BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Mimpi Yang Menjadi Kenyataan


__ADS_3

Suasana menjadi hening. Tuan Mahendra dan istrinya saling tatap bingung. Teo masih melirik Anandita penuh tanya. Sedangkan Daniel begitu intens menatap Anandita yang masih diam membeku.


"Ah..Daniel, Nak Anandita ini istrinya Tuan Teo." Suara Tuan Mahendra memecah keheningan. Menyadarkan sang putra untuk menerima jaba tangan Teo yang masih tertahan di udara.


Sontak Daniel mengerti. Dengan tawa yang di paksakan tangannya menerima jaba tangan Teo.


"Saya Daniel, senang berkenalan dengan Anda." Katanya sopan.


Teo mengangguk. "Teo Tantala. Suami Anandita Tantala." Memperkenalkan diri begitu lantang. Seolah Daniel adalah ancaman.


"Silakan Duduk." Pinta Tuan Mahendra. Dirinya duduk terlebih dahulu bersama sang istri.


Daniel yang tidak bisa merasakan lembutnya lapisan kulit Anandita sedikit membuat dirinya kesal. Tapi Daniel begitu hebat menyembunyikan kegundahan di hati. Daniel ikut duduk bersama kedua orangtuanya.


Teo menuntun Anandita untuk duduk, lalu dengan mantap menarik tangan dingin sang istri. Sedikit melirik Daniel yang terus menatap Anandita.


Begitu banyak penjelasan yang harus kamu katakan, Dita.


Batin Teo melirik Anandita yang masih diam membisu.


Diam-diam Daniel melirik tangan Anandita yang di genggaman Teo posesif. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman melihat itu. Udara terasa panas bagi Daniel.


"Tuan Daniel? Anda tadi-


"Daniel saja, sepertinya usai kita sama." Pinta Daniel, sesekali melirik Anandita alih-alih Teo yang di ajaknya berbicara.


Teo mulai jengah melihat laki-laki tampan itu. Ini benar-benar ancaman pikir Teo.


"Di mana kalian bertemu?"


Sontak Anandita terperanjat. Bergantian menatap Teo dan Daniel.


Bagaimana kalau Daniel mengada-ada? Kak Teo pasti akan salah paham.


"Ah. itu, Aku melihatnya di Instagram, tak sengaja melihatnya dan Namanya Anandita, benar, 'kan?"


Berbohong. Dia berbohong? Batin Anandita bergumam tak percaya.


Setelah mendengar penjelasan singkat Daniel. Teo sedikit merasa lega. wajah tegangnya berkurang. Menyamarkan rasa cemburu dengan tersenyum datar. Daniel ikut tersenyum pun Tuan Mahendra dan istrinya. Sedangkan Anandita tersenyum getir dengan perasaan campur aduk.


Karena Daniel dirinya seperti istri yang berselingkuh. Tak bisa terus seperti ini. Akan sangat berbahaya ketika nanti Teo tau yang sebenarnya.


Berbincang santai di tutup dengan makan malam yang hangat. Anandita begitu senang mendengarkan semua celotehan Nyonya Mahendra yang ramah. Mengingatkan dirinya pada mending sang ibu dan ibu mertuanya.


Meja makan berbagai macam hidangan mahal tak bisa terus di santap. Mengingat waktu malam semakin dingin. Waktunya Teo dan Anandita pamit pulang.


Daniel merasa kesal karena tak ada kesempatan untuk sekedar mengajak Anandita berbincang, Adanya Teo begitu mengganggu. Tapi biarlah melihatnya lagi sudah membuat Daniel senang bukan kepalang.


Puluhan pesanku tak ada satupun yang kamu baca, tapi sekarang dengan izin Tuhan aku bisa melihatnya.


Daniel melengos pergi masuk kedalam rumah setelah mobil Teo meninggalkan gerbang.


Tuan Mahendra bergegas mengejar. Menarik tangan Daniel yang berotot itu marah.


" Tadi itu apa, huh? Kamu hampir membuat Papa malu." Lantang Tuan Mahendra berucap membuat sang istri yang baru saja datang ketakutan.


"Pa, ada apa ini?" Tanya Nyonya Mahendra bingung. Menarik tangan sang suami yang mencengkram kuat tangan Daniel putra sulungnya.


"Apa Mama tidak melihat bagaimana Nak Teo memandang Putra kita." Ucap Tuan Mahendra mengingatkan.


Daniel berbalik menatap sang ayah dengan wajah datar.


"Memangnya di mana letak salah, Daniel?" Menatap sang ayah menuntut. "Tidak ada, bukan?"


Tuan Mahendra terdiam.


"Sudahlah Pa. Yang di katakan putra kita memang benar." Bela sang ibu. Yang memang selalu membela Daniel di situasi apapun.


"Mama selalu saja membela dia," Gerutu Tuan Mahendra. Bergegas pergi meninggalkan ibu dan anak itu kesal.


"Sudah jangan dengarkan Papamu, sayang." Mencoba menenangkan Daniel. Mengusap lembut pundak sang putra sulung.


"Daniel, pergi dulu, Ma."


Pergi? Batin Nyonya Mahendra berucap bingung.


"Mau kemana kamu, sayang?" Bertanya setengah berteriak. Daniel enggan menggubris dirinya terus keluar rumah. Mobil yang di parkir menjadi tujuan.


Masuk setelahnya dan menghidupkan mesin mobil. "Kita pasti bertemu lagi, liat saja." Gumamnya semangat.


.


.


Sementara itu Anandita terus menerus mengekor kemana langkah Teo berpijak. Menarik tangannya untuknya berhenti. Tapi Teo tak mendengarkan. Sedari pulang Teo menampakan wajah dingin dan datar. Di mobil tak ada kata darinya. Mengabaikan Anandita yang terus mengatakan kata "Maaf"


Di rumah pun Teo masih bungkam membuat Anandita semakin bersalah. Berganti baju dengan gusar lalu naik ranjang. Menutup diri dengan selimut.

__ADS_1


"Menyebalkan." Gumam Teo kesal, Menutup mata cepat ketika pintu kamar mandi terbuka.. Rupanya Anandita baru selesai berganti baju. Berjalan menghampiri ranjang dengan pelan.


Teo menutup mata. Masih memasang wajah dingin kala Anandita duduk di sampingnya.


"Kak, Kamu sudah tidur?" Tanya Anandita. Mengguncang tubuh Teo amat pelan.


Teo tidak perduli. Dirinya tengah marah kepada Anandita dan Daniel. Makan malam itu seperti bencana bagi rumah tangga mereka yang baru saja membaik.


"Kak, kamu belum dengar penjelasan Dita." Kembali mengguncang tubuh Teo yang tertutup selimut.


Teo masih merajuk. Membiarkan Anandita mengguncang tubuhnya dan merengek.


Tak ada respon, Anandita memeluk Teo dengan tubuh setengah duduk. Bibirnya membulat sempurna mengeluarkan hembusan angin yang mana mengenai wajah dingin Teo.


Aroma mint dan sedikit hangat menyerbak indera penciuman. Tapi Teo berusaha tenang.


"Kak, Dita mau jujur, Sebenarnya kami pernah bertemu di salah satu butik pas Dita pergi sama Bi Tata, Tapi berkat bantuan darinya, Dompet Dita bisa selamat-


Anandita terus memberikan penjelasan tentang pertemuan tak sengaja dengan Daniel begitu tenang dan tetap memeluk Teo yang diam mendengarkan.


"Sungguh, hanya itu." Akhir penjelasan Anandita, sedikit memundurkan tubuhnya karena sepertinya Teo tak ingin mendengarkan.


Tapi tanpa di duga. Teo menarik tubuh Anandita. Ia menindihnya dengan masih memasang wajah dingin.


Anandita menatap sang suami dengan wajah memelas. Matanya begitu hebat berkaca-kaca. Berharap Teo akan luluh.


"Dita, ga bohong kak." Bibir tanpa lipstik itu mencoba meyakinkan. "Percayalah Kak,"


Teo bukannya menjawab ia malah diam. Asik menatap Anandita yang ada di dalam kekuasaannya intens. Mata beningnya menelusuri setiap inci wajah putih sang istri.


"Apa dia tampan?" Pertanyaan konyol Teo lontarkan. Sedikit menindih tubuh Anandita yang diam mematung.


Kening Anandita mengkerut. "Apa artinya? Dita tidak bisa berbohong kalau dia memang tampan, tapi itu tidak akan membuat hati Dita berpaling. Kakak adalah segalanya." Katanya menjelaskan, Menatap Teo yang ada di atas tubuhnya lekat.


Teo jadi terkekeh. Memalingkan wajah untuk menyamarkan wajahnya yang memerah.


"Love You, Teo Tantala."


"Katakan sekali lagi?" Pinta Teo singkat. Menatap Anandita tak hentinya.


"Kalau Kakak minta, Dita akan mengatakannya seribu kalinya. I Love you, Teo Tantala."


"Kamu mau kakak jawab apa?" Tanya Teo menggoda. Sepertinya hatinya sudah membaik.


Memang dari awal ketika melihat Daniel mengatakan mengenal sang istri dan juga kebohongannya. Teo amat marah, tak terima mendengar kalimat Daniel tadi dan juga tatapnya, begitu mengganggu dan membuatnya tidak nyaman. Tapi setelah Anandita memberi penjelasan tanpa ada yang terlewat Teo menjadi luluh. Hatinya jelas tidak suka ketika ada orang lain yang memandang lain Anandita. Istrinya. Ya, sekarang Teo benar-benar memandang Anandita istri bukan lagi adik, sudah terukir di hati. Walaupun nama Adelia seakan enggan pergi. Tapi biarlah mungkin dengan berjalannya waktu nama Adelia akan menghilang.


Tak ada untungnya memikirkan istri orang lain. Atau lebih tepatnya istri sang sahabat. Batin Teo.


"Yakin?" Kembali bertanya. Seakan jawaban Anandita tak memuaskan.


Lantas apa yang di inginkan Teo? Tunggu sebentar? Sebenarnya di sini siapa yang bertanya dan siapa yang harus menjawab? Bingung jadinya.


"Tidak ada, Kakak." Anandita menggeliat takut ketika Tatapan Teo menjadi lebih liar.


Astaga, aku sudah bisa membaca mata tajamnya...


"Apa kamu lelah?"


Pertanyaan konyol itu harus di jawab gelengan kepala dari Anandita.


"Bisa kita lanjutkan!" Sambung Teo. Bersiap menyerang Anandita.


Tapi Anandita mencegah. Tangannya begitu sigap menghalau pergerakan Teo.


"Sekarang, kakak sudah tidak marah lagi?" Itu yang ingin di katakan Anandita. Hanya sekedar memastikan.


"Em..Em... Bagaimana ya?" Mencoba menggoda Anandita. Matanya berkeliaran bebas. Ekspresi wajah tak sedap di pandang rasanya.


Anandita mendengus kesal Melihat bagaimana Teo mencoba menggodanya.


"Kakak, ih." Tak ada pilihan. Anandita gerak cepat menarik Teo dan Terjadi lagi.


.


.


Riuh, megah, mewah. Gedung besar yang di sorot lampu nampak luar biasa di malam itu.


Tamu undangan yang datang tumpah ruah. Berpenampilan menarik dan yang pasti terbaik. Ajang peragaan busana yang di nantikan Anandita di gelar.


Malam itu semua model yang di undang datang dan bersiap. Sorot kamera dan mata para tamu sudah siap di posisi.


Pembawa acara tengah memandu. Memperkenalkan beberapa tamu penting yang datang ke acara Fashion show Itu. Bukan peragaan busana biasa. Si perancang adalah salah satu pemilik Mode terkenal yang sudah menembus pasar internasional. Model yang datang bukan dari kalangan model profesional saja. Para selebriti tanah air juga ikut memeriahkan acara besar itu. Sungguh luar biasa bukan.


Di belakang gedung acara. Para model bersiap di posisi, Anandita yang memang baru pertama kali mengikuti ajang peragaan menjadi gugup, wajah berpoleskan makeup sedikit tebal dan amat artistik itu tidak bisa menyamarkan kegundahan hatinya.


Bagaimana kalau nanti dirinya terjatuh? Bagaimana nanti kalau para tamu yang datang tidak suka dengan baju yang di pakainya? Oh astaga semua ketakutan dan kekhwatiran memenuhi otak Anandita. Amat sangat sulit untuk tenang. Apalagi melihat para bintang dan model profesional berada di sekelilingnya. Rasa-rasanya jantung ini akan copot karena gugup. Memang jurusan modeling adalah mata kuliahnya, tapi ketika praktek di lapangan terasa jauh lebih menakutkan.

__ADS_1


"Wajahmu terlihat tegang? Are you oke?"


Suara dari belakang menyentak batin Anandita yang memang tengah di Landa kegalauan.


Samar Anandita tersenyum sambil mengangguk pelan.


Wanita yang menyapa Anandita duduk di kursi kosong tepatnya di samping Anandita.


"Nama ku, Joy." Wanita berkulit eksotis itu menyodorkan tangan kearah Anandita akrab.


"Anandita." Menerima tangan lembut Joy yang terasa hangat.


"Tanganmu begitu dingin." Ungkap Joy sambil menahan tawa.


Anandita hanya menganggukkan kepalanya lagi.


"Aku dulu sepertimu. Tapi itu dulu. Sekarang aku seperti peri di jalan panjang itu."


Yang di maksud Joy, catwalk.


"Jadi tenangkan dirimu. Anggap saja kamu hanya berjalan santai. Jangan hiraukan mata yang melihatmu anggap saja mereka patung yang berwujud manusia." Joy bangkit. Menepuk pundak Anandita sambil tersenyum tak lupa anggukan.


"Ayo bersiap, sebentar lagi mereka akan memanggil kita." Tambah Joy. Lalu pergi begitu saja.


Entah kenapa Anandita menjadi lebih baik. Perasaannya mulai tenang.


"Benar, Dita tenang. Tarik napas." Menarik napas panjang beberapa kali.


Ini yang kamu inginkan bukan? jadi tenangkan dirimu, Kakak Teo ada di depan Dita. Jangan kecewakan suamimu.


Teo Mengosongkan jadwal, untuk bisa melihat sang istri berlenggak-lenggok memperlihatkan kemampuannya sebagai seorang model amatir tepatnya. Dirinya duduk di barisan paling depan. Setelahnya memesan kursi itu semalam tepatnya. Begitu mudah karena Dirinya adalah seorang Teo Tantala.


"Perhatian, Para model bersiap," Seseorang dengan wajah penuh semangat datang. Tangannya penuh dengan kertas yang entah apa isinya.


Anandita dan para model yang lain berdiri di posisi. Menunggu aba-aba dari panitia.


Satu persatu para model keluar. Memperlihatkan kemampuannya yang tidak bisa lagi di ragukan. Kini giliran Anandita yang siap keluar.


"Tarik napas Dita,"


"Anandita, silakan." Panitia di depan tirai mempersilahkan Anandita untuk keluar. Sembari mengacungkan jempol kearahnya.


"Good luck."


Anandita mengangguk yakin. Berjalan keluar melewati tirai dan mulai menghadapi mata para tamu yang datang.


Gerak kaki berirama. Berjalan anggun tapi tegas Anandita mengingat itu. Maju ke depan. Sedikit mengibaskan baju bagian bawah yang tergerai indah. Matanya bermain. Tak ingin terlalu menatap Teo yang ada di barisan paling depan.


Konsentrasi Dita.


Teo tersenyum kala Anandita datang dan menampakan wajah tegas. Wanita manja tak terlihat lagi. Begitu sangar dan intens. Tak bisa untuk tidak mengambil gambar. Teo memberanikan diri untuk memotret sang istri.



"Istri siapa ini?" Menggoda diri sendiri penuh kebanggaan.


Sekarang, keinginan kamu sudah tercapai Anandita, setelah ini apa lagi? Apa kamu mau menjadi ibu di usiamu yang masih begitu muda? di saat karir baru bisa kamu rasakan?


Tiba-tiba wajah Teo mendadak murung. Menatap lekat Poto Anandita yang baru di ambilnya.


Jelas kegalauan datang melanda. Melupakan sang istri yang sudah berganti baju yang kedua kalinya.


"Anandita, pasangan anda menunggu." Kata panitia yang lain. Dirinya hanya mengangguk patuh. Para perias begitu sibuk membuat Anandita menjadi lebih liar dengan makeup dan tatanan rambut.


Ada dua sesi di setiap peragaan busana. Dan yang terakhir adalah bersama pasangan model pria.


"Daniel pasangan Anandita." Kata panitia yang mana membuat Anandita menoleh kearah pria tampan yang di maksud.


"Daniel? Kamu?" Menatap tak percaya.


Daniel menghampiri Anandita sambil tersenyum bahagia. Penampilannya begitu luar biasa. Busana yang di kenakan bernada sama dengan Anandita.


"Aku yang memaksa untuk bisa satu panggung denganmu dan mereka menerimanya." Ucap Daniel begitu hebat.


Di belakang Anandita para model lain bergunjing dan saling bisik.


"Mimpi apa aku bisa melihat seorang Daniel,"


"Dia kan yang menjadi kebanggaan brand ambassador ( Sensor) Tas mewah itu."


"Kamu baru tau!?" Intinya di belakang atau tepatnya di dekat mereka riuh membicarakan Daniel. Model yang menjadi tamu kehormatan.


Anandita mendengar semua orang yang mengelu-elukan seorang Daniel. Tapi bagaimana. Teo ada di barisan depan. Ini akan membuatnya kembali salah paham.


"Ayo Anandita, waktunya kamu dan aku beraksi."


Kak Teo? Di luar ada kak Teo?

__ADS_1


Anandita tak merespon. Yang mana membuat Daniel menarik paksa tangan Anandita.


"Eh. Tunggu dulu."


__ADS_2