
Fatih mulai mengendarai mobilnya dengan perasaan gusar usai berhasil menenangkan kekasihnya.Fatih melaju dengan kecepatan tinggi tak perduli dengan bunyi klakson mobil lain yang terus menerus memperingatinya ataupun umpatan orang yang memakinya karena gayanya yang ugal-ugalan saat mengendarai mobil,tanpa sedikitpun menghiraukan keselamatannya.Tujuannya cuman satu yakni bisa bertemu dengan istrinya secepatnya.
Sesampainya dibasement,ia segera berlari ke arah unit apartemennya yang ada di lantai teratas.Lift yang melaju ke lantai sepuluh rasanya terlalu lambat baginya saat ini.Rasa-rasanya ia ingin segera membobol pintu lift tersebut dan berlari ke arah istrinya saat itu juga.
Ting,
Fatih merasa lega karena pintu lift telah terbuka sepenuhnya.Buru-buru,ia meninggalkan lift sialan itu dan segera memasuki apartemennya.
"Fathiya!",bunyi teriakannya mulai menggema di seluruh ruangan.Matanya memindai di sekelilingnya,berupaya mencari seorang wanita yang ia sebut nama dalam bibirnya itu.
Hening,tak ada jawaban.
"Sayang!Dimana kamu?",panggilnya lagi dengan suara yang lebih tinggi.Ia mulai berlari kesetanan ke arah kamar istrinya,disana ia tak menemukan siapapun.Ia mulai melakukan pencariannya di seluruh penjuru kamar,dapur,seluruh kamar mandi dan semuanya kosong.
Fatih mulai menggeram frustasi.Rasa bersalah bercampur khawatir mulai menguasai hatinya saat ini.
__ADS_1
"Kamu dimana Fa?",lirihnya dengan cemas.Ia merasa khawatir dengan keadaan istrinya.Ia ingat betul bagaimana wajah pucat bistrinya saat ia tinggalkan tadi dimall sendirian.Wanita polos itu menangis sendirian disana,dengan cemoohan beberapa pengunjung yang mengarah kepadanya tadi.Menganggapnya sebagai pelakor.Dan mengeluarkan bisikan-bisikan tajam ke arah istrinya.
Tubuh Fatih mulai merosot dan luruh ke lantai.Ia menekuk lututnya sendiri dan ia gunakan sebagai pegangan kedua tangannya.
"Maafkan aku Fa!Tolong jangan pergi!Aku membutuhkanmu",ujarnya dengan suara berat,sarat akan rasa penyesalan.Ia merasa menjadi suami tak berguna sekarang.Matanya mulai sayu dan memerah.Ia belum pernah merasa seputus asa ini sebelumnya,bahkan sewaktu Maya meninggalkannya dulu sekalipun.Ia tidak sampai sekacau ini.
Disaat dia sedang menyelami kebodohannya,tiba-tiba ia teringat dengan nama Dirga.Orang yang ia utus untuk mencari sekaligus menjemput istrinya.
Fatih pun segera menghubungi nomer Dirga karena kemungkinan besar asistennya tahu dimana istrinya berada.
"Halo Bos",suara Dirga terdengar nyaring di telinga Fatih.
'Tumben ia ingat pada bininya',batin Dirga kesal.Setelah apa yang ia lakukan pada istrinya,kenapa Bosnya masih mencarinya?
"Nona Fathiya minta diantarkan ke rumah mertua Anda Bos!",jawab Dirga jujur.
__ADS_1
"APA????Berani sekali kamu Dirga!Siapa yang menyuruhmu mengantarnya kesana?",Bentak Fatih dengan marah.Suaranya membahana,membuat Dirga sesegera mungkin menjauhkan ponselnya dari daun telinganya karena suara bosnya yang terdengar memekakkan telinganya saat itu.
"Maafkan saya Bos!Tadi Non Fathiya memohon-mohon pada saya agar mengantar ke rumah orang tuanya!Tadinya saya menolak!Tapi karena Non Fathiya terus saja menangis membuat saya tidak tega Bos!Saya harap Anda mengerti", Dirga mulai menjelaskan alasannya kenapa ia berani mengantar Fathiya ke rumah orang tuanya tanpa seijin bosnya terlebih dahulu.
"Fathiya menangis?",tanya Fatih dengan suara lemah.Rasa bersalahnya kian besar mendengar itu.
"Sepanjang perjalanan Non Fathiya menangis Bos!Dia hanya berpesan pada saya...Ehm...",Dirga urung mengatakannya karena takut bosnya akan bertambah marah.
"Dia mengatakan apa Dirga?Cepat katakan!",teriak Fatih mulai tidak sabaran.
"Dia meminta agar bos tidak menyusulnya untuk beberapa waktu atau dia sendiri yang akan melayangkan gugatan cerai kepada Bos secepatnya bila Bos nekad menyusul kesana!",ujar Dirga yang membuat Fatih tersentak.
Jeduar...Batin Fatih terasa dihantam ribuan palu.
"Apa kamu sedang main-main denganku Dirga!Katakan ucapanmu itu hanyalah omong kosongmu belaka",Fatih masih berusaha menyangkal dengan apa yang didengarnya barusan.Ia merasa sedang dipermainkan oleh asistennya yang terkadang jahil kepadanya tersebut.Mana mungkin istrinya berani mengancamnya seperti itu.Semuanya masih terasa mustahil menurutnya.
__ADS_1
"Saya serius Bos!Non Fathiya memang meminta seperti itu!Katanya ia butuh menenangkan diri",ujar Dirga meyakinkan Fatih.Bahkan,Dirga memperdengarkan percakapannya dengan istri bosnya itu yang sempat ia rekam.
Fatih semakin lemas usai mendengar jawaban Dirga.Ia tidak menyangka istrinya kali ini benar-benar ingin menyerah.Kini ia terpaku dengan kesendiriannya.