
Kini seorang ibu dan putra telah duduk berhadap-hadapan di sebuah ruang tamu di apartemen Fatih.
"Dimana Fathiya?",tanya Erlina dengan suara gemetar.Ia takut apa yang ia khawatirkan menjadi kenyataan.Meskipun,sempat beberapa kali putra dan menantunya terlihat akur,namun ia khawatir kalau itu hanyalah kepura-puraan semata dihadapan keluarga.
Fatih terdiam beberapa saat.Kepalanya menunduk.Tak berani sama sekali menatap ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini.Bingung harus menjelaskannya seperti apa dan dari mana.
"Dimana menantu kesayangan Mama Fatih?",ulang Erlina.Ia menatap tajam putranya dengan perasaan gusar karena tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Dia sedang ada di rumah Bapak Ma!",jawab Fatih dengan mata sayu.Ia masih belum bisa menatap manik mata wanita pertama yang dicintai dalam hidupnya tersebut.
"Sudah sebulan?Dan kamu belum menjemputnya!Suami macam apa kamu ini!Sebenarnya ada apa?Katakan sama Mama !",perintah Erlina dengan suara tegas dan keras,seolah tak ingin dibantah.
"Maafin Fatih Ma!Ini salah Fatih",ucapnya dengan menangkupkan kedua tangannya didada.Kali ini ia merasa pasti akan membuat mamanya menangis.Tapi sekarang ia tak akan menutupi masalah rumah tangganya lagi.
__ADS_1
"Maaf?Maksudmu kamu telah mengusir istrimu?",tanya Erlina dengan mengelus dada.Ia harus mengumpulkan kekuatan sebelum mendengar penjelasan putranya yang kadang tak bermoral itu.
"Tidak Ma",
"Lalu?",desak Erlina.Ia ingin putranya itu mengakui perbuatannya.
"Fathiya pergi karena kecewa kepadaku!Dia membenciku dan sekarang dia ingin bercerai dariku",ucap Fatih membuka pengakuannya.Meski menyakitkan,tapi inilah kenyataannya.Dan ia harus mengakuinya.
"Ya",jawab Fatih dengan menganggukkan kepalanya.
Plakkkkk....Plakkk...
Dua tamparan keras mendarat dipipi Fatih.Erlina menjadi murka saat mendengar pengakuan putranya.Ia pikir rumah tangga putranya semakin membaik.Tapi kenyataan yang ada membuat harapannya hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Wajah Erlina sudah sangat merah.Rasa emosi,marah dan kecewa bercampur menjadi satu dalam benaknya kepada Fatih.Ia tidak menyangka putranya sebrengsek itu hingga Fathiya pergi meninggalkannya.Jantung hati rumah ini meninggalkan singgasananya.Pantas saja,ia merasa putranya belakangan ini terlihat kacau.Rupanya ini adalah alasan utamanya.
Fatih memegang kedua pipinya yang ditampar oleh sang ibu tercinta.Rasa sakit yang ia rasakan tak ada seujung kukupun dibanding rasa sakit hati yang ditunjukkan oleh mamanya.Bila biasanya ia akan memeluk sang mama saat mamanya bersedih.Kini ia tak bisa lagi melakukannya.Karena saat ini ia adalah sumber kesakitan yang nyata yang tengah dirasakan mamanya sekarang.Rasanya sangat sakit saat melihat wanita kesayangannya itu begitu kecewa dengan perbuatannya.Ingin sekali ia memukul dirinya sendiri hingga babak belur untuk mengurangi rasa sedih sang mama.Sayangnya,justru itu akan membuatnya terlihat bodoh dihadapan mamanya yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.
"Kamu bodoh Fatih!Kamu terlalu bodoh karena telah menyakiti wanita sebaik menantu Mama!Kamu pikir siapa kamu?Hingga merasa berhak dan berani mempermainkan perempuan yang mencintaimu dengan tulus dan apa adanya.Mengorbankan perasaannya untuk selalu berbakti pada laki-laki yang tidak punya perasaan dan tak beretika sepertimu!",sentak Erlina dengan intonasi tinggi.Air mata berderaian di pipi mulusnya.Kini wajah yang masih terlihat cantik nan elegan itu sembab.Kekecewaan tergambar di benaknya.Hal itu tentunya membuat rasa bersalah Fatih kian membesar.Ia ingin memeluk sang Mama,menenangkannya seperti biasa dan menepuk bahu sang Mama untuk meredakan emosi sang Mama,namun ia tak bisa.
"Tak ingatkah kamu?Kamu punya mama dan dua adikmu juga perempuan!Apa kamu pernah berpikir sejenak saja,bagaimana kalau mama atau kedua adikmu mengalami hal seperti yang kamu lakukan pada Fathiya!Kamu rela Fatih?Jawab Mama!",Erlina masih meluapkan amarahnya pada putranya.Mungkin putranya memang pemegang rekor dalam urusan bisnis,namun dalam urusan hati,ia rasa putranya memiliki pengetahuan sangat minim bahkan mungkin nilainya nol besar.
"Tidak Ma",jawab Fatih dengan suara lemah.Ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah mamanya yang kini juga tengah menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian kepadanya.Tenggorokannya seperti tercekat di udara.Seperti tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.Ia benar-benar menjadi pria brengsek sedunia.
Fatih mendekati Erlina.Hendak menggapai sepasang tangan mamanya untuk ia kecup.Sayangnya,mamanya menolak dan menepis tangannya dengan kasar.Kini rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat saat mamanya tak ingin disentuhnya sedikitpun.
"Tidak Fatih!Jangan sentuh Mama!Mama terlalu kecewa padamu!Kalau kamu tak mampu menjemput menantu kesayangan Mama!Mama pastikan kamu akan diusir dari keluarga Pratama secara tidak hormat!",ancam Erlina sebelum meninggalkan putranya dengan setumpuk rasa kecewa.Ia rasa ia harus melakukan ini untuk membuat putranya jera dan menghargai perempuan.Ia ingin melihat sejauh mana selingkuhan putranya bertahan disisi Fatih saat putranya miskin nanti.
__ADS_1