
Mata para model begitu intens menatap Anandita yang di seret seorang Daniel menuju catwalk.
"Tunggu dulu, Daniel." Anandita memberontak, Berusaha melepaskan genggaman tangan Daniel. Tapi Daniel acuh. Membiarkan Anandita melawan sesukanya.
Sudah aku katakan kalau kita akan bertemu kembali.
Batin Daniel bergumam senang membayangkan bagaimana beberapa hari yang lalu semua ini bisa terjadi.
Di dunia ini tidak ada yang kebetulan? Anandita tidak menyadari itu. Intrik Daniel begitu baik untuk bisa membuat Anandita berlenggak-lenggok di atas Catwalk.
Wajah Anandita gelisah manakala tubuhnya melewati tirai.
Daniel melirik Anandita sekilas sembari menganggukkan kepala. Anandita terpaksa mengangguk patuh.
Keduanya berjalan bersama. Merubah ekspresi wajah menjadi tegas. Menyoroti para tamu dengan pakaian yang di kenakan. Tak bisa menahan sorak-sorai ketika mata para tamu undangan melihat Daniel di sana. Si pria tampan yang amat ternama itu tengah melintasi mata mereka.
"Astaga, dia tampan sekali."
"Kenapa dia begitu tampan."
Seruan itu menghiasi langkah Keduanya. Anandita begitu fokus berjalan, yang sebenarnya hatinya ketakutan begitu parah. Takut-takut Teo akan kembali salah paham karena adanya Daniel di sana. Tapi kursi depan yang seharusnya Teo ada di sana nampak kosong. Kemana pria tampan yang satu itu?
Kak Teo ga ada? Ini bagus, setidaknya dia tidak melihat aku bersama Daniel. Tapi kemana Kak Teo?
Mata Anandita mulai tak fokus. Terus menerus melirik area kursi sang suami yang tak berpenghuni. Ada kebahagiaan ketika Teo tak terlihat. Tapi rasa penasaran menggelayut datang.
Melihat Anandita tak fokus, di lihat dari cara berjalannya membuat Daniel melirik sang dara. Begitu peka sampai Daniel menarik tangan Anandita untuk berjalan bersama.
Anandita tersadar ketika tangannya di genggam Daniel. Akan tetapi wajah Daniel begitu sangar membuat Anandita ketakutan. Dirinya bergegas sadar. Kembali berjalan seperti semestinya.
.
.
Daniel menyeret tubuh Anandita setelah selesai berlenggak-lenggok di Catwalk. Membawanya ke depan gedung acara tanpa memikirkan tatapan orang-orang dan riuhnya para kaum hawa.
"Daniel, lepas. Daniel?" Kembali memberontak tak suka. Berusaha menyingkirkan tangan Daniel yang melingkar kuat.
Sesekali Anandita melirik ke semua arah. Melihat apa Teo ada di sana. Kalau sampai Teo melihat tamat sudah riwayatnya.
"Daniel, Aku bilang lepas."
Di taman tepatnya, yang terhubung dengan gedung acara Daniel dan Anandita berada. Daniel melepaskan genggaman tangannya dan menundukkan Anandita di bangku taman.
Anandita bergegas berdiri, tapi Daniel mencegah dengan menahan pundak Anandita menggunakan satu tangannya.
"Bodoh, gadis bodoh." Seru Daniel seakan sudah akrab dengan si gadis yang menatapnya tak suka.
"Siapa kamu, huh? Berani mengkataiku bodoh!" Timpal Anandita marah. Gerak cepat menyingkirkan tangan Daniel.
Daniel malah tertawa kecil melihat wajah cemberut Anandita. Membuatnya ingin mencubit pipinya gemas.
"Memang kamu bodoh! Apa kamu tidak ingat? Tadi kamu hampir saja membuat acara besar itu berantakan! Tindakan bodoh, bukan?" Menghina dengan tawa renyah.
"Untuk seorang model profesional, seharusnya kamu bisa mengesampingkan suamimu itu, Aku juga tidak tau kenapa bisa di pasangkan dengan mu." Ungkapnya, menasehati sekaligus berbohong.
"Aku bukan model profesional." Ucap Anandita lirih.
"Seharusnya kamu bisa memanfaatkan situasi. Menarik para perancang dan beberapa brand, bukan malah sibuk mengurusi perasaanmu."
Kembali Daniel berceloteh marah. Dirinya memang bukan siapa-siapa Anandita, tapi ketika pertama bertemu dan juga keinginan sang dara membuat Daniel ingin membantu.
Akun Instagram milik Anandita adalah kunci Daniel bisa berada di sini pun Anandita. Setiap kata yang di tulis Anandita di postingannya menyentuh hati Daniel. Yang memang memiliki perasaan lain kepada Anandita.
Kejadian di butik itu adalah awal mula jantungnya kembali berdetak kencang. Perasaan ingin memiliki dan mengejar Anandita lebih kuat. Tapi keinginan itu seakan terhalang ketika tau Anandita sudah Menikah.
Bisa dikatakan aku terlambat.
__ADS_1
Anandita diam saja. Seakan perkataan Daniel ada benarnya. Dirinya begitu takut membuat Teo salah paham sampai melupakan di mana dirinya saat ini. Tapi semua akan berjalan baik kalau Daniel tidak datang dan membuat dirinya ketakutan seorang diri.
Untung saja tadi Kak Teo tidak ada.
Batinnya kembali merasa lega jika mengingat itu, sekaligus bingung kemana sang suami yang saat ini bahkan tidak menyadari kalau dirinya ada di luar gedung acara.
Sepertinya Anandita sudah mulai tenang, Daniel memberanikan diri untuk duduk di samping Anandita yang masih diam melamun.
Sadar akan hal itu, Anandita menggeser tubuhnya, sedikit melirik Daniel yang ada di samping.
"Aku tidak akan bisa menjadi model profesional dan tidak mau!" Ucap Anandita lirih. Sedikit menarik tangan untuk melindungi tubuh yang kedinginan.
Daniel peka. Dengan jantan membuka kemeja bercorak bunga itu lalu mengalungkannya ke tubuh Anandita.
"Tidak-
"Kamu kedinginan." Menghalau tangan Anandita yang akan menyingkirkan jas itu dari tubuhnya.
"Siapa kamu? kenapa kamu terus menerus meneror ku."
Daniel terkekeh geli mendengar kalimat yang di katakan Anandita. Dirinya tertawa. "Hahah..Itu benar!"
"Tuh kan? benar?" Menuntut Daniel dengan lirikan mata tajam.
"Pertama kali melihat mu, aku langsung jatuh cinta?" Ungkap Daniel tegas. Menatap Anandita lekat yang nampak lebih cantik karena tersorot lampu taman.
Jantung Anandita berdebar sesaat. Melihat bagaimana Daniel begitu tulus mengatakan itu.
Anandita memalingkan wajah karena tak kuasa menahan rasa malu karenanya.
"Seandainya kamu tidak mencintai suamimu, aku rela membawamu pergi sekarang dan tinggal dimana pun kamu mau?" Kembali mengungkapkan kata-kata yang tidak pernah terlintas di benak Anandita.
Pria di depan matanya terbuat dari apa? Kenapa begitu hebat berterus terang. Wanita yang mendengarnya pasti akan jatuh pingsan karena terlalu bahagia. Tapi Anandita hanya diam mendengarkan tanpa ingin menyela.
"Aku rela bersaing dengan suamimu itu untuk mendapatkan mu?" Kali ini wajah Daniel nampak serius dan tegas.
.
.
Tadi dirinya harus segera ke kamar mandi untuk urusan yang tidak bisa di tunda. Bertanya apakah wanita cantik bernama Anandita sudah selesai tampil atau masih bersiap-siap.
Teo memberanikan diri ke bagian belakang gedung dimana para model berada. Mencari-cari sang istri yang tak terlihat. Panitia di sana mengatakan, Anandita sudah selesai dan pergi bersama Daniel si model ternama ke luar gedung. Di dukung riuhnya para model yang berlalu-lalang membicarakan Daniel membawa model cantik ke bagian taman, itu pasti Anandita.
" Sial." Teo bergumam marah. Berlari kerah taman yang di maksud. Ingin segera melayangkan pukulan kearah wajah tampan Daniel. Tak apa jika harus di tuntut karena sudah merusak karir seseorang. Demi Anandita isterinya Teo akan melawan itu.
Uangku banyak, aku siap kalau harus menghajar wajahnya.
Berlari tepatnya, Teo mencari keberadaan Anandita dan Daniel. Taman yang terang seharusnya memudahkan dirinya melihat keduanya. Tapi sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda keberadaan sang istri dan si pria menyebalkan itu.
Mata tajam yang sedikit menyempit begitu lekat memindai setiap inci taman. Mencari keberadaan istrinya.
"Di mana mereka-
Dua sosok yang di cari nampak terlihat. Keduanya duduk di bangku taman yang lokasinya sulit untuk di lihat. Gigi Teo menggertak marah, berjalan pelan dengan wajah amat menyeramkan. Tangannya jelas mengepal karena terlalu marah. Level kemarahan benar-benar memuncak tak bisa lagi di kuasai.
.
.
Kepala Anandita menggeleng cepat. " Apa kamu tidak waras?"
Daniel mantap mengangguk. "Karena mu aku jadi begini."
"Tidak waras." Kata Anandita seolah mengejek Daniel.
Tapi Daniel kembali mengangguk. "Aku memang sudah tidak waras karena kamu, Anandita."
__ADS_1
Mendadak Anandita menjadi serius. Harus segera mengakhiri perasaan Daniel terhadapnya.
"Aku merasa suamimu harus kembali berusaha untuk bisa mendapatkan kamu lagi." Ucap Daniel penuh penekanan. Membuat Anandita melayangkan satu tamparan.
Di saat itu Teo berhenti berjalan. Posisinya begitu strategis untuk menangkap basah keduanya. Tapi ketika suara tamparan menggema membuat Teo terdiam.
Daniel mengusap pipinya yang terasa panas. Melirik Anandita tak percaya. Wanita pertama yang berani memberinya tamparan. Daniel menyunggingkan senyuman datar.
Anandita sendiri masih diam. Napasnya tersengal hebat karena sudah menampar pipi Daniel si model ternama.
"Semoga kamu selalu mengingat itu, tamparan itu seharusnya membuat kamu sadar kalau kamu tidak boleh merebut hak seseorang," Menatap lagi Daniel makin dalam, yang juga menatapnya lembut walaupun dirinya sudah memberikan rasa panas dan rasa malu.
"Asal kamu tau Daniel. Di sini bukan suamiku yang harus berjuang! Aku. Aku yang harus berjuang untuk mendapatkan cintanya. Aku bahkan menentang Kakak dan Kakek ku untuk bisa menjadi istrinya. Dan sekarang kamu datang dengan tiba-tiba, mengatakan kalau suamiku harus kembali berusaha mendapatkan aku," Kepala Anandita menggeleng pelan berteman derai air mata.
"Kamu salah, kalau kamu melakukan itu aku bukan hanya akan di benci Kak Teo. Tapi aku juga tidak akan pernah ingin melihat dunia ini lagi, bagiku Kak Teo adalah segalanya. Aku rela menunggu untuknya menatapku sebagai seorang istri, aku rela dia memaki dan menolak diriku. Dan, dan aku menerima ketika dia mengatakan jijik melihat wajah ku. Bagaimana Daniel? apa kamu masih ingin menghancurkan impianku sedari aku masih kecil. Impianku bukan menjadi model profesional atau wanita karir, aku hanya ingin menjadi istrinya dan hidup bahagia bersama. Hiks...hiks...Aku mohon jangan lakukan itu, jangan pisahkan aku dengan suamiku. Aku begitu mencintainya. hiks...hiks..."
Tangis Anandita tumpah seketika membuat Daniel terpaku tanpa bisa berkata. Menatap Anandita iba dan penuh sesal. Bagaimana bisa gadis cantik sepertinya bisa mencintai seseorang sebegitu dalam.
Begitu beruntung suamimu Anandita. Batin Daniel berceloteh masih tak terima.
Tak jauh dari mereka, Teo yang ada di sana tepatnya di belakang keduanya mendadak lemas, kakinya tak dapat menopang bobot tubuhnya. Apa yang di ungkapkan Anandita benar-benar tulus dan penuh cinta. Seketika Teo tersadar dan semakin kuat rasa cintanya kepada Anandita, istri yang pernah dirinya abaikan begitu tega.
"Bagaimana bisa kamu begitu dalam mencintai aku Dita," Gumam Teo, Sedikit menggelengkan kepala merasa tak percaya.
"Hiks...hiks..." .
Daniel terpaku menatap Anandita yang masih asik menangis. makeup menjadi luntur karenanya.
"Hey, kamu seperti monster." Meledek Anandita sembari menyibak rambutnya.
"Baik-baik, aku menyerah sebelum berjuang, Lagipula aku tadi berbohong. Kalau di pikir-pikir kamu bukan tipe ideal ku, mataku menjadi sakit melihatmu tau."
Daniel tersenyum getir ketika mengatakan itu.
Kalau kamu tidak mengatakan itu mungkin aku akan benar-benar merebut mu dari suamimu.
Anandita mulai berhenti menangis. Kepalanya perlahan mendongak menatap Daniel dengan wajah menyedihkan. eyeliner hitam yang tadi tegak berdiri kini lepek di terjang derasnya air mata.
"Jadi kamu tidak akan melakukan itu?" Tanya Anandita begitu lugu.
Belum juga Daniel menjawab Teo datang. Menarik tangan Anandita begitu cepat.
"Kak?" Seru Anandita ketakutan. Melihat Teo begitu menyeramkan.
Daniel juga merasakan hal yang sama. Sedikit terkejut ketika Teo tiba-tiba datang dan membuat suasana menjadi lebih tegang. Tapi Daniel berusaha tenang.
"Kakak, ini ga seperti apa yang kakak liat." Ucap Anandita menjelaskan.
Teo mengangguk lalu menarik Anandita untuk meninggalkan tempat itu beserta Daniel tanpa sepatah kata.
Daniel menatap kepergian Anandita dengan wajah sendu. Tamparan yang di berikan begitu membekas di ingatan.
"Begitu besar kamu mencintai dirinya."
.
.
"Kak, Dita mohon jangan marah. Apa yang kakak liat tadi ga seperti-
Teo berbalik, segera membungkam bibir bergetar Anandita dengan bibirnya.
"Jangan katakan lagi, aku tidak ingin mendengar apapun." Kembali mengecup bibir Anandita penuh kelembutan.
.
.
__ADS_1
Satu eps lagi tamat ya.