BUKAN PEMILIK HATI SUAMIKU

BUKAN PEMILIK HATI SUAMIKU
Tujuh Bulan Kemudian


__ADS_3

Fathiya terus tersenyum mematut dirinya di depan cermin hias yang ada di dalam kamarnya saat mengamati perutnya yang kini sudah tampak membesar seperti balon udara.Yah,saat ini dirinya sedang hamil.Kepergiannya tujuh bulan lalu karena ia mengetahui kondisinya yang sedang berbadan dua.Ia takut suaminya menolak kehamilannya karena saat itu sang suami begitu bucin dengan Maya.Ia merasa takut bila keduanya tak terima dengan bayi yang ada di perutnya ini,kemudian berupaya melenyapkan bayinya yang tak bersalah ini karena dianggap sebagai penghalang cinta buta mereka berdua.


Untuk menghindari segala kemungkinan itu,Fathiya lebih memilih mundur dari pernikahannya.Ia tidak ingin berurusan lagi dengan suami yang kemungkinan besar tidak mengharapkan bayinya ini.Lagi pula,dirinya juga sudah sangat lelah dengan nasib pernikahannya yang selalu jalan di tempat.Kini,ia pergi dengan membawa luka dihatinya karena pengkhianatan sang suami sekaligus perselingkuhan yang dilakukan suaminya dulu.


Disisi lain,Fathiya juga terus berupaya menghapus kenangan kelam di masa lalu.Melupakan rasa cintanya yang kian membesar pada sang suami dan berupaya berdamai dengan masa lalu agar hidupnya lebih tenang di tempat barunya ini.


Fathiya dan ibunya kini lebih memilih memulai hidup baru di sebuah pedalaman yang terletak di sebuah pulau kecil di Kalimantan.Menjauh dari tempat hiruk pikuk keramaian dan dimana suaminya berada.


Sesekali,Bapaknya akan mengunjungi mereka saat ada waktu senggang.Pak Jamal tak bisa menemani kedua wanita kesayangannya karena tanggung jawab atas pekerjaannya di kampung halamannya.


"Fathiya!Kamu sedang apa Nak?",tanya Bu Hasna dengan menyunggingkan senyum lebar dibibirnya.Beliau berniat masuk ke kamar Fathiya saat melihat putrinya tersenyum di depan cermin sendirian.


"Bu!Aku merasakan anakku sedang bergerak-gerak didalam sini!Aku bahagia karena sebentar lagi dia akan hadir di tengah-tengah keluarga ini!Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba",ucap Fathiya dengan wajah berbinar pada ibunya.

__ADS_1


Tangan Bu Hasna pun mulai terulur menyentuh perut putrinya.Dirasakannya pergerakan lincah dari cucunya tersebut seperti apa yang dikatakan oleh putrinya.


"Apa perutmu sakit Nak?",tanya Bu Hasna khawatir putrinya kesakitan saat tahu pergerakan cukup lincah dari calon cucunya yang ada di dalam perut Fathiya.


Fathiya menggeleng.


"Tidak Bu!Justru aku merasa senang karena bisa menikmati gerakan anakku seperti saat ini",jawab Fathiya jujur.


Bu Hasna lantas mengacak rambut putrinya dengan sayang.Ia terharu pada putrinya yang tak pernah mengeluh dengan takdirnya.Menerima dengan ikhlas dan lapang dada segala permasalahan hidupnya yang datang bertubi-tubi kepada dirinya.Bahkan dihadapan dirinya dan sang suami saat suaminya berkunjung ke sini,putrinya ini kerap menampilkan tawa bahagia seperti tak ada permasalahan yang menghimpitnya.


"Kenapa ibu menangis?",tanya Fathiya pada ibunya.Fathiya menghapus air mata yang meleleh di wajah ibunya dengan ibu jari tangannya.


"Tidak Nak!Ibu baik-baik saja!Ibu hanya rindu pada ayahmu",kata Bu Hasna yang tak sepenuhnya bohong.Meskipun,itu bukan alasan utamanya beliau menangis.Ia tahu betul bagaimana watak putrinya.Fathiya sangat tidak suka di kasihani.

__ADS_1


"Maafkan Fathiya Bu!Gara-gara Fa Ibu harus berpisah dengan Bapak!",kata Fathiya dengan penuh rasa bersalah.


"Tidak Fa!Jangan berpikiran seperti itu!",kata Bu Hasna setelah sadar ia salah dalam mengemukakan alasan,lantas Bu Hasna langsung memeluk erat tubuh putrinya yang kini bergetar karena menangis.


"Maafkan Fa Bu!Dari dulu sampai sekarang Fa hanya buat Bapak dan Ibu sedih",


"Ssssst!Tidak sayang!Kamu dan calon anakmu adalah sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup kami!Berjanjilah untuk selalu bahagia ya Fa!Karena itu yang kami inginkan darimu",kata Bu Hasna menenangkan putrinya yang kini mulai terisak karena rasa bersalahnya.


"Jangan menangis!Kalau kamu menangis bayimu juga akan ikut bersedih",kata Bu Hasna yang seketika membuat Fathiya berhenti menangis.


"Iya",


"Terima kasih Bu!Karena selama ini Ibu dan Bapak selalu menjaga dan mendukung penuh keputusan Fathiya!",ucap Fathiya tulus dari hatinya.

__ADS_1


Bu Hasna mengangguk dan memeluk putrinya lebih dalam lagi.Mereka berdua harus saling menguatkan satu sama lain.


__ADS_2