BUKAN PEMILIK HATI SUAMIKU

BUKAN PEMILIK HATI SUAMIKU
Calon Jagoan Fathiya


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang selalu di tunggu-tunggu oleh Fathiya karena hari ini adalah jadwal kunjungan Fathiya ke dokter.Ia selalu memeriksakan kandungannya sebulan sekali saat awal bulan sehabis gajian.Fathiya selalu di temani oleh Bu Hasna sepulang bekerja.


"Seneng amat habis gajian Fa!",seru Ratna,rekan kerja sekaligus orang terdekat Fathiya di perantauan saat mengamati wajah temannya yang begitu cerah usai mendapat amplop berisi uang gajian di tangannya.


"Hari ini aku akan periksa kandungan Rat!Jadi wajar dong kalau aku seneng",jawab Fathiya seraya mengelus perutnya yang sudah tampak menonjol.


Tangan Ratna ikut-ikutan menyentuh perut Fathiya.Di elusnya perut itu dengan sayang.Ia sudah menganggap bayi yang tengah dikandung Fathiya ini sudah seperti keponakannya sendiri.Selama ini,Ratna juga berperan penting dalam hidup Fathiya di tempat barunya ini.Sahabatnya itu,sering sekali membelikan apapun keinginan Fathiya saat sedang mengidam.


"Owh....Aku kira kenapa!Aku turut bahagia kalau wajahmu cerah seperti ini terus",kata Ratna seraya menepuk bahu sahabatnya dengan pelan.Menguatkan sahabatnya karena Fathiya sudah menceritakan kepahitan hidupnya kepadanya.


"Harus",Celetuk Fathiya yang membuat keduanya tertawa bersamaan.


Fathiya bersyukur karena selama tinggal di sini ia tidak pernah mendapatkan musuh.Teman-teman kerja dan bosnya sangat baik kepadanya.Terutama Ratna,sahabatnya ini.Untuk itulah,Fathiya tidak menyesal pindah ke sini.Sedikit banyak tempat ini mengalihkan pikirannya dari segala permasalahan yang menghimpitnya.


"Ya udah aku pulang dulu ya!Bye!",pamit Fathiya selanjutnya.


"Hati-hati Fa!",kata Ratna sebelum mereka berpisah di perempatan jalan.

__ADS_1


"Kamu juga",balas Fathiya dengan tersenyum.


Keduanya memang hanya jalan kaki ke tempat kerja karena jarak rumah mereka dengan rumah garmen Bu Sari tidak begitu jauh.


Sesampainya di rumah,Fathiya segera meminta ibunya bersiap-siap.Ia ingin ibunya menemaninya seperti biasa sekaligus mengajaknya jalan-jalan.Meskipun,hanya sekedar makan bakso seusai periksa kandungan.Fathiya sendiri juga beranjak ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


"Ayo Fa!Ibu sudah siap",kata Bu Hasna beberapa saat kemudian.


"Fa juga udah siap Bu!Ayo",tangan Fathiya menggandeng ibunya.Mereka berjalan beriringan keluar rumah usai mengunci pintu.


Fathiya memesan aplikasi car untuk mengantar keduanya ke klinik yang ingin di kunjungi Fathiya.


"Nona Fathiya Annahla Lubis",panggil perawat saat tiba giliran Fathiya yang dipanggil.


"Saya dok",


"Mari silahkan masuk ke dalam!Dokter telah menunggu Anda didalam!",instruksi perawat klinik dengan ramah pada Fathiya.

__ADS_1


"Terima kasih Sus",balas Fathiya dengan senyum dibibirnya.


Bu Hasna dengan sigap membantu putrinya berjalan menuju ruangan dokter.Perut Fathiya yang mulai membesar sedikit banyak membuat putrinya kesulitan saat berjalan,ditambah dengan kondisi kakinya saat ini.


"Selamat sore Bu Fathiya",sapa Dokter dengan ramah.


"Selamat Sore dok",jawab Fathiya dan Bu Hasna hampir bersamaan.


"Ada keluhan Bu mengenai kandungannya?",tanya Dokter pada Fathiya.


"Saya masih sering pusing dan lemas Dok!",jawab Fathiya menyampaikan keluhan yang dirasakannya selama sebulan ini.


"Baiklah kita mulai periksa ya Bu!Silahkan berbaring disana!",kata dokter sembari menunjuk brangkar yang ada di ruangan tersebut.


Dokter pun mulai memeriksa kandungan Fathiya.Fathiya merasa gugup saat dokter mulai mengusap gel di perutnya.Perasaannya deg-degan karena sebentar lagi ia akan mendengar detak jantung anaknya.Satu hal yang paling dinanti-nanti Fathiya saat periksa kandungan seperti ini.


"Detak jantung putra Anda bagus!Beratnya juga sudah cukup!Tetap jaga pola makan yang seimbang!Jangan stres dan terlalu memflosir tenaga ya Bu!",saran Dokter pada Fathiya yang segera diangguki oleh Fathiya maupun ibunya.

__ADS_1


"Putra?Jadi anak saya...",


"Yah anak Anda laki-laki!Jenis kelamin putra Anda sudah terlihat sangat jelas sekarang di monitor ini",jelas Dokter yang membuat Fathiya menangis haru.Bukan karena sedih.Tapi karena rasa bahagia dan syukurnya pada Tuhan karena telah menganugerahkan titipan-Nya ini di tengah konflik pernikahannya yang tak berujung.Ia hanya berharap suaminya tidak menyesal karena telah memilih kekasihnya saat itu.


__ADS_2