
Anna terus mengikuti Aris ke area kampus hingga ia mendapati Aris berhenti di balik dinding salah satu kelas dan nampak bersembunyi, munculnya ide jail Anna untuk mengagetkan Aris ia mengendap mendekati Aris berniat mengagetkan cowok itu.
“Duarrrr ngapain lu sendirian disini ngendap-ngendap pula!” Ucap Anna mengagetkan Aris.
“Diem lu! Sini!” Aris yang tak terkejut menarik Anna ke balik dinding bersamanya.
“Apaan sih lu narik-narik gue ngga sopan banget.” Ucap Anna ribut sambil mencoba melepaskan tangan Aris.
Karena Anna teru saja ribut akhirnya Aris mendorong Anna hingga tubuh itu bersandar di tembok kemudian Aris berdiri di depannya dan membekap mulut berisik Anna.
Namun Anna tak tinggal diam, gadis itu terus meronta dan melawan untuk dilepaskan tapi Aris tetap membungkam mulut gadis itu dengan tangannya dan memberingakan tatapan tajam pada gadis digadapannya agar diam.
Ada yang berdetak kencang tak karuan dalam hati Anna saat berada dekat dengan Aris di hadapannya kini hingga membuatnya diam tepaku dengan tangan dibungkam oleh cowok yang ia benci.
Aris mendapati ternyata Anna sangat manis jika diam, coba saja selama ini nih anak ngga nyari ribut mungkin gue udah suka sama nih anak pikirnya.
Belum selesai Aris dengan segala pemikiran di otaknya tiba-tiba muncul Andi denan wajah terkejut mendapati anak bosnya sedang berada sangat dengan seorang gadis di area kampus yang sepi. Andi berfikir bahwa mungkin gadis itu adalah pacar anak bosnya dan dan dia telah menganggu acara pacaran anak bosnya.
“Maaf Ris paman ganggu.” Ucapnya terjeda.
“Ini titipan dari ibumu, paman letakan disini silahkan lanjutkan kegiatanmu.” Ucap Andi sambil meletakan paper bag titipan Wina.
Anak zaman sekarang pacaran di tempat sepi kaya gini mana pake acara mau nyosor segala pikir Andi dalam hati.
Anna merasa sedang tertangkap basah melakukan hal mesum, membuat dirinya menginjak kaki Aris hingga akhirnya dia bisa terlepas.
“Ini ngga seperti yang paman pikirkan.” Ucap Aris. Dia tau ini akan jadi masalah besar jika sekretaris ayahnya yang kini ada dihadapannya melaporkan hal ini pada orang tuanya.
“Seperti yang paman lihat juga tidak apa-apa Ris.” Ejek Andi yang kemudian meninggalkan mereka berdua.
“Ah sial... ini gara-gara lu.” Bentak Aris pada Anna.
Tak terima disalahkan oleh Aris Anna pun menaikan suaranya.
“Kenapa jadi salah gue? Lu jalan sendirian ke area kelas ini ya wajar gue curiga jadi gue ngikutin lu. Gue takut lu kenapa-napa gitu.” Ucap Anna.
Mendengar ucapan Anna yang mengkhawatirkannya membuat Aris tak bisa berkata apa-apa.
Anna menyadari ada yang salah dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan, Anna pun langsung pergi meninggalkan Aris. “Apa barusan gue bilang? Gue khawatir sama tuh cowok? Ngga! Ngga mungkin bisa-bisanya gue ngomong kaya gitu. Pasti lagi kegeeran tuh cowok sialan.” Batin Anna.
Aris menatap kepergian Anna ada rasa yang berbeda dihatinya saat mendengar gadis itu mengkhawatirkannya. Aris hendak pergi tapi langkahnya terhenti saat mendapati handphone tergeletak dilantai. Ia pun mengambilnya dan membuka kunci layar hp itu yang ternyata tidak menggunakan kode pengaman.
__ADS_1
Nampak foto gadis itu menjadi wallpaper hp yang sedang ia pegang. Ia kemudian mengetikan nomer hp nya dan menyimpan namanya di kontak hp Anna, kemudian pergi membawa paper bag dari Ibunya dan hp itu bersamanya.
Aris memutuskan untuk mengembalikan hp itu, ia pun menuju loby dan menanyakan nomor kamar Anna pada repsenionis yang berjaga disana. Setelah mengetahui nomer kamar Anna dia bergesar menuju kamar itu.
Tok... tokk.tokk..
Tak lama pintu terbuka, menampakan wajah Anna tanpa kacamatanya. Sejenak Aris terpaku melihat gadis dihadapannya ternyata selain manis saat diam Anna juga cantik saat tak memakai kaca matanya pikir Aris dalam hati. Suara bentakan lansung membuyarkan lamunannya seketika.
“Ngapain lu kesini-sini? Ini asrama cewek tau.” Bentak Anna.
“Emang ngga bisa dipuji dikit aja nih anak walaupun dalam hati sekalipun” batin Aris.
Aris mengeluarkan Hp dari saku celananya kemudian menyerahkan benda pipih itu pada gadis dihadapannya.
“Ni hp lu.’’ Ucap Aris.
Anna heran mendapati Hp nya bisa ada di tangan Aris, tapi entah mengapa ia kali ini enggan ribut. Anna lantas mengambil hp dari tangan aris. “Makasih.” Ucapnya.
“Ternyata bisa juga lu berterima kasih, lu masih punya utang banyak terimakasih sama gue” ucap Aris lalu pergi meninggalkan Anna.
Saat kembali dari kamar itu Aris bertemu dengan Dita, Rani dan Dewi yang nampaknya juga mau kembali ke kamar yang baru saja ia kunjungi.
“Eh ngapain lu di asrama cewek Ris?” tegur Dita.
“Dasar cowok dispenser.” Ucap Dita
“Ih cakep-cakep kok lu bilang dispenser sih Dit?” tanya Dewi.
“Lah kadang baik kadang jahat kadang juga dingin tapi kadang juga panas, yang begituan kalo bukan dispenser apaan coba?” jawab Dita.
“Hahahah haha iya juga.” Jawab Dewi.
Mereka pun tiba di kamar dan menapati ternyata Anna masih saja membaca bukunya.
“Gila rajin banget lu dari tadi masih aja baca buku.” Ledek Rani.
“Lu dari tadi disini Na? Ngga kemana-mana? “ Tanya Dewi.
“Iya gue dari tadi disini.” Jawab Anna bohong ia masih enggan mengatakan pada temannya kalo sebenarnya dia tadi keluar bahkan tertangkap basah seperti orang sedang pacaran di tempat yang tidak seharusnya, apalagi kalo mengingat jantingnya yang berdetak tak karuan saat bersama Aris tadi, bisa-bisa ia jadi bahan ledekan teman-teman gialanya itu.
“Eh Na barusan pas kita ketemu Aris lo di asrama cewek.” Ucap Dewi.
__ADS_1
“Oh.” Jawab Anna hanya ber ohh ria.
“Kok Oh doang Na? Jangan-jangan dia abis nemuin ceweknya kali yah.” Celetuk Dita.
“Ya kali.” Timpal Anna.
"Kalo aja kalian tau kalo Aris tuh abis dari sini pasti heboh kalian.” Ujar Anna dalam hati.
Andi tengah berjalan kembali ke tempat ia memarkirkan mobilnya tadi, tidak di dapati istri bos nya disitu ia kemudian ingat kalo bu Wina akan menunggu di cafe seberang jalan hingga ia memutuskan membawa mobilnya ke cafe tempat istri bosnya menunggu.
Tak butuh waktu lama bagi Andi untuk menemukan bu Wina, ia menghampiri perempuan itu dan duduk dihadapannya.
“Bagaimana apa kau menemukannya?” tanya Wina.
“Iya bu. Saya bertemu Aris. Saya juga sudah menyerahkan paper bag titipan ibu.” Jawab Andi.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Wina.
“Aris baik-baik saja bu.” Andi menjeda ucapannya ia merasa ragu untuk melaporkan atau tidak kejadian yang ia lihat tadi.
“Kenapa?” tanya Wina heran mendapati Andi seperti ada yang disembunyikannya.
“Nampaknya Aris sudah memeliki pacar bu.”
“Apa?”
“iya tadi saya melihat Aris dengan seorang gadis.” Lanjut Andi.
Wajah Wina seketika berubah menjadi cerah, ia merasa bahagia akhirnya anaknya yang dingin itu membuka hati untuk perempuan. Ia jadi penasaran bagaimana sosok kekasih anaknya itu.
“Baiklah ayo antarkan saya pulang, lain kali saya akan menemui pacar anak saya. Saya ingin tau gadis seperti apa yang bisa membuat anak saya jatuh cinta.” Ucap Wina sambil tersenyum.
.
.
.
.
.JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAH
__ADS_1
AKU SANGAT BERTERIMAKASIH PADA KALIAN YANG SUDAH MEMBACA DAN MEMBERIKAN KRITIK SERTA SARAN AGAR TULISAN SAYA INI MENJADI LEBIH BAIK.
AJAK JUGA TEMAN, SODARA, TETANGGA UNTUK BACA TULISAN RECEHKU INI.