
Wajah Fathiya begitu memerah kala suaminya memandanginya dengan tatapan penuh damba,cinta dan sarat akan kerinduan kepadanya.Hatinya seperti digelitiki oleh ribuan kupu-kupu yang menenangkan jiwanya.Degupan jantung dihatinya kian berirama kala kulit tubuhnya kembali menyatu dengan sang suami seperti ini.Hal yang demikian juga dirasakan oleh Fatih untuknya.Tatapan keduanya saling beradu seakan melepas rasa rindu setelah lama tak bertemu.
Tangan Fatih menuntun tubuh istrinya agar duduk di sebuah sofa memanjang yang ada diruangannya.Memposisikan tidur di atas pangkuan Fathiya.Dan meminta istrinya itu mengelus kepalanya.Fatih memejamkan matanya menikmati kenyamanan ini.Kenyamanan yang hanya ia rasakan ketika bersama istrinya tercinta.Perlahan-lahan tangan Fatih mulai mengusap perut istrinya,mencium perut buncit itu beberapa kali untuk menyalurkan rasa rindunya pada calon bayinya.Rasanya lengkap sudah kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya ini.
"Sayang!Katakan padaku apa kamu tidak merindukanku?",tanya Fatih seraya menghunus bola mata coklat milik istrinya yang begitu ia rindukan siang dan malam.Sesuatu telah bangkit dalam tubuhnya hanya melihat istrinya dengan jarak sedekat ini.
"Bukankah kita baru saja bertemu Mas?",jawab Fathiya polos.
"Ehm...Bukan itu maksudku Fa",sela Fatih yang bingung hendak mengatakan keinginannya,walau bagaimanapun dia seorang pria normal yang sangat mendamba kehadiran istrinya.Disaat keduanya telah kembali bersama,masih ada jarak tak kasat mata sebagai dinding pembatas pernikahan mereka.Fatih merasa frustasi memikirkan itu.Apalagi ketika mengingat istrinya ini begitu polos.
"Lalu apa Mas?Katakan yang jelas biar aku paham!",Fathiya mendongak menatap suaminya yang terlihat gusar namun masih terlihat menggemaskan untuknya.
__ADS_1
"Ckck kau itu.Maksudku apa kamu tidak rindu aku tiduri?",terpaksa Fatih berbicara gamblang agar istrinya itu paham maksudnya.
"Hah????",Fathiya membekap mulutnya dengan kelima jari-jarinya saat ngeh dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.Otaknya yang kecil itu baru bisa menangkap apa yang diminta oleh suaminya barusan.
"Kenapa sayang?Bukankah halal seorang suami meminta hak pada istri?Lagi pula aku sudah sangat lama berpuasa",tanya Fatih yang terkekeh saat melihat keterkejutan di wajah istrinya.
"Dan seharusnya Mas juga ingat kalau kita ini dikantor bukan di rumah!",tolak Fathiya dengan tegas.Ia sama sekali tidak ingin mengganggu kerja suaminya apalagi melakukan hal-hal mesum seperti itu dikantor milik suaminya.Fathiya bahkan hendak berdiri saking kesalnya dengan permintaan suami,namun dengan gesit Fatih segera menahannya.Ia mengunci pergerakan istrinya dengan memeluk istrinya dari belakang dengan posisi yang masih sama-sama duduk.Kepalanya ia senderkan pada bahu istrinya sembari menghirup aroma tubuh istrinya yang kini benar-benar membangkitkan kelelakiannya.
"Mas janji ga akan meminta yang aneh-aneh?",tanya Fathiya ketar-ketir.Sebenarnya ia merasa bersalah karena menolak permintaan suaminya.Namun,ia sendiri juga belum siap melakukan itu kembali untuk hari ini.
"Iya aku janji",kata yang terucap di bibir Fatih.
__ADS_1
'Tapi kalau khilaf jangan salahkan aku Fa',batin Fatih pada istrinya.
"Kayaknya kamu tadi bawa bekal Fa",ucap Fatih mencoba mengalihkan pembicaraan sekaligus hasratnya yang terpendam.
"Iya Mas!Ibu menitipkan bekal untuk kita dan juga Dirga!",jawab Fathiya pada suaminya.
"Suapi aku ya",pinta Fatih manja.
"Iya Mas",jawab Fathiya patuh.
Fathiya pun membuka bekal makanan yang dibawa ibunya dan menyuapkannya untuk dirinya dan suaminya secara bergantian.Dalam hati,Fathiya merasa sangat bahagia karena kini ia telah yakin kalau suaminya benar-benar telah berubah.
__ADS_1