BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Syarat Yang Tak Di Sangka


__ADS_3

Rumah utama...


Kakek Damar dan Nenek Dayanti duduk berdua menunggu Nathan dan Mega. mereka berniat untuk ke rumah sakit menjenguk Gavin yang masih belum sadar. Anggel sendiri dan Aji sudah melakukan itu kemarin bersama orang tua Aji.


Keduanya menatap nanar rumah utama yang nampak sepi tidak ada pelayan membuat mansion megah itu terlihat hambar.


"Kapan rumah ini ramai kembali?" gumam Nenek Dayanti.


Kakek Damar menoleh. "Sore nanti para pelayan baru akan datang, sayang."


Nenek Dayanti mengangguk pelan. "Kenapa keluarga kita jadi begini ya, Pa?"


Kakek Damar hanya diam tak bisa memberi jawaban atas pertanyaan sang istri.


Kejadian yang saat ini menimpa keluarganya membuat keadaan terasa lain. kekosongan dan kehampaan seakan menjadi teman.


Sampai akhirnya Mega dan Nathan datang.


.


.


Di rumah sakit tepatnya ruang ICU. Nyonya Tari dan Tuan Paris, tak hentinya saling menguatkan manakala Gavin tak kunjung membuka mata! padahal dokter Bagas mengatakan tidak ada yang salah dalam tubuh Gavin semua nampak normal dan baik-baik saja. Tapi kenapa Gavin seakan engga sadar dan memilih berbaring di ranjang perawatan dengan Ventilator yang menghiasi wajahnya.


Itulah yang membuat Nyonya Tari semakin membenci Adel menantunya sendiri. Bahkan kepulangan Adel ke rumah belakang bak aib dan bencana. ingin rasanya mengusir sang menantu, menjauhkannya dari Gavin karena takut akan kembali membuat masalah.


Tapi Mega dan Anggel mengatakan. "Jangan lakukan itu Mah. Biarkan dia tinggal di rumah itu. Mamah jangan mengusirnya biarkan dia sendiri yang keluar dan menyerah."


Nyonya Tari mengalah dan membiarkan Adel kembali ke lingkungannya dengan catatan tidak menginjak rumah utama.


"Pa?" Suara Nyonya Tari memecah keheningan.


Tuan Paris menoleh sebentar. "Ya, Mah?"


"Apa kita bawa saja Gavin ke luar negri. Mamah rasa itu keputusan yang baik."


"Apa Mamah yakin?" Tanya balik Tuan Paris.


"Mamah yakin, Pa."


Tuan Paris menarik tangan sang istri dan tersenyum sambil mengangguk. "Kita temui dokter Bagas."


.


.


Noah mendesah marah ketika Teo tak kunjung mengangkat panggilan darinya. Wajah ayah satu anak itu memerah seperti akan menangis! pasalnya sang sekertaris memberi kabar putra bungsu si pemilik Perusahan Angkasa Jaya terbaring koma di rumah sakit akibat kecelakaan satu minggu yang lalu.


Noah seketika membeku di tempat kerjanya merasa tidak percaya dengan apa yang didengar. Yang mana ia bergegas keluar kantor dan meluncur masuk kedalam mobil sambil terus menghubungi Teo yang entah ada dimana.


"Ya Tuhan Teo kamu ada dimana?" Gumam Noah sambil menambah laju mobil.


Tak ada harapan Noah menghubungi Nathan.


"Noah." Nathan terdengar gugup diseberang sana.


Suara Noah memekik. "Kenapa kau tidak memberi tahuku."


"Gavin ada di rumah sakit Permata." Setelahnya Nathan memutus panggilan.


Noah mengerang karena marah mendapati kenyataan sang sahabat dalam keadaan koma tanpa dirinya tau! di tambah Teo yang tak kunjung bisa di hubungi.


"Dimana kamu Teo?"

__ADS_1


.


.


Suara tawa dan kecupan sayup-sayup terdengar dari dalam kamar yang mana pintunya sedikit terbuka.


Ada dua manusia tengah bercumbu di sana tanpa menutup pintu.


"Kak." Panggil si wanita disisa ciuman panas mereka.


Yang di panggil bukannya menjawab ia malah semakin menyelam lebih dalam dan memanaskan ranjang besarnya.


Si wanita merasa napasnya hampir habis! ia mendorong tubuh tinggi itu menatap wajah didepannya dengan tatapan liar.


"Kenapa, Dita?" Ia kembali bersiap mencicipi bibir basah itu tapi.


"Sudah cukup Kak, Dita-


"Apa? Bukankah ini yang kamu inginkan?" Tanyanya sambil mengelus bibir menggoda itu.


"Kak Teo. Apa hanya Dita yang menikmati ini?"


Mereka Teo dan Anandita yang tengah bercumbu panas didalam kamar padahal waktu masih terbilang masih pagi.


Anandita datang ke Apartemen Teo karena di minta. Dengan senang hati Anandita mengiyakan sampai akhirnya mereka bermesraan dengan catatan Teo tidak menggaulinya. mungkin itu alasan Teo tak bisa dihubungi.


.


.


Sementara itu. Noah sudah sampai di rumah sakit dengan masih menghubungi Teo yang lagi-lagi tak dapat di hubungi. akhirnya Noah mengirim pesan berharap Teo membacanya.


Noah keluar dari lift dan meluncur keruang ICU setelah Nathan memberi tahu dimana Gavin berada.


Kebetulan di sana semua keluarga Tuan Paris tengah berada di depan ruang ICU. Sontak Tuan Paris dan yang lain menoleh mendapati Noah baru saja datang.


"Kalian tidak memberi tahuku tentang ini?" Tanya Noah sambil berjalan menghampiri keluarga Tuan Paris.


"Kami masih terkejut, Noah." Jawab Kakek Damar.


"Masuklah, Noah." Titah Nathan sambil menarik tangan sahabat dari adiknya itu.


Tanpa ingin berdebat Noah masuk bersama Tuan Paris.


Kebetulan didalam ada Nyonya Tari bersama Nenek Dayanti. Keduanya terkejut melihat Noah datang.


Noah mendadak lemas melihat sang sahabat terbaring tak berdaya dengan selang menjalari tubuhnya. kakinya terpaku seolah berat melangkah. berkat bantuan Tuan Paris Noah mendekati ranjang perawatan.


"Kenapa dia masih belum juga sadar?" Noah bertanya dengan suara pelan.


"Dokter mengatakan kalau sebagian sarafnya belum cukup membaik." Jawab Tuan Paris.


Nyonya Tari dan Nenek Dayanti hanya diam tanpa bisa memberi jawaban. perasaan sedih seakan enggan pergi melihat Gavin yang masih berbaring tak berdaya..


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Noah lagi. tidak puas hanya mendengar dari berita.


Tuan Paris dan Nyonya Tari bergantian menjelaskan sampai dimana nama Adel disebut.


"Karena wanita itu Gavin sampai seperti ini. Wanita itu memaksa Gavin untuk memenuhi keinginannya Noah. Tante sangat membenci wanita sialan itu." Luapan emosi masih terlihat di wajah pucat Nyonya Tari.


Mendengar itu Noah hanya diam karena dirinya tau kalau saat ini Nyonya Tari dalam keadaan tidak stabil pun Tuan Paris. tapi disisi lain dirinya merasa kasihan jika mengingat Adel yang entah ada dimana. saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu. Konsentrasinya terbagi antara Gavin dan Teo yang masih belum menampakan batang hidungnya.


"Kami akan membawa Gavin keluar negri, Noah." Kata Tuan Paris sambil menepuk pundak Noah.

__ADS_1


"Jika itu yang terbaik lakukan."


Semua mengangguk pelan lalu suasana kembali tenang. mereka asik menatap Gavin.


Adel apa kamu baik-baik saja?


Tanpa sadar Noah berkata demikian. Diam-diam melirik kearah Nyonya Tari dan Tuan Paris.


Aku berharap kamu bisa kuat menanggung semua ini.


.


.


Sore datang. Adel baru saja selesai mandi dan kembali beristirahat menunggu Bi Muji yang tengah menyiapkan makan malam. Sebenarnya dirinya ingin membantu tapi tubuhnya masih lemah. efek dari operasi membatasi kesehariannya.


Di atas ranjang Adel merenung tanpa meluncurkan air mata. ia hanya diam dengan pikiran melayang. Sedikit merasa tidak enak karena sudah membohongi kedua orang tuanya .


Beberapa jam yang lalu Adel mengubungi kedua orang tuanya karena sudah lama tidak memberi kabar. tapi untuk masalah tranplantasi ginjal Adel tidak ingin mereka tau! Ini akan menjadi rahasia sampai tuhan sendiri yang akan membocorkannya. Entahlah kapan waktunya.


"Adel melakukan ini demi Mas Gavin. mungkin menyerahkan ginjal saja tidak cukup untuk menebus kejadian itu. Tapi-


"Non! Non Adel." Tok...tok...


Adel langsung terdiam mendapati pintu kamarnya di ketuk berbarengan dengan suara Bi Muji.


"Ya Bi." Adel bangkit dari ranjang lalu membuka pintu kamar.


Ceklek...


"Ya Bi."


"Itu Non, di luar ada Nyonya besar!" Kata Bi Muji sambil menunduk.


Adel mengangguk tanpa bertanya lagi.


"Ayo Non, Bibi bantu." Bi Muji menawarkan diri yang mana disambut baik oleh Adel. dirinya memang belum kuat berjalan tanpa di papah. lagi-lagi akibat operasi menghalangi pergerakannya.


Dengan di bantu Bi Muji Adel keluar rumah menatap punggung ibu mertuanya.


"Saya Nyonya."


Nyonya Tari berbalik menatap Adel dingin.


"Saya tidak ingin membuang waktu. Besok Gavin akan meninggalkan indonesia! Saya akan membawa putra saya jauh dari kamu."


Deg...


Adel mematung mendengar penjelasan menyakitkan itu. Matanya mulai berkaca-kaca merasakan kehancuran hati yang teramat dalam dan Nyonya Tari melihat itu. tapi bukannya prihatin melihat sang menantu ia malah pergi tanpa berkata lagi.


Adel tersadar lalu mencegah Nyonya Tari berjalan lebih jauh.


"Nyonya. Biarkan saya menemui Mas Gavin sekali saja, saya mohon."


"Akan saya izinkan. Tapi dengan syarat!" Katanya tanpa membalikan tubuh.


Adel mengangguk dengan linangan air mata.


"Katakan Nyonya." pinta Adel sambil menahan tangis.


"Ajukan surat cerai dan enyahlah dari hidup Gavin."


.

__ADS_1


.


Maafkan aku yang masih menebar bawang.


__ADS_2