Bintang Untuk Pelangi

Bintang Untuk Pelangi
Episode 27


__ADS_3

Hari ini, hari pertama Bintang melakukan kemoterapi. Hari ini juga Pelangi bolos dari kuliahnya dan meminta izin dua hari untuk tidak bekerja. Syukurnya atasan Pelangi memberi izin Pelangi untuk cuti, karena selama bekerja dia belum pernah memakai cutinya.


Sepenjang hari ini Pelangi menemani Bintang, hanya saat Bintang kemoterapi saja, Pelangi tidak dapat menemaninya. Namun kali ini keadaan Bintang sudah cukup baik, dia sudah bisa berbicara dengan Pelangi walaupun masih terlihat sangat pucat.


"Kamu gak ke kampus??" tanya Bintang.


"Enggak, aku mau disini saja." Jawab Pelangi.


"Nanti kamu di kasih tugas banyak loh." Ucap Bintang.


"Gakpapa, tinggal di kerjakan saja." Jawab Pelangi.


Karena Bintang sudah sadar dan tante Aisyah harus bekerja. Beliau menitipkan Bintang pada Pelangi. Oleh karenanya mereka hanya berdua di dalam ruangan itu.


"Aku mau tanya boleh??" tanya Pelangi.


"Boleh, mau tanya apa kamu??" tanya Bintang kembali.


"Kenapa saat berkenalan denganku kamu bilang, kamu adalah Bintang dan bukan Damarlangit??" tanya Pelangi.


"Karena aku lebih suka di panggil Bintang, yang memanggilku Damar hanya orang yang tidak dekat denganku." Jawab Bintang.


"Tapikan awalnya kita juga tidak dekat." Ucap Pelangi.


"Tapi aku ingin kamu dekat denganku." Jawab Bintang.


"Jadi kamu memperkenalkan diri kamu sebagai Bintang, itu harapan kamu agar kita lebih dekat begitu??" tanya Pelangi dengan polos.


"Iya, kamu benar. Ini hadiah untuk kamu.." Ucap Bintang sambil mengulurkan tangannya yang dia kepal.


Pelangi dengan polos membuka genggam jari Bintang. Setelah melihatnya Pelangi pun tertawa, karena Bintang menggambar wajah wanita seperti kartun di tangannya.

__ADS_1


"Ini aku maksud kamu??" tanya Pelangi.


"Iya.." Jawab Bintang sambil tersenyum.


"Sejak kapan aku jelek begini. Aku kan selalu cantik." Ucap Pelangi.


"Ini gambar tercantik versiku loh." Jawab Bintang.


"Baiklah ku terima dengan senang hati.." Ucap Pelangi.


Mereka berdua tersenyum bersama.


"Pelangi.." Panggil Bintang.


"Kamu harus berjanji padaku." Ucap Bintang.


"Berjanji apa??" tanya Pelangi.


"Maksud kamu gimana??" tanya Pelangi yang sebenarnya mengerti maksud Bintang, namun tidak ingin menyetujuinya.


"Pokoknya kamu harus berjanji padaku." Ucap Bintang.


"Kalau kamu mau aku berjanji, kamu juga harus berjanji padaku." Ucap Pelangi tak mau kalah dari Bintang.


"Baiklah, aku harus berjanji apa??" tanya Bintang.


"Kamu harus membuatku bahagia selamanya." Ucap Pelangi.


Bintang tersenyum.


"Iya aku janji, akan membawa kamu kepada kebahagiaan selamanya." Ucap Bintang.

__ADS_1


Namun Pelangi tidak menyadari apa yang dikatakan Bintang tidaklah sama maksudnya dengan yang dia ucapkan. Namun tanpa mengoreksi Pelangi membuat kesepakatan dengan Bintang.


"Aku janji akan membawamu kepada kebahagiaan, disaat aku tidak bisa membuatmu bahagia, Pelangi." Ucap Bintang di dalam hatinya sambil menatap Pelangi.


Karena pengaruh berbagai obat-obatan yang di minum oleh Bintang, Bintang bisa tertidur kapan aja seperti pingsan. Saat Bintang tiba-tiba tertidur tanpa bilang apapun pada Pelangi, sebenarnya itu sangat membuat Pelangi takut.


Setiap dia melihat Bintang tertidur, Pelangi selalu melihat perut Bintang. Memastikan apakah dia masih bernafas atau tidak. Pelangi sangat takut ketika harus melihat Bintang tidak bangun lagi.


Kini harapan Pelangi untuk Bintang hidup sedikit lebih lama lagi pun tumbuh. Setiap malam Pelangi berdoa kepada Tuhan, tidak masalah jika dia harus merawat Bintang asalkan dia masih bisa hidup di samping Pelangi.


Malam pun tiba, malam ini Pelangi dan tante Aisyah tertidur sangat pulas. Karena malam-malam sebelumnya mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak karena harus terjaga untuk mengontrol keadaan Bintang yang tidak sadarkan diri.


Di tengah malam, Bintang terbangun perlahan dia duduk. Bintang melihat tante Aisyah dan Pelangi yang tertidur. Sebenarnya Bintang juga sangat gelisah, dia takut tidur dan tidak terbangun lagi. Saat Bintang termenung di tengah malam, dia melihat ada buku di atas meja tepat di sebelahnya.


Ya benar, itu adalah buku Pelangi. Bintang mengambil buku itu dan membacanya. Bintang terus tersenyum dan tertawa membaca tulisan Pelangi yang semuanya kebanyakan mengenai Bintang. Di buku itu juga Pelangi banyak mengeluh karena Bintang, bahkan ada coretan-coretan berbentuk bundar tidak sempurna yang di tulisnya sebagai air mata kekesalan dan kesedihannya karena Bintang.


Entah senang, entah sedih, perasaan Bintang seperti tercampur sehingga membuatnya tersenyum dalam deraian air mata. Hingga pada akhirnya, Bintang menyesali keputusannya mendekati Pelangi. Karena dia sadar, waktunya tidak lagi banyak untuk membuat Pelangi bahagia. Bahkan saat ini dia tidak punya tenaga untuk membahagiakan Pelangi.


Bintang memutuskan untuk menulis sebuah pesan untuk Pelangi, serta pengakuan isi hatinya kepada Pelangi. Bintang tau tindakannya ini egois, kelak ketika Pelangi membacanya pasti dia akan sangat sedih. Namun Bintang menuliskan isi hatinya dan pesan untuk Pelangi di pertengahan buku yang hampir ke belakang.


Bintang ingin Pelangi membacanya ketika dia sudah hampir habis menulis di buku diarynya ini. Dan yang pasti saat sudah berdamai dengan keadaannya dan melupakan Bintang. Dalam senyum serta air mata Bintang menuliskan isi hatinya untuk Pelangi di buku milik Pelangi.


"Untuk Pelangiku. Terimakasih sudah ada disini menemaniku yang tidak berdaya ini. Kehadiranmu, setiap doamu, setiap ceritamu sepertinya mampu membuatku bangun untuk berpamitan denganmu. Maafkan pertemuan kita yang harus akhirnya kini berpisah, jika aku tau waktuku terlalu singkat seperti ini aku tidak akan hadir di sisimu. Tapi aku bersyukur bisa mengenal kamu sebelum waktuku habis. Bisa melihatmu tertawa, bisa melihatmu marah, bisa melihatmu kesal semuanya itu sangat bermakna bagiku. Entah apa maksud Tuhan membuatku menginginkanmu di saat aku harus bersiap untuk hilang dari dunia ini."


"Pelangiku, bersinarlah seperti bintang di langit. Masa sulitmu kini telah usai, tersenyumlah secerah mentari. Disaat tubuh dan ragaku tidak nyata dan hilang dari dunia. Carilah aku dalam doamu, aku akan mendengarmu. Carilah aku dalam tidurmu aku akan hadir disana. Jangan pernah menyerah karena kehilangan, semua yang ada di dunia ini akan hilang. Tapi aku mohon padamu hilanglah saat Tuhan yang menginginkanmu pulang, seperti aku yang kini sudah di rindukannya. Hiduplah bahagia, penuh tawa, penuh air mata, penuh sukacita, setelahku akan ada seseorang yang akan membersamaimu, bertanggung jawab padamu, mengasihimu, mencintaimu, menyayangimu, dan bisa berada disisimu lebih dariku yang sesaat ini. Hiduplah sepuasnya, dan berbahagialah di sisa waktumu, kini bahagia akan menghampirimu karena masa sulitmu sudah berakhir dan ku bawa pergi bersamaku. Terimakasih untuk hal indah yang ada padamu, jika waktunya tiba kamu harus melupakanku. Lupakanlah aku pelangiku, aku hanya setitik di lembaran kertasmu. Aku akan selalu mengawasimu dan membawamu ke cahaya bahagiamu. Aku mengasihimu, pelangiku, bintang hatiku."


Setelahnya Bintang langsung menutup buku Pelangi, mengembalikannya ke tempat semula. Kini Bintang tidak khawatir lagi. Bintang dapat tidur dengan nyenyak, sebelum tertidur Bintang melihat ke arah Pelangi dan tersenyum. Dengan lirih Bintang berkata.


"Aku tidur ya Pelangi, aku lelah. Aku ingin istirahat dan sembuh."


Setelah kalimat itu malam itu, Bintang menghembuskan nafas terakhirnya tanpa di ketahui oleh Pelangi ataupun tante Aisyah. Malam ini mereka berdua tidur dengan sangat lelap.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2