BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Menyelinap Dan Penolakan


__ADS_3

Gavin menatap kepergian istrinya sambil mengusap-usap pipi. rasa sakit tidak terlalu terasa yang Gavin rasakan adalah, rasa penyesalan yang teramat dalam. tidak bisa mengejar membuat Gavin kesal pada dirinya sendiri, kenapa bisa seorang Gavin Abrisam lemah seperti pecundang membiarkan istrinya menderita dan itu karena ulahnya.


" Maafkan aku Adel, Teo. aku sudah melanggar janjiku." Lirih Gavin yang masih berdiri di ambang pintu menatap tangga yang sudah tidak terdapat sang istri di sana.


.


.


Angel kembali bergabung bersama anggota keluarga setelah di usir Gavin. Sorot mata Nyonya Tari tak lepas dari wajah datar sang putri. Seolah tahu Angel bersuara.


"Sebentar lagi dia turun."


Baru saja Angel menyelesaikan kalimatnya, Adel menuruni tangga dengan cucuran air mata.


"Itu Dia." Seru Angel berteman senyuman yang tidak sedap untuk di pandang.


Nyonya Tari dan yang lainnya menatap Adel.


"Cepatlah turun." Teriak Nyonya Tari.


Adel otomatis mempercepat langkahnya sambil mengusap pipinya yang sedari tadi basah karena ulah air mata.


Nenek Dayanti menghela napas panjang di ikuti Kakek Damar tapi hanya sebatas itu. pasangan lansia itu tidak bisa berkutik untuk membela istri dari cucu tampannya. takut dengan tatapan datar sang putra yang sudah mau menampung keduanya hidup dengan layak di rumah besar itu.


Titel Abrisam memang menjadi kebanggakan Tuan Paris. tapi semua kekayaan yang di dapat bukan dari warisan sang ayah Kakek Damar melainkan bantuan dari mendiang mertuanya.


Kedua orang tua Nyonya Tari yang memberikan semua aset dan perusahan kepada Tuan Paris setelah mereka menikah. mengingat dirinya anak tunggal. dan setelah perusahan di percayakan kepada Tuan Paris tuhan seolah memberikan jalan menuju kejayaan, otak encer dan ketekunan yang luar biasa membuat perusahan real estate itu menjadi semakin jaya dan sekarang, keluarga itu amat sangat di segani dan di takuti..


Adel sedikit terengah setelah menuruni tangga melupakan ada janin yang bersarang di rahimnya. rasa bingung benar-benar menguasi dirinya, kemarahan atas sikap Gavin membuat Adel bak mayat hidup bukan ia ingin di kejar seperti pasangan pada umumnya ketika bertengkar. tapi sikap pengecut Gavin-lah yang membuatnya marah.


Setelah dirinya di gagahi dengan cara yang licik. sekarang perlakuan dari semua anggota keluarga Gavin menjadi tantangan tersendiri bagi Adel, dirinya tidak lagi merasakan takut ketika tatapan mengintimidasi mengarah kepadanya. hatinya mungkin sudah kuat entahlah, mendatarkan dua tamparan di wajah suaminya membuat Adel sedikit tenang walupun rasa sakit hati dan benci seolah sudah mendarah daging.


"Ikut saya." Kata Nyonya Tari, kakinya mulai berjalan tanpa memberdulikan wajah lelah sang menantu.


"Ikuti istriku." Seru Tuan Paris tiba-tiba.


Adel mengangguk lagi dan berbalik melangkah mengikuti kaki ibu mertua. setelahnya Angel mengikuti seolah tidak mau melewatkan kesempatan langka itu, dimana istri dari adik bungsunya akan tinggal berbeda tempat. hanya Mega yang masih duduk di tempatnya seolah tidak ingin membuang-buang waktunya.


"Pah, Mega pulang dulu." Ucapnya.


Tuan Paris mengangguk. "Istirahatlah."


Mega mengangguk cepat. lalu pergi untuk pulang kerumah mewahnya yang ada di samping rumah sang mertua di ikuti Nathan suaminya.


Aji suami Angel juga berpamitan dengan alasan ada sedikit pekerjaan yang harus segera di selesaikan. penyambutan pengantin baru itu membuat pekerjaannya sebagai Direktur itu tertunda.


Kini di ruang keluarga hanya menyisakan Tuan Paris dan kedua orang tuanya.


Nenek Dayanti menatap sang putra seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa, Mom.?" Tuan Paris bertanya tanpa menatap sang ibu. mata itu pokus menatap ponselnya.


"Paris, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Ucapnya dengan wajah gugup.


Kakek Damar ikut bersuara." Ya Paris, Daddy rasa ini tidak perlu di lakukan. kasian gadis itu dia sedang mengndung anak Gavin cucumu sendiri."


Tuan Paris mengangat kepalanya bergantian menatap pasangan lansia itu membawa wajah datar seperti biasa.


"Sepertinya kalian lelah istirahatlah, karena Paris pun akan melakukan itu." ucapnya alih-alih membeli jawaban.


Tuan Paris bergegas bangun memberi senyuman dan pergi menaiki tangga.


Gavin kebetulan juga menuruni tangga bertemulah mereka di sana. keduanya diam untuk sejenak. Kakek Damar dan Nenek Dayanti saling tatap melihat adegan itu.


Tuan Paris memberi sorot mata tajam kearah Gavin. sedangkan Gavin tidak berduli ia malah melangkah menghampiri ayahnya.


"Kembalilah ke apartemenmu." Ucap Tuan Paris. lalu menyambung langkahnya melewati Gavin.


"Gavin tidak akan kemana-mana."


Kata itu berhasil membuat Tuan Paris berhenti. "Kenapa tiba-tiba kamu ingin tinggal di rumah ini? bukankah kamu selalu membenci setiap inci rumah ini." kata Tuan Paris seolah mengingatkan Gavin.


Pengawasan dari Tuan Paris untuk semua anggota keluarga membuatnya jengah hingga memutuskan pergi tinggal seorang diri. bebas melakukan apapun mengelabui seribu mata sang ayah, tapi sekarang Gavin rela kembali ke tempat dimana ia selalu di liputi rasa sesak.


Aku memang tidak bisa bersamamu, tapi aku akan selalu di sini melihatmu walupun aku tidak bisa menyentuhmu.


.


.


Para pelayan yang tengah beristirahan selepas mandi sore. diam-diam mengintip melihat sang Nyonya besar sudi melangkahkan kakinya ke bagian belakang rumah bersama Angel Nona muda dan Nona lainnya yang di maksud adalah Adel.


"Aku kasian melihat istri Den Gavin di perlakukan seperti itu." Ucap salah seorang pelayan dari dalam kamarnya.


Temannya mengangguk setuju.


Para pelayan tidak terlalu terkejut ketika Adel datang dan di perlakukan demikian. karena Tuan Paris sudah memberi tahu semua penghuni rumah terumata mereka orang-orang yang bekerja di dalamnya. memastikan mereka tutup mulut dengan imbalan menaiknya gajih. Dan ketika hari itu tiba mereka hanya bisa menjadi penonton tanpa bisa berbuat apa-apa, Kakek Damar yang tidak lain adalah ayah dari sang tuan besar saja tidak bisa membela apa lagi mereka. ikut campur urusan tuan rumah bisa membahayakan pekerjaan itulah gagasan para pelayan.


Tutup mata dan menutup telinga...


Adel menatap satu buah bangunan ukurannya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. letaknya berdekatan dengan bangunan yang lain mungkin yang di maksud kamar para pelayan. tapi bangunan di depan matanya berbeda dengan yang lainnya.


Kamar para pelayan seperti sebuah kontrakan terlihat bangunan yang satu menyatu dengan yang lainnya, sedangkan di depan matanya nampak berbeda.

__ADS_1


"Itu tempat tinggal mu." Seru Nyonya Tari dari belakang tubuh Adel.


Adel tidak menjawab dirinya sibuk menatap si bangunan yang nampak masih baru. cat berwarna abu itu terlihat masih segar apakah mungkin itu bangunan yang di khususkan untuknya?


Adel memang benar. itu rumah untuknya dan baru selesai di renovasi. rumah itu tadinya kamar para pelayan yang disulap menjadi hunian sederhana, didalamnya ada satu buah kamar, dapur beserta kamar mandi, dan ruang tengah. Nyonya Tari yang mempersiapkan semuanya. tidak ada barang-barang mewah didalamnya semua barang di beli dengan harga standar beranggapan itu cocok dengan menantunya.


Angel yang ada di samping sang ibu tidak henti-hentinya tertawa dalam diam melihat keterkejutan Adel. "Masuklah dan tinggalah dengan nyaman." celetuk Angel puas.


Nyonya Tari mendekati Adel yang masih bungkam ingin menyampaikan pesan lainnya.


"Dengar ini, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini. dan jangan masuk kedalam rumah kami walupun kamu ingin melakukannya, bagaimanapun keadaan di rumah kami jangan pernah ikut campur. saya sudah berbaik hati kepada kamu mau menerimamu tapi tidak di rumah kami, sampai kapanpun saya tidak menganggap kamu menantu! pun dengan bayi itu! tapi kamu jangan khwatir, kami akan merawat bayi itu kalau dia laki-laki."


Panjang lebar sekali pesan dari Nyonya Tari untuk Adel menantunya, tapi pesan itu masih berlanjut. "Gavin itu bukan suami kamu, kami bahkan tidak menganggap kamu ada."


Angel melanjutkan. " Saya sarankan. kamu segera melahirkan bayi itu, dengan begitu kamu bisa segera pergi dari tempat ini."


Telinga Nyonya Tari dan Angel tidak salah merekam sebuah decitan rawa dan itu dari Adel.


"Kenapa harus menunggu bayi ini lahir? kenapa tidak sekarang saja saya pergi?" Seru Adel tanpa ada rasa takut di wajahnya.


Nyonya Tari ikut menyuarakan tawa seperti menantunya, Apalagi melihat wajah sok tegar itu. " Kenapa kamu seolah mengangap saya seperti orang jahat? saya dan keluarga sudah sangat baik kepadamu mau menerimamu disini. jadi kalau kamu pergi itu tidak baik bukankah dalam agamamu pergi dalam keadan terikat sebuah pernikahan adalah dosa besar? jawab kalau saya salah?"


Adel merapatkan bibirnya kata-kata itu seolah mengingatkan siapa dirinya yang mana mambuat Nyonya Tari dan Angel tersenyum melihat kekalahan Adel.


"Ayo Mah kita masuk sudah cukup, dia sudah kalah." Angel menarik lembut tangan Nyonya Tari.


Nyonya Tari mengangguk tapi sebelum ia benar-benar pergi mulutnya bersuara.


"Di tempat ini kamu tidak sendirian. saya sudah mencarikan satu pelayan yang se-iman denganmu jadi kamu tidak akan kesepian. bukan saya tidak ingin pelayan yang ada di sini menemani tapi mereka berbeda denganmu, begitupun aku dan keluargaku." Setelahnya ibu dan anak itu pergi untuk kembali ke kehiduapan nyaman mereka mencoba mengubur nama Adelia.


Adel tersenyum hambar melirik kepergian kedua wanita itu. tangan lemasnya mengepal bibirnya siap terbuka menyuarakan isi hatinya tapi tiba-tiba dirinya sadar.


" Kalau aku melakukan itu bukankah aku sama saja dengan mereka." Ucapnya lirih.


"Astaghfirullahaladzim.." Adel berusaha menguatkan dirinya. hinaan dan cacian tidak membuatnya lemah ia malah merasa kuat dan siap menerima kata-kata kasar dari penghuni rumah besar itu di lain waktu.


"Ini lebih baik dari pada aku harus tinggal bersama mereka." Serunya sambil membuka pintu rumah barunya, dan di waktu bersamaan seorang pelayan yang tadi membantu Adel mencari kamar Gavin datang.


"Non."


Adel menoleh kearah suara. "Ya."


"Mari saya bantu." Pelayan itu dengan sopan membuka pintu.


Adel bingung dibuatnya. "Bi, tidak apa-apa saya bisa sendiri, lebih baik bibi masuk nanti Nyonya marah." Katanya, Adel mengingat betul apa yang di katakan sang ibu mertua.


Pelayan itu menggelangkan kepala. "Tidak Non, jangan khwatir mari mari masuk."


Wanita berseragam hitam itu membuka lebar si pintu sedikit mendorong Adel masuk kedalamnya. Adel sedikit menolak bantuan itu takut ada Nyonya Tari, tapi sekarang dirinya sudah masuk kedalam rumah.


"Lihat Non, disini kebutuhan Non sudah ada peralatannya komlit, jadi Non jangan khwatir kalau Non ngidam apa saja katakan kepada saya. saya akan siap mencarikan." Ucap si pelayan gugup sambil menyalakan komor gas dan membuka lemari es. dapur mungil itu nampak bersih dan nyaman Adel mengakui itu.


Ngidam, aku bahkan tidak merasakan itu. Batinnya sambil mengingat apa saja yang dirinya inginkan selama ini.


Setelah memperlihatkan Dapur dan kamar mandi. sekarang si pelayan membawa Adel kekamar tempatnya beristirahat.


"Itu barang-barang Non sudah dipindakan dari mobil."


Adel menatap tas berisi baju yang di bawa dari rumah dan peralatan solat hadiah yang diberikan sang mama. semuanya tergeletak rapih di atas kasur. Kamar itu tidak terlalu luas seukuran dengan kamarnya hanya saja di kamar barunya terdapat jendela dekat kasur menghadap langsung ketaman keluarga Abrisam.


Adel berjalan kearah ranjang menatap tas miliknya meninggalkan si pelayan di ambang pintu.


"Bi, terimakasih." ucapnya lembut.


Si pelayan mengangguk. "Apa Non butuh sesuatu sebelum saya pergi?"


Adel menggelengkan kepala. "Bibi kembali saja."


"Nama Bibi Muji Non, panggil bibi kalau butuh apa-apa."


Adel menatap si pelayan bernama Muji itu. "Salam kenal Bi Muji. saya Adel, panggi saja saya Adel."


"Baik Non, kalau begitu saya tinggal dulu." Kata Bi Muji alih-alih mendengarkan celotehan Adel.


Pintu ditutup Bi Muji keluar rumah berlari mengendap-ngendap takut tertangkap para pelayan yang lain dan intaian kamera CCtv yang ada di area itu, entah apa yang terjadi dirinya bisa kembali kerumah utama tanpa di ketahui.


Tiba-tiba saja Bi Muji di kejutkan dengan satu sosok pria tampan yang datang seperti angin, beruntung di dapur tidak ada pelayan yang lain.


"Den, terkejut saya." Seru Bi Muji. kedua tangan ia simpan di dekat dada untuk mengontrol setruman detak jantung.


Gavin melihat sekeliling, dirasa aman ia memberikan lembaran uang kepada Bi Muji.


"Bagaimana Bi, apa dia aman?" Ucap Gavin setengah berbisik.


Bi muji mengangguk. "Sudah, Den."


Gavin mengangguk. " Bagus"


.


.


Malam harinya selepas solat magrib dan mengadu kepada sang pencipta. Adel duduk termenung di atas kasur, cucuran air mata sudah menjadi teman baginya. di tambah kedua orang tuanya tidak bisa dihubungi membuat Adel seperti manusia tidak berguna.

__ADS_1


Beberapa pesan dan panggilan dari Kasih hampir memenuhi layar ponselnya. mungkin wanita beranak satu itu menghawatirkan dirinya tapi. "Aku bisa apa? aku tidak bisa mengadu dan memberi tau dirimu Kasih, ini sudah menjadi hidupku aku tidak mau kamu atau-


Adel menggangtungkan kalimatnya ketika mengingat Teo pria yang amat sangat dirinya cintai, tiba-tiba Adel menangis sejadi-jadinya meremas kuat seprai sedikit menggigit bibir bawahnya.


"Kamu sedang apa Teo?..hiks...kamu sedang apa..hiks...hiks..."


.


.


Dentuman alat makan terdengar di rumah utaman. Nyonya Tari dan Tuan Paris dengan lahap menyantap hidangan mahal di atas meja, sedangkan Kakek Damar dan Nenek Dayanti seperti tidak berselera untuk makan! mereka terus memikirkan Adel yang entah sedang apa di rumah belakang. Tapi untuk bertanya rasanya itu tidak baik.


Tap...tap....Suara langkah kaki menuruni tangga mengalihkan perhatian mereka.


Kakek Damar tersenyum melihat Gavin turun dan ikut bergabung setelah sekian lama tidak berkumpul.


Gavin duduk dengan santai memasang wajah datar mengacuhkan tatapan kedua orangtuanya.


Pelayan yang ada di sana mulai memindahkan makanan ke atas piring kosong Gavin memberikan lauk yang disukai si bungsu.


"Sudah cukup." Tangan itu terangkat meminta si pelayan untuk berhenti memindahkan makanan kedalam piringnya.


Gavin mulai makan pun dengan anggota yang lain, kesunyian menemani makan malam itu. beruntung kedua kakak Gavin tidak ada jadi Gavin bisa sedikit tenang mengisi perutnya.


Apa dia sudah makan?


Suapan ketiga mengingatkan dirinya kepada Adel, yang mana sendok berisi nasi itu berkulai keatas piring.


Tanpa sadar Gavin berdiri mengejutkan Anggota keluarga, Tuan Paris menatap si bungsu. "Ada apa, Gavin?"


" Gavin ingin melihat Adel, apa dia sudah makan?" jawab Gavin sambil melangkah pergi.


"Apa kamu lupa kalau dia bukan lagi istrimu?" Suara menggema Tuan Paris membuat Gavin berhenti.


"Satu langkah saja, Papa akan mengusirmu dari rumah ini."


.


.


Uuee....uueee...


Dibalik pintu kamar mandi suara cukup menyakitkan itu terdengar, Adel berjongok didalamnya memuntahkan cairan bening tak berwarna. jelas perut itu belum ia isi. Tangisan kesedihkan membuat Adel mengantuk lalu ia tertidur dengan tubuh bergetar sampai dunia mimpi datang menemani, pukul sebelas malam Adel terbangun membawa tubuhnya kedapur.


Sang dara berjuang seorang diri di sana. sudah dua minggu si pelayan yang di maksud belum juga datang entahlah, tiba-tiba saja Adel mengingat perkataan sang ibu mertua. dirinya benar-benar membutuhkan orang lain saat ini berharap Bi Muji datang tapi sepertinya keinginan itu hanya angan-angan saja.


Setelah rasa mual itu berangsung hilang Adel keluar kamar mandi. berjalan kearah Dispenser mengambil gelas mengisinya dengan air panas dan air dingin, setelahnya Adel duduk di atas kursi tunggal dengan meja kecil seperti meja makan meminumnya sampai habis. "Jadi seperti ini rasanya mual ketika hamil." Gumamnya seraya tersenyum kecut.


Adel menatap kosong dapur mini itu memperhatikan satu persatu peralatan di sana, berharap bisa melupakan rasa mual yang sudah kembali datang. Adel enggan membuka pintu lemari es yang ada di dekatnya walupun ia ingin. tubuhnya tengah menikmati kesunyian di sekitar rumah sang suami.


15 menit Adel duduk di sana menikmati air hangat alih-alih makanan. perut itu tak kunjung meminta di isi, malah perut itu seperti meminta sesuatu yang mana tawa itu tercipta.


"Kenapa aku memikirkan Bengkuang dengan sambil terasi." Ucapnya tidak sadar. bibir mungil itu mengecap menelan liur yang tiba-tiba datang.


Dan di tengah keinginan itu suara ketukan di pintu mengalihkan Adel.


Tok...tok..


"Apa itu Bi Muji?" Pikir Adel, dirinya tidak membuang waktu ia berjalan cepat lalu membuka pintu.


Ceklek....


Sontak Adel terkejut di buatnya. itu bukan Bi Muji melainkan Gavin.


Gavin bergegas masuk kedalam menutup pintu cukup pelan takut terdengar para pelayan.


Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Adel kembali memproduksi air asin yang siap ia tumpahkan, melihat wajah Gavin membuat Adel kehilangan akal. rasa benci teramat dalam kepada ayah calon bayinya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Gavin gugup. ia tidak melepaskan kontak mata dengan sang istri.


Adel bukannya menjawab ia malah melayangkan satu tamparan. "Pergi dari sini."


Kali ini Gavin tidak mengusap pipinya ia membiarkan terjangan panas itu menyerang.


"Pukul aku lagi kalau itu bisa membuat kamu tenang. aku tidak tau harus melakukan apa agar kamu mau memberi maaf, aku salah dan aku pengecut." Kata Gavin, kalimatnya berhasil mencabik-cabik jiwa Adel.


" Maafkan aku karena aku sudah membuatmu menderita, maafkan aku karena aku sudah mengatakan hal itu, itu bukan kehendakku Papa yang meminta aku melakukan itu." sambung Gavin, matanya seolah memohon Adel untuk percaya. Gavin memberanikan dirinya menarik tubuh itu kedalam dekapannya tapi Adel menolak.


"Aku bilang pergi, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, dan ingat satu hal. sampai kapanpun aku tidak akan memberimu maaf! semua penderitaanku semoga menjadi penyesalan seumur hidupmu. perlakuan keluargamu dan keluargaku sudah lebih dari cukup jadi jangan, aku mohon berhenti perduli hiks...hiks...."


Adel menangis untuk sesaat, lalu ia menatap Gavin tajam melenggang pergi untuk membukakan pintu.



"Keluar, dan anggap aku tidak ada."


Tanpa bersuara, Gavin keluar melewati Adel berjalan cepat menerobos taman.


"Kamu ingin melihat aku mati! mungkin dengan itu kamu mau memberiku maaf." Ujar Gavin dengan wajah memelas.


Aku tidak akan menyerah, sampai kapanpun aku akan tetap mendapatkan maaf itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2