
Usai tiga hari paska syukuran diadakan,Fatih beserta keluarga besarnya,termasuk kedua mertuanya dan juga Dirga kembali terbang ke Jakarta karena banyaknya pekerjaan yang ada di kantor pusat yang mengharuskan Fatih ada disana.Sepertinya,Fathiya harus merelakan keinginannya untuk melahirkan putranya di kota kecil penuh kenangan ini demi baktinya pada sang suami.Pekerjaan memang kadang tak bisa di tunda dan diwakilkan terus-menerus,demikianlah alasan sang suami dan keluarga saat mengajaknya kembali ke Ibukota.
Dibandara,ketiga keluarga tersebut berpisah dengan tujuan rumah masing-masing.Dirga ditugaskan untuk mengantar orang tua Fathiya,sedangkan kedua sopir pribadi Fatih di tugaskan untuk mengantar kedua orang tua Fatih beserta adiknya,sedangkan yang satu lagi mengantar Fatih beserta sang istri ke rumah masing-masing.
Sekarang ini Fathiya telah tiba di apartemen yang ditempatinya dulu bersama sang suami.Tempat yang sebenarnya banyak memberinya kenangan yang cukup buruk.Namun,Fathiya tetap menolak permintaan Fatih yakni pindah kerumah baru atau pindah apartemen.
"Sayang,beneran kamu ga mau pindah?Kita bisa menjual apartemen ini dan pindah ke rumah baru yang sudah dipersiapkan oleh Dirga untukmu?",tawar Fatih yang sudah kesekian kalinya.
"Tidak perlu dijual Mas.Kita bisa memulai kehidupan baru kita di rumah ini",jawab Fathiya dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak akan merasa trauma dengan perbuatanku di masa lalu kan Fa?Mas harap kamu beneran tulus maafin Mas!",ucap Fatih dengan sorot mata penuh pengharapan.Fathiya mendongakkan kepalanya,dan dipandanginya wajah tampan sang suami,rupanya wajah Fatih telah berembun.
Fathiya menggeleng cepat."Fa sudah maafin Mas Fatih dengan tulus kok...",jawab Fathiya jujur.Fathiya segera mengusap air mata suaminya dengan kedua ibu jari tangannya.
"Kenapa Mas menangis?",tanya Fathiya yang tidak mengerti bagaimana perubahan hati sang suami yang begitu drastis.
"Mas hanya terharu sekaligus teramat bahagia karena bisa membawamu beserta buah hati kita di rumah kita ini lagi",jawab Fatih jujur.Ia sebenarnya malu karena telah menunjukkan sisi terlemah dirinya di hadapan istrinya.Hal yang paling sensitif di mata Fatih adalah menyakiti orang-orang terkasih.Termasuk Fathiya.Kesalahan yang ia lakukan di masa lalu terasa masih sangat membelas di ingatannya.Bagaimana ia melontarkan kata-kata kasar pada sang istri sepulang kerja,mengabaikan hasil jerih payah masakan yang disediakan oleh sang istri dengan susah payah saat kakinya seperti itu dan satu hal yang paling menyakitkan hingga membuat Fathiya pergi adalah ketika ia mengkhianati sang istri demi cinta pertamanya yang rupanya telah pandai bermain api di belakangnya tanpa sepengetahuannya.
"Janji apa Sayang?",tanya Fatih seraya mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri hingga hidung keduanya hampir bersinggungan.
__ADS_1
"Jangan membahas masa lalu buruk kita lagi Mas...Aku ingin kita benar-benar membuka lembaran baru di rumah ini",pinta Fathiya dengan sungguh-sungguh.
"As you wish istriku...Aku akan mengabulkan keinginanmu ini",balas Fatih seraya mengecup bibir istrinya yang selalu membuatnya candu.
"Apa kau tidak merindukanku Fa?",tanya Fatih yang kini sudah dikuasai kabut gairah.
"Maksudnya?",tanya Fathiya malu-malu.Padahal jelas-jelas ia tahu apa maksud perkataan sang suami.
"Apa Adek sedang tak ingin bertemu Ayahnya?",
__ADS_1
Fathiya menggeleng."Sedang lelah mungkin",jawab Fathiya dengan rona wajah yang masih memerah.
Fatih tak ingin memaksa istrinya.Hingga ia hanya bisa memeluk istrinya dalam dekapannya di atas tempat tidur mereka berdua.Hal yang belum pernah mereka lakukan sebelum kepergian Fathiya.