BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Perhatian Di Rumah Besar


__ADS_3

Teo memperlambat laju larinya ketika semua orang yang masih berada di ruang tengah menatapnya bingung. apalagi ketika menyuarakan kalimat yang cukup menyita perhatian.


Tuan Park Ayah dari Lee tersenyum sumringah ketika Teo semakin mendekat..


"Wah...ini Teo, bukan?" Tanya Tuan park. "Lama tidak bertamu." Lanjutnya.


Teo menjadi salah tingkah ketika dirinya melihat Tuan park Mantan Kolega ayahnya. ternyata Calon Besan Kakek Hendri adalah Tuan Park sulit di percaya, selama ini Teo tidak tau kalau Tuan Park mempunyai seorang anak laki-laki, mengingat dulu mereka bertemu dapat di hitung dengan jari. pikir Teo.


Noah mendesah sunyi. mengusap pelipisnya karena keadaan menjadi canggung, apalagi ekspresi Lee yang masih diam sambil menatap Teo curiga.


Teo berjalan sambil menunduk kikuk memperhatikan penampilannya. berantakan layaknya pria yang tengah putus cinta, tapi tidak mungkin dirinya berbalik untuk pulang ketika ia sudah berada di antara Noah dan keluarga Lee.


Senyuman canggung Teo perlihatkan merasa bingung harus berbuat apa.


"Teo, ini Lee." Noah bersuara ketika Teo selesai bersalaman dengan ayah Lee dan ibunya.


Teo mengangguk canggung. kemudian mengarahkan tangannya meminta di sambut.


Lee masih diam menatap intes Teo yang berada di depannya. ada perasaan tidak nyaman ketika Teo tiba-tiba datang. jujur Lee tidak tau ada hubungan apa si pria berpakaian lusuh itu dengan calon istri, tapi yang pasti Lee melirik Anandita yang tengah tersenyum lain ketika tadi Teo datang.


"Teo." Kata Teo kepada Lee.


"Lee." Dengan sopan Lee menerima tangan Teo. mereka berjabatangan dengan saling tatap mengirimkan signal ketidak sukaan satu sama lain.


Kasih yang melihat kedatangan Teo dengan keadaan menyedihkan bersuara.


"Kak, lebih baik Kakak membersihkan diri dulu." Usulnya.


Teo mengangguk patuh. dan berjalan mengikuti Kasih menaiki tangga di ikuti Noah setelah berpamitan.


"Mari, silakan duduk." Ajak Kakek Hendri kepada keluarga Lee.


Ketiganya duduk lalu berbincang tak terkecuali Anandita dan Lee. kedua sejoli itu bahkan duduk berdampingan.


"Malam ini kamu terlihat cantik." Puji Lee dengan mata sipitnya. menatap wajah cantik Anandita penuh harap! harapan kalau gadis yang tengah duduk di sampingnya adalah jodoh yang tuhah berikan.


Semoga saja. Batin Lee.


Anandita hanya tersenyum hambar dan memilih diam tanpa ingin memberi pujian atas penampilan Lee yang nampak gagah di malam itu. otaknya terlalu sibuk memikirkan Teo yang mana sudah masuk kedalam kamar Noah.


.


.


Noah menarik Teo kasar menyeretnya kedalam kamar setelah dirasa aman dari pandangan mata orang di lantas dasar. yang mana membuat Kasih terkejut ketika sang suami memperlakukan Kakaknya begitu kasar.


"Mas, jangan sakiti Kakakku." Kata Kasih sambil membawa Ayres yang ada di dalam dekapannya. si bayi tampan itu seolah enggan membuka mata ketika ayah dan pamannya bersitegang.


Noah tidak bergeming. ia terus menarik kerah baju Teo masuk kedalam kamar di ikuti Kasih. sampai ketiganya masuk lalu berdebat hebat di dalamnya.


Naoh menghempaskan tubuh tinggi Teo ke dingding dengan masih mencengkam kemeja lusuhnya. sedangkan Kasih memilih membaringkan Ayres di atas kasur, lalu berlari untuk mererai ketegangan kedua pria tampan itu.


"Apa kau sudah gila huh?." Kata Noah marah apalagi Teo hanya diam membisu.


Kasih menarik tangan Noah. "Mas ada apa ini? Apa salah Kakakku?" Katanya sambil terus menarik tangan Noah berusaha menyadarkan kemarahan sang suami yang terlihat menguasi jiwanya.


Teo hanya diam tanpa ingin melawan dirinya sibuk berpikir dengan rasa takut ketika melihat tatapan tajam sang adik ipar.


"Jawab? Aku bertanya?" Cecar Noah yang lagi-lagi mengabaikan Kasih.


Kasih memilih diam setelah tenaganya dirasa tak berarti cengkraman Noah seolah mengunci rapat.


"Ada apa ini? Apa ada yang tidak aku ketahui di sini?" Tanya Kasih setengah berteriak bergantian menatap Noah dan Teo penuh tanya.


Rahasia apa gerangan yang membuat sang suami marah besar kepada Kakaknya. Kasih berpikir demikian.


Teo menarik napas berat. mengangkat kepala dan menatap Noah kosong sampai keluarlah kalimat.


"Aku mencintai Anandita!"

__ADS_1


Kasih mengkerutkan kening setelah kalimat cukup aneh itu terlontar dari mulut Teo sang Kakak. sedangkan Noah hanya diam dengan tatapan semakin menakutkan.


Ketiganya belum ada yang bersuara. meraka menghabiskan banyak waktu di dalamnya, mengabaikan orang-orang di lantai bawah yang tengah menunggu dengan topik pembicaraan yang hampir berujung.


.


.


Pukul 8 malam Adel dan Gavin baru selesai menyantap makan malam dengan hidangan beraneka ragam terjadi di atas meja besar itu.


Sebelum itu. Bi Muji mengambil beberapa alat makan Adel dari rumah belakang. itu adalah permintaan Nona muda sendiri, bukan tanpa sebab Adel takut dengan ke Halalan perabotan di rumah Tuan Paris, bahkan untuk tempat memasak dan piring saji pun serba baru.


Tak perlu panjang lebar menerangkan, kalian pasti sudah paham.


Setelahnya Mereka bersantai di ruang keluarga. Dan lagi Gavin terus meminta sang istri untuk tersenyum menghilangkan raut wajah resah gelisah.


Sejak pagi Gavin dan Bi Muji berusaha membujuk Adel untuk percaya dan tidak takut ketika di bawa ke rumah utama.


Semua penghuni rumah pergi ke Singapura untuk waktu yang cukup lama satu minggu tepatnya. Gavin mengatakan itu, tapi Adel masih enggan percaya. ketakutan tidak bisa di sembunyikan. kata-kata dan pringatan tempo hari membuat tubuh mini itu bergetar hebat.


Gavin mendesah putus asa ketika sang istri merengek. "Aku ingin kembali ke rumah belakang saja."


Kata-kata itu sudah terlontar bosan meminta Gavin untuk membiarkan dirinya keluar dan menghirup udara tenang. memang benar di rumah besar itu tidak ada tanda-tanda keluarga initi sang suami. tapi tetap saja rasanya tidak aman, itu yang saat ini Adel rasakan.


Gavin dengan cepat mengunci kepala sang istri yang terus bergerak seperti seekor tikus yang tangah di buru kucing liar, apalagi bingkai-bingkai besar berisikan poto-poto Tuan paris dan Nyonya tari hampir berjejer di setiap sudut ruangan seolah mengawasi keberadaannya.


"Tatap aku!" Pinta Gavin.


Adel menatap mata sendu Gavin. terhipnotis dengan kilauan beningnya. ada perasaan tenang ketika Gavin meletakan kedua tangannya di permukaan kulit pucatnya.


"Tarik napas." Kata Gavin lagi. Gavin menarik napas..."huuuhhh..."


Adel menarik napas dengan polosnya. "Sudah."


Gavin mengangguk berusaha menahan tawa ketika melihat wajah pucat sang istri. "Tarik napas lagi dua hembusan." perintah Gavin lagi dan Adel kembali patuh. "Sudah."


"Bagaimana rasanya?" Tanya Gavin.


"Gelap." Protes Adel sambil berusaha menyingkirkan tangan Gavin.


"Aku buka dan kamu langsung tatap aku."


Adel mengangguk patuh, Gavin menyingkirkan tangan dan mata mereka bertemu.


"Gadis pintar."


"Bisakah aku keluar dari rumah ini?" Adel masih merasakan aura menegangkan di tempatnya sekarang. otaknya mengingat betul ketika ia datang dan di perlakukan tidak baik oleh kedua orang tua Gavin.


Kepala Gavin menggeleng. "Aku sudah katakan, malam ini kamu akan tidur di kamarku."


"Aku takut." Ucap Adel lirih. merasakan ketidak nyamanan di rumah besar sang suami. lebih nyaman menghabiskan malam di rumah belakang.


Gavin bukannya memberi jawaban. ia malah berdiri dan menarik tangan Adel yang amat berkeringat.


Semenjak pagi tadi Adel terus merengek meminta kembali ke rumah belakang tapi Gavin melarang, dengan bantuan Bi Muji Adel bisa sedikit lebih tenang. Gavin Juga memilih untuk tidak ke kantor meminta sekertarisnya mengurus perusahan besar itu. dan juga memintanya untuk menutup mulut beberapa lembar rupih berhasil membutakan kejujuran sang sekertaris.


Uang memang segalanya. bahkan ada sebuah peribahasa yang mengatakan ,MADU TIDAK SEMANIS UANG.' Begitu kiranya potongan pribahasa di atas.


Adel merasakan jantungnya berdetak cepat. tubuhnya bergetar hebat manakala Gavin menuntunnya menaiki tangga.


"Aku berjanji kamu akan aman." Ucap Gavin berusaha meyakinkan Adel. "Percayalah." Sambungnya memohon.


Adel tidak memberi respon. ia hanya diam dan terus berjalan mengikuti langkah Gavin...


Aku seperti di giring ketempat ajalku saja, aku benar-benar takut.


Setelah melewati puluhan anak tangga. mereka sampai di kamar, Gavin menutup pintu lalu menguncinya kemudian kembali menggiring sang istri kearah ranjang.


"Sudah lebih baik?" Tanya Gavin sembari mendudukan Adel yang mulai memperlihatkan ketenangan.

__ADS_1


Adel mengangguk pelan. "Apa aku benar-benar akan tidur di kamar ini?" katanya dengan wajah bingung. apalagi melihat kamar sang suami yang amat mewah, interiornya sungguh menakjubkan bohong kalau Adel tidak menyukainya.


Gavin menganggukkan kepala sebagai jawaban. rasanya ia bosan kalau harus kembali menyakinkan sang istri.


Suasana menjadi canggung dan sedikit intim. Gavin merasa kebingungan dibuatnya. matanya berkeliaran tak jelas berusaha mengontrol hawa napsu yang kembali datang. ingin rasanya meminta melanjutkan aktifitas pagi tadi yang sempat tertunda, tapi terlalu berlebihan kalau harus melakukannya sekarang. Adel pasti tidak akan nyaman dan menilai dirinya masih Gavin yang dulu.


Gavin menggaruk-garuk kepalanya lalu ia berdiri. "Emm...Aku...emmm..Aku ingin membersihkan diri. Apa kamu mau ikut?"


Adel menatap sang suami dengan senyuman. merasa geli ketika sikap malunya terlihat.


Kepala Adel mengangguk setuju. "Tapi, apa tidak apa-apa aku tidur dengan baju ini."


Gavin mengerutkan kening melirik pakaian yang melekat di tubuh Adel. tidak ada yang salah celana bahan dan kaos berlengan pendek nampak normal. bahkan untuk di pakai tidur pun tidak menjadi masalah, hanya saja Gavin merasa tidak nyaman melihatnya.


Dia akan kedinginan kalau tidur pakai baju itu.


"Bagaimana kalau aku pulang dan-


"Tidak." Sergah Gavin. lalu menarik tangan Adel menuju lemari.


lemari Gavin buka. terus menarik setelan piama miliknya tanpa ada keraguan.


"Ini, bahannya terbuat dari sutra nyaman di pakai. "


Adel menerima piama berwarna hitam itu menatapnya takjub. "Tapi ini akan terlihat besar." katanya. setelah ia melihat si celana menjuntai melebihi kakinya.


"Itu bagus, jadi dia akan nyaman." Ucap Gavin yang juga mengambil piama miliknya dengan model yang sama hanya berbeda warna. terpaku menatap perut Adel yang mulai menonjol.


Tanpa berdebat lagi. Gavin membawa sang istri ke dalam kamar mandi yang terhubung dengan ruang ganti. Adel terus tertawa malu ketika Gavin menggulung piama itu di bagian tangan dan Kaki. setelahnya mereka membersihkan diri.


18 menit berselang mereka naik ketempat tidur. Adel tidak lagi merasa malu atau canggung ketika tidur satu ranjang dengan Gavin, mengingat dua bulan ini mereka sudah tidur bersama berbagi tempat di atas ranjang mungil itu.


Mereka berbaring menyelimuti tubung masing-masing dan terdiam membisu untuk beberapa saat.


Diam-diam Gavin melirik kesamping di mana Adel berada di sana tengah terlentang manja menikmati kasur empuk miliknya seolah ia tidur di atas awan. apalagi baju tidur yang menutupi tubuhnya amat sangat nyaman lembut dan menenangkan. Gavin tersenyum melihatnya seperti ada perasaan lain yang mampu meluluhkan hatinya. selama ini ia tidak pernah merasakan hal itu entahlah, kehadiran Adel mampu membuatnya nyaman.


"Belum tidur?" Tanya Gavin lembut. sedikit mengusap kepala Adel yang mana rambutnya di biarkan terurai.


Adel menggelengkan kepala.


Gavin merubah posisi. sedikit mengangkat satu tangan guna menunjuang kepalanya. "Besok kita pergi?" Kata Gavin.


"Kemana?" Adel balik bertanya menatap sang suami dari sorotan lampu luar.


"Belanja, beli baju buat kamu." Gavin melanjutkan sambil mengusap perut Adel.


"Biar dia nyaman."


Adel terdiam di buatnya. perlakuan manis Gavin membuatnya terpesona apalagi Gavin mencium keningnya lalu turun ke perut dan berbisik. "Sehat-sehatnya, jadi anak pinter."


"Aku mau." Kata Adel. "Aku mau kamu terus seperti ini." lanjutnya malu-malu.


Gavin mengangguk dan menggeser tubuhnya mendekap Adelia penuh cinta. mengecup keningnya lagi sebanyak tiga kali. "Maaf, selama ini aku sudah mengecewakanmu."


Adel tidak menjawab. ia hanya diam dalam dekapan hangat sang suami.


"Tidurlah, besok aku akan mengajakmu pergi mencari udara segar. hanya kita bertiga tidak ada orang lain lagi." Gavin mengecup kening Adel lagi lalu mengusap-usap kepala sang istri.


"Apa mereka sudah sampai?" Tanya Adel.


Gavin memberi jawaban dengan mata tertutup. "Mereka selalu baik-baik saja, jadi mau jangan khwatir."


Mereka sudah memperlakukanmu tidak baik. tapi kamu masih menyanyakan keadaan mereka.


Batin Gavin bergumam heran sekaligus senang, karena sepertinya sang istri bukan seorang penendam.


Sampai akhirnya mereka terlelap dengan saling berpelukan. melukiskan kenangan indah lainnya di hari itu.


Mari habiskan waktu kita sebaik mungkin selama mereka pergi menginggalkan Indonesia. satu minggu waktu yang seharusknya cukup untuk hidup bebas tanpa intaian mata sang kepala keluarga .. papahku Paris Barisam.

__ADS_1


Gavin menutup hari bahagia itu setelah berbicara dengan hatinya menunggu mentari datang dan melukiskan kenangan lainnya bersama Adelia istri tercintanya.


__ADS_2