
Anandita yang sudah cantik dan anggun baru saja keluar dari dalam mobil miliknya dengan sangat semangat. Wajahnya berseri manis tidak sabar ingin segera memberi kecupan mesra untuk sang calon suami.
Sebelumnya di rumah. Kakek Hendri dan Kedua kakaknya mempertanyakan kepergian dirinya dengan penampilan bak wanita yang siap pergi ke pesta.
Tapi Anandita dengan mantap mengatakan.
"Teman Dita mengadakan pesta."
Kalimat singkat itu mampu membuat sang keluarga mengangguk percaya. Hingga dirinya dapat mengelabui semua kecurigaan. termasuk Noah pastinya.
Tanggal pernikahan yang sudah di depan mata tidak membuat Anandita mendengar wejangan atau larangan. Larangan di mana kedua calon pengantin tidak boleh bertemu. Tapi bagi gadis berambut panjang larangan itu tidak penting!
Kehidupan modern adalah kiblatnya. Semua larangan itu tidak berlaku bagi dirinya dan Teo. Terbukti keduanya sering bertemu. Rasa cinta mampu mengalahkan semuanya. Apalagi Anandita sudah satu Minggu tidak bertemu Teo. Sudah di pastikan gairah cintanya semakin memuncak ganas.
Singkatnya Anandita sudah keluar dari Lift. Kakinya terus berjalan anggun menuju Apartemen Teo.
"Awas Saja. " Telak Anandita yang sudah yakin ingin mengejutkan Teo.
Akan tetapi terbukanya pintu sang calon suami membuat senyuman manis itu menghilang. Berganti dengan wajah penuh tanya.
"Kok, terbuka?" Tanpa pikir panjang Anandita langsung berlari masuk.
"Kak, Kak Teo?" Teriak Anandita panik.
Pemandangan yang mengerikan menyambut kedatangannya. "Ahhhhh..!!" Suara teriakan Anandita menggema membuat Teo menoleh.
"Dita!" Panggil Teo dengan tangan terangkat meminta Anandita mendekat.
"Apa yang terjadi? Kak Gavin?"
Anandita berlari mendekati Keduanya.
Gavin sudah tidak sadarkan diri di atas pangkuan Teo, yang masih menggenggam ponselnya seperti baru saja menghubungi seseorang.
Anandita mendekat dengan takut. Matanya bergantian melirik keduanya.
Lebam. Apa mereka habis berkelahi? Tapi, tapi kenapa?
"Apa yang terjadi Kak? Kenapa wajah kalian? Dan, kenapa Kak Gavin?" Tanya Anandita panik sambil mengusap wajah Teo Dan juga Gavin.
Teo meringis jelas dan menyingkirkan tangan Anandita.
"Ini ulah Gavin." Ucap Teo sambil menahan rasa perih.
Anandita terdiam dan mengalihkan perhatian kepada Gavin yang masih belum sadar.
"Kak Gavin pingsan! dan sepertinya ini itu juga karena Kakak?"
Teo mengangguk pasrah. "Dia yang sudah menyerang ku terlebih dahulu."
"Iya, tapi kenapa?" Tanya Anandita lagi.
Teo terdiam sejenak.
Ini bukan waktu yang tepat. Pikir hati Teo.
"Akan aku ceritakan, tapi sekarang bantu Aku membawa Gavin ke rumah sakit. Ambulance sialan itu tidak kunjung datang." Ucapnya marah. Jelas Ambulance tidak akan cepat datang karena dirinya baru saja menghubungi pihak rumah sakit.
Tak ingin membuat Gavin mati. Teo dan Anandita sekuat tenaga membawa Gavin keluar Apartemen.
Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka berkelahi? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Adel?
.
.
Gavin di bawa ke rumah sakit dengan di bantu Staf Apartemen. Anandita sendiri begitu sigap menghubungi anggota keluarga Abrisam, memberi tahu tentang kabar Gavin yang tidak sadarkan diri. Sedangkan Teo termenung sambil menahan tubuh Gavin.
Bagaimana cara agar semua orang bisa menerima penjelasan ku nanti? Terutama dirinya.
Yang di maksud batin Teo adalah Anandita. Wanita yang tengah sibuk menghubungi keluarga Abrisam dan keluarga Aditama.
"Sudah Kak. Mereka akan menyusul ke rumah sakit." Anandita memberi kekuatan. Menarik tangan dingin Teo dan menggenggamnya erat.
"Dita akan selalu ada buat, Kakak."
__ADS_1
Teo terdiam. Menatap lekat wanita yang amat sangat mencintainya itu. Keduanya beradu pandangan.
"Terimakasih."
Apa setelah ini kamu masih mencintai ku, Dita?
.
.
Rumah sakit yang sama menjadi tujuan mereka. Gavin segera mendapatkan penanganan serius.
Di Ruang UGD keduanya berada.
Di dekat Gavin, Teo juga ikut berbaring untuk mengobati lebam di wajah. Bersama Anandita Teo bisa tenang.
Suara rintihan kesakitan Teo keluarkan. Menahan perih dan nyeri di sana. Sesekali matanya melirik Gavin yang masih mendapatkan pengobatan intensif.
"Apa yang terjadi Teo,? Kenapa kamu dan Gavin berkelahi?" Tanya Dokter Bagas yang tengah mengobati wajah Teo.
"Apa dia akan mati? Aku sudah memukul kepalanya!" Teo bersuara pelan penuh sesal.
Dokter Bagas menjawab santai. "Dia akan baik-baik saja. Pukulan mu terlalu kuat, Teo." Ledeknya cekikikan sambil melirik Gavin.
"Dia tidak akan mati hanya karena sebuah pukulan." Dokter Bagas menggelengkan kepala merasa lucu dengan tingkah kedua sahabat itu.
Teo dan Anandita dapat menghela napas lega dan pengobatan terus di lakukan.
.
.
Di luar pintu UGD. Sekelompok orang baru saja tiba membawa wajah pucat. Mereka masuk kedalam dan menatap dua orang tersayang mereka tengah berbaring berdekatan bersama Dokter Bagas.
"Gavin!" Suara itu terdengar kaget. Membuat Teo Anandita dan Dokter Bagas menoleh.
Nyonya Tari berlari mendekati ranjang di mana Gavin terbaring di ikut keluarga yang lain. Pun dengan Noah, Kasih dan Kakek Hendri yang juga ikut menghampiri Teo.
Tubuh keduanya di raba penuh tanya dan ketakutan dari Keluarga masing-masing.
Teo mengerang sakit sekaligus takut ketika isakan dari keluarga Gavin terdengar jelas dari Nyonya Tari dan Nenek Dayanti.
Dokter Bagas yang sudah selesai dengan Teo menghampiri Keluarga Abrisam.
"Gavin Baik-baik saja. Tuan Dan Nyonya jangan khawatir."
Keluarga menatap Dokter muda itu pucat.
"Apa yang sebenarnya terjadi Dokter? Kenapa Gavin seperti ini?" Lagi Nyonya Tari bertanya.
Sebelum memberi jawaban. Dokter Bagas melirik Teo sejenak yang di kelilingi keluarganya.
Bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka. Keadaan pasti akan semakin sulit.
Dokter Bagas memasang senyuman, menunjukkan bahwa dirinya sudah membuat keputusan.
"Lebih baik, kita tunggu sampai Gavin sadar."
Dan sampai malam datang Gavin masih belum sadar. Semua keluarga menunggu di ruang inap. Ruangan yang sama ketika Dirinya di rawat beberapa bulan yang lalu.
Teo dan Anandita masih setia di sana bersama keluarga Abrisam. Sedangkan Noah, Kasih dan Kakek Hendri memilih pulang karena keberadaan mereka tidak akan berpengaruh apa-apa. Di tambah Baby Ayres tidak bisa terus berlama-lama di rumah sakit.
Teo memasang wajah murung dan gelisah. Ia menatap lekat tangan Anandita yang melingkar di tangannya. Sedikit senyuman datar terlihat.
Kamu gadis yang baik. Tidak seharusnya aku menyakitimu.
Tanpa sadar Teo terus menatap Anandita yang mana terlihat lebih cantik di mana Teo.
Anandita sendiri mengerutkan kening ketika Teo menatapnya tanpa berkedip.
"Kak?" Panggilnya.
"Ah.." Teo terkejut malu. Dan memilih bersandar manja di pundak Anandita.
Nenek Dayanti yang ada di dekat mereka bersuara. "Teo, Dita. Lebih baik kalian pulang saja. Kamu juga perlu istirahat. Biar Gavin kami yang menjaga."
__ADS_1
Kepala Teo menggeleng cepat. "Tidak Nek, Teo akan menunggu sampai Gavin sadar."
"Sampai kapan? Apapun yang terjadi biarlah terjadi. Nenek tidak ingin kamu dan Gavin sakit. Jadi pulanglah." Bujuk Nenek Dayanti. Berlakon bak Nenek Teo yang menghawatirkan cucunya sendiri.
"Apa yang di katakan Nenek benar Kak, kamu juga harus istirahat. Besok kita kesini lagi." Sela Anandita guna meyakinkan Teo.
Teo merenung sejenak. Sampai akhirnya kepala itu mengangguk pasrah.
.
.
Keesokan paginya. Teo datang lagi bersama Anandita dan Noah. pukul 9 pagi mereka tiba di rumah sakit.
Di ruangan itu nampak semua keluarga berkumpul. Menunggu Gavin membuka mata. Entahlah kenapa dirinya masih belum juga sadar. Padahal tidak ada hal yang harus di khawatirkan.
Hasil hasil city scan memperlihatkan bahwa tidak ada kerusakan di tubuh Gavin. Mungkin karena obat penenang dan rasa lelah membuatnya enggan membuka mata.
Teo bergabung bersama keluarga Gavin yang masih memperlihatkan wajah tegang. Bersama Dokter Bagas mereka berbincang dan menanti sebuah keajaiban.
Di sisi lain, Teo tengah melamun akan satu hal.
Hari ini seharusnya kamu datang Gavin! Putrimu pasti Merindukan dirimu.
Teo menghela napas panjang membayangkan seharusnya sekarang Gavin datang ke acara Aqiqahan Gina.
.
.
Acara aqiqahan Gina berlangsung lancar dan hikmat. Ibu-ibu pengajian yang ada di sekitar rumah Bi Muji di undang Adel guna memberikan doa untuk Gina. Si bayi cantik yang tengah terlelap. Seakan menikmati lantunan ayat suci Al-Quran dan indahnya sholawat.
Dalam kemeriahan acara. Adel menitipkan air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan.
Bahagia karena acara berlangsung lancar. Kesedihan karena rumah tangganya hancur tak terarah. Sebuah keputusan yang besar di ambil Adel setelah berkonsultasi dengan guru agama. Tempat dirinya mengaji bersama ibu-ibu yang di undangnya.
bismillah ya Allah, berilah keyakinan dalam hati hamba untuk menempuh jalan ini. Jalan di mana hamba ingin menyerah dengan rumah tangga ini, berilah kekuatan untuk hamba agar bisa membesarkan Gina tanpa bantuan mas Gavin.
tak terasa air mata keluar begitu saja. Tidak ada yang melihat bahwa itu adalah air mata kesedihan, mereka melihat itu adalah air mata kebahagiaan, hanya orang tua dan Bi Muji yang mengetahui air mata itu.
Adel mengecup kening Gina penuh cinta seolah mengatakan bahwa dirinya dan Sang Putri harus kuat, menghadapi kenyataan hidup yang akan mereka songsong di masa depan.
Mas Davin, awalnya aku ingin sekali mempertahankan rumah tangga kita, tapi sepertinya. Aku salah? Aku tidak bisa selalu berharap kepadamu, aku akan merelakan kamu bersama Maya. aku bukan lemah Mas, atau aku mengalah. Tapi terlalu lelah bagiku untuk selalu menantimu menanti kedatanganmu menjemput aku dan Gina.
.
.
Kesunyian menerjang ruangan inap mewah itu. Tidak ada yang berbincang seperti sebelumnya, mereka hanya diam sambil menatap Gavin. Sampai akhirnya tangan Gavin perlahan bergerak dan itu luput dari perhatian semua orang.
Gavin menggerakkan tangan perlahan-lahan seolah raganya datang melakui tangan. Di susul kelopak mata terbuka, yang mana membuat semua orang terperanjat kaget sekaligus senang.
"Gavin..Gavin. Kamu sudah sadar?"
Pertanyaan mereka berulang sama.
Suasana sunyi kini berganti gaduh. tsuara isakan dan tawa bahagia bergemuruh menjadi satu.
Sedangkan Gavin masih berusaha untuk sadar dengan rasa sakit di sekujur tubuh dan kepala.
"Aku di mana?" Tanya Gavin susah payah.
Dokter Bagas menjawab di saat ia sibuk memeriksa tubuh Gavin.
"Kamu ada di rumah sakit? Lihatlah, mereka semua mengkhawatirkan dirimu."
Gavin mengangguk samar.
"Adel, Di mana dia? Apa Lengkeng itu sudah sampai padanya?"
Semua mendadak terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Jadi, kamu sudah benar-benar sadar? Tidak hilang ingatan lagi?" Teo bertanya dengan wajah pucat.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak ingin mendengar ocehan tidak penting. Panggilan Adel, aku ingin melihat wajahnya?"
__ADS_1
Semua menelan ludah kasar. Dan saling tatap yang mana membuat Gavin terdiam heran.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"