Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
11. Makan malam


__ADS_3

Seminggu sudah Anna melewati hari-harinya sebagai mahasiswa. Selama seminggu pula ia menyandang status sebagai pacar Aris yang diselingkuhi, karena para cewek terlanjur percaya pada berita yang disebar Rico.


Berulang kali Anna meyakinkan Rico bahwa berita yang ia sebarkan itu salah namun karena Aris tidak memberikan klarifikasi maka Rico menganggap bahwa berita yang ia sebarkan itu benar.


Karena bosan harus terus-terusan merengek pada Rico untuk mengahampus dan mengatakan bahwa berita yang ia sebarkan salah maka Anna pun pasrah untuk sementara.


Kini saat weekend tiba baginya dan temen-teman sekamarnya untuk pulang ke rumah masing-masing dan akan kembali ke asrama pada hari minggu atau senin pagi karena untuk hari senin jadwal kuliah dimulai pukul sembilan.


Anna hendak mengepang rambutnya menjadi dua seperti biasa namun Rani menyarankan agar Anna mencoba gaya rambut baru yang lebih mengikuti trend namun cewek cupu itu tidak memperdulikan saran dari sahabatnya, baginya penampilan bukan masalah yang penting dari manusia itu hatinya.


“Na kalo penampilan lu kaya gitu terus kaga bakal ada cowok yang mau sama lu!” Ujar Rani.


“Ngga papa lah Ran, manusia itu yang penting hatinya bukan wajahnya. Lagian buat apa punya cowok kalo cowoknya mau sama kita Cuma karna wajah kita.” Elak Anna.


“Ya terserah lu aja deh.” Jawab Rani.


“Gue udah beres, gue duluan yah guys. soalnya ayah udah nunggu gue di depan.” Pamit Anna pada ketiga temannya.


“Oke. Salam buat Ayahmu.” Ucap Dita.


“Oke bye.”


Di halaman asrama nampak Permadi sedang berdiri di samping mobilnya menunggu putrinya datang dan di seberang jalan yang berlawanan nampak seorang pria yang juga sedang menunggu anaknya di dalam mobil.


Saat melihat Permadi pria itu mengedarkan pandangannya berharap putranya segera muncul, sudah tidak sabar dirinya untuk memberitahu anaknya bahwa nanti malam ada acara penting yang harus dia ikuti, Iwan takut putranya jika tidak dijemput akan kabur dan mengingkari janjinya untuk menurut pada dirinya.


Sudah sepuluh menit menunggu namun yang ditunggu belum juga terlihat, Iwan malah melihat sosok yang sangat akrab di matanya. Sosok yang telah lama tak ia lihat.


“Bukankah itu Permadi teman SMA ku dulu?”Gumamnya.


Iwan hendak menghampiri Permadi namun pria yang sudah lama tak ia lihat itu melajukan mobilnya sebelum Iwan sampai.


Melihat bosnya seperti mencari sesuatu Andi yang merupakan sekretaris Iwan pun menghampirinya.


“Bapak cari apa? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Andi.


“Tadi saya melihat seseorang yang mirip sekali dengan sahabat saya waktu SMA?” jawab Iwan.


“Haruskan kita megejar mobilnya?” timpal Andi.


“Tidak perlu, lain kali saja aku cari dia. Kalau kita mengejar mobil sahabatku nanti anak nakal itu pasti kabur dari tugas yang harus dia jalankan nanti malam.” Jawab Iwan.


Setelah hampir satu jam akhirnya yang ditunggu menampakan batang hidungnya. Iwan pun menghampiri anaknya yang hendak masuk ke mobilnya.


“Pulang bersama Ayah. Lama sekali kamu keluar. Ayah nunggu sampai satu jam.” Keluh Iwan


Aris kaget melihat ayahnya ada d area asrama.


“Aku kan tidak menyuruh ayah jemput aku, lagian kan aku bawa mobil sendiri. Untuk apa ayah repot-repot jemput aku padahal tinggal tunggu di rumah aja.” Jawab Aris.


“Ayah tahu kau pasti menghindar untuk acara malam nanati kalau ayah tidak jemput. Bisa saja kau malah pulang ke rumah Irpan bukan ke rumah kita. Sekarang ayo ikut ayah!” Iwan memaksa anaknya.

__ADS_1


Tidak menyerah untuk menghindari ayahnya Aris pun mencari berbagai alasan.


“Tapi bagaimana dengan mobilku kalau aku ikut ayah?”


“Mobilmu biar Andi yang bawa!”


Aris pun pulang satu mobil bersama ayahnya.


Sampai di rumah ibunya langsung menyambutnya dan mengingatkan anaknya untuk acara nanti malam.


“Nak istirahatlah dulu. Jangan lupa acara nanti malam kau harus ikut dengan kami!” ucap ibu Aris.


“Iya aku tahu. Tapi bu kenapa untuk acara bisnis aku harus ikut-ikutan lagi pula aku kan belum mengelola perusahaan ayah?” Tanya Aris.


“Karena rekan-rekan ayahmu juga akan membawa serta anak mereka. Akan lebih baik jika kau juga mulai bergaul dan mengenal anak-anak rekan bisnis ayahmu supaya kelak saat kau memimpin perusahaan kalian bisa saling bantu.” Ujar Wina menasihati anaknya.


“Baiklah aku akan ikut selama acara itu tidak menganggu kebebasanku.” Jawab Aris.


Matahari sudah tenggelam langit cerah mulai berganti gelap. Tiba waktunya bagi Aris untuk ikut serta pada acara makan malam yang digelar rekan bisnis ayahnya pada salah satu hotel megah.


Aris mengenakan setelah formal sesuai dengan perintah sang ibu. Kini lelaki tampan itu tengah mengenakan dasi namun karena kesulitan akhirnya ia memilih untuk melepas dasinya.


Ia keluar dari kamarnya menghampiri ayah dan ibuya di ruang tamu.


“Ayo berangkat!” ajak Iwan.


Aris mengikuti orang tuanya dari belakang saat hendak memasuki mobilnya Iwan malah melarangnyamembawa mobil sendiri dan akhirnya Aris pun menuruti keinginan ayahnya. Ia duduk di kursi belakang.


Sesampainya di hotel ketiganya langsung memasuki ballroom tempat diadakan acara makan malam. Ruangan itu tampak betigu mewah. Kedatangan Iwan dan keluarga pun disambut oleh rekan bisnisnya.


“Terimakasih.” Jawab Iwan.


Setelah berkeliling menyapa rekan-rekan bisnis yang telah terlebih dahulu hadir dan memperkenalkan anaknya Iwan bergabung bersama salah satu rekannya.


Sedangkan Aris disuruh untuk bergabung dengan anak-anak rekan bisnisnya yang juga hadir di acara makan malam itu.


Aris mendudukan diri di antara tiga anak muda yang nampak seumuran dengan dirinya. Mereka ngobrol biasa layaknya remaja pada umumnya hingga seorang pelayan yang mengantarkan makanan ke meja mereka tak sengaja menumpahkan makanan pada salah satu dari mereka.


“Hei apa kau tak punya mata hah? Lihat pakaian gue jadi kotor gini!” Ucap Bayu pada pelayan. Pelayan itu nampak tertunduk takut.


“Maaf maafkan saya Tuan, saya sungguh tidak sengaja.” Ucap pelayan itu yang ternyata Maya teman sekelas Aris di kampus.


Maya memang dari kalangan masyarakat menengah kebawah sehingga dia pun banyak melakukan kerja paruh waktu untuk membantu meringankan beban orang tuanya.


Seperti saat ini dia sedang menjadi pelayan di acara makan malam. Melihat Bayu yang masih marah-marah ia pun mencari cara agar bisa lepas dari masalah ini. Melihat Aris ada di situ ia pun berharap Aris bisa membantunya.


“Aris? Kau Aris kan teman satu kelasku?” Tanyanya karena melihat Aris dengan setelan formal yang lebih membuatnya terlihat lebih tampan.


“Beneran dia temen sekelas lu?” Tanya Bayu.


“Alah paling juga dia cuma ngaku-ngaku jadi teman Aris biar lu maafin dia.” Ujar Budi yang juga ada di meja itu.

__ADS_1


“Gue ngga kenal sama dia.” Jawab Aris.


Mendengar jawaban itu Bayu pun malah meperbesar masalah sampai memanggil manajer Maya dan menyebabkan Maya kena marah atasannya malam itu.


“Sombong banget si Aris sampe ngga mau mengakui gue sebagai temennya.” Gumam Maya.


Sebenarnya Aris memang tidak menyadari kalo Maya teman sekelasnya karena dia tidak terlalu peduli pada orang-orang disekitarnya kecuali orang-orang yang ia anggap penting. Lagi pula penampilan Maya jauh berbeda saat di kampus dan saat menjadi pelayan.


Saat di kampus ia terlihat sangat trendi dengan make up yang lumayan tebal sedangkan barusan ia tidak memakai make up sama sekali jadi wajar kalo Aris tidak mengenalinya.


Setelah keributan yang diciptakan temannya acara makan malam pun berlanjut diselingi dengan obrolan-obrolan ringan mereka. Seorang cewek dengan pakaian gaun putih seksi dan rambut panjang tergerai datang menghampiri meja Aris.


“Ternyata beneran kamu!” Sapanya pada Aris.


“Siapa Ris? Cewek lu?” tanya Bayu.


“Bukan!” jawab Aris.


Merasa kedatangannya tidak diingikan oleh Aris, cewek itu pun memperkenalkan diri.


“Kenalin gue Leni, Papahku juga salah satu tamu undangan disini.” Jelasnya.


Leni pun duduk di salah satu kursi kosong disana.


“Gimana kabar lu sekarang Ris? Gue baru tau kalo lu udah balik dari Jogja.” Ucap Leni.


“Seperti yang lu liat gue baik.” Jawab Aris acuh.


“Sekarang kuliah dimana lu?’ lanjutnya.


“USX.” Jawab Aris.


“What? Lu kuliah di USX? Kirain gue lu kuliah di tempat yang lebih wow gitu.” Ejek Bayu.


Namun Aris tidak mempermasalahkan hal itu. Dia malas membahas hal-hal yang unfaedah karena bukan inginnya juga untuk kuliah di USX. Huh ini semua gara-gara si cupu. Tiba-tiba Aris teringat Anna.


“Hihhhh aneh gue tiap bahas kuliah pasti inget sama tuh anak.” Gumamnya dalam hati.


Sementara itu Leni nampak sedang mengingat-ingat USX bukankah kampus itu temapt kuliah Anna teman SMP nya. “Gue harus ketemu si Anna!” Gumamnya.


Acara makan malam telah selesai, Aris pun berpamitan pada teman-temanya dan menghampiri orang tuanya. Tanpa ia sadari Leni berjalan dibelakangnya dan ikut menyapa orang tuanya.


“Malam Tante.” Sapanya pada Wina yang memang sudah akrab dengannya. Leni sangat akrab dengan Wina karena dia sering bertemu dengan Wina di acara arisan ibunya. Ia sengaja selalu menemani ibunya saat arisan supaya bisa bertemu Wina. Ia berencana mendekati Wina untuk mendapatkan Aris yang memang sudah ia sukai sejak SMA namun Aris selalu mengabaikannya.


“Malem sayang. Kamu disini juga.” Jawab Wina sambil memeluk Leni.


“Iya Tante, seperti biasa aku nemenin mama.” Jawabnya.


“Oh begitu, kamu sungguh anak yang baik.”


Setelah percakapan itu selsai semua pun kembali ke rumah masing-masing.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN BIAR AKU MAKIN SEMANGAT NULISNYA.


SECARA LIKE SAMA KOMEN KAN GRATIS.


__ADS_2