
Adel mematung di ranjang perawatan. Menatap lekat Teo yang mana tengah berjalan masuk melewati Pak Alam.
Teo berjalan lurus dengan tatapan kosong. Matanya seakan tidak ingin berkedip. Takut-takut Adel menghilang dari pandangan mata. Melihat Adel dengan wajah pucat membuat tubuh Teo lemas tak berdaya. Di tambah adanya bayi mungil yang terbungkus selimut berwarna pink menambah ketidak berdayaan si pria tampan itu.
Bayi Gavin!
Batinnya bergumam di saat tubuhnya berhenti di ambang ranjang yang di duduki Adel, berusaha melihat wajah si bayi yang tertutup selimut. Sial, Teo tidak dapat melihat seperti apa wajah cantik putri sahabatnya itu.
Adel sendiri masih diam mematung dengan kepala menunduk sambil mendekap sang buah hati. Tidak ingin beradu menatap Teo yang tengah berdiri di samping tubuhnya.
Pak alam perlahan berjalan mendekat tanpa ingin membangunkan Bu Puji dan Bi Muji yang masih terlelap.
Teo menoleh kearah Pak Alam yang datang membawa wajah marah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Pak Alam pelan. Bergantian menatap Adel dan cucunya.
"Kamu sendirian, bukan?" Tanya Pak Alam lagi, seolah takut Teo membawa segerombolan orang yang sudah di pastikan Gavin atau mungkin anak buahnya.
Teo menjawab dengan gelengan kepala.
Pak Alam menghela napas lega sambil mengusap wajahnya kasar. Setelahnya menarik Tangan Teo untuk menyingkir dari tempatnya berdiri.
Teo tersentak ketika tubuhnya di tarik sampai kakinya sedikit membentur meja! Yang mana membuat Kedua wanita paruh baya yang tengah terlelap membuka mata.
Bi Muji dan Bu Puji saling tatap di sisa kesadaran mereka tanpa bisa beranjak bangun.
Den Teo, ada di sini? Apa aku tidak salah liat?
Bi Muji membatin takut mendapati Teo berhasil mengetahui keberadaan Adel. Sedangkan Bu Puji mulai beranjak bangun guna mengamankan Adel dan cucunya.
Teo pasrah ketika Pak Alam menarik dan memintanya untuk pergi. Tapi matanya tidak sedikit pun dapat berpaling dari wajah Adel.
"Cepat tinggalkan tempat ini!" Titah Pak Alam dengan nada tegas sambil berdiri di dekat Adel untuk menghalangi serangan yang tidak bisa di prediksi.
"Jangan bawa putriku!" Suara nyaring Bu Puji terdengar yang juga menghalangi Teo untuk membawa Adel. Itu yang di pikirkan Bu Puji dan Pak Alam.
Teo tersenyum datar melihat sikap kedua orang tua Adel yang mana membuat suami istri itu mengkerutkan kening dengan menatap Teo aneh.
"Saya tidak akan melakukan itu! Bapak dan Ibu tenang saja."
Mendengar itu. Adel sontak mendangah menatap Teo tidak percaya dengan linangan air mata.
Dan keduanya beradu pandangan.
Apa yang dia katakan? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa dia mengatakan tidak akan memberi tau mas gavin !
Batin Adel bergumam penuh tanya mendengar Teo memberi jawaban itu.
Setidaknya dengan ku kamu akan baik-baik saja! Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang keberdaanmu termasuk Gavin.
Teo menyungkingkan senyuman dan juga anggukan kepala, memberi isyarat untuk semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Percayalah, saya tidak akan memberi tau keberadaan Adel dan putrinya kepada siapapun." Teo melirik Adel dan melanjutkan kalimatnya. "Termasuk Gavin!"
__ADS_1
Ketiganya menghela napas lega dan dapat tersenyum. Sedangkan Adel diam membisu sambil menatap Teo sendu.
Ini memang terdengar tidak masuk akal. Keputusan untuk pergi dari kehidupan Gavin adalah keinginan Adel. Jangan tanya, 'kan kenapa sekarang dirinya seolah berharap Gavin datang menjemput. Di saat dirinya memilih pergi membawa perasaan sakit dan kekalahan hati atas ketidak adilan dari semua keluarga sang suami. Adel merasa kepergiannya adalah keputusan yang salah! itu yang di rasakan otaknya. Tapi batinnya seakan tidak setuju.
Satu fakta yang Adel rasakan selama 4 bulan terakhir adalah. Rasa cinta untuk laki-laki yang sudah memberinya seorang putri amat sangat besar. Dan sekarang Teo datang seorang diri dengan jaminan tidak akan memberi tau Gavin akan keberadaannya?
Dalam diam Adel menghela napas berat. Setelahnya menunduk menatap wajah sang putri. Sedikit menyungsingkan senyuman ketir dan Teo melihat itu.
"Bersabarlah sayang. Papamu pasti akan menemukan kita." Bisik Adel.
Aku memang pergi darimu Mas. Tapi semakin aku pergi semakin aku mencintimu. Temukan aku dan lihatlah putri kita. Aku percaya, kamu bisa menemukan aku. Aku akan menunggu mas,
.
.
Satu minggu berlalu.
Adel sudah kembali ke rumah Bi Muji dengan membawa putri cantiknya.
Selama kepulangan dari rumah sakit, Teo berperan bak seorang ayah dan suami. Mengurus dan membayar semua Administrasi selama Adel di rumah sakit. Selama satu minggu ini juga Teo selalu ada di dekat Adel dan juga putri Gavin yang mana Teo sudah melihat wajah cantiknya.
Adel meminta Teo untuk tidak perduli dan pergi dari hidupnya. Tapi waktu itu Teo menolak dan mengatakan. Kalau dirinya akan selalu ada di samping Adel sebagai seorang sahabat!
Sahabat! Itu benar. Adel membiarkan Teo membantu dirinya dengan catatan itu. Sahabat. Kalimat yang mampu membuat Teo ambruk di kamarnya setiap kali pulang dari rumah sakit.
Sekarang Teo melupakan semua orang yang ada di Jakarta pun sang calon istri.
Anandita masih belum mengetahui kebenaran itu. Teo dengan pintar bermain kata dan intrik agar Anandita bisa percaya. Bahkan ketika Anandita ingin datang ke Surabaya Teo melarang tegas. Alasan pekerjaan yang lagi-lagi menjadi tolak ukurnya. Dan anandita percaya itu.
Di kamar. Adel baru saja memberi Asi untuk putrinya. Setelahnya menidurkan si bayi ke ranjang yang di beli Teo. Ranjang Bayi mini itu nampak cantik dan nyaman. Membuat Putrinya terlelap nyenyak di sana.
Adel duduk di tepi ranjang mini itu. Menatap lekat bayinya dengan tatapan sendu dan menyedihkan. Sambil menahan rasa nyeri akibat operasi Cesar Adel menangis lirih di sana tanpa bisa berkata-kata. Terlalu sulit dan sesak ketika melihat keadaan yang sedang berlangsung.
Di sisi lain. Adel merindukan Gavin suami tampannya. Merindukan tawa canda dan kebaikannya. Bisa saja Adel memberi tau Gavin tentang keberadaannya saat ini. Tapi batinnya meminta untuk menunggu Gavin datang dengan sendirinya.
Orang yang seharusnya menjadi jembatan baginya dan Gavin untuk bertemu malah sibuk sendiri dengan mengubur nama semua orang yang ada di Jakarta. Mengingat itu Adel semakin terpukul. Apalagi ada dua orang yang tersakiti.
Mas Gavin maafkan aku. Karena aku tidak bisa mengatakan keberadaan kami. Anandita, Percayalah kalau saat ini aku masih mencintai Mas Gavin. Keberadaan Teo di sini tidak berarti apa-apa. Aku akan mengingat itu.
.
.
Teo sendiri baru saja turun dari dalam mobil. Ia bergegas berlari dan mengetuk pintu rumah Bi Muji.
Kebetulan pintu tidak di tutup jadi memudahkan Teo untuk masuk.
Pak Alam yang tengah bersantai di ruang tengah menoleh ketika suara pintu di ketuk.
"Masuk. Teo,"
Teo mengangguk dan masuk.
__ADS_1
"Apa kabar Om?" Teo menyalami Pak Alam.
Pak Alam dan isterinya tidak lagi merasakan marah atau merasa terancam akan keberadaan Teo. Karena janji pria tampan itu benar adanya.
"Duduklah." Titah Pak Alam.
Teo mengangguk dan duduk sambil membawa dua buah Paper Bag berukuran sedang.
Mata Pak Alam melirik dua Paper Bag itu dan Teo mengerti.
"Ini hadiah kecil untuk, Gina!"
Gina adalah nama putri Gavin dan Adel. Adel sendiri yang memberikan nama itu. Tapi nama itu terdengar kurang lengkap tanpa ada tital dari Nama keluarga Gavin. Adel enggan menyematkan nama Abrisam di akhir nama putrinya. Jadi nama Gina saja sudah cukup. Singkat dan indah.
Pak Alam mengangguk pelan. "Berhenti memberi cucu Om kemewahan Teo! Dia harus belajar hidup sederhana."
Teo mengerutkan kening. "Maksud Om apa?" Tanyanya penasaran.
Belum juga Pak Alam membuka mulut Kamar Adel terbuka.
Keduanya menoleh.
Adel menatap keduanya datar dan berjalan mendekat. Jujur. Teo merasa jantungnya berdetak cepat. Ini selalu terjadi bahkan ketika di rumah sakit, Adel masih tetap bersemi dalam hatinya walupun Teo menyangkal dan berusaha melupakan nama Adel itu sia-sia. Dan sekarang rasa itu semakin kuat.
"Pah, Bisa tinggalkan kami berdua?"
Pak Alam mengangguk patuh dan beranjak bangun. "Papa akan ke kemar. Gina tidak bolah di tinggal sendirian."
Adel mengangguk setuju.
Teo gugup dan suasana menjadi canggung.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Teo gugup.
Adel menjawab dengan anggukan datar.
Teo ikut mengangguk canggung dan menatap barang yang di bawanya.
"Ini hadiah kecil untuk Gina."
Adel menatap Paper Bag yang ada di atas meja. "Apa itu?" tanya Adel pelan. Tanpa ingin menyentuhnya.
Teo beralih menatap Paper Bag dengan terpaksa. Wajah pucat Adel sudah menghipnotis Teo dan juga kewarasannya.
Kamu selalu terlihat cantik. Bahkan wajah pucat itu tidak menghalangi kecantikanmu Adel.
"Aku tadi pergi Mall untuk membeli Jas. Dan tidak sengaja melewati toko perhiasan. Untuk Gina. Pakaikan nanti ketika dia siap di beri anting dan gelang." jelas Teo percaya diri.
Tapi Adel bukannya senang dirinya malah menggeleng pelan.
"Hadiah ini terlalu berlebihan untuk Gina. Aku tidak bisa menerima itu, Kamu sudah terlalu baik Teo. Aku benci ketika kamu melakukannya. Berhenti di sini dan pergi. Aku tidak ingin menyakiti Mas Gavin dan Anandita!"
Senyum Teo menghilang. Raut wajahnya pucat seketika. Manakala kalimat Adel terdengar.
__ADS_1
"Untuk seorang sahabat pun ini terlalu berlebihan. Aku-
"Bagimana kalau untuk seorang pria yang mencintimu Adelia!"