BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Kembalikan Ingatanku


__ADS_3

20 menit Adel dan Bi Muji kembali. Adel bergegas kekamar yang sekarang menjadi tempatnya menutup malam. tepatnya bersebelahan dengan kamar Bi Muji yang saat ini tengah membersihkan diri.


Adel duduk di tepi ranjang kayu dengan kasur sedikit lepek. Entah sudah berapa tahun usia kasur itu. Tapi Adel nampak baik-baik saja dengan lepeknya si kasur. Sudah mendapatkan tempat tinggal di kota orang lebih dari cukup.


Adel menarik napas dalam. Mengatur dekat jantungnya yang tiba-tiba meningkat tajam. Pasalnya si janin bergerak aktif disana. Yang mana Adel menunduk dan mengusapnya berteman senyuman ketir.


"Kenapa? Kamu sudah tidak sabar ingin keluar rupanya! Sabar yah. Sekarang bukan waktunya."


Dret....dret...


Ponselnya kembali bergetar. Membuat Adel menoleh menatap hpnya yang menyala dengan nama kontak sang sahabat.


"Kasih?" Decit Adel heran. Selama ini Ia jarang mengangkat panggilan dari Kasih. Bukan tanpa alasan. Adel tak kuasa menahan tangis jika mendengar suara Kasih. Dan sekarang ibu satu anak itu kembali menggubungi! membuat Adel terpaku tanpa bergerak.


Ponsel masih bergetar tanpa ingin di angkanya. Tapi rasa penasaran membuat Adel meraih si hp.


Adel menenangkan diri dan memasang senyuman manis. "Iya. Kasih,"


.


.


Kasih menghela napas lega ketika Adel akhirnya mau menerima panggila darinya.


"Adel. Kenapa lama sekali!" Seru Kasih. "Apa kamu baik-baik saja?" sambung Kasih dengan suara khwatir. Mengingat keadaan saat ini.


"Iya. Aku baik-baik saja." Jawab Adel tenang. Dirinya tidak ingin membuat sang sahabat panik.


"Di rumah ada Mas Gavin! Dia pingsan! Dia..Emmm..dia tidak-


"Aku tau Kasih!" Seru Adel seolah mengerti apa yang akan di katakan ibu Ayres itu.


Kasih mematung di tempat duduknya melupakan semua orang yang panik melihat Gavin belum sadarkan diri.


"Bisakah kamu datang dan-


Adel menyela. " Tidak bisa! Aku tidak bisa datang kesana."


Kening Kasih mengkerut. "Kenapa?" Tanya Kasih bingung.


Adel tertawa renyah dan Kasih mendengar jelas. "Apa kamu sudah tidak perduli lagi dengan suamimu?"


"Iya. Aku sudah tidak perduli lagi. Lebih baik kamu telepon keluarganya atau Maya!" Sahut Adel datar.


"Maya! Kamu tau tentang maya?" Tanya Kasih lagi dengan wajah terkejut.


"Aku tau dari kedua orang tuanya. Kasih maaf, aku harus pergi"


"Adel tunggu...Adel-


Tut...tut..panggilan terputus.


Kasih merenung sejenak menatap Gavin yang mana tengah di periksa dokter.


Ada apa ini? Kenapa Adel jadi berubah.


Batin Kasih bertanya sampai ia di kejutkan dengan rangkulan dari sang suami.


Noah menatapnya bingung. "Kenapa sayang?" Tanya Noah. pasalnya Kasih seperti orang kebingungan.


"Adel? Barusan aku telepon dia, mas!" Ucap Kasih gugup.


Noah mengangguk menatap raut wajah sang istri. Kasih mengerti.


"Dia bilang tidak lagi perduli dengan Mas Gavin! Aku bingung Mas." Kasih memijat pelipisnya karena terlalu bingung dengan situasi yang ada.


Noah menghela napas dalam. "Lebih baik aku telepon. Maya!" usulnya.


Kasih mengangkat kepala. menyempitkan kedua mata yang mana Noah berkata. "Apa?"


"Maya! Kamu mau telepon Maya?"

__ADS_1


Noah mengangguk dengan wajah gugup.


"Jangan Telepon Maya?" pintah Kasih dengan suara sedikit memekik.


Noah mengangguk cepat merasa takut dengan tatapan tajam sang istri.


Pasangan suami istri itu terdiam sambil menatap Gavin yang masih pingsan.


"Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Kasih lirih.


Kepala Noah menggeleng.


"Haruskah kita hubungi Om Paris?" Noah melirik sang isteri.


Kasih menggeleng. "Itu bukan ide yang baik! Bagimana kalau Kita hubungi Maya!"


Noah mengerutkan kening. "Hei..."


.


.


Adel kembali menangis didalam kamar. menutup mulutnya dengan rapat. Tak ingin Bi Muji mendengar raungan tangisnya.


"Hiks...hiks...hiks...Mas Gavin. apa kamu baik-baik saja? Maafkan aku Hiks...hiks.."


Adel terus menangis di pagi cerah itu memikirkan Gavin yang tengah pingsan di kediaman Noah.


Jangan pikirkan Dia Adel! Dia bisa mengurus dirinya sendiri.


.


.


Setelah menimbang cukup lama Kasih menyetujui ide Noah yang mana memberi tahu Maya.


Maya bergegas ke kediaman Kakek Hendri. Kakinya berlari masuk dengan prasaan takut mendapati Gavin yang katanya tak sadarkan diri.


Kasih menatap nanar sang dara dengan mata melongo. Bagi Kasih Maya bukan orang asing!


Dia bukannya Maya si model itu?


Kasih bertanya dalam hati ketika ingatnya terpatri ke dalam isian majalah pakaian yang satu minggu dirinya lihat.


Benar itu Maya. Model papan atas yang sekarang ada di antara keluarga.


Jadi mantan pacarnya Mas Gavin Maya model itu? Tanya Batin Kasih sambil memperhatikan.


Maya sendiri bergegas mendekati Gavin. Mengabaikan tatapan keluarga Noah.


"Gavin! bangunlah!" Pinta Maya sambil terus mengusap kepala Gavin panik.


Melihat itu Kasih jengkel karena otaknya mengingat sang sahabat.


"Ada yang terjadi?" Tanya Maya kepada Noah.


"Dia pingsan!" jawab Noah datar. Ayah satu anak itu masih sedikit jengkel jika mengingat perlakuan Maya kepada Gavin.


Kasih menyenggol tubuh tinggi Noah.


"Dokter mengatakan. Mas Gavin syok." Jelas Kasih.


Maya mengangguk cepat dan kembali meminta Gavin untuk bangun.


Ajaib Gavin membuka mata! Sontak semua terkejut pun dengan Maya.


Senyum Maya merekah melihat mata Gavin mulai terbuka lebar.


"Syukurlah." Kata Maya.


"Maya!" Seru Gavin memanggil nama sang mantan pacar dengan suara parau.

__ADS_1


"Aku ada disini." Maya menggenggam tangan Gavin kuat dan Gavin tidak menolak.


Noah dan Kasih mematung melihat itu.


Diam-diam Kasih melirik sang suami. Noah mengangguk mengerti.


Ehemm...Noah berdehem yang mana membuat Maya menoleh.


"Apa tenggorokanmu sakit?" Tanya Maya.


Kasih tertawa...Ha...ha...ha...


Noah mengendus melihat sang isteri tertawa di ikuti Maya sedangkan Gavin masih terdiam.


"Berhenti tertawa!" Bentak Noah. "Maya. Ada yang harus aku katakan tentang Gavin." Sambung Noah dengan tatapan kesal.


Kasih langsung terdiam pun dengan Maya.


"Apa yang harus aku ketahui?" Tanya Maya yang masih menahan tawa.


"Cepat katakan?" Bisik Kasih..


Noah mengangguk. "Gavin sudah-


"Aku ingin pulang!"


Tiba-tiba Gavin bersuara. Memotong kalimat Noah.


Gavin bergegas bangun, tidak menghiraukan larangan dari semua orang. Maya mengekor dari belakang.


"Aku permisi." Teriak Maya kepada Noah dan Kasih.


"Mas. Itu?" Kasih menguncang tubuh Noah.


Tapi Noah acuh dan mematung sambil menatap kepergian Gavin.


Apa yang kamu rencanakan? Apapun rencanmu itu, aku harap Kamu dan adel bisa kembali bersama.


.


.


Maya masuk kedalam mobil setelah mobil Gavin keluar gerbang terlebih dahulu.


"Kenapa Gavin? Apa yang kamu sembunyikan?"


Mobil Maya menyusul mobil Gavin sampai di rumah Tuan Paris. Dan setelah sampai Gavin mengabikan semua keluarga yang memang tengah menunggu di ruang keluarga. Ia memilih masuk kedalam kamar.


Sedangkan Maya menemui keluarga Gavin untuk membicarakan hal yang tidak terlalu penting.


.


.


4 bulan kemudian.


Keadaan masih sama. Tidak ada yang berubah Gavin lebih senang menutup diri dan membatasi interaksi dengan semua orang.


Setiap hari Gavin hanya mengurung diri didalam kamar tanpa ingin di temani siapapun. Bahkan kabar rencana pernikahan Teo dan Anandita tidak membuat Gavin terkecoh.


Apa keluarga khwatir? jelas mereka semua merasakan itu. Pun dengan Maya. Wanita cantik itu juga sudah mengetahui kabar yang sebelumnya di rahasiakan.


Maya tau Gavin sudah menikah! Dari Noah dan Kasih. Dan dimana isteri Gavin berada sekarang? Itupun menjadi misteri semua orang.


Gavin duduk di pojokan ranjang dengan keadaan menyedihkan. Tubuhnya kurus tak terawat. rambutnya panjang berantakan. Kumis dan jenggot mengelilingi wajah mulusnya.


Gavin tertawa dan cemberut menatap sepucuk surat yang ia bingkai dengan cantik. Selama 4 bulan ini otaknya terus menggali siapa Adelia yang di yakini sebagai istrinya.


"Hei...otakku. Kembalikan istriku! Aku ingin melihat dia. Sekali saja." Gavin bergumam lirih berteman air mata kesedihkan. Merasa Frustasi dengan keadaan.


Kembalikan ingatanku! Aku ingin mengingat Dia Adeliaku.

__ADS_1


Gavin menarik rambut dan meremasnya. Sesekali membenturkannya ke dingding cukup keras.."Argg..." lalu Gavin berteriak..."Aaaaaa!!"


__ADS_2