
Waktu berjalan begitu cepat. Sudah dua bulan lamanya Noah dan Anandita di tinggal Kakek Hendri untuk selamanya.
Keadaan dua bulan terakhir yang di penuhi kekosongan dan kesedihan kini berangsur membaik. Luka dan rasa kehilangan mulai memudar dengan berjalannya waktu.
Anandita sudah mulai membuka diri. Satu Minggu yang lalu ia keluar kamar dan itu yang pertama baginya semenjak Kakek Hendri meninggal.
Jangan tanyakan bagaimana hubungan mereka selama dua bulan terakhir. Karena sampai saat ini Teo masih belum bisa membuka hati untuk Anandita. Berusaha berjuang untuk membuka hati dan mengisi nama Anandita di sana. Tapi daya tarik dari Adel masih belum ada tandingan. Teo dengan sadar membiarkan itu terjadi. Sungguh, melihat Anandita keluar dari masa-masa terpukul atas kepergian Kakek Hendri adalah hal yang membahagiakan.
.
.
Pagi yang sama datang kembali.
Di ruang makan kini ramai, formasi lengkap. Anandita kini mau sarapan bersama menemani sang suami dan Noah yang akan berangkat bekerja.
Sarapan selesai. Anandita mengantarkan Teo sampai teras rumah. Noah sendiri sudah pergi 10 menit yang lalu. Ada meeting penting yang harus segera di hadiri.
Teo menerima tas hitam kerjanya yang sedari tadi di bawa Adel.
"Hati-hati pulangnya, Kak." Seutas senyum merekah di perlihatkan.
Teo menjawab dengan anggukan kepala.
"Pergilah ke luar. Selama ini kamu terlalu lama berdiam di rumah." Pesan Teo yang sudah masuk ke dalam mobil.
Anandita mengangguk. Menatap Teo yang masuk kedalam mobil. Tak ada kecupan di kening seperti Noah lakukan kepada Kasih ketika akan pergi bekerja.
Mengingat itu Anandita tersenyum getir. Berusaha tenang tidak ingin membuat Teo kembali berbalik dan bertanya.
Ingat Dita, butuh waktu. Dia meminta waktu untuk mencintai dirimu. Bersabarlah.
Teo menutup pintu mobil dan mobil mulai meninggalkan Anandita.
Padahal aku ingin kamu mengajak aku keluar kak.
.
.
Kasih yang baru saja menuruni tangga melirik Anandita.
"Dita." Panggil Kasih antusias.
Anandita menoleh ke arah Kasih. Yang masih menuruni tangga bersama Baby Ayres.
Anandita tersenyum ramah menyambut kedatangan Kasih dan Baby Ayres.
"Kakak senang kamu sudah mau keluar kamar." Ucap Kasih. Menatap Anandita sendu. Perasaan sedih masih dapat dirasakan.
Keduanya duduk bersama di ruang keluarga. Mengajak bermain Baby Ayres yang kini sudah bisa berdiri.
"Dita?" Tegur Kasih yang mana membuat Anandita menoleh disaat dirinya mengajak bercanda sang keponakan.
"Iya, kak," Sahut Anandita sebelum ia kembali mengajak Ayres bermain.
"Bagaimana, apa Kakakku sudah membuka hatinya?"
Seketika Anandita termenung bingung. Pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
Jangankan membuka hatinya. Menyentuh ku saja di tidak mau.
"Dita, rasa, Kakak Teo mulai membuka hatinya." Sahut Anandita bohong. Dirinya tidak mungkin mengatakan perlakuan Teo terhadapnya kepada Kasih yang juga Kakak iparnya.
Kasih tersenyum lega.
"Bersalah Dita, semua akan baik-baik saja." Mengelus pundak Anandita yang mana menatap Kasih tenang.
Semoga saja itu benar.
__ADS_1
.
.
Sementara itu di kantor. Teo nampak sibuk dengan semua berkas di meja. tumpukan demi tumpukan kertas menyibukkan otaknya. Menjadi pemilik perusahaan tidak serta merta membuat Teo bersantai. Ia ingin semua pekerjaan berjalan lancar sesuai jadwal dan hasil yang maksimal.
Tapi entah kenapa tiba-tiba wajah Teo menjadi lebih serius. Tangan sibuknya diam seketika. Tubuhnya bersandar cepat kebelakang kursi. Menatap langit-langit ruang kerja dengan wajah bengong. Seolah ada beban yang kini datang menyapa.
"Astaga, aku melupakan itu?"
Melupakan? Apa yang di maksudnya?
Bandung...
Tuan Rizal berbaring lemah di atas ranjang dengan masih menatap Teo. Putra sulungnya gugup.
Yang di tatap malah menunduk berat tanpa bisa bergerak atau sekedar bersuara.
"Bagaimana, Teo? Perusahan kita di Surabaya membutuhkan dirimu!" Ulang kembali Tuan Rizal. Matanya seolah memohon.
Sebuah kejutan di berikan Tuan Rizal kepada Teo. Perusahaan miliknya kini semakin berkembang baik. Perlu mengembangkan sayap perusahaan demi menambah pundi-pundi kekayaan. Maka dari itu, Tuan Rizal menambah jangkar perusahaan yang ke tiga banyaknya. Letaknya ada di Surabaya.
Proyek pembangunan begitu pesat di sana. Dan itu menjadi tambang emas bagi perusahaan milik Keluarga Tantala. yang memang bergerak di bidang pembangunan. Teo sendiri adalah seorang arsitek dan desain yang begitu di percaya oleh seluruh perusahaan besar. Termasuk keluarga Aditama dan Abrisam. Kedua perusahaan sahabatnya sendiri. Noah terutama Adik iparnya.
Teo menghela napas berat. Sebelum akhirnya ia bersuara.
"Beri Teo waktu Pa, Teo harus berpikir untuk menetap di sana? Aku dan Anandita harus mempersiapkan segalanya."
Tuan Rizal tersenyum datar.
"Berapa lama Teo? Perusahaan itu benar-benar membutuhkan dirimu. Papa bisa saja meminta orang-orang kita mengurusnya. Hanya saja Papa lebih percaya kamu yang mengurus dan memegang perusahaan itu."
Ketangguhan dan kepintaran Teo dalam menjalankan perusahaan membuat sang ayah amat bergantung padanya. Apalagi ini, anak perusahaan yang baru saja menetas. Butuh induk yang tepat untuk mengurusnya. Dan itu adalah Teo. memang kepada siapa lagi Tuan Rizal harus bergantung selain padanya.
"Ini sudah dua bulan dan aku masih belum memberi jawaban?" Gumam Teo penuh kebingungan, jika mengingat permintaan sang ayah dua bulan lalu ketika ia datang berkunjung untuk melihat kondisi ayahnya itu.
Selain itu, apa Anandita mau ikut aku pindah ke Surabaya? Kota dimana Adel bersembunyi! Mengingat dirinya, membuat aku tidak bisa berpikir.
"Lebih baik aku meminta saran Noah,"
Ponsel di sambarannya. Mengotak-atik tombol layar. Sampai suara Noah menggema sopan.
"Iya, Teo." Sahut Noah diseberang sana.
"Aku ingin meminta saran?"
"Apa?" Tanya Noah antusias.
"Dua bulan lalu. Papa meminta aku-
Teo memberi tahu tentang ke inginkan sang ayah kepada Noah. Noah mendengarkan dengan baik tanpa ingin menyela.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Teo di penghujung penjelasan.
"Menurutku, itu keputusan yang baik, Apa yang memberatkan kamu menjawab iya. Papa tau kemampuan mu, Teo."
Sebagai seorang pengusaha, seharusnya Teo tidak bimbang atau merasa berat untuk melaksanakan tugasnya itu. Noah merasa bingung ketika Teo memintanya saran yang jelas adalah hal yang biasa.
Teo termenung sambil menatap kosong seisi ruang kerjanya.
Apa aku harus meninggalkan Jakarta dan pindah ke Surabaya membawa Anandita?
"Teo?" Noah sibuk memanggil nama sang Kakak ipar yang hanya diam bak patung.
"Teo?" Sekali Lagi Noah bersuara memekik nyata. Membuat Teo terperanjat kaget.
"Iya..."
"Nanti malam beri tau Anandita. Dan katakan semuanya." Saran Noah di ujung percakapan.
__ADS_1
Teo kembali bersandar. Menarik napas untuk yang kesekian kalinya.
"Baiklah, aku akan memberi tahu Anandita."
.
.
Malam harinya selepas makan malam. Teo mengajak Noah dan Kasih termasuk Anandita untuk membicarakan rencana kepindahan ke Surabaya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Kasih penasaran. Sedangkan Anandita diam menyaksikan.
"Kakak akan pindah ke Surabaya bersama Anandita!"
Sontak kedua wanita cantik itu terkejut bukan main. Terlebih Anandita. Wajahnya terlihat kebingungan mendengar perkataan yang baru saja di lontarkan Teo. Sedangkan Noah tidak memberi respon terkejut.
"Papa meminta Teo untuk mengurus perusahaan di sana, Sayang." Terang Noah. untuk membantu Teo memberi penjelasan.
"Tapi Papa, ga bilang apa-apa tentang ini." Seru Kasih bingung. Satu Minggu yang lalu dirinya bertemu sang ayah tapi tidak memberi tahu tentang kabar itu.
"Sudahlah sayang itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah Anandita!" Noah melirik Anandita yang masih diam membisu.
"Dita? Apa kamu mau ikut aku pindah ke Surabaya?" Tanya Teo. Ikut menatap sang istri dengan wajah datar.
Anandita melirik Noah dan Kasih dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi, kalau Dita ikut. Dita akan jauh dari kalian?" Ucapnya penuh kesedihan.
Kasih pun merasakan hal yang sama. Setelah Kakek Hendri pergi sekarang Anandita dan Teo akan meninggalkan dirinya bersama Noah dan Ayres bertiga saja di rumah besar itu.
Jujur, Noah merasakan kesedihan sama seperti istrinya dan Anandita. Tapi dirinya berusaha kuat.
"Dita, jangan khawatirkan kami. Kamu bisa mengunjungi kami di sini. Kakak juga akan ke Surabaya untuk menemui mu." Kata Noah lirih.
"Kamu mau kan?" Sekali lagi Teo bertanya.
"Kamu harus ikut Kak Teo, Dita. Bagaimanapun dia suami kamu sekarang." Seru Noah untuk mengingatkan Anandita.
Ragu-ragu Anandita mengangguk patuh dengan linangan air mata.
Kasih menggeser tubuhnya dan Memeluk Anandita penuh rasa sedih.
"Sekarang, kita akan berjauhan, Dita." Ucap Kasih dengan tangisnya.
"Dita akan merindukan kalian." Sahut Dita tak kalah sedih.
Kedua wanita itu saling rangkul dengan terus menangis sebagai tanda perpisahan. Sedangkan Teo dan Noah diam membiarkan.
.
.
Satu Minggu berlalu.
Anandita melambaikan tangan ke arah keluarga yang senantiasa mengiringi kepergian dirinya dan Teo di Bandara. Tangis darinya tidak dapat di bendung. Teo dengan sadar merangkul Anandita sampai mereka masuk kedalam pesawat.
Kasih menangis dalam dekapan Noah yang juga menitikkan air mata kesedihan. Seharusnya Noah mengantarkan Anandita ke Surabaya, tapi Baby Ayres tengah sakit pun Kasih.
Setelah mendengar kabar itu, Kasih menjadi murung dan berdampak pada kesehatannya. Mungkin nanti akan berkunjung ke Surabaya untuk melihat keadaan Pasangan suami istri itu.
Pesawat mengudara meninggalkan Jakarta dengan bayang-bayang kesedihan.
Anandita masih menangis dalam pelukan Teo yang mana menampakan wajah datar.
"Dita, sudahlah." Pinta Teo singkat. Tapi masih membiarkan Anandita menempel padanya.
"Hiks...hiks..."Tangis Anandita masih berlanjut hingga ia terlelap dengan masih di peluk Teo.
Teo perlahan mengangkat tubuh Anandita untuk menjauh darinya. Rasa risih kembali datang. Tidak suka ketika Anandita bermanja padanya.
__ADS_1
Maaf Dita, tapi aku merasa tidak nyaman.
Anandita meringsek di kursinya dengan kepala merosot. Untung saja ia terlelap. Jadi tidak akan merasakan sakit hati atau membenci Teo suami bayangannya.