BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Kelahiran Sang Buah Hati


__ADS_3

Pintu persalinan terbuka. Ketiga orang yang menunggu di luar itu tersentak ketika ranjang yang di tiduri Adel berhenti di ambang pintu.


"Adel." Ketiganya menyuarakan Nama Adel yang tengah kejang!


"Dokter. Ada apa ini? Kenapa putri saya?" Pak Alam menuntut jawaban sambil menatap Adel panik. Tubuh mungil itu bergerak tak terarah.


"Maaf Pak. Kami harus membawa putri Bapak. Jangan khwatir. Putri Bapak hanya syok saja." Jelas Dokter Ratih. Tapi tidak membuat Ketiga orang tua itu tenang.


"Sayang. Bertahanlah." ucap Bu Puji lirih.


Dokter Ratih dan ke empat suster kembali membawa Adel ke dalam ruang operasi di ikuti Bu Puji. Pak Alam, dan Bi Muji.


Pintu ruang Operasi terbuka. Adel di bawa masuk bersama Dokter Ratih. Menyisakan Ketiganya di sana.


"Biarkan saya masuk. Suster," Rengek Bu Puji.


Suster yang berjaga di pintu itu menggelengkan kepala dan kembali mendorong tubuh Bu Puji dan Pak Alam.


"Mohon menunggu di luar Bu. Bapak," Setelahnya Suster menutup pintu untuk membantu jalannya proses operasi Adel.


Bu Puji memeluk Pak Alam berteman tangis kesedihan. "Adel. Pah..." katanya sambil terisak.


"Adel akan baik-baik saja. mah," Jawab Pak Alam dengan wajah sendu.


Bi Muji yang ada di antar kedua orang tua Adel hanya bisa menangis. Mendapati Adel kejang. Setengah tahun bersama membuatnya bertingkah layaknya seorang ibu. Rasa sakit kedua orang di depan matanya dapat Bi Muji rasakan pula.


Selamatkan Non Adel. Tuhan, Penderitaan ini semoga yang terakhir hadir dalam hidup Non Adel..


Bi Muji berdoa sambil menatap kedua orang tua Adel yang mana tengah berdiri di ambang pintu ruang Operasi.


.


.


Ketika di luar ruang operasi ketiganya menunggu dengan cemas. Di dalam Dokter Ratih berserta suster sudah siap di posisi untuk mengeluarkan si bayi.


Adel tidak kejang lagi. Setelah dokter Ratih memberi suntikan untuk menengkan Adel sekaligus untuk memberi obat bius.


Dengan mata tertutup dan hidung di pasang Ventilator. Operasi Cesar siap di lakukan. Dokter Ratih mulai menggoreskan pisau bedah ke permukaan perut Adel dengan hati-hati. Suster bertugas memeriksa keadaan Adel dan alhamdulilah dalam kondisi stabil. Tidak ada yang harus di takutkan walupun Dokter beranak dua itu menampakan wajah tegang.


Dalam keheningan dan konsentrasi tingkat tinggi, Dokter Ratih terus berdoa agar Operasi bisa berjalan dengan baik. Dan tidak ada kendala. Mengingat tubuh Adel tidak terlalu bertenaga. Akibat Tranfusi Ginjal itu membuat tubuh Adel gampang lelah dan sakit-sakitan. Akan gampang terserang berbagai penyakit mematikan. Beruntung Adel selalu mengkonsumsi obat untuk mempertahankan imun tubuhnya. Hingga sekarang Adel siap melahirkan si buah hati.


Waktu terus berjalan. Semua orang yang ada di dalam ruang Operasi berlomba dengan waktu dan tenaga. Mencoba mengeluarkan si bayi dari dalam rahim Adel yang mana masih menutup mata.


Sampai akhirnya, Dokter Ratih dapat tersenyum lebar dari balik masker ketika si bayi ia keluarkan.


"Alhamdulilah." Seru Dokter Ratih di ikuti para suster.


.


.

__ADS_1


Mendengar samar suara tangisan bayi dari dalam ruang Operasi. Membuat Bu Puji terperanjat dalam dekapan Pak Alam.


Wajah sembab ketiganya menampakan senyuman dan ucap rasa syukur.


"Papa. Cucu Mama sudah lahir. Pah." Kata Bu puji kepada Pak Alam yang hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata.


Bukan dirinya malu atau marah karena sang cucu sudah lahir. Tapi lebih ke perasaan bersalah karena dulu dirinya sudah membuat Adel tersiksa seorang diri.


Maafkan Papa sayang. Karena Papa kamu menderita..


Ucapan itu terus dirinya katakan dalam hati. Apalagi sekarang Adel sudah membuktikan kalau dirinya bukan wanita lemah. Pak Alam tersenyum jika mengingat wajah ceria sang putri.


Pak Alam merekatkan dekapannya dan mengecup kening sang isteri sambil berkata.


"Papa akan menjaga kalian dari orang-orang jahat. Terutama Adel."


Bu Puji mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Bi Muji tersenyum dengan pipi yang basah.


"Terimakasih Tuhan. Terimakasih." ucap Bi Muji.


.


.


Suster membersihkan si bayi berkulit putih itu. Membalutnya untuk melindunginya dari udara dingin.


"Sekarang lebih hangat, bukan.?" Dua suster itu menggoda si bayi yang sekarang tidak lagi menangis. Ketika keluar dari dalam rahim ibunya. Bayi berbobot 3kg dengan panjang 53cm itu mengeluarkan tangisan amat kencang. Yang mana berhasil membuat tubuh Adel bergerak karena replek. Dokter Ratih yang tengah menjahit perut Adel terkejut sekaligus tersenyum.


Semua proses persalinan itu selesai sudah. Tanpa ada yang harus di khwatirkan.


Adel yang masih dalam tahap pemulihan di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya.


Bu Puji dan Pak Alam tak ketinggalan Bi Muji dapat tersenyum lepas ketika Adel dan anaknya selamat. Ketiganya menemai Adel sampai mata ibu baru itu terbuka.


"Mama." Suara decitan itu terdengar. Membuat ketiganya yang tengah menatap si bayi menoleh.


"Syukurlah." Bu Puji bergegas membawa sang cucu. Mendekati Adel di ikuti Pak Alam dan Bi Muji.


Adel mulai membuka mata dan perlahan menoleh kearah Bu Puji.


"Dia..Dia Sudah lahir?" Adel bertanya tak percaya. Mata sayunya mulai berair. Apalagi melihat wajah si bayi yang tengah terlelap.


"Iya Sayang. cucu Mama sangat cantik, Bukan!"


Adel mendangah menatap sang ibu dengan kening mengkerut. "Cantik!"


"Iya..Dia cantik sama sepertimu." jelas Bu Puji girang. Sedangkan Adel mematung di tempatnya sambil menatap bayi cantiknya lekat. Yang mana membuat Bu Puji. Pak Alam dan Bi Muji saling tatap.


"Kenapa Non? Apa Non tidak senang?" tanya Bi Muji ragu-ragu.


Sontak Pak Alam dan Bu Puji saling tatap intes.

__ADS_1


Dengan wajah pucat Adel menggeleng pelan berteman air mata.


"Saya senang Bi. Tapi keluarga mas gavin tidak akan mau menerimanya!" Ucap Adel lirih. Otaknya mengingat ucapan sang ibu mertua dan suaminya tempo hari.


'Dia harus laki-laki.' (Gavin berbisik pada waktu pengesahan pernikahan.)


'Tidak apa-apa kalau dia perempuan. Aku akan menerimanya.' (Gavin berkata ketika membawa Adel ke dokter kandungan 4 bulan si buah hati.)


'Tapi kamu tenang saja. Kami akan merawat anak itu kalau dia laki-laki' (Ucap Nyonya Tari ketika Adel di giring ke rumah belakang.)


Mengingat itu. Adel menutup wajah dengan kedua tangan alih-alih menggendong bayi cantiknya. Ia meraung penuh kebingungan dan rasa sakit hati. Mendapati Gavin tak ada ketika dirinya bangun dan sekarang kelahiran bayinya membuat Adel terpojok.


Pak Alam bergegas mendekap sang putri memeluknya penuh cinta.


"Jangan menangis Adel..Papa. Mama akan selalu ada di sini bersamamu. Maafkan kami yang sudah meninggalkanmu di saat kamu membutuhkan kami..Papa. minta maaf." Kata Pak Alam sesegukan.


Bi Muji mengambil bayi mungil itu, memberi ruang untuk Bu Puji yang juga ikut menangis.


Ketiganya berpelukan dengan suara isak tangis. Sedangkan Bi Muji tersenyum haru sambil menggendong si bayi.


"Saya ikut senang karena Non Adel bisa kembali bersama dengan kedua orang tuanya." gumam Bi Muji. Setelahnya menunduk menatap bayi cantik itu membawa senyuman.


"Nona kecil selamat datang. Ini Bibi Muji. Bibi akan rawat Non dan Nyonya Muda.."


Kembali nama lebih tinggi Adel dapatkan. Nyonya Muda adalah predikat barunya.



.


.


Akan tetapi kesenangan dan kebahagiaan seolah tercoreng jelas! ketika seseorang berseragam biru menghidupkan hpnya dengan wajah berseri-seri. Ia memindahkan nomor yang tertera di depan kertas! Dengan satu buah poto wanita muda di sana.


"Dengan uang sebanyak itu. Aku bisa membeli mobil dan rumah baru!" Katanya sambil menunggu seseorang di sebrang sana mau mengangkat panggilan darinya.


Panggilan pertama. ke dua, dan ke lima tak ada jawaban. Dia hampir menyerah dan kembali mencoba untuk yang ke enam kalinya.


"Kalau yang ini tidak di angkat aku menyerah sa-


"Hallo.!"


Sontak orang itu berdiri dari atas closet. Posisnya tengah berada di dalam toilet.


"Ini benar. Tuan Teo?" tanyanya gugup.


"Iya saya Teo. Apa anda ingin memberi saya informasi?" Teo langsung pada intinya. Karena selama 6 bulan terakhir tidak ada yang menghubunginya.


" I-iya. Tuan!"


"Katakan!" Kata Teo tidak sabaran.

__ADS_1


"Orang yang anda cari ada di rumah sakit tempat saya bekerja. Dia baru saja melahirkan!"


__ADS_2