BUKAN PEMILIK HATI SUAMIKU

BUKAN PEMILIK HATI SUAMIKU
Secercah Harapan


__ADS_3

Fatih menatap nanar punggung mamanya yang semakin menjauh dan perlahan menghilang dari penglihatannya.Kini tubuhnya kembali merosot kedalam jubin lantai marmer,berbentuk kotak- kotak dan berwarna putih yang kini tengah menjadi sandaran tubuhnya.Rasa dingin begitu menusuk kulit tubuhnya seperti perasaannya saat ini yang juga dingin dan kosong seperti cangkang kosong karena tercambuk oleh perkataan mamanya. Aura pekat hitam dan merah dari sorot mata ibunya membuatnya merasa menjadi manusia terbrengsek sedunia.


Sejenak,Fatih juga baru tersadar bahwa hukum tabur tuai pasti berlaku.Jelas-jelas ia tak akan rela bila seandainya papanya berkhianat ataupun bila suatu saat kelak suami adik-adiknya juga berbuat kejam kepada mereka seperti perbuatannya selama ini.Tidak.Ia tidak akan rela seseorang menyakiti salah satu wanita kesayangannya ini hanya sebagai hukuman atas perbuatan kejamnya karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Fathiya.Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidig ngeri.


Kini ia telah sadar betul bahwa ia telah banyak berbuat salah.Tanpa sadar ia telah melukai dan menyia-nyiakan seorang wanita yang jelas-jelas tulus mencintainya,mengabdi penuh dalam pernikahannya dan menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang suami.Menyakiti hati seorang istri sampai perasaannya hancur lebur dan melupakan fakta bahwa istrinya juga seorang wanita biasa,seperti halnya mamanya dan juga kedua adik perempuannya yang selama ini sangat dicintai dan dilindunginya sepenuh hati.Ia telah melupakan semua fakta itu hanya demi ego dan pelampiasan hafa nafsu sesaatnya.Kini rasa penyesalan itu kian menjadi-jadi dalam relung hati terdalamnya.Ia harus mendapatkan kata maaf dari mulut istrinya tersebut sesegera mungkin sebelum surat gugatan ia dapatkan dari pengadilan.


"Ya Tuhan!Apa yang telah ku perbuat selama ini?Arghhhh.....Maafkan aku Fa",Monolog Fatih dengan teriakan dibibirnya.Ia menggeram frustasi dengan kilat memerah dari sorot mata elangnya.Dibantingnya tangan kanannya pada tembok yang ada di dekatnya hingga tangannya tersebut mengeluarkan cairan pekat berwarna merah.Ia tak perduli lagi akan rasa sakitnya.Ia sangat membenci dan mengutuk perbuatannya sendiri.


Tak berhenti sampai disitu.Fatih juga menarik rambutnya dengan kasar hingga beberapa helai rambutnya rontok ke lantai.Ia ingat betul bagaimana buruknya perlakuannya dulu pada wanita rapuh yang berstatus istrinya itu,terutama saat awal-awal pernikahan mereka.Entah berapa kali ia melayangkan umpatan dan makian terhadap istri polosnya.Berapa kali pula ia telah mengabaikan istrinya dengan alasan pekerjaan.Dan berapa kali ia bertemu Maya diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya.Semuanya berputar di kepalanya seperti kaset yang diputar kembali dalam benaknya.


Hari ini baru satu orang yang kecewa kepadanya karena fakta yang baru ia ungkapkan.Selanjutnya,entah berapa lagi orang lagi orang terdekatnya yang akan mengutuk perbuatan bejatnya dan membencinya,terutama orang tua,mertua dan kedua adik kesayangannya,terlebih lagi istrinya.


Menghentikan merenungi rasa bersalahnya,Fatih bergegas menghubungi Dirga.Ia harus meminta bantuan asistennya itu untuk bisa sampai di kediaman mertuanya.Tidak mungkin ia mengendarai mobil sendirian,saat tangannya penuh dengan darah.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian,Dirga datang.Asisten Fatih itu tampak cemas dan khawatir saat ia tiba di apartemen dan melihat keadaan bosnya yang amat berantakan.Ia bisa menebak bahwa masalahnya kali ini pasti berhubungan dengan istrinya.


"Tangan Anda kenapa Bos?",tanyanya dengan nada khawatir.


"Jangan banyak tanya Dirga!Antarkan aku ke rumah mertuaku sekarang!",suruh Fatih pada anak buahnya tersebut.Ia mengabaikan darah yang terus mengalir di tangan kanannya itu.Menemui dan meminta maaf pada Fathiya lebih penting untuk sekarang ini.


"Tapi Bos!Luka Anda bisa menyebabkan infeksi bila tidak segera di obati",sahut Dirga tanpa rasa bersalah sama sekali.Ia tahu bosnya itu sedang kacau karena masalah pribadinya.Namun,mendiamkan luka yang parah seperti ini juga bukan solusi terbaik untuk saat ini.


"Kau berani membantahku Dirga!Hentikan omong kosongmu!",teriak Fatih meluapkan emosinya yang semenjak tadi menggumpal di dalam kepalanya.


Fatih terdiam.Mencerna kata-kata asisten pribadinya tersebut.Kini ia membiarkan tangannya di obati oleh Dirga meskipun ia sama sekali tak menginginkannya.


Usai mengambil kotak P3K dari ruang penyimpanan obat,Dirga segera membersihkan noda darah di tangan bosnya dengan kain kasa,memberinya obat dan menempelkan plester pada luka ditangan bosnya untuk menghentikan aliran darah yang terus merembes karena ulah bosnya itu.

__ADS_1


Setelah selesai,Dirga pun segera mengantar bosnya ke tempat mertuanya.Sepanjang perjalanan,bosnya banyak berdiam diri dengan pandangan kosong menatap ke arah jalanan yang dilalui mereka.


"Dirga!Katakan kepadaku!Apa aku pantas untuk dimaafkan setelah apa yang aku perbuat pada istriku?",tanya Fatih ragu-ragu,matanya terlihat sayu menatap sang asisten dari kaca spion yang ada di depannya.


'Ckckck...Baru sadar Bos kalau selama ini terlalu jutek dan udah sangat keterlaluan sama istri Anda!Kalau Anda bertanya pada saya maka jawaban saya adalah tidak!Anda tidak pantas dimaafkan oleh Nona Fathiya',batin Dirga kesal namun tak berani ia ungkapkan.


"Entahlah Bos!Tapi Bos coba aja!Bukankah Nona adalah wanita yang sangat baik dan juga pemaaf",hanya kata itu yang mampu Dirga ungkapkan


Secercah harapan membuat wajah Fatih sedikit berbinar.Yah,ia tahu bahwa istrinya adalah seorang yang pemaaf.Belum pernah istrinya marah dan memaki-maki dirinya seperti yang dilakukan oleh istri-istri pada umumnya pada sang suami meskipun sikapnya sudah sangat ketetlaluan.Ia berharap secercah harapan itu menjadi sebuah kenyataan.


"Kamu benar Dirga!Aku akan mencobanya",kata Fatih dengan harapan yang melambung di udara.


"Berusahalah Bos!Mungkin saat ini Nona sedang kecewa!Tapi kalau Anda berusaha saya yakin Nona akan luluh pada Anda",Dirga berupaya menyemangati bosnya.Meskipun terkadang tak punya hati,tapi Dirga juga merasa kasihan saat ia melihat dengan kepalanya sendiri keadaan Fatih yang terlihat kacau belakangan ini.

__ADS_1


"Hem",jawab Fatih dengan semangat baru yang menyala.


__ADS_2