
Saat hampir menjelang pagi,tepatnya pukul dua malam,Fathiya terbangun dari tidurnya.Tenggorokannya rasanya tercekat,terasa sangat kering kerontang seperti tak minum beberapa hari.Fathiya mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu sebelum beranjak ke lemari pendingin yang ada di dapur karena akan ada beberapa undakan tangga yang akan ia lewati nanti.Bila dalam kondisi normal,orang akan melakukannya biasa,namun tidak untuk Fathiya.Berjalan saat mengantuk tentu akan sangat berbahaya untuknya.
Semalam,ia lupa membawa sewadah air putih kedalam kamarnya.Mungkin karena kelelahan,sekaligus efek karena rasa rindu yang sudah terobati untuk keluarganya usai sambungan virtual tadi siang.Hingga ia begitu mudah tertidur,tanpa menunggu suaminya pulang seperti yang biasa ia lakukan selama ini.Fathiya tidak merasa bersalah sama sekali.Karena ini juga permintaan aneh Fatih beberapa hari yang lalu saat memergoki Fathiya tertidur di sofa depan Tv saat menunggunya hingga tengah malam.
"Mulai sekarang jangan sok-sokan menungguku pulang!Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap apapun bentuk perhatianmu!Justru aku muak saat melihat wajahmu",tekan Fatih ketika ia menunggu suaminya hingga tengah malam saat itu.
Saat Fathiya keluar dari ruangan kamarnya,Fathiya merasa ada yang berbeda dari biasanya.Bila pada hari biasa,semua lampu yang ada di apartemen itu mati,namun malam ini ada satu lampu yang masih menyala.Di meja makan.Yah,disana lampu pijar masih menyilaukan matanya,meskipun tidak terlalu terang,namun ia cukup terkejut dengan apa yang dialaminya.Seingatnya,semalam Fathiya telah mematikan semua lampu yang ada di apartemen ini sebelum tidur.Mengenyahkan fikiran buruknya bila itu pencuri,Fathiya mulai berpikir positif.
'Apakah dia?',Fathiya bergumam dalam hati,tepatnya menerka-nerka karena Fathiya belum melihat apapun dari kejauhan.Kakinya mulai ia gerakkan,mendekat ke arah meja makan.Seolah lupa pada tujuan awalnya.
Rupanya kecurigaannya benar,siluet laki-laki nampak di indera penglihatannya sedang memejamkan matanya.Punggung Fatih menempel pada salah satu kursi di meja makan tersebut dengan tubuh menyandar pada penyangga kursi yang didudukinya.Sedangkan,kedua tangannya ia gunakan untuk menutup kedua matanya.
"Mas Fatih",lirih Fathiya dengan suara yang amat rendah.Bagaimana bisa suaminya ini tertidur di sini,Fathiya benar-benar tak habis pikir.Fathiya makin mendekat ke arah suaminya.Dipandanginya suaminya yang sepertinya sangat terlelap tersebut dari jarak terdekat.Sepertinya suaminya begitu kelelahan.Wajahnya nampak pucat dan sayu,juga ada lingkaran hitam dibawah kantung mata suaminya,rambutnya sedikit acak-acakan.Mungkin beban berat sedang dialami suaminya dikantor.Meskipun,Fathiya tidak tahu menahu bagaimana pekerjaan suaminya,tapi ia tahu kalau suaminya pasti mendapatkan banyak tekanan di kantor.
__ADS_1
Tiba-tiba rasa bersalah mulai bersarang di kepalanya.Seharusnya,ia menunggu suaminya pulang terlebih dahulu semalam.Mengabaikan apa yang dikatakan oleh sang suami tempo hari.Kenapa saat ia menuruti perintahnya,suaminya malah seperti ini.
'Apa kamu semalam lapar Mas hingga tidur disini?Maafin aku mas aku bukan istri yang baik 'monolog Fathiya dalam hati.
Fathiya menggerak-gerakkan tangannya didepan Fatih untuk mengecek kesadaran pria itu.
"Mas Fatih benar-benar tertidur",gumam Fathiya.Sejenak,ia bingung sendiri harus membangunkan Fatih atau tidak.Untuk membangunkan,Fathiya harus mengumpulkan seribu kekuatan untuk mendengar omelan atau kata-kata pedas dari suaminya.Tapi bila tidak dibangunkan,Fathiya cukup merasa kasihan juga.Karena posisi tertidur seperti itu pastinya tidak akan nyaman.
Setelah menimbang-nimbang,Fathiya memutuskan akan membangunkan suaminya usai mengambil air di dapur terlebih dahulu.Saat ini Fathiya benar-benar kehausan,Fathiya sepertinya membutuhkan air dingin untuk otaknya yang sedang panas saat ini.
Sreet...
Pergelangan Fathiya di tarik oleh sosok yang akan di tinggalkannya.
__ADS_1
"Maya jangan pergi!Aku membutuhkanmu!",gumam Fatih dengan mata terpejam.
Deg,dada Fathiya sangat sesak saat suaminya memanggil nama wanita lain,meskipun ia tidak pernah lupa bagaimana selama ini Fatih memperlakukannya.Namun,hatinya masih seperti tertusuk duri saat Fatih jelas-jelas memanggil nama wanita lain.
'Apa dia kekasihmu Mas?',batin Fathiya dengan miris.
Namun,ia mengabaikan rasa sakit itu.Atensinya teralihkan oleh suhu tubuh Fatih yang sepertinya tinggi.Fathiya segera mengecek suhu tubuh suaminya dengan menempelkan tangannya di kening suaminya.Fathiya juga melakukan gerakan yang sama pada dirinya sendiri.Kemudian ia membandingkannya lagi dengan suaminya.Tidak salah lagi,suaminya sedang demam tinggi.
Panik,itu yang dirasakan Fathiya sekarang.Namun,ia harus mengendalikan diri untuk segera menolong sang suami.
Fathiya bergerak ke dapur usai melepas genggaman tangan Fatih di lengannya tanpa mengganggu tidurnya sama sekali.Sesampainya didapur,Fathiya mengambil air dingin yang ada di kulkas terlebih dahulu,menenggaknya dengan pelan,kemudian mengisi air dari wastafel kedalam baskom untuk ia panaskan dikompor.
Fathiya mengambil kain bersih dan air hangat yang sudah ia pindah ke dalam baskom ke ruangan dimana suaminya berada.
__ADS_1
Sebisanya,Fathiya berupaya mengompres suaminya beberapa kali di dahinya.Ia berharap apa yang dilakukannya bisa mengurangi suhu tubuh suaminya yang saat ini sedang sangat tinggi.Terbukti,Fatih tak terbangun sama sekali karena tindakannya.
"Rupanya kamu tidak sekuat yang aku pikirkan Mas",gumam Fathiya seraya memandangi wajah tampan suaminya.