
Di campakkan itu tidak menyenangkan bukan?
Mata Anandita mulai mengerjap. Membuka kelopak mata dengan malas. Menyusuri kamar yang kini nampak terang. Sedari malam gorden tak di tutupnya. Jadi memudahkan sinar cahaya masuk kedalamnya. Membuat Anandita terpaksa terjaga.
Melirik jam dinding dengan malas. 8 pagi tepatnya. Menghela napas berat lalu berguling untuk melakukan peregangan.
Kamar dengan warna putih bersih membuka harinya. Anandita Bangun setelahnya. Berjalan menyusuri kamar yang sekarang nampak tidak terlalu besar. dua kali ukuran kamarnya sendiri. Membuka jendela agar udara dapat masuk. Lalu berjalan lagi kedalam kamar mandi untuk membasuh muka yang kusut dan menyedihkan.
Kembali menatap nanar pantulan wajah di cermin. Membungkuk setelah memutar keran air. Terangkat membawa wajah basah.
"Segar." Anandita bergumam. Sedikit memijat pipi yang terasa kaku. Tiba-tiba otaknya mengingat bagaimana kemarin malam. Dimana kejadian memalukan itu terjadi.
Kepalanya mengibas cepat, membuang bayangan kejadian semalam Dimana Teo kembali mencampakkan dirinya sebegitu tega.
Pakaian di tanggalkan. Masuk kedalam Bathtub yang sudah terisi air hangat dan busa sabun. Merendam seluruh tubuh. Memejamkan mata menikmati kehangatan air yang mengelilingi dirinya.
Dalam kesunyian Anandita menatap kamar mandi. Semua lengkap dan tertata rapi. Peralatan mandi bahkan jubah handuk sudah ada di sana. Itu bagus akan memudahkan dirinya untuk bersiap.
20 menit lamanya Anandita menghabiskan waktu di sana. Ia keluar kamar mandi dengan tubuh berbalut jubah handuk. Berjalan keluar kamar tanpa ragu. Menuruni tangga dengan wajah datar. Seakan rasa malu tak terlihat. Atau mungkin memaksakan diri untuk keluar kamar mengingat koper bersisi baju dan makeup masih ada di ruang bawah.
Anandita berjalan lurus tanpa melirik ke arah lain. Keberadaan Teo yang tidak tertangkap oleh kedua mata tak menjadi soal atau ketakutan. Takut sang suami pergi entah kemana.
Bodoh amat. pikir Anandita. Rasa marah dan kesal akibat kejadian semalam membuatnya tidak ingin melihat Teo. Yang kebetulan masih menghabiskan waktu di ruang olahraga dekat kolam renang dan Gazebo rumah.
Menatap Koper miliknya yang bersanding dengan koper milik Teo. Masing-masing membawa dua koper. Jadi ada Empat banyaknya. Anandita menarik kedua koper menyeret naik dan membawanya kedalam kamar yang sama. Membuka koper dan sibuk sendiri.
.
.
Bruk...
Suara alat olahraga berat itu menggema. Teo menarik dan membuang napas dengan wajah penuh peluh membuatnya terlihat jantan dan maco. Merasa puas. Teo mematikan Ace berjalan keluar untuk menikmati angin yang berseliweran di area kolam renang.
"Apa dia masih tidur?" Gumam Teo tanpa melirik kaca dimana arena dalam rumah terpajang nyata.
Dia pasti marah padaku?
.
.
"Tidak akan aku biarkan dia menyakitiku lagi" Tekad Anandita yang masih bersolek di depan cermin.
Mempercantik diri sudah. Anandita keluar kamar dan kembali menuruni tangga. Berjalan santai ke arah dapur yang kemarin malam sudah di beri tau Pak Agam.
Dapur minimalis bergaya modern klasik menyambut kedatangan Anandita. Kakinya berjalan dimana Lemari es berada. Membukanya dengan antusias.
"Sabar kalian." Gumam Anandita yang tengah membuka lemari es. Meminta para penghuni usus untuk tenang.
Hawa dingin menerjang tubuhnya. Di tatapnya dalam kulkas yang nampak penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman. Kepalanya mengangguk takjub akan hal itu.
"Pak Agam, luar biasa." Ucapnya seolah memuji orang yang di perintahkan suaminya, alih-alih memberi pujian kepada Teo yang sudah mempersiapkan segalanya.
Berdiam di depan lemari es cukup lama. Mencari makanan yang akan di santapannya di pagi cerah itu.
"Haruskah membuat Spaghetti? Tidak, tidak, itu bukan menu sarapan yang baik untuk perutku." Kembali memilih bahan yang lain.
"Ada telur! Bagaimana kalau nasi goreng?" Berpikir sejenak. "Tidak, bosan dengan menu itu." Lanjutkan Anandita.
Untuk apa membuat nasi goreng kalau dia tidak mau mencintaimu, Dita. Gumam Anandita dengan wajah kecutnya.
Lamanya Anandita memilih bahan makanan. Ia menjatuhkan pilihan? Sebuah roti olahan menjadi pilihan terakhirnya.
Wajan di panaskan. Anandita sibuk mengoles keju dan krem ke atas roti berbentuk bulat dan berwarna kuning itu semangat. Mencium aroma roti membuat Perutnya semakin berteriak, menjerit meminta di isi.
Roti Maryam yang saat ini tengah di olah Anandita. Roti asal India itu bercitarasa manis dan lembut. Cocok untuk sarapan pun makan malam.
Ada empat tumpukan roti di atas piring, sebagai pendamping susu hangat menjadi pelengkap. Setelah selesai. Nampan berisi sarapan ala kadarnya itu di bawa ke ruang makan. Anandita menggeser kursi setelah meletakan nampan di atas meja makan.
"Kita makan."
Kepala Teo berbalik cepat ketika decitan suara kursi di geser melewati indra pendengaran.
"Dia sudah bangun?" Pikirannya. Berjalan masuk kedalam rumah.
Benar saja, Anandita sudah bangun bahkan sudah nampak cantik. Teo diam-diam menatap sang istri yang ada di ruang makan tengah menikmati sarapan seorang diri tanpa mengajaknya.. Teo sadar, Anandita pasti masih marah akan kejadian semalam.
Teo kembali berjalan menghampiri ruang makan dengan langkah lebar.
__ADS_1
Anandita melirik kearah suara langkah kaki. Setelahnya kembali acuh dan tidak memperdulikan Teo.
Jangan perdulikan dia, Jangan.
Yakin batin Anandita yang sibuk menyantap sarapan dengan kepala sedikit menunduk.
"Kamu sudah bangun, Dita?"
Pertanyaan macam apa itu. Aku ada di sini, berarti aku sudah bangun. Mencibir dengan batinnya.
Teo mengangguk paham. Lalu ia menggeser kursi duduk berhadapan dengan Anandita yang acuh akan keberadaannya.
Sunyi... Keduanya diam. Tak ada kata yang terucap. Teo begitu asik menatap Anandita yang sama sekali tidak menghiraukan dirinya.
Apa dia menganggap aku ini hantu? Kesal batin Teo.
"Aku minta maaf atas kejadian semalam." ucap Teo tulus.
Anandita masih diam. Sibuk menyantap sarapan tanpa memperdulikan Teo.
Rasakan bagaimana di abaikan.
"Dita-
Kursi di gesernya, Anandita melenggang pergi membawa nampan ke dapur meninggalkan Teo dengan kata yang masih menggantung.
"Dita," Kembali Teo memanggil namanya. Yang pasti akan di abaikan.
Di dapur Anandita menggerutu kesal. Sedikit membanting alat makan kedalam wastafel.
"Tenang Dita, Te-
Ucapnya terhenti ketika Teo datang menghampiri.
"Kamu mengacuhkan aku." Kalimat bernada marah itu mengguncang hati Anandita.
"Dita, Kakak-
"Kamu, bukan Kakakku!."
Berbalik cepat, menatap marah Teo yang ada di hadapan.
"Apa?" Teo balik bertanya. Maju dua langkah untuk meraih tubuh Anandita. Mencengkeram lembut kedua bahu mulus itu. "Kamu ingin bercinta dengan ku, bukan?"
Kata-kata intens itu terlontar cepat membuat Anandita terpaku diam.
Bukan itu saja. Teo dengan sekali tarikan membawa tubuh Anandita menggendongnya bak karung beras.
"Apa yang kamu lakukan? Kak, turunkan aku." Anandita memberontak takut. Menatap terbalik tangga yang saat ini di lewati. Terus memukul punggung Teo yang sebenarnya tak berarti apa-apa.
Teo membawa Anandita masuk ke dalam kamar yang sama. Menutup pintu lalu menguncinya. Jelas Anandita membulatkan mata.
Apa yang akan Kakak Teo lakukan padaku?
"Kak, Kamu mau apa?"
Bukannya menjawab, Teo malah menjatuhkan tubuh Anandita keatas kasur lalu menindihnya. Mencengkeram kedua tangan sang istri supaya diam.
"Kak, sakit." Rengek Anandita. Menutup mata merasakan takut akan tatapan tajam Teo.
Teo menelusuri setiap inci tubuh Anandita. Tidak ada yang kurang di sana. Semua begitu mulus dan terawat. Tapi kenapa begitu sulit baginya untuk membuka hati.
Wanita secantik dirimu kenapa tidak bisa membuat aku luluh?
"Kak, lepaskan Dita." Teriak Anandita yang masih memejamkan mata.
"Kamu ingin aku menggaulimu bukan, baik, pagi ini juga aku akan memenuhinya." Baju Teo di tanggalkan. Segera menyerang Anandita penuh gairah.
"Kakak." Anandita mengerang geli dan marah. Teo mencium bibirnya kasar dan rakus. Meremas dua gundukan daging miliknya kejam. Membuat Anandita meraung kesakitan.
"Kak, hentikan." Teriak Anandita. Berusaha menjauhkan Teo dari tubuhnya yang kesakitan.
"Dua bulan kamu meminta aku menggaulimu. Sekarang aku memenuhinya." Jawab Teo di sela aktivitas liarnya.
"Aaahhhh......" Anandita mengerang hebat ketika tangan nakal Teo menyusuri area sensitifnya ahli. Membuat Anandita tak sadarkan diri dalam kenikmatan yang luar biasa.
Melihat itu Teo tersenyum dengan tatapan mata mencibir.
"Lihat, kamu sama saja seperti wanita yang pernah aku setubuhi."
__ADS_1
Jedar....
Seketika Anandita merasakan dadanya sakit. Dengan marah mendorong tubuh Teo sampai Teo tersungkur dan mendarat di sisi ranjang.
Anandita bangun dengan tubuh setengah telanjang persisi seperti tadi malam. Matanya berderai air mata kesedihan dan kemarahan. Menatap Teo yang diam di posisinya kaku.
"Dengar, kalau kamu menganggap aku seperti mereka. Maka mulai saat ini aku tidak akan lagi mengharapkan cintamu! Dan mulai hari ini juga Aku dan kamu akan tidur terpisah, Status kita memang suami istri, tapi aku membebaskan kamu hidup seperti apa yang kamu mau."
Teo termenung dengan perkataan Anandita yang tiba-tiba.
Anandita menangis di sana. mengatur napas yang terasa berat.
"Aku mencintaimu kak, aku memang ingin bersamamu merasakan bagaimana indahnya cinta. Tapi sepertinya kamu masih belum bisa melakukan itu. Apa yang baru saja kamu lakukan adalah hal yang salah." Menangis lagi dengan tatapan marah.
Aku ingin bercinta denganmu, tapi aku dan kamu mau melakukannya tanpa adanya pemaksaan.
Kembali Teo memejamkan mata. Wajahnya nampak menyesal akan apa yang baru saja di perbuatannya.
"Aku-
"Jangan katakan apapun. Mulai saat ini mari hidup sebagai kakak beradik seperti keinginanmu. Dan mulai saat ini juga. Jangan larangan aku untuk mencintai pria lain. Karena aku juga akan merelakan kamu mencintai wanita lain termasuk, Adelia."
Anandita berlari keluar kamar membawa perasaan sakit hati yang amat luar biasa. Meninggalkan Teo yang mana terdiam membisu dengan wajah bingung.
"Apa? dia mengatakan apa?" Tanya Teo, lalu kakinya keluar kamar mengejar Anandita.
Kalau kamu menginginkan itu aku akan mengabulkannya.
Batin Anandita di saat ia lari ke dalam kamar lain, yang ada di sebelah kamar tempat kejadian.
"Dita, buka Dita." Teriak Teo sambil menggedor pintu kamar.
"Pergi," Balas Anandita dari dalam kamar dengan suara tangisnya.
"Buka, Aku bilang buka." Teriak Teo lantang. Melupakan matahari yang sudah bertengger di angkasa.
"Pergi, aku tidak mau melihatmu." Balas Anandita tak kalah lantang.
Teo terus menggedor-gedor pintu kamar yang lagi-lagi di tolak Anandita.
"Baik, kalau itu mau mu." Teo menyerah. Ia melenggang pergi meninggalkan pintu kamar itu. Dan masuk kedalam kamar yang tadi dengan suara bantingan di pintu.
.
.
Peresmian perusahaan di gelar keesokan harinya. Tanpa kehadiran Anandita.
Teo mendapatkan ucapan selamat dari semua kolega dan para pegawai. Tapi entah kenapa wajahnya tidak bersemangat. Seakan ada yang hilang.
Apa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya kemarin? Kalau dia akan berhenti mencintaiku dan hidup bersama selayaknya kakak beradik?
Batin Teo bergumam marah. Rasanya ingin segera pulang dan menemui sang istri yang sekarang tengah menikmati kesendiriannya di taman. Menatap tukang kebun yang mana sudah mulai bekerja pun dengan ketiga pelayan.
Mulai sekarang, dirinya tidak akan berdua lagi bersama Teo. Ada tiga pelayan dan dua Sekuriti.
Tukang kebun yang ada di dekat Anandita melirik malu. Yang mana tertangkap mata Anandita.
"Kenapa Pak? Apa kehadiran saya mengganggu perkejaan Bapak?" Tanya Anandita lembut.
Si tukang kebun itu menggeleng cepat.
"Tidak Non, cuma saya heran saja. Non Adiknya Tuan besar?" Tanya si tukang kebun ragu-ragu. Dirinya orang desa yang tidak tau siapa itu Teo Tantala dan Anandita Aditama.
Anandita tersenyum datar lalu menjawab penuh semangat. "Iya, pak, saya adiknya Kak Teo."
"Oh, Kakak adik, pantas mirip." Tawa si tukang kebun membuat Anandita tergelitik untuk kembali bertanya.
"Memang kami mirip, Pak?"
"Oh, iya Non. Mirip sangat."
Aku semakin yakin. Kalau aku harus membuang perasaan ini.
Dan obrolan mereka berlanjut. Anandita tidak sadar berbicara dengan siapa. Ini adalah pengalaman pertama baginya berbicara dengan orang yang bukan dari kalangan atas. benar-benar tidak sadar.
Tatap aku dan katakan kamu tidak mencintaiku?
__ADS_1