
Pagi ini mereka satu keluarga memutuskan untuk ikut bersama Bram dan Pelangi untuk mengunjungi ibu kandung Pelangi di rumah sakit. Memang ada sedikit perasaan mengganjal di hati Pelangi mendengar abang dan adik tirinya juga ingin ikut.
Namun Pelangi hanya menyimpan perasaannya di hatinya, Pelangi mencoba mengalihkan perasaannya dengan berfikir positif ingin mengenal ibunya.
Pelangi pun bersiap mandi dan sedikit berdandan, di dalam kamar Pelangi mendengar ada suara seorang pria di ruang tengahnya. Pelangi sangat mengenali suara itu.
"Itu Okky ya, beneran ikut dia." Ucap Pelangi dalam hati.
Pelangi langsung bergegas bersiap, karena memang tinggal dia yang di tunggu. Semuanya sudah bersiap dan berkumpul di ruang tengah menunggu Pelangi untuk sarapan bersama sebelum pergi ke rumah sakit.
Begitu Pelangi keluar kamar Bram ayah Pelangi langsung berkata," Ayo kita sarapan dulu." Semuanya bangkit dari sofa berjalan menuju dapur.
Kini mereka semua duduk bersama di dapur untuk makan bersama, Okky terus melirik ke arah Pelangi. Hari ini pertama kalinya bagi mereka menjadi sepasang kekasih, entah mengapa mereka berdua terlihat sedikit canggung.
Pelangi berdoa dan berharap semoga dari keluarganya tidak ada yang sadar akan kecanggungan mereka. Setelah selesai sarapan mereka pergi ke rumah sakit, Ibu, Shiren dan Ibnu satu mobil dengan Bram ayah Pelangi sedangkan Pelangi satu mobil dengan Okky.
Begitu Pelangi naik ke mobil Okky, Okky langsung memakaikan seat belt Pelangi. Jelas Pelangi kaget karena biasanya dia memakai seat belt sendiri.
"Aku bisa sendiri Ky, ya ampun gak musti kamu pakaikan." Ucap Pelangi yang kaget melihat tindakan Okky.
"Mulai sekarang aku aja yang pakaikan, aku mau kamu cuma duduk santai tanpa melakukan hal-hal berat, mengerti." Jawab Okky sembari tersenyum.
"Memakai seat belt bukan pekerjaan berat tau.." Ucap Pelangi menggelengkan kepalanya.
Okky hanya tersenyum melihat respon Pelangi. Okky pun melajukan mobilnya, mereka jalan tepat di belakang mobil ayah Pelangi. Okky memandang Pelangi, dari raut wajah Pelangi terlihat jelas dia gelisah dan khawatir.
Melihat kekasihnya cemas, Okky langsung memegang tangan Pelangi untuk menenangkannya.
"Kamu kenapa, kok wajahnya tegang gitu. Jangan khawatir ya pasti kamu bisa ketemu dengan mama, ingat ada aku dan ayah jadi jangan khawatir." Ucap Okky menenangkan Pelangi.
"Iya Ky aku tau, aku hanya takut tidak bisa menatap mama dan langsung menangis seperti waktu itu." Jawab Pelangi.
"Gakpapa kamu menangis seperti waktu itu, kan ada aku yang siap memeluk kamu." Ucap Okky tersenyum ke arah Pelangi.
__ADS_1
Pelangi tertawa mendengar ucapan Okky, " Bilang aja kamu emang mau peluk aku."
"Iya dong, kalau bisa seharian aku juga mau." Ucap Okky semakin menggoda Pelangi.
"Dasar kamu itu." Gerutu Pelangi namun semakin erat
memegang tangan Okky yang menggenggam tangannya.
...****************...
Akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit, sebelum mereka menjenguk ibu kandung Pelangi ayah Pelangi bertemu dengan fokter untuk membicarakan perkembangan ibu Pelangi. Syukurnya ada perkembangan baik dari ibu Pelangi, kini ibu Pelangi sudah bisa berkomunikasi dan menjawab pertanyaan dengan cukup baik walaupun terkadang tetap tidak merespon.
Mendengar hal itu Pelangi merasa sedikit lega, Pelangi memiliki harapan kecil di hatinya untuk ibunya sembuh kembali. Agar bisa jadi seperti dulu, ibu yang selalu perhatian dan hangat ketika Pelangi kecil.
Kini mereka langsung menuju ruangan ibu Pelangi di rawat, saat ini ibu Pelangi sedang melakukan terapi berkebun untuk mengembalikan konsentrasinya. Ibu Pelangi berkebun tidak sendirian, di sana ada teman-teman lainnya yang memiliki kasus sama seperti ibu Pelangi dengan di dampingi oleh para perawat.
Dari jauh Pelangi sudah bisa melihat bagaimana ibunya berinteraksi dengan perawat dan pasien lainnya. Pelangi tersenyum melihat perkembangan ibunya sangat jauh dari awal dia melihat ibunya.
"Ibu Mysti, ini ada tamu untuk kamu ayo kemari." Ucap dokter Anthony.
Pelangi kaget saat dokter memanggil ibunya dengan sebutan namanya, spontan Pelangi bertanya. "Dok, kok ibu Mysti, nama ibu saya kan Maria."
"Iya Pelangi, namun ibu kamu selalu memperkenalkan dirinya sebagai ibu Mysti. Kami pernah sekali memanggilnya Maria dia tidak merespon sama sekali. Namun saat kami panggil ibu Mysti beliau cepat merespon."
Mendengar penjelasan dokter Anthony Pelangi mulai merasa sedih, namun Pelangi mencoba menahannya dengan terus menggenggam tangan Okky.
Pelangi tidak terlalu memperhatikan keluarganya yang lain, Pelangi hanya fokus memandang dan memperhatikan mamanya. Begitu mamanya duduk di bangku yang sudah di sediakan, mereka semua pun duduk berdekatan dengan ibu Pelangi.
Kini Pelangi saling bertatapan dengan ibu kandungnya, walaupun sempat membenci ibunya. Namun tetap saja ada rasa rindu mendalam yang dirasakan Pelangi. Pelangi memberanikan diri untuk berbicara dengan ibunya.
Pelangi memegang tangan ibunya dan berkata, "Mama ingat aku tidak??" tanya Pelangi.
Begitu Pelangi berkata seperti itu, mama Pelangi langsung menatap wajah Pelangi. Kurang lebih tiga menit mama Pelangi mengamati wajah Pelangi dan kemudian berkata.
__ADS_1
"Mysti, sudah pulang sekolah kok lama sekali pulangnya mama sudah menunggu kamu."
"Mama ingat aku??" tanya Pelangi kembali namun kini suaranya sudah menjadi serak karena dia menahan air matanya.
"Mysti anak mama, sudah pulang ya, sudah makan sayang??" tanya mama Pelangi penuh dengan senyuman hangat.
Pelangi tidak bisa lagi menahan air matanya saat ibu kandungnya mengelus pipinya. Pelangi menangis dan terisak, Pelangi merasa ibunya melihatnya sebagai sosok dirinya yang masih kecil. Namun Pelangi bersyukur karena bisa melihat sosok hangat itu kembali.
Seketika ingatan dingin mengenai ibunya sirna, kini Pelangi sadar bahwa ternyata sosok ibunya adalah ibu yang sangat hangat seperti saat ini.
Walaupun sebentar namun membuat Pelangi mengurangi rasa rindunya kepada sang ibunda. Setelah mengatakan itu, mama Pelangi tersenyum dan berdiri kembali untuk berkebun. Pelangi hanya bisa menangis melihat ibunya seperti itu.
Melihat putrinya terisak, Bram langsung memeluk Pelangi dan berkata, "Sabar ya sayang mama kamu pasti sembuh." Bram mencoba meyakinkan Pelangi.
Pelangi hanya bisa menangis dalam pelukan ayahnya, namun tangisan Pelangi tidak sehisteris saat pertama kali melihat ibunya. Melihat keharuan itu, mereka yang ada disana juga meneteskan air matanya.
Pelangi hanya bisa berharap suatu saat dia bisa berkumpul kembali bersama ibu kandungnya..
Bersambung...
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan :
*Like
*Komen
*Vote
*Tambahkan favorit
* Kalau teman-teman suka tolong beri hadiah untuk author ya, terimakasih semoga rejeki teman-teman selalu berlimpah.
Love you all ❤️.
__ADS_1