BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Datangnya Awan Hitam


__ADS_3

Teo menggeser tubuhnya, lalu ia masuk kedalam selimut tanpa berganti baju terlebih dahulu. Ia melirik kearah Anandita yang sudah terlalap dengan pipi basah. Sayang Teo tidak dapat melihat itu.


Teo merebahkan tubuh dan menatap lurus keatas langit-langit kamar. Menghela napas berat dengan wajah datar.


Kenapa sekarang aku merasa tidak nyaman? Apa aku bisa jatuh cinta padanya?


Teo kembali melirik Anandita dengan wajahnya yang datar.


"Selamat malam Dita, aku tidak ingin kamu berharap banyak padaku!" Gumam Teo. Setelahnya ia membalikan tubuh dan mulai menutup mata.


Keduanya terlelap dengan saling membalikan badan. Angan-angan bercinta di malam pertama setelah sah menjadi pasangan suami istri sirna. Berganti dengan kesunyian dan rasa canggung.


.


.


Pagi datang...


Pukul 5 pagi Anandita terbangun. Matanya mulai terbuka setelah suara alarm terdengar. Ia sudah mengatur waktu untuk belajar menjadi istri yang baik. Sebelumnya si gadis bermata coklat itu tidak pernah bangun sepagi itu. Tapi sekarang berbeda. Ia sudah menjadi istri yang harus bangun terlebih dahulu sebelum Teo walupun itu amat berat.


Hoaammm... Anandita menguap malas. Mengucek kedua mata dan mulai menyibak selimut secara perlahan. Ia tidak mau membangunkan orang yang ada di sampingnya.


Melihat Teo, Anandita tersenyum. Dirinya melupakan kejadian semalam yang sebenarnya menyakiti hatinya. Tapi wajah terlelap Teo membuat hatinya luluh begitu saja.


"Aku akan menjadi istri yang baik kak. Dan aku juga akan terus berusaha supaya kamu benar-benar bisa mencintaiku." Gumam Anandita yakin. Dan kakinya mulai berjalan meninggalkan ranjang tanpa merasa curiga Kalau Teo tidak berganti baju. Jelas, karena Teo mengubur semua tubuhnya. Hanya leher dan wajahnya yang nampak di permukaan.


Matahari mulai menyingsing. Membawa awan berwarna biru muda. Sinarnya begitu sibuk menyapu sebagian belahan bumi. Menyusup masuk tanpa permisi melewati celah-celah jendela.


Mata Teo bergerak lambat merasakan silau yang di hasilkan sinar mentari pagi yang seolah mengajaknya untuk bangun.


Matanya me-ngerjap malas. Di susul gerakan badan yang terasa pegal. Teo menguap sesekali sebelum akhirnya ia menyibakkan selimut. Mata setengah mengantuk itu menatap sekitar kamar. Mencari keberadaan Anandita yang tidak tertangkap oleh kedua bola matanya. Kamar besar itu begitu sunyi dan membosankan. Itu yang dirasakan Teo.


"Apa aku bermimpi?" Teo tersenyum ketir berharap perkataannya menjadi kenyataan. Tapi ketika ia menunduk tawa tanpa suara itu menghilang.


"Aku tidak bermimpi, ini nyata." Gumamnya lirih. Tak bisa terus berdiam di atas kasur. Teo berjalan gontai kearah kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti setelah melewati lemari di mana ada satu pasang baju miliknya yang sudah tersimpan rapih.


Teo menatap lama celana dan kemeja berlengan pendek itu dengan wajah datar. Tak mengeluarkan suara. Teo kembali berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Anandita sendiri masih berkutat di dapur hotel setelah meminta izin untuk memasak di sana, dengan bahan-bahan segar yang di beli pegawai hotel mengingat sarapan pagi akan di siapkan.


Tangan Anandita begitu lincah memainkan pisau dan alat masak. Butuh waktu lama bagi gadis cantik itu untuk bisa seperti sekarang. Bermain di dapur sekarang sudah menjadi kebiasaan. Tapi tidak banyak masakan yang bisa di kuasai hanya beberapa saja. Termasuk nasi goreng.


Anandita akan menyajikan nasi goreng untuk sarapan Teo. Nasi goreng yang sama yang di bawanya ketika datang ke kantor Teo tempo hari. Dan Teo sangat menyukainya. Mengingat itu Anandita semakin bersemangat.


Cukup lama ia berkutat di dapur. Anandita dengan senyum merekah dan keringat bercucuran mulai masuk kedalam kamar untuk menemui Teo.


Dengan hati-hati Anandita membuka pintu. Ia tidak ingin nampan berisikan sepiring nasi doreng dan beberapa roti bakar terjatuh dan akan menghancurkan kerja kerasnya. Itu tidak akan terjadi.


Selamat. Anandita berhasil membuka pintu dan ia kembali berjalan dengan pelan masuk ke dalam kamar.


"Selamat pagi."


Teo yang kebetulan sedang berganti baju sedikit terkejut. Ia buru-buru menyelesaikan urusan itu dengan wajah yang lagi-lagi datar padahal wajahnya nampak lebih segar.


Anandita samar tersenyum ketika Teo memakai baju yang dirinya siapkan. Rasa percaya diri semakin kuat saja rasanya.


"Sarapan, kak," Ajaknya sambil meletakan nampan berat itu di atas meja yang kebetulan menghadap ke arah balkon, yang mana menyajikan pemandangan laut yang luas dan indah. Begitu romantis rasanya.


"Sarapan di kamar?" Teo terlihat kebingungan. Melihat tingkah Anandita yang begitu berbeda.


Apa karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri?


Anandita mengangguk sebagai jawaban.


"Sini, kak." Anandita merengek manja.


Teo berjalan gusar dengan rambut yang belum di sisir. tapi itu malah semakin membuat Anandita jatuh cinta. Jantungnya berdetak kencang. Rasa-rasanya ingin segera meminta Teo untuk menggaulinya.


Anandita tahan!

__ADS_1


Teo duduk tanpa menatap Anandita. Ia lebih memilih menatap pemandangan di depan mata yang menurutnya lebih menarik dan menyejukkan.


"Dita, sudah masak nasi goreng kesukaan Kakak, di makan ya, terus kasih tau Dita kurang apa? Asin atau-


"Kenapa harus capek-capek masak, memangnya pegawai di sini kemana? Dan kenapa harus sarapan berdua? Yang lain pasti menunggu kita." ucap Teo ketus. Merasa jengah dengan sikap Anandita yang menurutnya tidak penting.


Tapi bukannya marah Anandita malah memasang wajah ceria. "Dita sudah meminta Kakak Kasih untuk memberi tahu keluarga kalau kita akan sarapan di kamar." ucapnya penuh kelembutan.


Aku tau kak, kalau kamu masih belum nyaman. Tapi aku akan terus berusaha mengambil hatimu.


Teo tidak lagi dapat bersuara. Dirinya mengalah dan dengan malas menyambar alat makan.


Anandita melakukan hal yang sama. Ia mengambil roti bakar yang dibuatnya dengan senyum merekah.


Teo makan dengan lahap. Entahlah dirinya kelaparan atau ingin Segera mengakhiri sarapan canggung itu.


"Enak Kak?" Tanya Anandita ragu-ragu.


"Emm.." Sahut Teo singkat tanpa anggukan kepala. Tapi Anandita kembali tersenyum dengan terus menatap Teo yang sama sekali tidak balik menatap wajahnya, bahkan untuk sekedar melirik pun tidak.


Teo meneguk air yang ada di dalam gelas sampai tak tersisa. Ia menggeser kursi dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Anandita. Yang mana Anandita bertanya.


"Kakak, mau kemana?"


Teo yang baru saja meraih ponsel dan sekotak rokok pun memperlihatkan apa yang ada di tangannya.


Anandita mengangguk paham dan kembali menghabiskan sisa roti di tangan dengan wajah murung. Matanya kembali berkaca-kaca. Tapi Anandita sekuat tenaga menahan agar tidak menangis.


Diam-diam mata bergetar itu melirik Teo yang tengah asik di balkon seorang diri tanpa memperdulikan istri barunya.


Tapi Anandita segera menunduk dan bergegas merapihkan meja. Membawa keluar nampan tanpa bersuara.


"Bersikap lembut pun kamu bahkan tidak mampu melakukan itu kak. Apa ini kamu yang asli?" ucapnya lirih sambil berjalan membawa nampan ke dapur hotel.


Kebetulan sekali semua keluarga masih berkumpul di ruangan makan khusus yang di siapkan pemilik hotel untuk semua keluarga Aditama dan Tantala. Anandita menatap satu persatu semua keluarga dan matanya berhenti Di mana Kakek Hendri dan Noah berada. Matanya mulai berkaca-kaca dan air mata keluar begitu saja.


"Apa kalian tau, suamiku masih belum bisa mencintaiku, Tapi Dita akan buktikan kalau Kakak Teo akan mencintai dan menyayangi Dita." Seketika senyuman manis terlahir. Anandita mengusap pipinya dan kembali melangkah untuk mengambilkan nampan yang kini terasa lebih ringan.


Menggauli seorang wanita bukan lagi sesuatu yang spesial. Bagi Teo.


Itulah kenapa Noah sangat menentang pernikahan itu. Tapi sekarang sudah terjadi. Anandita sangat mencintai sang sahabat. Noah tidak dapat berkutik ketika Teo datang dan menyatakan perasaannya terhadap Anandita di depan keluarga Lee yang pada waktu itu berniat melamar sang adik.


Pembuktian terus di perlihatkan Teo untuk meyakinkan Noah dan Kakek Hendri ketika ia ingin mendapatkan Anandita. Bak gayung bersambut Anandita menerima lamaran Teo yang cukup mendadak. Sampai akhirnya pernikahan di gelar.


.


.


Setelah cukup lama berlibur di Bali. Semua keluarga termasuk kedua pengantin akan meninggalkan Bali untuk kembali ke kehidupan yang sudah menunggu.


Noah begitu senang ketika melihat Teo memperlakukan Adik tercintanya dengan baik. Pun Kakek Hendri. Sekarang keduanya dapat tersenyum lega setelah melihat secara langsung bagaimana Teo mencintai Dita.


Keluarga besar dari kedua pengantin merasakan hal yang sama. Mereka merasa iri dan senang ketika melihat pasangan pengantin baru itu. Begitu serasi dan harmonis. Itu yang di perlihatkan Teo yang memang belum bisa mencintai Anandita. Bisa di katakan dirinya bersandiwara untuk menghilangkan kecurigaan dari semua keluarga termasuk Noah, pria yang begitu dihindarinya.


Anandita begitu mesra menggandeng Teo. Ingin memamerkan kepada dunia kalau pria tampan yang ada di samping adalah suaminya. Itu lah yang membuat Kakek Hendri tersenyum.


Saat ini mereka tengah berjalan bersama meninggalkan hotel untuk masuk kedalam mobil.


Kasih dan Noah sendiri sudah masuk ke dalam mobil. Kini giliran Teo yang kebetulan satu mobil dengan Anandita dan Kakek Hendri. Anandita ingin satu mobil dengan sang kakek untuk mengusir kecanggungan.


Mobil di buka para pegawai hotel. Anandita masuk terlebih dahulu di susul Teo.


"Ayo kek." Pinta Manja Anandita.


Teo sendiri hanya melirik datar tanpa ingin menunjukkan wajah malas.


Anandita mulai menggeser tubuhnya agar bisa bersantai di pundak Kakek Hendri yang masih berada di luar.


Kakek Hendri terlihat menarik napas cukup cepat. wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.

__ADS_1


Anandita menundukkan kepala untuk menggapai wajah Kakek Hendri.


"Kakek, ayo masuk?" Pinta Anandita yang masih belum di gubris Kakek Hendri.


Teo yang ada di kuris depan membuka kaca mobil, ia melihat ada yang tidak beres.


"Kakek, kakek nggak papa?" Teo segera membuka pintu mobil dan sebelum ia keluar, tubuh Kakek Hendri seketika ambruk dan itu mengejutkan Anandita pun keluarga yang lain.


"Jaga Dita, Teo, berjanjilah." Ucap Kakek Hendri penuh perjuangan.


Spontan Teo mengangguk.


"Kakek!" Anandita berterik panik dan itu membuat Noah menoleh dari dalam mobil.


"Ada apa, mas?" tanya kasih bingung, dirinya juga menatap keluar jendela dan anehnya semua keluarga berkerumun berlari mengerumuni mobil yang ada di barisan paling belakang.


"Ayo, keluar sayang." ajak Noah kepada kasih, yang dijawab anggukan darinya. Keduanya keluar mobil meninggalkan baby Ayres yang dijaga satu suster.


Teo bergegas mengangkat tubuh kakek Hendri yang tengah memegang dadanya sendiri dengan napas yang terengah-engah.


Anandita menangis panik melihat kakeknya seperti tengah kesakitan.


"Kakek, kakek kenapa? Dita mohon jangan buat Dita takut."


Noah yang mendengar itu segera menghampiri dan melihat kakeknya tengah ambruk dalam keadaan setengah sadar.


"Apa yang terjadi? kenapa Kakak jadi seperti ini?" Noah bertanya dengan wajah panik.


"Cepat panggil ambulans." teriak Noah kepada semua keluarga dan para pegawai hotel.


"Sudah Noah, ambulans sudah kami hubungi." salah satu keluarga berkata demikian. Tapi itu tidak membuat mereka tenang, yang mana kakek Hendri segera dibawa untuk mendapatkan pertolongan.


Teo dengan sigap membawa kakek Hendri dibantu Noah. Anandita dan semua keluarga menangis karena panik. Mereka mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu persis ketika Noah dan kasih dulu menikah. berharap kalau Kak Hendri akan kembali pulih seperti sedia kala, memang kakek Hendri mempunyai riwayat sakit jantung yang mana mengakibatkan tubuh rentanya tidak boleh terlalu capek.


ambulans tak kunjung datang. Kakek Hendri segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan, diperjalanan Anandita tak hentinya menangis pun dengan kasih. Teo dan Noah tidak mampu mengeluarkan air mata tapi wajah mereka nampak jelas kekhawatiran yang melanda.


"Tenang Dita, kakek akan baik-baik saja" kasih berusaha menenangkan Anandita yang terus menangis bahkan sesekali menjerit takut terjadi sesuatu dengan sang kakek.


"Dita, kakak mohon, tenangkan dirimu." minta Noah yang sama sekali tidak didengar Anandita.


"Hiks...hiks... kakek, Dita mohon bertahan."


Teo terpaku menatap tangis Anandita dari balik kaca spion yang ada di atas kepala. Baginya ini adalah perasaan Kakak kepada adiknya. Bukan perasaan Suami terhadap istrinya.


Kepala Teo bergoyang cepat. Kembali berusaha fokus menatap jalan dan kembali menambah kecepatan. Dirinya tidak sanggup untuk bersuara menenangkan Anandita yang masih meraung karena takut.


Setelah melewati jalanan yang cukup padat. Mereka sampai di rumah sakit terdekat. Kakek Hendri segera di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan.


Di luar pintu UGD Anandita tak hentinya menangis dalam pelukan Noah. sedangkan Teo memilih berdiri di samping kakak beradik itu bingung sekaligus takut. Bagaimanapun Kakek Hendri adalah kakeknya juga. Sudah di anggapnya sedari masih kecil. Jujur Teo juga merasakan takut. Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Selamatkan Kakek Kami Tuhan, Selamatkan beliau." Kasih berdoa dengan cucuran air mata.


Sampai akhirnya pintu kaca tebal itu terbuka.


Keempatnya segera menghampiri Dokter yang pasti menangani Kakek Hendri.


"Bagaimana Kakek saya, dokter?" Tanya Noah gugup.


Anandita dan keempatnya menunggu Dokter wanita itu memberi jawaban.


"Dokter?" Teo menegur si dokter yang masih terdiam.


"Begini, Pak. Kondisi jantung Kakek anda begitu lemah. Tidak memungkinkan untuk bisa kami tangani!"


"Argh...Engga, engga, Kakek, hiks...hiks..." Seketika Anandita meraung sambil memukul-mukul dada Noah. yang seketika itu juga ambruk bersama Anandita.


"Hiks...hiks.... Kakek.." Seru Noah lirih.


Teo dan Kasih menutup mulut mereka ketika Dokter itu berbicara. Sebelum akhirnya Kasih menghampiri sang Kakak membawa tangis yang kencang.

__ADS_1


"Saya minta maaf, kakek anda tidak dapat tertolong." Lanjut si dokter dengan suara pelan. Merasakan kesedihan yang di rasakan oleh orang di depan matanya.


__ADS_2