
"Fa",panggil Fatih dengan suara lembut.Ia menatap istrinya dalam-dalam.Menatap wajah yang selalu membuatnya rindu siang dan malam selama dalam tujuh bulan terakhir ini.
"Hem",Fathiya menoleh ke arah suaminya dari arah pantai yang masih di penuhi anak-anak yang sedang bermain air.Meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan pernyataan penyesalan yang baru di ungkapkan oleh suaminya barusan.
"Boleh ga aku menyentuhnya?",tanya Fatih dengan dengan bola mata memindai perut istrinya.
Dengan ragu-ragu Fathiya mengangguk.Terlihat bodoh memang.Seberapa besar rasa sakit hatinya karena ulah Fatih di masa lalu,bisa dimaafkan dengan begitu mudah hanya karena melihat suaminya menangis barusan.Bukankah itu terlihat bodoh di mata orang lain?
Ditambah lagi,karena hormon kehamilannya,ia merasa nyaman saat berdekatan dengan suaminya ini membuatnya membiarkan tangan Fatih kembali mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol tersebut.
"Terima kasih Fa",ucapnya dengan tulus,menampilkan sebuah senyuman yang kembali membuat dada Fathiya kembali bergetar.
"Hai dedek bayi!Kenalkan aku ini papamu!Maafin Papa ya Sayang karena kesalahan Papa dimasa lalu kamu menderita bersama Mama!Papa baru tahu keberadaanmu sekarang!Papa tidak bisa melihat tumbuh kembangmu di perut Mama sejak dini!Maafin Papa ya Nak!Baik-baik disana ya Sayang!Papa tidak sabar berjumpa denganmu ",ucap Fatih dengan diiringi suara tangis pilu yang menyayat hati.Fathiya yang semula tidak berniat menjadi pusat perhatian,kini malah menjadi pusat perhatian pengunjung yang datang disana.Baju Fathiya pun terasa basah oleh lelehan air mata sang suami.
Cup,
Fatih kembali mencium perut Fathiya.
"Mas udah!Malu dilihatin orang",pinta Fathiya lembut.
__ADS_1
"Iya Sayang",
Deg..
Dada Fathiya kembali bergetar untuk yang kesekian kalinya.Ia mengutuk sisi perasaannya yang selalu lembut pada orang lain dan rasa cintanya yang terlalu berlebihan untuk Fatih hingga dengan begitu mudah luluh pada pria di hadapannya ini.
"Aku ingin pulang Mas!",ucap Fathiya yang teringat akan ibunya di rumah.
"Pulang???",tanya Fatih dengan menaikkan alisnya.
"Iya Mas!Aku capek ingin istirahat",kata Fathiya memberi alasan.Sebenarnya niatnya adalah ingin segera menghindar dari suaminya ini.Ia tidak ingin berlama-lama di dekat suaminya meskipun perasaan nyaman terus melekat dihatinya.Fathiya merasa harus memikirkan hubungan kedepannya bersama sang suami setelah ini.Ia harus meminta pertimbangan kepada orang tuanya karena selama ini dia telah banyak tergantung pada mereka berdua.
Fatih sedikit kecewa dengan permintaan pulang istrinya.Namun,dia menurutinya.Fatih tidak ingin menunjukkan sisi egoisnya lagi pada istrinya ini yang akan menghambat kedekatannya dengan istrinya ini yang baru hendak ia mulai lagi dari awal.
"Makasih Mas",
"Sama-sama Sayang!",jawab Fatih,sengaja menggoda istrinya karena wajah Fathiya yang mulai memerah lagi saat ia memanggilnya sayang.
Di perjalanan,Fatih kembali mengakrabkan diri dengan istrinya.
__ADS_1
"Berapa usia kandungan anak kita Fa?",tanya Fatih yang masih betah mengelus perut Fathiya.Ia merasa beruntung karena istrinya mengijinkannya.Betapa lembut hati istrinya ini batin Fatih.Ia menyesal karena telah mengecewakan wanita lembut sebaik istrinya ini.
"Tujuh bulan Mas",jawab Fathiya.
"Kamu sering kontrol ke dokter?",
"Iya Mas!Setiap awal bulan habis gajian",
Glek,,,,
Fatih merasa tersindir atas jawaban istrinya meskipun ia tahu tidak ada maksud menyindir dari mulut istrinya ini.Ia sebagai bos besar yang bisa menghidupi ribuan karyawannya,namun istrinya harus bekerja sebagai pekerja garmen yang dengan gaji kecilnya untuk memeriksakan kandungan anaknya.
"Udah di USG?",tanya Fatih selanjutnya.
Fathiya mengangguk sebagai jawabannya.
"Nanti aku tidur di rumahmu ya!Aku rindu sama kalian berdua",kali ini Fatih mengajukan permintaan yang sulit untuk dikabulkan Fathiya.
"Tidak mas!",
__ADS_1
"Kenapa?",
"Aku akan meminta ijin sama Bapak dan Ibu!Kamu masih istriku Fa sampai sekarang!",kekeuh Fatih membujuk istrinya.