
Sore harinya, Anandita masih meringsek di dalam selimut. Setelah obrolan dengan tukang kebun Anandita memilih masuk kedalam kamar yang ada di sebelah kamar Teo. Kemarin pagi para pelayan membereskan koper Anandita dan membawanya kedalam kamar.
Teo sendiri menerima keinginan Anandita untuk tidur terpisah tanpa tanya. Lagipula dirinya juga tidak ingin satu kamar. Terlalu risih atau mungkin ia terlalu malu karena hampir saja menggauli sang istri dengan paksa.
Tok...tok...tok..."Non?" Panggil pelayan di susul ketukan pintu.
Mata Anandita terbuka. Mengerjap beberapa kali untuk membuang rasa kantuknya.
"Non Anandita," Lagi si Pelayan memanggil namanya.
Terpaksa Anandita meninggalkan ranjang. Berjalan gontai untuk membuka pintu.
Pintu di buka.
"Ada apa?" Tanya Anandita malas. Sesekali menguap di depan si pelayan yang masih begitu muda. 40 tahun kayanya.
"Waktunya makan siang, Nona," Katanya sopan.
"Saya tidak lapar." Jawab Anandita. Dan kembali menutup pintu.
"Tapi, Tuan Teo meminta saya untuk-
"Untuk apa?" Anandita menatap si Pelayan dari sela pintu.
Seketika si pelayan menunduk karena takut. Tatapan si Nona muda begitu menyeramkan pikirannya.
"Untuk Nona makan siang."
Anandita menghela napas berat. "Kalau begitu, bawakan makan siang ku ke kamar."
Si pelayan mengangguk cepat. Bergegas undur diri untuk membawa makan siang.
Di kamar Anandita duduk di sofa dengan wajah ketus.
"Memangnya aku anak kecil?" Keluhnya sembari menyambar ponsel. Membukanya cepat melihat media online dan juga membuka akun Instagram miliknya.
"Sudah lama sekali aku tidak membuat instastory."
Di tatapnya satu persatu Poto dirinya yang pernah di unggah di akun Instagram. Senyum merekah nyata membuat batinnya bergumam.
Apa sekarang waktu yang tepat untuk aku menjadi model?
Anandita kuliah mengambil jurusan modeling, dan beberapa bulan yang lalu baru saja menyelesaikan S1 di usia yang masih muda.
Anandita sudah mendapatkan gelar itu dengan baik. Keputusan yang di ambil untuk menekuni dunia entertainment sempat di tentang Mending Kakek Hendri dan Kakaknya Noah. Tapi dirinya bersikeras ingin terjun di dunia penuh sorot kamera itu. Modal wajah cantik, kulit bening dan tubuh tinggi membuat Anandita optimis.
Tapi setelah Kakek Hendri meninggal dan rencana pernikahan pada waktu itu meminta Anandita untuk sabar. Pernah ada satu tawaran dari salah satu mode busana, yang memintanya menjadi salah satu model tapi Anandita menolak. Setelah menikah dengan Teo, dirinya sesumbar akan menjadi istri yang hanya sibuk di rumah tanpa ingin menggeluti dunia luar. Seperti kakak iparnya Kasih. Yang sibuk mengurus anak dan suami.
Akan tetapi, sekarang semua bagaikan mimpi buruk. Pernikahan yang di impi-impikan tak jelas arahnya membuat Anandita menitipkan air mata lagi.
"Kenapa semua jadi begini. Aku begitu mengharapkan cintamu, tapi setelah apa yang terjadi kamu membuat aku ingin menjauh rasanya."
"Tidak, tidak, Anandita, berhenti menangis." Mengusap wajahnya cepat. Dan kembali fokus menatap ponselnya. Sampai ketukan pintu kembali terdengar menandakan si pelayan tadi sudah datang.
.
.
Teo masih dalam perjalanan pulang setelah melewati hari yang begitu melelahkan. Peresmian perusahaan baru itu menguras tenaga dan pikiran. Bagaimana tidak demikian. Di satu sisi dirinya sibuk menjamu para tamu undangan yang datang melimpah. Tapi di sisi lain. Otaknya tak berhenti memikirkan Anandita atas semua ucapannya kemarin malam. Bahkan sampai di perjalanan pulang, otaknya terus menerus memutar kepingan kata Anandita.
Mulai hari ini, aku dan kamu tidur terpisah. Dan aku meminta jangan larang aku untuk mencintai pria lain, karena aku juga tidak akan melarang kamu untuk mencintai wanita lain termasuk, Adelia.
Tangan Teo mengepal kuat ketika kalimat itu mengusik ketenangan. "Cepat sedikit." Pinta Teo singkat. Yang di jawab anggukan kepala dari Pak Agam sekertaris barunya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Teo bergegas masuk. Kebetulan salah satu pelayan menyambut kedatangannya.
"Di mana, Anandita?" Tanya Teo sembari menatap area rumah dan lantai atas.
"Ada di kamar, Tuan." Jawab si pelayan.
Teo mengangguk lalu berjalan menaiki tangga. Tapi alih-alih mengetuk pintu kamar sang istri yang ada di sebelah kamarnya. Teo hanya diam memandang lurus tanpa ingin mendekat.
Biarlah ini terjadi, Kemarahannya tidak akan lama.
Lalu Teo membuka pintu kamarnya dan masuk untuk mengistirahatkan tubuh dan otaknya.
.
.
Teo menghela napas jengah ketika ia sendirian menyantap makan malam tanpa ada sosok Anandita.
"Ini sudah hampir dua Minggu, dan dia masih tidak ingin bertemu denganku!" Gumam Teo lirih. Kembali mengunyah makanan penuh keterpaksaan.
Itu benar, sudah dua Minggu lamanya perang dingin di antara mereka tetap berlanjut. Anandita dengan keegoisan memilih untuk tidak melihat Teo. Dirinya akan keluar disaat Teo pergi bekerja dan setelahnya masuk kedalam kamar, menghabiskan waktu setiap harinya tanpa merasakan jenuh.
Teo sendiri begitu kesepian dan marah dengan keadaan yang ada. Bukan ini yang dirinya harapkan, alih-alih Anandita yang memohon kini malah dirinya yang berbalik di abaikan dan di campakkan oleh sang istri.
Setiap hari Teo akan bertanya kepada para pelayan, apa saja yang di lakukan Anandita selama dirinya bekerja. Jawaban yang sama yang akan di dengar Teo.
'Nona Anandita, ada di kamar.'
Teo menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Di piring, nasi dan lauk masih terlihat sama. Hanya sebagian yang di makan. Teo menggeser kursi lalu berjalan pergi.
Sementara itu, Anandita cekikikan didepan kamera. Berpose dengan cantik dan berusaha seksi.
Sulit, benar-benar sulit.
"Tidak, ini tidak cantik." Gusarnya menatap beberapa hasil pemotretan dadakannya.
Diam-diam Teo mendorong sedikit kepalanya ke permukaan pintu. Mengerutkan kening mendengar suara tawa dari dalam kamar sang istri.
"Apa yang di lakukannya didalam, sampai dia enggan keluar." Tanya Teo penasaran. Kembali menguping apa yang di lakukan Anandita.
Suara tawa kembali terdengar. Teo gusar akan hal itu. Dirinya dengan marah mengetuk pintu.
Tok...tok...tok..
Anandita melirik pintu yang di ketuk.
"Ada apa, Bi?" Teriak Anandita yang masih sibuk berpose.
Tok...tok..
"Astaga," Keluh Anandita. Dengan terpaksa membuka pintu.
"Apa Bi-
"Apa yang kamu lakukan di dalam?" Tanya Teo tak membuang waktu. Tidak memperdulikan wajah datar Anandita. Teo dengan berani melirik dalam kamar melewati tubuh istrinya.
"Apa kamu terganggu?" Balik Anandita bertanya dengan tangan di lipat di depan dada.
Mata Teo menyempit karena marah.
"Jaga ucapan kamu Dita. KAMU? sejak kapan kamu menjadi kurang ajar begini.?" Teriak Teo yang mana membuat para pelayan yang ada di lantai bawah mendangah, di saat mereka sibuk membereskan meja makan.
"Mereka ribut?" Tanya temannya penasaran.
"Biarkan saja. Itu bukan urusan kita." Balas Temannya, lalu keduanya kembali bekerja dengan memasang kedua telinga.
__ADS_1
"Oh, Iya. Dita lupa. Kamu kan Kakakku." Menatap Teo seolah mengingatkan.
Teo menjadi salah tingkah. "Bu-bukan itu maksudku."
"Terus apa maksudnya? Sudahlah Kak, Dita capek." Seketika menutup pintu. Tapi Teo gerak cepat menghalau.
"Kakak, belum selesai bicara." Teriak Teo.
Anandita menarik napas dalam-dalam. Dan kembali berdiri di posisinya. "Apa lagi yang mau kakak katakan?" Berusaha berbicara lembut.
"Bukan begini cara menjalin hubungan suami istri, Dita,"
Kening Anandita mengkerut bingung.
"Dua Minggu kamu tidak pernah keluar kamar, aku bahkan makan seorang diri." Teo menunjuk lantai bawah dengan telunjuk. Dan Anandita mengikuti ke mana jari itu terarah.
"Kamu berubah! Sebesar apapun kamu membenci aku, aku tetap suami kamu yang harus kamu layani dan kamu urus." Keluh Teo murka. Menahan sedari lusa kata-kata yang di keluarkan.
"Kamu yang mengatakan akan berusaha untuk membuat aku jatuh cinta padamu. Tapi sekarang apa? Kamu malah pergi menghindar, Dan dengan entengnya mengatakan akan hidup layaknya kakak beradik. Dan bukan itu saja. Kamu mengatakan ingin merelakan aku mencintai wanita lain apa kamu pantas mengatakan itu padaku, Dan kamu juga meminta aku untuk tidak melarang kamu mencintai pria lain, apa kamu sadar Dita, aku ini suami kamu?" Nampak urat dan wajah memerah Teo seakan menghentak jiwa Anandita.
Laki-laki di depan matanya tengah di luputi amarah besar, begitu besar. sampai Anandita tidak dapat berkutik.
Tak lama Anandita tersenyum getir melirik Teo yang masih di luputi amarah.
"Sikap kamu membuat aku bingung. Sebenarnya apa yang kamu mau kak? Aku mendekat, tapi kamu menghindar. Aku baik kamu risih, dan apa kamu lupa. Kamu mengatakan kalau aku, aku tidak lebih dari wanita yang pernah kamu tiduri. Kalau kamu meminta aku berperan layaknya istri bagaimana dengan kamu? Katakan? Di mana peran kamu sebagai seorang suami?" Balas Anandita tak kalah menyentak batin Teo.
"Aku hanya ingin kamu nyaman. Tidak adanya aku di sisi kamu adalah hal yang baik. Bukannya itu mau kamu?" Anandita menyeka air mata yang datang.
Aku tidak ingin terlihat lemah hanya karena perasaan ini.
Batin Anandita.
"Baik, kalau itu mau kamu. Aku menjalankan tugas sebagai seorang suami dan aku juga ingin kamu melakukan tugas sebagai istri mulai hari ini." Terang Teo mantap.
Anandita diam membisu merasa bingung dengan apa yang di katakan Teo. Yang mana Anandita bertanya.
"Apa maksudnya?"
"Hentikan semua ini. Hentikan tidur terpisah ini. Itu adalah perintah yang tidak bisa kamu tolak."
"Baik, aku setuju, Tapi aku akan mengajukan syarat?"
Teo menatap wajah Anandita lekat dengan jantung berdebar. Kiranya syarat apa yang akan di ajukan istrinya.
"Syarat apa?" Tanya Teo penasaran.
Kalau itu tidak masuk akal, tidak akan aku dengar.
"Dunia modeling," Menatap Teo intens.
"Dita, akan memulai Karir Dita sebagai model. Di kota ini." ucapnya penuh kelembutan.
modeling? Aku sampai lupa kalau dia kuliah di jurusan Entertainment.
Anandita menunggu Teo mengangguk, dan ia seketika tersenyum lebar mana kala kepala kokoh Teo mengangguk juga.
"Kakak, mengizinkan kamu untuk menekuni dunia itu." Ucap Teo yang mana itu adalah keterpaksaan.
Menolak permintaan mu sama saja aku membuat rumah tangga ini berantakan. Lebih baik untuk sekarang aku turuti saja permintaan konyol ini.
Anandita menjadi sumringah. Dengan gerak cepat memeluk Teo. "Terimakasih Kak, Dita janji Dita juga akan jadi istri yang baik."
Hanya karena itu Dita sampai melupakan semua kemarahan dan sakit hatinya terhadap Teo, yang diam mematung dengan wajah melongo.
Teo merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ada yang salah?
__ADS_1
Kenapa dengan jantungku? Tidak, tidak. Perasaan ini kembali datang? Perasaan sesaat ini kembali datang padaku!
Pelukan semakin erat. Maka semakin kencang pula dentuman jantung Teo.