orang itu mematikan sambungan telepon. kemudian keluar kamar mandi dengan wajah bahagia.


Bagaimana bisa dia memimpin perusahaan. ini kesempatan baik bukan, mereka tidak akan tau.


Orang itu kembali keluar kamar dan bergabung bersama anggota keluarga yang mana tengah berkumpul untuk menghabiskan waktu sebelum kembali ke Indonesia.


"Dad, sini." Lambaian tangan seorang pria kecil tertanggap pandangannya. ia mengangguk dan duduk mengecup pipi sang putra.


"Bagaimana perutnya apa sudah lebih baik?" Tanya Seorang wanita cantik yang ada di dekatnya.


"Sudah lebih baik." Dia menjawab dengan wajah sedikit lesu. jelas itu adalah sebuah kebohongan tapi mereka yang melihatnya yakin percaya.


Wanita cantik itu mengangguk lega.


Keluarga yang selalu kompak itu sibuk berbincang seperti biasa. membahas tempat mana saja yang sudah mereka datangi selama liburan di Singapura. memamerkan belanjaan yang amat banyak kepada satu dengan yang lainnya. Mereka sama saja bukan? seolah akan hidup selamanya. sampai di tengah obrolan itu. Pria tadi memberi tahukan keadaan di rumah utama karena Tuan Paris memintanya untuk bertanya kepada orang kepercayaan si pria.


"Wanita itu berada di rumah utama."


Tiba-tiba keramaian itu berganti sunyi. sepasang manula saling tatap takut apalagi melihat wajah sang menantu.


Nyonya Tari mematung menampakan wajah marah amat sangat marah. bahkan kepalanya tiba-tiba pusing. ternyata si anak bungsu tidak bisa di percaya.


Mega melirik sang ibu mertua dan Kakak iparnya. sedikit senang melihat wajah memerah itu. Mega pula bersuara.


"Ternyata dia punya nyali juga. Apa Mama akan diam saja?"


Bukannya menjawab. Nyonya Tari malah pergi dan masuk kedalam kamar dengan wajah gusar. Melihat itu Tuan Paris menyusul sang istri yang tengah dirundung amarah.


Tak lama Kakek Damar dan Nenek Dayanti pergi ke kamar mereka. menyisakan kedua kakak Gavin dan kakak iparnya.


Mega belum puas. ia menyerang Angel yang tengah tersulut emosi.


"Sepertinya, Kakak tidak marah, Mama juga tidak marah? ini aneh, Apa kalian-


Kalimat penuh api itu terhenti ketika Anggel tiba-tiba menatap Mega memberinya sorotan tidak suka. Mega bukannya takut ia juga menatap Anggel dengan seringai.


"Dia akan menyesal karena sudah berani melanggar, lihat saja."


.


.


Pukul 12 tepat Gavin pulang menepati janji untuk makan siang di rumah. Mengajak Adel jalan-jalan menghabiskan waktu berdua karena besok mereka harus kembali berpisah main kucing-kucingan tepatnya.


Gavin masuk kedalam rumah mendapati Adel tengah berjalan untuk menyambutnya.


Adel tersenyum melihat Gavin. "Sudah pulang?" Katanya sambil mencakup tangan Gavin..


Gavin membalas dengan kecupan di kening Adel.


"Aku lapar." Gavin merengek manja menggelayut di tubuh Adel.


"Ayo, kita makan."


Mereka makan siang bersama sambil diselingi obrolan tentang keseharian masing-masing.


Setelahnya Gavin dan Adel naik kelantas atas untuk bersiap-siap. Adel sendiri sudah nampak cantik dengan dres berlengan panjang yang di pilih Gavin beberapa hari yang lalu.


Adel nampak senang membantu Gavin bersiap. memasangkan kaos dan celan pendek di tubuh tinggi itu.


Gavin menjadi lebih manja kepada Adel pun sebaliknya.

__ADS_1


Akhirnya mereka sudah siap tinggal pergi untuk bersenang-senang. tapi tiba-tiba saja Adel merasakan tubuhnya pusing dan perutnya mual.


"Mas, aku- Muuee...muuee..."


Adel berlari kedalam kamar mandi. Sontak Gavin terkejut. Kakinya yang sudah siap keluar kamar berubah arah kembali masuk dan menyusul Adel kedalam kamar mandi.


"Kamu ga papa-papa?" Gavin ikut jongkok dan mengusap punggung bergetar Adel. merasa sedih melihat sang istri menderita.


Di rasa puas memuntahkan makanan yang baru saja di santapnya. Gavin memapah Adel untuk berbaring di atas kasur.


"Kamu tuh ga pernah mau aku gendong, kenapa sih?" Gavin protes kesal karena Adel menolak dirinya membawa tubuhnya yang lamah. sambil mengusap kening berkeringat itu. Gavin terdiam tidak lagi bersuara. Ia beralih menatap si perut yang terlindungi baju dres Adelia.


Mengusapnya lembut dan mengecupnya lama. Adel hanya diam menyaksikan tanpa bisa mencegah atau memberi ledekan, Tenaganya sedikit terkuras.


Bibir Gavin menjauhi si perut. lalu ia berbisik yang mana Adel dapat mendengarnya.


"Hai, jangan nakal ok. Jaga ibumu, lindungi dia dari orang-orang jahat, Aku berjanji akan selalu membuat kamu dan ibumu bahagia walupun aku harus menderita, Jadi anak baik Iya...Pap-"


Gavin terdiam merasa kikuk menyuarakan kalimat yang belum pernah ia sematkan untuknya. pandangan mata menatap Adel yang juga menatapnya sambil tersenyum disaat wajahnya pucat tak bertenaga.


"Pap Apa, Mas?" Tanya Adel untuk menggoda Gavin.


Aku tidak akan memaksamu Mas Gavin.


"Papa maksudnya." Gavin cengengesan malu dan kembali mengecup perut Adel. berbisik sekali lagi.


"Ini Papamu." Kata sedikit kaku itu terlonatar lengkap.


Adel tersenyum lega dan memeluk Gavin. Sontak Gavin terkejut. tidak ingin menyia-nyiakan waktu Gavin menyerang Adel.


Mereka malah bergulat di siang itu melupakan acara jalan-jalan yang sudah di nanti.


Sore datang. Adel masih terlelap manja di atas ranjang tertutup selimut tebal, sedangkan Gavin sudah selesai membersihkan diri.


Mata Adel mulai mengerjap terpaku melihat Gavin yang tengah memakai baju didepan cermin.


"Mas." Suara manja itu membuat Gavin menoleh.


"Hey tukang tidur." Katanya sambil menghampiri ranjang duduk di tepinya.


Adel mengusap wajahnya dan meraih tangan Gavin. "Aku tidak ingin pergi, tidak apa-apa, 'Kan?" tanya Adel tidak enak. apalagi melihat Gavin sudah bersiap.


"Tidak apa-apa, lain kali saja." Jawab gavin..


"Kamu ingin sesuatu?" Tanya Gavin ketika Adel menyetuh perutnya memperlihatkan wajah kelaparan.


Adel tersenyum sambil mengangguk membenarkan.


"Mau apa? katakan saja." Tanya Gavin lagi, Dia senang ketika sang istri merengek meminta sesuatu.


Dengan malu-malu Adel membuka bibirnya. "Rasanya aku ingin makan buah lengkeng."


"Lengkeng?" Gavin mengulang kata itu.


Adel mengangguk malu. "Kamu tidak usah pergi, biar pelayan saja Mas." Kata Adel tidak enak.


Keluarga Abrisam tidak ada seorangpun yang menyukai buah kecil berasa manis legit itu. mereka lebih memilih buah anggur yang mereh menyala ketimbang buah dengan kulit keras yang mana tidak ada Stok di rumah.


Gavin menggelengkan kepala. "Aku akan membelinya. kamu tenang saja."


Gavin mengecup kening Adel dan perutnya. lalu berpamitan. sebelum mendekati pintu kamar Gavin berbalik.


"Del, jangan marah kalau aku mencintaimu."


Deg...deg...Adel terdiam. hanya mempu menatap Gavin yang masih berdiri di ambang pintu.


"Aku-...A-aku.."


Adel terbata kacau yang mana Gavin bersuara.


"Jawabnya nanti saja kalau aku datang menemuimu Gadiku." Dan Gavin berlari kencang. Meninggalkan Adel yang mana tengah tertawa cekikikan.


"Apa dia bersungguh-sungguh?" Adel mengubur tubuhnya dengan tumpukan selimut dan berjingkrak tak karuan.


Sedangkan Gavin sudah meluncur cepat keluar rumah untuk memenuhi ngidam istrinya.


Jarak dari gerbang. satu buah mobil sudah siap disana menunggu Mobil yang membawa Gavin..mengikutinya dari belakang dengan sangat hati-hati.


"Tuan, Target sudah siap masuk perangkap!" Kata orang itu kepada benda di pipinya.


"Hati-hati jangan sampai mereka curiga...kalau ada kesempatan lakukan dengan cepat."


Perintah orang itu dengan gelak tawa tajahatnya.

__ADS_1


__ADS_2