
Pelangi terbangun karena cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya.
"Udah terang banget, jam berapa ini ya." Ucap Pelangi sembari mencari jam di kamar itu.
Ternyata masih jam 7 pagi, Pelangi disana tidak diinfus lagi. Dia hanya diinfus selama dia pingsan saja. Ketika dia sudah memuntahkan air yang cukup banyak, infus Pelangi pun dilepaskan.
Pelangi duduk dan melihat sudah ada makanan di meja di dekatnya. Pelangi yang lapar langsung mengambil kursi duduk di depan meja itu dan makan dengan lahap.
Setelah Pelangi selesai makan, dia merasakan ada nyeri di perutnya. Pelangi langsung berdiri dan mondar mandir di kamarnya, Pelangi berfikir kalau dia kekenyangan.
Saat Pelangi sedang mondar mandir, pintu kamarnya pun terbuka. Okky masuk ke ruangannya.
"Kamu kenapa??" tanya Okky.
Pelangi kaget melihat Okky mengenakan jas dokter.
"Kamu dokter??" tanya Pelangi.
"Iya." Jawab Okky.
Pelangi mencoba membaca nama yang ada di jas putih itu.
"Nama aku Okky, Panggil Iky atau Okky. Padahal kemaren jelas aku udah bilang, kelihatan banget gak dengerin orang ngomong." Ucap Okky.
"Aku dengar kok dok." Jawab Pelangi.
"Gausah panggil dok, dok, panggil saja namaku Okky. Atau gak kakak, abang.." Ucap Okky sambil tersenyum dan mendekati Pelangi.
"Baiklah Ky." Ucap Pelangi.
"Tadi kamu belum jawab pertanyaanku Pelangi, kamu kenapa??" tanya Okky.
__ADS_1
"Perutku, terasa nyeri setelah selesai makan." Jawab Pelangi.
"Sebentar biar aku panggil suster." Ucap Okky.
"Gak perlu deh kayaknya Ky, karena telat makan aja kali aku kemaren." Jawab Pelangi.
"Kemaren kamu telan banyak banget air laut, bisa jadi karena itu. Emang sebelum kejadian itu kamu ada makan apa??" tanya Okky.
"Aku gak makan dua hari, dan hari ketiga ini aku baru makan itu yang di sediakan tadi." Jawab Pelangi.
"Coba kamu tiduran, biar aku cek." Ucap Okky.
Tak lama suster pun datang.
"Sus coba tolong cek pencernaannya. Katanya nyeri udah dua hari gak makan dan tadi baru makan tiba-tiba nyeri." Ucap Okky.
Suster memeriksa tubuh Pelangi.
"Baik sus, terimakasih ya. Oia bilang saya ada sesi konseling disini. Kalau mau masuk hubungi saya terlebih dahulu ya sus." Ucap Okky.
"Baik dok." Jawab Suster tersebut.
Pelangi bangkit duduk kembali setelah suster itu keluar. Okky mulai pengobatannya, namun Pelangi sama sekali tidak menyadari hal itu. Karena Okky tau Pelangi bisa pulih hanya dengan terapi khusus darinya tanpa obat-obatan. Karena Pelangi tidak ada serangan panik atau apapun, dia hanya tidak punya tempat saja untuk menyalurkan isi hatinya.
"Pelangi, kamu bersedia tidak menceritakan tentang kamu dengan saya??" tanya Okky.
Pelangi menganggukkan kepalanya.
"Saya tidak akan paksa kamu cerita semuanya, perlahan saja. Tapi saya butuh informasi pribadi mengenai kamu. Ada pekerjaan khusus yang ingin saya berikan pada kamu, apa kamu mau bekerja sama dengan saya??" tanya Okky dengan lembut.
"Boleh, saya mau. Kamu mau dengar dari mana tentang saya??" tanya Pelangi.
__ADS_1
"Terserah kamu saja mau memulainya dari mana, saya hanya ingin mengenal kamu lebih dalam lagi. Setelah itu, saya juga akan menceritakan tentang saya kepada kamu. Agar kita bisa jadi teman, bestie." Ucap Okky.
Pelangi tersenyum mendengar kata bestie yang keluar dari mulut seorang dokter. Pelangi tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu, Pelangi mulai menceritakan dirinya.
...----------------...
"Awalnya saya hidup normal dengan kedua orangtua saya, saya lahir dari keluarga yang lumayan sejahtera, berkecukupan. Saya tidak mengerti apa yang terjadi karena begitu cepat dan sebagian memori itu hilang di saya. Orangtua saya berpisah, ayah pergi meninggalkan saya dan ibu di rumah megah miliknya. Tak lama kepergian ayah, ibu membawa lelaki lain dan menikah dengannya. Kehidupan bagai di neraka saya rasakan di rumah megah yang dulu terasa hangat. Satu tahun pernikahan ibu terasa indah, sampai pada di tahun kedua ibu dan ayah tiriku sering bertengkar. Barang-barang di rumah kami perlahan habis seperti menghilang. Saat semuanya habis tinggal sisa bangunan yang tidak bisa di jual karena ayah pemiliknya, membuat ayah tiriku jadi orang berbeda. Dia sering memukuli ibu, sampai ibu selalu teriak histeris di hadapanku. Ayah tiri tidak pernah mau memukulku sampai babak belur, dia hanya menampar sesekali, menendang sesekali, asal saya jadi penurut memberinya uang saja saya tidak akan di ganggu olehnya."
Pelangi menarik nafas panjang, karena setiap dia menceritakan hal itu seperti ada sesuatu yang meremas jantungnya. Namun tetap Pelangi berusaha ingin menyelesaikan ceritanya.
"Pelangi jangan di paksa, jika ingin berhenti. Kita berhenti sampai disini saja." Ucap Okky.
"Tidak, aku mau menyelesaikannya. Aku ingin membuang cerita ini seluruhnya pada kamu. Karena kamu seorang dokter, saya berharap kamu bisa sembuhkan hati saya." Ucap Pelangi.
"Baiklah.." Ucap Okky yang sebenarnya menahan air matanya.
Okky dokter yang sangat profesional, dia tidak pernah terbawa suasana saat pasiennya bercerita. Namun entah mengapa, saat menghadapi Pelangi membuat hatinya sangat terluka. Okky juga sudah baca semua isi buku Pelangi yang dia tinggalkan di pinggir pantai.
Okky memang tidak pernah menyaksikan orang-orang ingin mengakhiri hidupnya, melihat Pelangi seperti itu hal pertama kali baginya. Karenanya hatinya menjadi sangat sensitif jika menyangkut Pelangi.
Pelangi melanjutkan cerita mengenai dirinya kepada Okky.
"Suatu hari, ayah tiri memukul ibu sangat parah. Namun saat itu saya di kamar, bersembunyi di balik selimut ketakutan mendengar semua pukulan ayah. Lambat laun saya tidak mendengar suara ayah lagi, suara ibu juga tidak ada. Biasanya ibu selalu teriak histeris setelah di pukul ayah namuan hari itu tidak. Saya membuka kamar perlahan karena khawatir dengan ibu, saat itu saya sudah kelas 2 SMP saya keluar saya lihat ibu tergeletak. Dengan cepat saya dekati ibu, namun tiba-tiba ibu memegang tangan saya, berdiri, memukuli saya dengan sisa-sisa rotan ayah memukuli ibu. Saya sangat bersyukur saat itu wajah saya tidak kena pukulannya. Hanya tubuh saya saja. Karena merasa sangat kesakitan saya memberontak dan mendorong ibu. Ibu berdiri dan mencoba mencekik saya, entah kekuatan dari mana saya berhasil kabur dan meninggalkan ibu. Yang saya dengar hanya teriakan ibu saja, Saya berlari, berjalan selama 3 jam untuk pergi ke rumah ayah saya. Sesampainya di rumah ayah, saya di sambut baik, di obati, bahkan ayah sempat menangis melihat keadaan saya yang babak belur. Cukup lama saya tinggal bersama ayah, namun saya merasa anak-anak ayah mulai merasa keberatan dengan keberadaan saya. Walaupun saya takut tinggal sendirian, namun saya paksakan diri saya dan tinggal di rumah peninggalan nenek sendirian. Sebenarnya saya tinggal bersama kucing saya, namun saat ini dia sedang berada di cafe tempat saya bekerja."
"Sekarang saya sudah berusia 20 tahun, saya sedang kuliah. Namun sepertinya saya ingin berhenti tidak melanjutkan kuliah saya. Bukan karena biaya, karena ayah membiayai kuliah saya namun saya tidak ingin lagi kuliah disana. Saya bisa bekerja dengan kamu saja. Begitulah kisah saya, bagi saya selama ini saya hidup bagai di neraka." Ucap Pelangi.
Okky berdiri dan langsung memeluk Pelangi. Pelangi yang kaget namun seperti ada sesuatu yang ingin dia luapkan, Pelangi menangis kembali dalam pelukan Okky. Sebelumnya Pelangi tidak pernah menangis saat menceritakan kisahnya. Namun saat bersama Okky rasanya Pelangi ingin memuntahkan segalanya yang ada di dalam dirinya.
Pelangi mulai muak dengan keadaannya, Pelangi sangat ingin memuntahkan semuanya dan tidak ingin lagi menyimpan perasaan itu. Saat ini itulah yang sedang dilakukan Pelangi.
Bersambung..
__ADS_1