Bintang Untuk Pelangi

Bintang Untuk Pelangi
Episode 12


__ADS_3

Setelah asik mengobrol dan bersantai, Bintang permisi untuk pulang. Bintang pun pulang dengan berjalan ke simpang, Pelangi yang di minta untuk masuk dan menunggu telepon dari Bintang pun akhirnya menuruti semua perkataan Bintang dan menunggunya di dalam rumah.


Pelangi menunggu Bintang sambil beberes dan bebersih rumahnya. Setelahnya Pelangi merebahkan diri sambil menunggu telepon dari Bintang.


"Ddddrrrttt....dddrrrttt.." Ponsel Pelangi bergetar.


Dengan cepat Pelangi langsung melihat layar handphonenya, ada panggilan dari nomor baru disana. Dengan senang dan merasa itu adalah Bintang Pelangi langsung mengangkatnya.


"Hai.." Ucap Suara seorang lelaki.


Pelangi tersenyum karena mengenali suara berat tersebut.


"Hai.." Jawab Pelangi sembari tersenyum tipis.


"Aku sudah sampai di rumah, kamu sedang apa??" tanya lelaki itu.


Ya benar, dia adalah Bintang, seseorang yang sedang di tunggu Pelangi.

__ADS_1


"Sedang tiduran di kasur, kamu sudah bebersih belum??" tanya Pelangi.


"Sudah dong, aku ingin menemani kamu sampai kamu tertidur karena itu aku bebersih dulu sebelum menghubungi kamu, Pelangi" Jawab Bintang.


"Bagus deh kalau begitu." Ucap Pelangi.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka, yang semakin lama malah semakin dalam untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.


Bintang maupun Pelangi bukanlah seseorang yang bisa berteman dengan banyak orang. Mereka juga bukan orang yang senang bercerita, namun seperti tersihir antara satu dengan yang lain. Mereka bisa dengan mudahnya saling bercerita, bercanda dan tertawa bersama.


Sampai di ujung pembicaraan mereka, Pelangi meminta Bintang untuk menyanyikannya satu buah lagu. Bintang pun mengambil gitarnya dan memainkan sebuah lagu untuk Pelangi.


Bintang mendengar suara nafas Pelangi, walaupun sangat halus dan pelan, tapi Bintang sangat jelas mendengarnya. Saat mendengar suara nafas Pelangi, Bintang mengambil sebuah buku yang sangat berharga baginya.


Bintang membuka buku itu, mengambil pena yang memang sudah ada di dalam buku itu. Bintang menuliskan isi hatinya disana dengan senyum cerah namun hati yang sendu.


"Aku telah menemukannya, senyuman dan tawanya berhasil menghipnotisku. Tatapan sinisnya mampu menyihirku, membuatku ingin selalu berada dekatnya. Ingin memeluknya, ingin mendekapnya, ingin merasakan sentuhan hangat tangan lembutnya. Oh tidak, aku mulai serakah, aku tidak boleh menyentuhnya. Aku berharap waktu mengentikan niatnya untuk membawaku terbang. Aku ingin disisinya lebih lama sedikit, mohon jangan ajak aku terbang dengan cepat. Aku masih ingin menikmatinya, menikmati senyum Pelangiku yang memikat. ~ Bintang~."

__ADS_1


Setelah menulis buku hariannya, Bintang juga merebahkan tubuhnya dan ikut tertidur sembari dengar lirih nafas Pelangi dari telepon. Bintang merasakan kebahagiaan di hatinya, namun membuatnya menitikkan air matanya malam itu.


Selama Bintang berada di dekatnya, Pelangi tidak pernah bermimpi lagi. Bahkan Pelangi melupakan mimpinya, Pelangi yang awalnya menganggap Bintang mirip dengan pangeran di mimpinya kini sudah menepisnya dan melupakannya.


Pelangi tidak lagi peduli siapa Bintang, dari mana Bintang berasal. Yang Pelangi tau kini, Bintang juga manusia sama sepertinya. Untuk hal lainnya Pelangi benar-benar tidak memperdulikannya.


Walaupun sebenarnya Pelangi sangat ingin tau banyak hal mengenai Bintang dan kehidupannya. Namun pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya tidak pernah terucap olehnya.


Entah bagaimana Pelangi selalu tersihir dengan mata dan senyuman Bintang, membuatnya tidak memikirkan apapun saat menatap matanya.


Pelangi kini hanya ingin menunggu tanpa ingin bertanya mengenai apapun. Pelangi menunggu Bintang untuk menceritakan segalanya padanya.


Pelangi yakin apa yang sedang ada di pikirannya, pertanyaan yang terus muncul dalam benaknya. Suatu saat Bintang akan menjawabnya, Pelangi hanya perlu menunggu sembari menikmati setiap waktunya bersama Bintang.


Bersambung...


Bonus ilustrasi Bintang dan Pelangi.

__ADS_1




__ADS_2