Bintang Untuk Pelangi

Bintang Untuk Pelangi
Episode 15


__ADS_3

Pelangi memegang dadanya yang nyeri, dia sedikit meringkuk kesakitan. Bintang yang melihatnya pun panik dan meletakkan sosis yang sedang dia panggang di piring.


"Kamu kenapa?? kenapa??" tanya Bintang panik.


"Dadaku nyeri, nyeri lagi." Ucap Pelangi sedikit terbata.


"Minum, minum, aku mau minum.." Ucap Pelangi kembali.


Dengan cepat Bintang langsung mengambil air hangat mereka, perlahan Pelangi mulai minum. Nyeri di dadanya perlahan berangsur membaik. Pelangi sangat lega karena nyeri dadanya sudah membaik.


"Sudah gakpapa?? masih sakitkah?? atau kita pulang aja??" tanya Bintang dengan cepat.


Pelangi tersenyum.


"Aku udah gakpapa Bintang, aku juga biasa kok begitu. Jadi bukan hal yang baru bagiku, kita disini aja dulu nanti malam aja pulangnya ya masih enak disini." Jawab Pelangi.


"Baiklah, kalau begitu. Oia, kamu biasa seperti itu?? sejak kapan??" tanya Bintang.

__ADS_1


"Sejak jika aku mengingat ayah tiriku memukuli ibuku, dan saat aku ingat ibuku akan histeris melihat ke arahku seperti ingin membunuhku. Atau setiap tiba-tiba jantungku berdetak kencang, aku ingat rasa yang sama saat ayahku memukuli ibu. Jantungku berdetak kencang karena aku merasa sangat ketakutan." Jawab Pelangi.


Bintang terdiam saat melihat Pelangi menjelaskan dengan tenang dan santai hal yang sangat mengerikan baginya.


"Maaf, aku gak bermaksud membuat kamu mengingatnya." Ucap Bintang yang merasa mulai tidak nyaman dengan pembahasan mereka.


"Kamu harus periksa ke dokter, kamukan sudah bekerja, ayo aku temani ke dokter agar kamu tidak seperti itu lagi." Usul Bintang.


"Sudah kok, aku sudah ke dokter dan disarankan ke psikiater. Aku juga sudah menjalani beberapa terapi dari psikiater. Aku juga sedang meminum obat sekarang, sudah 1 tahun aku minum obat. Tadi aku juga sudah minum obat tapi entah mengapa aku bisa seperti itu." Jawab Pelangi.


"Emangnya kamu di diagnosa apa??" tanya Bintang.


"Jadi tadi apa yang kamu rasain kok tiba-tiba nyeri jantung kamu?? kita kan sedang tidak membahas hal seperti kekerasan." Ucap Bintang yang penasaran sekaligus ingin tau penyebabnya agar tidak terulang kembali.


"Enggak tau tuh, aku juga aneh. Padahal tadi aku hanya melihat mata kamu dan senyum kamu, tiba-tiba jantungku berdetak kencang dan sakit seketika. Aku juga merasa aneh kenapa aku begitu tadi." Ucap Pelangi dengan polosnya.


Bintang yang mendengar penjelasan Pelangi pun tertawa dan minum, minuman yang sudah mulai mendingin karena udara sore juga semakin dingin.

__ADS_1


"Kok kamu ketawa??" tanya Pelangi.


"Kamu lucu habisnya." Jawab Bintang sambil tersenyum.


"Kamu itu terlalu polos Pelangi, maaf ya karna melihatku kamu jadi sakit. Aku jadi takut terus berada di sisimu." Batin Bintang di dalam hati.


Pelangi pun memakan semua yang sudah di panggangnya sedari tadi. Walaupun udara dingin mulai menusuk namun perapian tempat mereka memanggang membuat tempat itu sedikit hangat.


Pelangi melihat ke arah langit yang tiba-tiba menggelap seperti hendak turun hujan yang lebat.


"Bintang, mendung banget awannya. Cepat yuk kita panggang semua biar makan di dalam tenda aja. Jadi kalau hujan kita gak kewalahan." Usul Pelangi.


Bintang melihat ke arah awan yang di katakan Pelangi.


"Iya ya.." Gumam Bintang.


Mereka berdua pun dengan cepat memanggang semua makanan yang belum matang. Mereka memasukkan yang sudah matang ke dalam wadah tertutup yang di berikan oleh penyewa alat dan tenda. Hari ini tidak terlalu rame yang ingin camping di puncak, karenanya mereka merasa nyaman karena tidak terlalu berisik.

__ADS_1


Kini hari-hari Pelangi, perlahan namun pasti mulai berwarna. Senyum Pelangi mulai bersemi kembali, masa badai di dalam hidup Pelangi perlahan di penuhi dengan cahaya oleh Bintang.


Bersambung..


__ADS_2