
Seperti tidak ada yang terjadi. Anandita menghampiri Mbak Tata yang masih berdiri di tempatnya. Melihat itu Anandita tertawa kecil sembari menggelengkan kepala.
"Bi," Tegur Anandita yang mana di jawab anggukan lega dari Mbak Tata.
"Non, Bibi pikir Non tinggalin Bibi di sini."
"Ga lah, mana bajunya? Udah pilih belum?" Menatap kedua tangan Mbak Tata yang kosong.
"Bibi, ayo dong pilih. Saya juga mau cari baju." Seketika menuntun Mbak Tata ke bagian lain, tanpa Anandita sadari Daniel mengikuti dari kejauhan.
Selain cantik dia juga baik, aku suka hanya melihat dirinya dari kejauhan.
.
.
"Non, ini mahal." Kembali Mbak Tata menyuarakan kalimat yang sama. Tapi Anandita acuh. Dirinya membiarkan Mbak Tata merengek agar tidak di belikan baju yang harganya di atas baju tadi.
Kelipatan dari gajih ku bekerja di rumah Tuan Teo.
Batin Mbak Tata yang sudah pasrah. Mengingat Baju yang di belikan Anandita sudah di masukan kedalam paper bag.
"Ambil, Bi." Paper bag Anandita sodorkan dengan paksa. "Ambil, Bi."
"Tapi, Non." Ragu-ragu menerima paper bag itu.
Anandita tersenyum dan kembali fokus menunggu struk belanja yang masih di hitung pelayan.
"Terimakasih Non. Nona baik sekali." Kata Mbak Tata.
"Sama-sama Bi, di pakai ya bajunya."
"Baik, Non."
Sayang sekali rasanya.
"Anda ingin menggunakan kartu kredit atau tunai, Nona?" Ucap pelayan sopan setelah selesai menghitung jumlah baju yang di beli Anandita.
"Saya-
Dompetnya mana? astaga?
Anandita merasa heran ketika ia merogoh tas hitam miliknya. Mencari benda yang mana berisikan segala jenis kartu berharga dan beberapa lembar uang.
"Nona?" Tegur si pelayan karena di belakang Anandita masih menyisakan antrian.
"Tunggu sebentar." Meminta waktu untuk mencari dompet yang tak terlihat.
"Non? Apa dompetnya hilang?" Tanya Mbak Tata tak enak. Apalagi melihat tatapan pelayan dan beberapa pelanggan yang seolah mencibir keduanya.
"Ga ada, Bi? Dompet saya hilang tadi-
Tadi aku hampir jatuh! Mungkin terjatuh di sana .
"Bibi. Tunggu di sini."
Belum juga kaki Anandita berjalan. Dirinya di hadang satu sosok tubuh tinggi yang menyebarkan aroma wangi. Mampu menyentak kesadarannya. Tidak munafik Anandita mengagumi aroma parfum yang dirinya kenal.
Ini parfum mahal.
"Kamu mencari ini?" Suara lembut yang tidak asing membuat Anandita mendangah menatap wajah tampan lagi manis.
Mbak Tata yang ada di sana memperhatikan adegan itu intens. Menatap lekat laki-laki tampan yang sudah menghalangi langkah Nona mudanya.
"Wajahnya tidak asing?" Gumam Mbak Tata sambil mengingat siapa laki-laki tampan itu.
"Ini dompet kamu, bukan?" Menyodorkan dompet coklat berhias boneka beruang kearah Anandita yang masih diam membisu.
Perlahan Anandita mundur. Menunduk menatap dompet yang di cari ada di tangan si pria yang tadi di tabrakannya dan menimbulkan adegan canggung.
Menyambar dompet seketika. lalu berbalik tanpa mengucapkan terimakasih seperti seharusnya.
Anandita menghampiri kasir yang menunggu dengan sabar. Meninggalkan Daniel dengan wajah berhias senyuman manisnya.
Sikapmu membuat aku penasaran saja Anandita.
Gumam Batin Daniel yang mana masih setia memperlihatkan Anandita. Sampai Anandita melangkah keluar Butik dan Menghilang dari pandangan mata.
__ADS_1
Diam-diam Daniel merogok saku celana. Mengangkat sebuah benda yang terbuat dari kertas itu semangat, menatapnya lekat seolah hidup ini indah terasa.
"Anandita Adimana, nama yang indah seperti orangnya."
.
.
Bruk...
Mbak Tata terperanjat ketika pintu mobil di tutup amat cepat. Menimbulkan suara begitu keras. Anandita pelakunya.
Tanpa kata mobil melaju kencang meninggalkan Mall.
Hari ini benar-benar sial,
Batin Anandita marah. Melupakan kakinya yang menginjak pedal gas.
"Non, pelan-pelan, Non." Seruan Mbak Tata tak di gubris Anandita. Dirinya tetap mengebut membelah jalan raya sampai tiba di rumah dengan perasaan yang sama.
"Tunggu, Bi?" Mencegah Mbak Tata yang siap keluar mobil.
"Iya, Non?" Tanya Mbak Tata sambil berbalik.
"Nanti kalau Kak Teo tanya kita pergi ke mana, bilang saja kita ke Mall." Ucap Anandita gugup.
"Bukannya kita Memang ke sana, Non." Mbak Tata menatap Anandita heran.
"Em.. Maksud saya. Tentang kejadian tadi." Terlihat wajah Anandita ketakutan.
"Oh itu, tenang saja Non. Saya tidak akan mengatakan apa-apa ke Tuan besar. Lagipula apa yang di lakukan cowok ganteng tadi hal yang bagus. Dompet Non di kembalikan."
Anandita mengangguk datar.
Lalu keduanya keluar dari dalam mobil. Dan berjalan bersama untuk kembali ke kamar masing-masing.
Daniel? pria itu seperti pernah melihat?
Pikir Anandita mencoba mencari siapa pria yang sudah membuat jalan-jalannya terganggu.
"Argh..Bodoh ah."
.
.
Kebetulan Anandita masih bersantai di ruang keluarga. Menghabiskan waktu dengan menonton televisi seorang diri.
Dari atas tangga. Teo menatap kearah Anandita yang duduk sendirian. Tertawa girang menonton acara kesukaannya.
Tadi aku datang kamu begitu perhatian, aku semakin tidak bisa mengontrol perasaan ini Dita.
Teo mengingat bagaimana Anandita menyambut kedatangannya setelah seharian sibuk bekerja. Menyiapkan segala keperluan. Baju ganti, Air hangat, makan malam dan cemilan yang di belinya dari tadi siang.
Tugas yang memang harus di lakukan seorang istri terhadap suami. Begitu penuh kelembutan dan kasih sayang. Teo melihat itu dari sorot mata sang istri. Jantungnya berdetak kencang ketika Anandita menawarkan pijatan untuk menghilangkan rasa pegal. Tapi Teo menolak dan memilih menyibukkan diri di dalam ruang kerja.
Ruang kerja dadakan tepatnya. Kamar paling ujung yang tak bisa di pakai. Di sulapnya menjadi ruang kerja. Karena memang sebelumnya tidak ada ruang untuk menyimpan berkas-berkas. Di sanalah Teo menenangkan diri untuk mencari jawaban atas pertanyaan hatinya.
Apakah sekarang rasa cinta terhadap Anandita sudah datang? Atau masih perasaan yang sama, yaitu perasaan kakak terhadap adiknya. Ingin melindungi tanpa bisa memberi cinta.
"Ini benar-benar rasa cinta, ini cinta."
Teo bergegas menuruni tangga. Tersenyum penuh tanya. Membuat Anandita menoleh cepat membawa wajah berbunga.
"Kakak, pelan-pelan." Pinta Anandita. Tidak ingin sang suami terluka.
Teo berlari menghampiri Anandita bak anak kecil yang ingin segera memeluk ibunya.
"Kakak." Seru Anandita tak kuasa menahan tanya ketika Teo tiba-tiba berlari dan memeluknya.
Hap...Sekali lagi pelukan hangat di rasakan Anandita.
"Dita, aku mencintaimu. Aku mencintaimu." Seru Teo setengah berbisik. membuat Anandita mematung di tempat.
Jelas Anandita mematung. Teo datang dengan berlari dan memeluknya erat terus mengatakan kata yang tidak pernah Anandita bayangkan.
Secepat inikah kamu mencintai aku, kak? Tidak kah aku bermimpi?
__ADS_1
Batin Anandita tidak percaya. .
"Kak, apa kamu bersungguh-sungguh?" Tanya Anandita tak kuasa menahan air mata kebahagiaan.
Teo mengecup kening Anandita lalu mengangguk. Kembali memeluk Anandita dengan erat.
"Aku menahannya selama ini. Dan sekarang-
"Cukup kak, Dita mencintaimu." Anandita membalas pelukan Teo.
Keduanya bermesraan tanpa sadar ketiga pelayan menatap adegan itu intens.
"Apa mereka tidak bisa ke kamar saja." Keluh salah satu pelayan yang merasa risih sekaligus iri.
Mbak Tata yang ada di sana menarik kedua kawannya kearah dapur.
"Itu hak mereka. Ini rumah mereka. Jadi apapun yang mereka lakukan itu bukan urusan kita." Jelas Mbak Tata lantang. Menghardik sekaligus membela sang majikan. Terutama Anandita bos cantik yang sudah membelikannya baju mahal.
Pelukan dan sedikit hadiah ciuman singkat terhenti. Teo dan Anandita memilih melanjutkan di kamar saja. Mengingat di rumah mereka tidak berdua. Tidak baik harus mengumbar kemesraan di ruang terbuka.
Di kamar Anandita segera menyerang Teo yang juga membalas serangan penuh gairah itu. Membanting sang istri keatas kasur lalu menindihnya. Pergulatan yang tidak pernah di sangka-sangka itu terjadi.
Teo dengan pengalaman yang tinggi merenggut mahkota Anandita yang berharga penuh kelembutan.
Anandita meraung merasakan puncak kenikmatan. Menggigit bibir bawah di saat Teo menghajar area sensitifnya.
📲 Dret...Dret ...
Tiba-tiba suara ponsel berbunyi.
"Dita, Dita?"
Anandita tersadar. Menatap Teo yang ada di depan matanya.
Teo mencubit pipi Anandita gemas lalu duduk di sofa. "Apa yang kamu pikirkan huh?" Tanya Teo.
Anandita sendiri menatap bingung ruangan yang saat ini dirinya pijak.
Aku tadi bermimpi?
Batin Anandita yang masih berdiri kokoh. Melupakan suara ponsel miliknya.
"Dita, hpnya." Ucap Teo mengingatkan Anandita.
Anandita mengangguk patuh, segera duduk di samping Teo lalu meraih ponsel yang masih bergetar.
"Nomor siapa ini?" Menatap layar ponsel yang mana ada satu buah nomor tanpa nama.
Teo yang ada di samping Anandita melirik sekilas. "Angkat saja. Siapa tau penting."
"Tapi tidak ada namanya." Masih menatap layar ponsel heran. "Biarkan sajalah, kak." Berniat meletakan benda pipih itu. Tapi Teo mengatakan.
"Angkat saja, siapa tau itu temanmu. Dia ganti nomer telepon mungkin."
Anandita patuh dan mengikuti perintah Teo.
📞 "Halo?" Sapa Anandita lembut.
📞 "Halo. Anandita, aku Daniel."
Sontak Anandita membulatkan matanya.
Dia laki-laki itu? Kenapa dia bisa meneleponku? Dari mana-
Anandita segera menutup mulut ketika nama Daniel di sebut si penelepon.
Jangan-jangan.
📞 "Maaf aku sudah lancang menelepon mu malam-malam. Aku hanya-
"Siapa, Dita?" Pertanyaan Teo membuat Anandita kebingungan. Buru-buru mematikan ponsel miliknya dan duduk tenang. Padahal keringat jangan lagi di tanya.
Aku tadi sudah bermimpi bercinta dengan Kakak Teo, sekarang apa lagi? Laki-laki itu kenapa dia meneleponku? apa maunya? Tenang Dita. tenang..
"Bukan siapa-siapa kak, Salah sambung kayanya." Dalih Anandita.
Teo mengangguk dan menikmati sajian televisi tanpa melihat ekspresi wajah tegang Anandita.
__ADS_1
Sementara itu, Daniel tak hentinya tertawa girang ketika bisa mendengar suara Anandita walaupun pada akhirnya berakhir begitu saja.
"Apa benar dia sudah menikah?"