
Hari pertama Bintang bekerja, Bintang sudah berhasil membuat cafe penuh pelanggan. Senior serta managernya memanggil Bintang penglaris, pembawa berkah cafe akibat wajahnya yang rupawan.
Namun tidak hanya wajah, rambut nyentrik berwarna abu-abu keputihan membuatnya menjadi sorotan disana. Anehnya warna rambutnya seperti asli bukan di warnai, dan sangat cocok pada wajahnya yang selalu tersenyum.
Karena cafe begitu rame dari jam 4 sore sampai sekarang walaupun sudah menunjukkan pukul 9, akhirnya mereka di minta untuk gabung shift karena setelah cafe tutup akan ada makan bersama malam ini.
Namun shift yang sudah bekerja dari jam 4 sore saat pergantian shift diizinkan untuk istirahat sampai cafe tutup. Benar saja, begitu rombongan shift jam 4 sore istirahat perlahan-lahan cafe mulai sunyi karena Bintang sudah tidak lagi jadi Barista di depan.
Hari ini cafe 90 persen di penuhi oleh para wanita, dari yang muda sampai yang dewasa, bahkan ada ibu-ibu. Namun saat mereka sedang istirahat, Pelangi terlihat gelisah tidak tenang. Bintang yang merasakan hal itu pun akhirnya bertanya pada Pelangi.
"Kamu kenapa??" tanya Bintang.
"Gakpapa." Jawab Pelangi.
"Gakpapa kok gelisah gitu, udah deh jujur aja kenapa??" tanya Bintang kembali.
"Kucingku, belum makan malam pasti dia sudah menungguku dan lapar. Biasanya dia makan jam 8 paling lama jam 9 menunggu aku pulang. Sekarang sudah jam 11 malam, aku khawatir dia akan sakit karena menungguku dalam keadaan lapar." Ucap Pelangi dengan wajah yang sangat gelisah.
"Kamu mau pulang sekarang??" tanya Bintang.
"Apa boleh??" tanya Pelangi kembali.
"Mysti kamu sebegitu khawatirnya dengan hewan peliharaan kamu??" tanya Sela.
"Dia bukan hanya hewan peliharaan bagiku kak." Jawab Pelangi tersenyum.
"Kucing mahal ya." Ucap Sela.
"Bukan kok kak, kucing biasa, mau lihat fotonya??" tanya Pelangi memberi tawaran.
"Boleh, coba aku lihat." Jawab Sela yang sedari tadi duduk di samping Pelangi.
Pelangi memperlihatkan foto kucingnya kepada Sela, namun ya begitu, hanya satu orang yang di perlihatkan oleh Pelangi pada akhirnya semua lihat dengan bergilir.
__ADS_1
"Kucing kampung biasa ya ternyata. Biasanya kan kucing seperti itu liar Mysti." Ucap Sela.
"Biasanya kan kak, kalau yang ini sudah sangat manja." Ucap Pelangi sambil tertawa kecil.
Bintang yang memang sedari tadi sudah memperhatikan Pelangi, tersenyum saat pertama kalinya melihat Pelangi begitu ceria dan tertawa membicarakan kucing kesayangannya.
"Ternyata kucing itu yang mampu membuat kamu tersenyum ya Pelangi." Batin Bintang sembari tersenyum melihat Pelangi.
"Kak boleh gak kalau aku permisi pulang sebentar, kan cafe masih lama tutupnya.." Pinta Pelangi.
"Cafe udah tutup Mysti, lihat deh ke depan gak ada pelanggan lagi. Mereka sedang menginput data malam ini, sebentar lagi kita pasti akan di panggil untuk beres-beres makan bersama." Ucap Sela.
"Hmm baiklah." Ucap Pelangi.
Benar saja tak lama setelahnya mereka di minta untuk bergabung ke depan, mempersiapkan untuk makan malam bersama. Walaupun gelisah Pelangi berencana makan malam dengan cepat dan setelahnya langsung pulang ke rumah.
"Oke, selesaikan ini dengan cepat Pelangi. Kitty sudah menunggumu.." Batin Pelangi sambil memandangi makanan di depannya sambil tersenyum.
Melihat tingkah Pelangi, Bintang tak henti-hentinya tersenyum. Hari ini Bintang sangat puas melihat sisi Pelangi yang sangat berbeda saat di kampus.
...----------------...
Setelah mereka selesai makan malam, Pelangi langsung izin ke managernya untuk pulang.
"Pak maaf, saya boleh izin pulang diluan tidak?? soalnya kucing saya belum makan." Ucap Pelangi meminta izin.
Manager Pelangi tersenyum mendengar alasan Pelangi.
"Boleh Pelangi, tapi kamu naik apa?? ini sudah lumayan larut malam loh." Jawab manager Pelangi sedikit khawatir.
"Gakpapa pak, di angkutan umum masih rame jika jam segini." Ucap Pelangi.
"Tapi kamu kan perempuan Pelangi." Ucap pak manager.
__ADS_1
"Pak, saya searah dengan Pelangi, saya pulang sama Pelangi." Ucap Bintang tiba-tiba.
"Oh iya, baguslah kalau begitu." Jawab pak manager sembari tersenyum.
Pelangi menatap Bintang heran, begitu pun Bintang yang menyambut tatapan Pelangi dan tersenyum. Akhirnya mereka berdua pulang bersama, saat di halte menunggu angkutan umum Pelangi bertanya.
"Kita emang searah ya??" tanya Pelangi dengan polosnya.
"Sepertinya iya, aku hanya menebak saja." Ucap Bintang sambil tersenyum.
"Kamu emangnya ke arah mana??" tanya Pelangi.
"Sana." Jawab Bintang sambil menunjuk dengan jarinya.
"Kita beda arah tau, aku kesana." Ucap Pelangi.
"Ya sudah kalau gitu aku juga kesana saja." Ucap Bintang.
Pelangi menatap lelaki di samping itu dengan heran, namun Bintang malah tersenyum cerah. Begitu angkutan umum yang menuju rumah Pelangi lewat, Pelangi langsung naik diikuti oleh Bintang.
Pelangi yang melihat Bintang duduk di sebelahnya kaget sekaligus heran.
"Aneh emang kamu ya." Ucap Pelangi setengah berbisik.
"Bukannya terimakasih udah di anterin, dasar wanita." Gerutu Bintang.
"Siapa juga yang minta di anterin." Gerutu Pelangi sedikit berbisik.
"Apa kamu bilang??" tanya Bintang mendekatkan telinga ke Pelangi.
"Terimakasih, terimakasih Bintang." Jawab Pelangi.
"Gitu dong." Ucap Bintang tersenyum.
__ADS_1
Padahal jelas tadi Bintang mendengar gerutu Pelangi. Namun kesalnya Pelangi adalah hal yang lucu bagi Bintang. Akhirnya malam itu mereka pulang bersama.
Bersambung..