
Sebelum berangkat ke kantor,Fatih memang mengantar sang istri ke apartemen terlebih dahulu.Seperti biasa,Fatih dan Fathiya di sopiri oleh Dirga,asisten pribadi Fatih.Hampir tiga puluh menit yang dilalui terasa hening,tak ada satupun percakapan didalamnya.Fathiya merasa salah tingkah dengan ulah suaminya pagi tadi,sementara Fatih juga berupaya melupakan kegilaannya tadi.Dalam hati,Fatih merutuki perbuatannya sendiri karena hendak menyentuh Fathiya dalam keadaan sadar.Bukankah selama ini,ia begitu jijik pada tubuh Fathiya?Tapi entah kenapa,tadi pagi ia sama sekali tak bisa mengendalikan dirinya.
"Kita langsung ke apartemen kan Bos?Ga ada yang ingin dibeli oleh Non Fathiya terlebih dahulu kan di jalan?",tanya Dirga sekaligus memecah kesunyian didalam mobil.Rasanya canggung terlalu sepi seperti ini padahal didalam mobil tersebut ada tiga orang.
"Iya!Kita habis ini ada meeting pagi bukan?",jawab Fatih pada asistennya tersebut.
"Anda benar Pak!Tuan Indra sudah ada janji dengan kita pagi ini di ruang pertemuan kantor",Dirga mengingatkan jadwal bosnya pagi ini.
"Kamu sudah menyiapkan proposalnya?",
"Semua sudah beres bos",
__ADS_1
"Kerja yang bagus",balas Fatih karena bila biasanya hanya berdua dengan Dirga,Fatih bisa banyak berbicara.Bisa dikatakan,adanya Fathiya membuat Fatih lebih banyak memilih diam.
Fatih melirik Fathiya sekilas.
"Nanti kami tidak masuk kedalam rumah Fa!Sesampainya nanti kamu bisa turun dihalaman rumah!",ujar Fatih pada sang istri yang semenjak tadi hanya terdiam seraya memilin ujung roknya karena gugup dengan sang suami.Bahkan,Fathiya dari tadi hanya menunduk tanpa berani menatap wajah sang suami,sesekali juga menatap ke arah jalanan yang mereka lewati.
Merasa namanya dipanggil,Fathiya menoleh."A...Ku",tunjuknya pada diri sendiri.Ia tak menduga sama sekali kalau Fatih mau mengajaknya berbicara di depan orang lain,meskipun hanya pada Dirga.Biasanya Fatih hanya baik kepadanya di depan keluarga besar mereka saja.
"Iya,nanti kamu turun dihalaman rumah saja,kami tidak ikut turun",ulang Fatih untuk kedua kalinya dengan wajah datarnya.
Dirga melengkungkan bibirnya keatas,sebuah senyuman terbit dari bibirnya begitu melihat interaksi antara bos dan juga istrinya.
__ADS_1
'Semoga ini bisa menjadi titik awal kebahagiaan kalian',doa Dirga dalam hati.Meskipun masih terkesan jual mahal,tapi Dirga masih bisa melihat dari kaca spion didepannya saat Fatih mencuri pandang ke arah istrinya beberapa kali selama perjalanan mereka ini.Semoga saja ini menjadi awal yang baik untuk rumah tangga bosnya tersebut.
"Non Fathiya!Sudah sampai rumah!Silahkan turun terlebih dahulu!Saya dan Tuan akan langsung berangkat ke kantor",ujar Dirga pada Fathiya yang masih termenung dan duduk di sebelah Fatih.
"Ehm...I ya",
Ceklek,
Fathiya membuka pintu mobil suaminya.Ia mengulurkan tangannya pada Fatih hendak mencium tangan sang suami sebelum keluar dari rumah.Namun sayang,sifat Fatih rupanya masih belum berubah.Ia sama sekali tak membiarkan tangannya di sentuh oleh Fathiya.
'Jual mahal',batin Dirga melirik muka sang bos.Padahal ia bisa melihat,ada senyum merekah di balik wajah datar sang bos.
__ADS_1
"Aku ke dalam dulu Mas!Hati-hati dijalan!",ucap Fathiya pada akhirnya.
"Hem",hanya deheman yang di berikan oleh Fatih.Namun,itu cukup menyadarkan bagi Fathiya yang barusan bermimpi terlalu indah bersama Fatih.Mungkin itu hanya harapannya saja.Karena kenyataannya,ia hanya itik buluk rupa yang tak pernah diharapkan oleh sang suami.